Belajar Menyusun Manajemen Waktu (Time Management) ala Ibu-Ibu Pembelajar

Apa sih manajemen waktu itu? Sepertinya sudah bukan hal baru dan tidak asing lagi bagi kita semua berkaitan dengan istilah ini. Sejak duduk di bangku sekolah pastilah kita sudah akrab dengan berbagai rutinitas harian baik di rumah maupun di sekolah. Bertambahnya usia dan aktifitas pun membuat kita semakin tertantang untuk mengatur ritme kegiatan harian kita sesuai dengan jumlah waktu yang Allah pinjamkan kepada kita.

Waktu adalah salah satu nikmat yang agung dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia. Sudah sepantasnya manusia memanfaatkannya secara baik, efektif dan semaksimal mungkin untuk beramal shalih.

Allâh Ta’ala telah bersumpah dengan menyebut masa dalam firman-Nya:

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. [al-‘Ashr/103:1-3].

Di dalam surat yang mulia ini Allâh Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan masa, dan ini menunjukkan pentingnya masa.

Manajemen waktu adalah cara yang dapat kita lakukan untuk menyeimbangkan waktu yang kita punya untuk kegiatan belajar atau bekerja, bersenang-senang atau bersantai, dan beristirahat secara efektif. Tanpa disadari, setiap hari kita sesungguhnya sudah membuat beberapa keputusan terkait manajemen waktu. Misalnya, saya memutuskan kapan akan pergi ke pasar, mengajar anak-anak, membaca buku dan belajar di rumah, berolah raga, beribadah, mengunjungi perpustakaan, bersantai, berdiskusi dengan teman, dstnya. Semua putusan ini berperan penting di dalam penyusunan strategi manajemen waktu yang kita miliki.

Jika kita dapat menyeimbangkan waktu, maka harapan hasilnya adalah konsentrasi akan meningkat, organisasi waktu pun akan lebih baik, produktifitas akan meningkat, dan yang terpenting tingkat stress akan terkurangi. Dengan menata waktu anda secara lebih baik maka kita akan menemukan keseimbangan antara kapan harus belajar, bekerja, bersantai, dan beristirahat yang akhirnya akan membuat hidup menjadi sedikit lebih muda dan bahagia.

Jika kita pernah ada dalam situasi kerap terlambat datang ke beberapa acara/kegiatan penting, lupa ada kelas yang harus kita hadiri, lupa sama sekali bahwa ada pertemuan tertentu yang harus kita ikuti, membuang-buang waktu tanpa hasil yang jelas, mengerjakan tugas secara terburu-buru karena terpepet oleh dead-line, atau sehari menjelang ujian merasa panik karena merasa belum selesai membaca bahan pelajaran untuk dijelaskan kepada anak-anak, atau tiba-tiba merasa waktu untuk bersantai hilang sehingga menjadi tertekan atau stress, maka itu gejala bahwa kita membutuhkan perubahan manajemen waktu yang lebih baik.

Ubah Mindset Baru! Jangan berpikir : “Selalu ada waktu.” Kebanyakan kita cenderung membuang peluang karena berpikiran bahwa “selalu ada waktu”. Hal ini justru membuat pekerjaan kita menumpuk dan membuat kita semakin stress. Jadi, mari kita ubah mindset menjadi : “waktu adalah prioritas”. Buatlah prioritas pekerjaan kita untuk besok hari sebelum tidur.

PENTINGNYA MANAJEMEN WAKTU

Mengatur waktu secara rapi dan efektif bukanlah pekerjaan yang mudah apalagi berupaya untuk mentaatinya secara konsisten dan persisten. Sebagai ibu (muda) dan pembelajar tangguh, kita pasti akan memiliki sekian banyak kegiatan dan tantangan baru, peran dan sekaligus tanggung jawab serta prioritas lain yang harus kita lakukan. Semua kegiatan dan tuntutan itu akan selalu bersaing merebut waktu dan perhatian kita. Masa adaptasi dari masa dewasa muda yang sebelumnya menjalani pendidikan di kampus atau dunia kerja ke masa dewasa sebagai orang tua muda yang mulai membuat dan menuntut terjadinya perubahan besar di dalam menata manajemen waktu kita. Perubahan-perubahan besar itu antara lain karena beberapa hal berikut ini:

1. Meningkatnya peran dan tanggung jawab untuk belajar mandiri;
2. Banyaknya aktivitas baru yang harus diikuti, misal kelompok belajar baru, kegiatan komunitas, kelompok ibu-ibu di dalam atau di luar komplek perumahan;
3. Teman-teman dan pengalaman baru;
4. Tuntutan untuk lebih banyak mengambil putusan mandiri tanpa campur tangan dari suami atau keluarga;
5. Tempat tinggal dan lingkungan baru;
6. Kebutuhan yang lebih besar untuk misalnya melakukan hal-hal rutin sehari-hari secara mandiri, misal berbelanja, memasak, mencuci, membersihkan rumah, membayar beberapa tagihan rutin;
Mungkin pula ketika kita yang memilih bekerja paruh waktu atau mengurus keluarga yang tinggal bersama kita.

CARA MEMPERBAIKI MANAJEMEN WAKTU

Kunci dari manajemen waktu adalah perencanaan alias planning! Tanpa ini, kita tidak akan pernah berhasil menata waktu apalagi meraih hasil optimal. Betapapun enggannya kita karena terkesan membosankan, namun menyusun daftar panjang kegiatan ini-itu yang harus dilakukan, menyisihkan waktu sejenak untuk berpikir mana dari daftar itu yang harus dipilih terlebih dahulu untuk dilaksanakan esok hari, lusa, minggu depan atau bulan depan, adalah momen paling kritis bagi kita untuk mengontrol waktu ‘hidup’ diri sendiri.

ini contoh timeline belajar saya di kelas shookyu Konmari Indonesia

Berikut ini langkah-langkah yang dapat kita lakukan untuk membantu proses menyusun atau memanajemen waktu:

1.Buatlah buku agenda atau kalender atau catatan khusus, baik secara manual ataupun elektronik. Saya biasanya menggunakan aplikasi android school planner atau my study life di handphone untuk memudahkan dalam pencatatan kegiatan sehari-hari.
2. Tulis semua tanggal, hari, waktu yang berkaitan dengan kegiatan belajar kita. Misal, tanggal ujian, tanggal deadline menyerahkan tugas kelas, tanggal terakhir batas pembayaran uang kuliah, dstnya.
3. Tulis semua tanggal, hari, dan waktu untuk kegiatan yang bersifat sosial dan personal. Misal, kapan punya janji untuk konsultasi ke dokter, kapan harus bayar tagihan listrik air, tagihan uang sewa rumah, jadwal kompetisi olah raga, jadwal untuk pulang ke rumah orang tua di daerah, atau untuk berkunjung ke sanak famili, dstnya;
4. Susun prioritas kegiatan yang terdapat di dalam daftar b dan c di atas, mulai dari yang paling utama hingga paling tidak utama, sehingga menghasilkan sebuah jadwal rutin mingguan. Contoh, kita dapat menyusun jadwal dengan membagi serangkaian kegiatan sehari-hari kita ke dalam 4 (empat) kelompok yaitu:
a. penting mendesak (sebagai prioritas paling utama) misalnya mendampingi anak, menjemput anak/orang tua.
b. penting tidak mendesak (prioritas tetapi waktunya masih flexible sesuai dengan komitmen yang kita buat) misalnya, kegiatan kuliah dan tugas di kelas online. Seperti saya saat ini terdaftar ke dalam tiga ruang belajar yaitu kelas bunda sayang, shookyu class konmari indonesia dan kelas belajarzerowaste.
c. Tidak penting mendesak misalnya, interupsi yang tidak perlu.
d. Tidak penting tidak mendesak misalnya hal remeh temeh, main game, nonton film atau kebanyakan googling yang tidak jelas.
6. Pastikan jadwal rutin mingguan kita itu terdiri dari perpaduan yang seimbang di antara komponen/kelompok di atas. Di titik inilah kita harus belajar bijak untuk secara hati-hati tapi bersungguh-sungguh memilih mana yang menjadi prioritas pertama, kedua, dan seterusnya. Ingat, bahwa bagaimanapun kita sedang menjalani proses mendidik sebuah generasi sehingga sudah layak dan sewajarnya jika kita meletakkan aktivitas nomor 1 di atas di tempat tertinggi. Di sinilah makna penting dari keseimbangan, maksudnya kita harus belajar menyusun jadwal yang isinya seimbang di antara keempat kelompok di atas. Perlu diketahui bahwa tujuan penyusunan jadwal rutin mingguan tersebut bukanlah agar semua aktivitas itu terlaksana, melainkan lebih pada memastikan bahwa hal-hal yang butuh untuk dikerjakan terlebih dahulu pada akhirnya memang benar kita lakukan.
7. Pastikan bahwa kita mematuhi jadwal rutin mingguan yang telah disusun. Misal, hadir di kelas pada semua perkuliahan, kerjakan tugas dan belajar mandiri yang telah terjadwal,serta hindari kebiasaan menunda pekerjaan (procrastination).

Baca juga : Belajar Menjadi Manajer Keluarga Yang Handal

Belajar Menjadi Manajer Keluarga yang Handal

PEDOMAN MENYUSUN MANAJEMEN WAKTU

Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai pedoman untuk menyusun manajemen waktu yang baik.

1. Cukupkan waktu tidur antara 6 – 8 jam/per hari.
2. Upayakan jadwal aktivitas anda. berlangsung antara pukul 06.00 – 22.00 WIB.
3. Tiap minggu jadwal harian berisi 4 kelompok aktivitas dalam uraian nomor 4 di atas.
4. Jadwalkan bahwa waktu belajar mandiri kita minimal 14 jam/per minggu (di luar waktu kuliah di kelas).
5. Rencanakan waktu belajar mandiri atau sekedar membaca buku maksimum 2 jam/perhari.
6. Selang-seling topik belajar mandiri secara teratur jika misalnya kita memutuskan bahwa dari jam 13.00 hingga 15.00 adalah waktu belajar mandiri (maksudnya kita tidak menghabiskan waktu dua jam hanya untuk belajar satu topik).
7. Ketahui diri kita apakah sebagai ‘morning person’, ‘night owl person’, atau ‘late afternoon person’ untuk memastikan bahwa jadwal tersebut sesuai dengan irama kerja dan ‘jam biologis’ kita.
8. Luangkan waktu untuk istirahat sejenak di tengah waktu belajar (misal, istirahat tidak lebih 10 menit dari setiap jam).
9. Latih dan biasakan diri untuk mengerjakan sesuatu cukup sekali, alias menghindari kebiasaan untuk mengulang-ulang. Misalnya membaca teks tentang suatu topic sedapat mungkin cukup 1 kali tetapi dengan memastikan kita paham dan ingat apa isinya, kalau perlu sekalian membuat catatan atau diagram.
10. Hindari mitos bahwa untuk dapat memahami isi sebuah bacaan, kita harus membacanya 2-3 kali.
11. Belajar untuk focus atau konsentrasi, tanpa jeda untuk waktu minimal 15-20 menit; kemudian ditingkatkan menjadi fokus selama 30-50 menit tanpa jeda. Hal ini diperlukan sekali terutama untuk membantu kita mendengarkan fasilitator menjelaskan di kelas, mencatat, membaca, dan menulis. Ingat, membaca dan menulis tugas belajar membutuhkan waktu lebih panjang dibandingkan jika kita menulis surat biasa, membaca majalah, komik, atau apalagi menulis email, twitter atau sejenisnya. Kadang kala perlu untuk menyusun jadwal mingguan di mana 1 hari di antaranya bersih dari tugas-tugas.
12. Biasakan untuk melakukan hal-hal kecil dan ‘remeh atau ringan’ di sela-sela waktu istirahat atau ketika kita sedang menunggu sesuatu. Misal, merespon pesan elektronik dapat dilakukan hanya ketika kita istirahat atau ketika kita menunggu untuk bertemu dokter, teman, mengantri di loket, dll.
13. Belajar dan membiasakan diri untuk berani menolak ajakan atau mengatakan ‘tidak’ pada teman, sahabat, sanak famili ketika mereka mengundang atau mengajak melakukan satu kegiatan tertentu yang dapat mengacaukan manajemen waktu kita. Demikian pula untuk menolak keluar rumah menjelang hari ujian; atau ajakan untuk melakukan beberapa komitmen secara bersamaan.
14. Mintalah teman, sahabat, dan sanak famili untuk menghormati manajemen waktu yang kita punya juga serta buatlah mereka paham bahwa mereka tidak bisa setiap saat mengganggu kita atau meminta berkomunikasi dengan kita setiap saat semau mereka ketika kita sedang ada kegiatan lain.
15. Isolasikan diri sendiri agar dapat berkonsentrasi atau fokus belajar (membaca atau menulis), dengan misalnya: menutup pintu kamar, mematikan perangkat audio visual, mematikan telepon seluler, berhenti merespon email atau pesan elektronik, twitter, facebook atau sejenisnya.
16. Bersikap realistis dan cukup fleksibel, jangan kaku. Menyusun jadwal yang amat ketat dan memaksa untuk mematuhinya secara kaku justru dapat membuat kita pada akhirnya menjadi jenuh, dan kehilangan gairah (passionate) belajar sehingga menjadi kontra produktif.

Pada tahap awal kita melakukan perubahan, mungkin kita merasa amat sulit menyusun manajemen waktu dan berat sekali tuntutan yang harus kita penuhi, tetapi pada kesempatan selanjutnya mungkin akan kita akan merasa sedikit lebih longgar, dinamis, dan lebih fleksibel. Hal ini terjadi karena kita sudah terbiasa, mengenal lingkungan lebih baik, mengenali kebiasaan diri sendiri, dan juga kita bertambah dewasa.

AGAR TERHINDAR DARI KEBIASAAN PROCRASTINATOR?

Procrastinator adalah orang yang amat suka menunda pekerjaan hingga jelang hari atau menit akhir dari batas waktu. Tindakan menunda pekerjaan hingga jelang dead-line disebut procrastination. Jika hal ini dibiarkan berlangsung terus menerus jelas akan menjadi kebiasaan belajar yang buruk. Bahkan, kebiasaan ini akan terus membudaya di saat jita sudah bekerja sebagai profesional atau pengemban profesi yang akibatnya adalah kinerja tidak akan optimal, stress berat, berdampak buruk pada kesehatan fisik hingga kegagalan. Oleh karena itu, mari membiasakan diri untuk tidak menjadi procrastinator. Bagaimana caranya? Beberapa petunjuk berikut ini mungkin dapat mulai kita lakukan:

1. Biasakan belajar atau bekerja berdasarkan agenda sebab dengan cara ini kita akan menyadari berapa banyak aktivitas dalam sehari yang mampu kita lakukan sesuai kemampuan dan akhirnya kita akan mengetahui bahwa menunda belajar/pekerjaan pada akhirnya tidak akan membantu sama sekali. Jika anda memulai mengerjakan suatu tugas besar seketika pada saat kita merasa siap atau berada di bawah tekanan harus selesai karena esok adalah tenggat waktu penyelesaian, maka memang mungkin kita akan berhasil, tetapi ingat tidak selalu akan berhasil.
2. Jadi, mulailah dari hal kecil sejak awal. Cobalah untuk mengurai atau menjabarkan satu tugas besar menjadi beberapa tahap atau bagian kecil yang memungkinkan kita untuk segera mengerjakannya sedini mungkin. Dengan mengerjakan tugas besar itu bagian demi bagian sejak awal akan menyadarkan kita seberapa besar sesungguhnya tugas itu dan membutuhkan berapa lama waktu untuk menyelesaikannya. Pada akhirnya, ketika jelang tenggat waktu kita menyelesaikannya, maka tidak akan merasa terlalu terbebani. Mulailah dengan mengerjakan hal-hal kecil terlebih dahulu pada hari 1-4 tugas itu diberikan dengan misalnya membuat (a) mind mapping tentang topik dari tugas itu (b) menentukan tema atau argumentasi utama itu (c) mengumpulkan bahan pustaka (d) menyeleksi dan mencatat judul-judul bahan pustaka yang nantinya akan menjadi daftar pustaka dalam tugas kita.
3. Bekerja tanpa mengundang kemungkinan ada gangguan, misal matikan pemutar musik, video, telepon seluler, koneksi internet dan sejenisnya yang jelas-jelas dapat mengganggu kosentrasi kita. Jika kita orang yang tergantung pada musik untuk membantu konsentrasi, maka sebaliknya putar perangkat audio. Untuk mengurangi kebosanan, kita dapat memodifikasi sedikit topik belajar kita pada hari itu, misal dengan diselingi baca buku, baca komik, menggambar, bertanam, memberi makan ikan di kolam/akuarium atau bermain dengan anak-anak, dsbnya. Hal penting adalah harus diingat bahwa jangan terlena mengerjakan hal remeh temeh sehingga lupa topik utama hari itu.

Sumber:
1⃣https://almanhaj.or.id/4099-renungan-tentang-waktu.html
2⃣Materi Waktu Kuliah Bunda Sayang
https://drive.google.com/file/d/1quEGtwO6PevZ54d-ivKvVF9sOG3sc-go/view?usp=drivesdk

(Makin) Jatuh Cinta Kepada Eco Enzym

Penting bagi saya sebagai seorang ibu untuk mengajarkan hal-hal baik bagi anak-anak, apalagi tentang menjaga lingkungan, seperti memilah dan mengolah sampah dari dalam rumah serta memanfaatkan kembali sisa konsumsi itu sebagai rasa kebersyukuran saya atas rahmat Allah yang tidak terkira kepada kita ciptaanNya.
Sebelum mengenal ecoenzym, dua tahun yang lalu saya terlebih dahulu mengenal enzym cleaner dari postingan mbak Dini KW dan mbak Deasy Greenmommies. Berawal dari kebutuhan akan pembersih serbaguna untuk keperluan rumah tangga yang sederhana, bebas dari bahan kimia dan terjangkau tentunya akhirnya saya mulai berpetualang di dunia maya. Melalui penelusuran akhirnya saya menemukan banyak informasi mengenai metode membuat enzym cleaner yang sederhana dan juga hemat dikantong. Berbekal informasi itulaha maka saya pun nekad mencoba untuk membuat cairan pembersih alami yang hanya membutuhkan dua bahan utama, yaitu kulit jeruk dan cuka.

Bukan cuma efektif dalam menghilangkan noda dan kotoran yang ada di dalam rumah, cairan pembersih ini juga akan memberikan wangi segar yang tidak bisa kita temukan di pembersih lain pada umumnya. Tanpa zat-zat kimia berbahaya lainnya, cairan ini pastinya alami dan mudah dibuat karena bahannya bisa ditemukan di dapur kita sendiri. Kata siapa lemon dan jeruk cuma bisa diolah menjadi jus dan resep makanan atau minuman lain. Percobaan pertama berhasil dan akhirnya saya pun mengganti detergen dan pembersih di rumah menggunakan cairan ini. Sampailah setahun terakhir ini saya berkenalan dengan ecoenzym yang ternyata membuat saya semakin jatuh cinta. Ecoenzym sangat mendukung kehidupan saya yang ingin lebih minimalis, termasuk urusan bersih-bersih saya bisa memakai produk yang all in one dan ecoenzym menjawab kebutuhan saya. Melalui pelatihan ecoenzyme yang diadakan Ibu Profesional Batam bersama Ibu Vera Tan (Bhumi Eco Farm) pengetahuan saya pun makin bertambah karena bisa belajar langsung dari masternya langsung. Setelah mengikuti pelatihan ini saya semakin semangat mengolah sampah sisa konsumsi buah dan sayur saya tidak lagi berakhir di tong komposter. Ternyata sisa konsumsi buah dan sayur ini bisa dimanfaatkan dalam bentuk lain yaitu eco enzyme. Buat yang masih bingung dan belum mengenal sini saya bisikin😊. Ecoenzym merupakan hasil penelitian Dr. Rosukon Poompanvong asal Thailand. Ibu Vera Tan sendiri yang mengajar pelatihan inipun bercerita panjang kisah perkenalannya dengan ecoenzym. Mengingat bahwa enzim ini banyak sekali manfaat yang beliau rasakan sendiri maka Ibu Vera pun belajar langsung kepada penemunya. Kemudian beliau menginisiasi dan mengenalkan enzim ini pada masyarakat luas. Karena latar belakang beliau adalah dokter, beliau sering menggunakan cairan enzim ini sebagai pengobatan. Beruntung sekali rasanya bisa belajar langsung dari master ecoenzym di Batam.

belajar ecoenzym langsung bersama pakarnya Ibu Vera Tan Bhumi Eco Farm

Lalu apa saja sih manfaat dari eco enzyme atau juga sering disebut sebagai enzim sampah yang dituturkan Ibu Vera Tan antara lain:

1. Cairan enzim ini bisa digunakan sebagai campuran pencuci piring dan pencuci baju. Bau amis hilang, ampuh menghilangkan noda bandel pada kain. Menurut saya enzim konsentrat ini adalah solusi mudah dan murah bagi yang punya alergi kulit karena bisa mengurangi bahan kimia dari deterjen dan sabun pencuci piring. Lebih baik lagi karena digunakan hanya dengan mencampur enzim dan air saja.
2. Sebagai pembersih udara, jika di rumah kita memiliki satu drum saja cairan ecoenzym maka sama saja kita memiliki pohon yang berumur 10 tahun. Kebayangkan betapa sejuk dan bersihnya udara yang kita hirup di dalam rumah, jadi kalau punya lebih banyak tidak perlu pendingin ruangan.
3. Badan suka pegel-pegel? Cairan enzim ini bisa di masukan dalam botol lalu tempel dibagian leher sambil berbaring. Kita tidak perlu minum obat yang kadang banyak efek sampingnya.
4. Sakit demam juga demikian, cairan enzim yang didalam botol dipeluk sambil tidur. Keesokan harinya demam akan hilang. Pengalaman saya coba ke anak-anak dan alhamdulillah it works. Cairan yang sudah digunakan untuk menghilangkan demam ini akan berubah jadi keruh dan berlumut.
5.Buat yang hobi bertanam dirumah seperti anak saya, kita bisa pakai cairan enzim selain sebagai pupuk yang membuat tanaman jadi banyak berbuah atau bisa juga sebagai pembasmi hama juga loh.
6. Bisa digunakan sebagai alat kebersihan diri seperti shampoo,sabun,pasta gigi dan sabun cuci motor/mobil. Dan kalau membuatnya dengan tambahan bunga-bungaan bisa digunakan sebagai alat penyegar wajah agar tidak kusam.
7. Bisa juga untuk melancarkan saluran air yang tersumbat.
Serta masih banyak manfaat lain dari enzim ini yang penggunaannya pun bisa sesering mungkin tanpa efek samping.

Baca juga : Langkah Kecil Mengolah Sampah Rumah Tangga

Penasaran gimana cara membuat Eco Enzyme?

Pada pelatihan yang saya ikuti, kami langsung praktek cara membuat cairan enzim (untuk kita yang tinggal di daerah Asia Tenggara, sebab cuaca dan iklim mempengaruhi berhasil atau tidaknya proses fermentasi). Bahan-bahan yang diperlukan antara lain :

1⃣ Gula merah (lebih bagus gula aren ataupun gula hitam) / molasses. Sebelum membuat enzim kita harus tahu terlebih dahulu berbagai macam jenis gula dan manfaatnya. Yang paling baik menurut pengalaman bu Vera adalah menggunakan molasses.
2⃣ Sampah organik dipotong kecil-kecil,
3⃣ Air, harus menggunakan air sumur atau pun kangen water, jika mau menggunakan air pipa harus diendapkan selama 3 hari.
4⃣ Botol sebagai tempat penyimpanan. Untuk trial kita bisa menggunakan botol air minum isi ulang berukuran 1500 ml.

Ratio bahan-bahannya yaitu 1:3:10 (1 bagian molasses, 3 bagian sampah organik, dan 10 bagian air)

Cara Membuat :
1⃣ Masukan gula ( ratio gula 1 ons : air 1 liter)
2⃣ Tambahkan sampah organik ( 3 ons )
3⃣ Masukan air sampai dengan 3/4 bagian botol. Sisakan tempat untuk fermentasi (jangan diisi penuh botolnya).
4⃣ Enzim akan terbentuk dan siap digunakan dalam 3 bulan
5⃣ Tutup rapat dan pastikan tempatnya kedap udara.
6⃣ Sesekali tekan kebawah sampah yang mengambang, selama dua minggu pertama tutup botol satu hari sekali dibuka untuk mengeluarkan gasnya.
7⃣ Enzim disimpan selama 3 bulan.

Pada awal-awal minggu akan ada gas yang muncul sehingga kita bisa membuka tutup lalu rapatkan kembali. Enzim baru dapat digunakan setelah tiga bulan difermentasi. Cara memanennya dengan menyaring air dari ampas eco enzymnya. Cairannya kita simpan di dalam botol sedangkan ampasnya bisa kita jadikan kompos untuk tanah

Berikut ini takaran pemakaiannya menggunakan perbandingan antara larutan ecoenzym dengan air (dalam satuan ml) :

1. Mencuci piring
(dapat dicampur sedikit sabun cuci piring cair agar berbusa) dengan perbandingan 1:10.
2. Penyegar udara dengan perbandingan 1:200
3. Menyiram tanaman dengan perbandingan 1:500
4. Disinfektan dengan perbandingan 1:500
5. Mengepel lantai dengan perbandingan 1:1.000.

Berminat mencoba?

Tidying Festival Clothes Part 1 Bersama Anak-Anak

Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga….Pekan ini para peserta Shokyuu Class memulai Tidying Festival dengan kategori pertama yaitu CLOTHES

Pada kategori ini, para peserta diberi waktu 2 pekan untuk berbenah pakaian, kerudung, sprei, handuk, lap, keset, sepatu, tas, ikat pinggang, kaos kaki, topi dan aksesoris lainnya. Setelah membaca buku dan diskusi panjang di kelas, saya mencoba meringkas hal-hal penting terkait tidying clothes. Apa saja sih yang termasuk pakaian?

1. Atasan (kaos, kemaja, sweater, gamis) 👚👕👔👗
2. Bawahan (celana, rok) 👖
3. Pakaian yang digantung (jaket, coats, jas) 🧥
4. Kaus kaki 🧦
5. Pakaian dalam👙
6. Tas 👝👛👜🎒💼
7. Aksesoris (kerudung, syal, topi, ikat pinggang)🧤🧣🎩🧢👒🧕🏻👓
8. Pakaian untuk tujuan khusus (baju renang, seragam) ⛑
9. Sepatu 👠👡👢👞👟
10. Sprei, sarung bantal, handuk, lap dan keset (bisa dimasukkan kategori ini karena berbahan dasar mirip, cara menyimpannya juga hampir sama dan beberapa disimpan di tempat yang sama. Namun, bisa juga dimasukkan ke dalam komono).

Setelah memahami apa saja yang termasuk dalam kategori clothes, maka kita dapat mengumpulkan semua benda-benda yang ada di dalam list tersebut di atas ke dalam satu area.

🔢 Berikut ini urutan berbenah dengan metode KonMari untuk pakaian

1⃣ Keluarkan semua pakaian yang ada di rumah kemudian letakkan di satu area tertentu. Bila terlalu banyak boleh dipecah menjadi beberapa subkategori. Misalnya mengerjakan atasan dulu, kemudian bawahan dst. Tujuannya agar kita bisa lihat semua pakaian yang kita miliki. Agar memberikan shocking effects. Kemudian pastikan semua pakaian sudah dikeluarkan. Setelah itu buat komitmen bila ada yang kelupaan, akan langsung masuk ke dalam box pakaian yang akan disingkirkan😀 Lalu apa kabar pakaian yang sedang dipakai dan ada di mesin cuci atau jemuran? Menurut Marie, pakaian yang termasuk disitu bisa dilewatkan dulu dan dikerjakan saat pakaian sudah selesai dicuci.

Tumpukan semua pakaian saya, suami dan anak (tas dan sepatu ada disamping dan lupa belum kefoto)

2⃣ Declutter and discard intensely 🌪

Metode KonMari menggunakan joy (kebahagiaan/kesenangan/kegembiraan) sebagai parameter dengan mempertimbangkan value-value yang dimiliki oleh setiap benda. Ketika melalui proses ini kita bisa mengambil satu persatu pakaian, lalu tanyakan pada hati :

“Does it spark joy?” 🤔

Kita harus merasakan dengan seksama sebelum benar-benar memutuskan. Kemudian buatlah 2-6 kotak/kategori :
1. Keep (simpan)
2. Toss (buang)
3. Donate/giveaway (sumbangkan/berikan pada orang lain)
4. Recycle (Didaur ulang)
5. Repurpose dan Upcycle (Diubah menjadi sesuatu yang lain dan bermanfaat)
6. Sell (Dijual)

Catatan : minimal harus ada 2 kotak untuk keep and toss.

Hasil sortir pakaian yang Spark Joy. Sisanya kami donasikan ke Lombok

Contoh pakaian yang bisa di-repurpose: daster jadi lap, kaos jadi sarung bantal. Namun yang harus digaris bawahi, dalam hal ini bukan downgrading ya 😁. Jadi ada proses disitu. Misal untuk membuat lap dari daster, dibuang dulu bagian lengan dan atasnya. Jadi dasternya pun berubah menjadi lap yg lebih berkelas. Lebih spark joy ✨

Lalu apa maksud dari downgrading? Downgrading disini misalnya pakaian yang biasanya dipakai untuk keluar rumah karena disingkirkan sayang akhirnya pakaian tersebut dipakai untuk di dalam rumah. Hal ini sebaiknya dihindari karena biasanya berbeda tingkat kenyamanannya 😉. Misalnya gamis dijadikan daster.

Berikut ini tips yang bisa dicoba ketika pelaksaan tidying clothes

1) Bila sangat sulit untuk memutuskan hanya dengan menyentuhnya, boleh dipakai. Namun, tidak semua pakaian harus dicoba karena akan memerlukan waktu yang banyak.

2) Pakaian yang ber-genre “what if” sebaiknya tidak perlu disimpan. Contohnya pakaian yang tidak muat namun akan muat bila lebih kurus.

Kenapa?

Karena berpotensi menjadi penyebab kita melihat diri kita menjadi kurang spark joy. Bila kaitannya dengan ukuran pakaian vs ukuran tubuh, boleh disimpan sebagai motivasi, tetapi pilih 1 saja 😉

Bila pakaian anak misalnya ingin untuk adiknya, boleh disimpan bila memang perencanaan kehamilannya cukup dekat. Namun, jika rencana hamilnya cukup lama misal 5 tahun lagi, maka sebaiknya tidak perlu disimpan.

Learning to live in the present moment is part of the path of joy

3) Menyetrika pakaian apakah perlu?

Tergantung kebutuhan, bila ingin, boleh. Tidak juga ya boleh. The battle is yours 😂.

4) Pakaian anak siapa yang mengerjakan proses declutternya?
Bila anak sudah bisa memutuskan, ajak serta. Bila masih belum bisa, maka dapat dikerjakan oleh orangtuanya.

5) Pisahkan terlebih dahulu semua pakaian yang berbau nostalgia. Kerjakan nanti di akhir bersamaan dengan sentimental items.

Langkah selanjutnya adalah menentukan “rumah” untuk masing-masing kategori pakaian. Setelah kita melipat dan membagi pakaian menjadi beberapa kategori seperti atasan, bawahan, atau kaos, celana panjang, celana pendek, rok, pakaian dalam, kerudung, jaket, aksesoris, sprei dan handuk, langkah selanjutnya menentukan “rumah” mereka masing-masing. Dengan melihat dan mengetahui deretan pakaian yang kita punya, tentu saja mempermudah dalam menentukan jumlah storage yang dibutuhkan. Sesuaikan dengan budget yang kita punya. Jangan sampai membeli storage yang ternyata malah tidak terpakai karena ukuran atau jumlahnya tidak sesuai dengan pakaian yang kita punya. Namun jika tidak ada budget khusus, kita bisa berkreasi dengan bahan-bahan yang tersedia di rumah seperti dus-dus bekas atau memodifikasi storage yang sudah kita punya. Kalau saya dalam hal pemilihan storage biasanya memilih beli di flea market merk ikea atau miniso murah meriah dan masih sangat bagus untuk dipakai lagi. Sebenarnya kalau punya waktu luang boleh ber-diy ria bersama anak-anak tetapi setelah saya pertimbangkan lebih baik pakai yang sudah ada saja, beli di pasar seken aviari dengan rate harga sepuluh sampai dengan tiga puluh ribu rupiah per item. Sangat worth it kan?

Hasil lipatan pakaian yang Spark Joy ala #KonMari.

Setelah mempersiapkan rumahnya, saatnya berkreasi dan menata lemari ala #konmarimethod. Satu pekan rasanya belum cukup buat berkreasi dan jujur belum 100% spark joy karena banyaknya iklan tetapi sejauh ini saya puas dengan perubahan yang terjadi. Sangat terasa perbedaannya antara belajar melalui tutorial dan belajar melalui pendampingan di kelas KKI. Alhamdulillah, anggota keluarga pun menjadi lebih aware jika ada barang yang belum masuk ke “rumahnya” masing-masing. Anak-anak pun sudah terbiasa memilih dan mengambil pakaian mereka sendiri tanpa harus manggil-manggil mamanya lagi.

 

 

 

Cara Melipat Pakaian〰

Berikut ini ilustrasi teknik melipat pakaian ala Konmari

Di antara kesalahan dalam melipat pakaian sehingga membuat pakaian tidak dapat berdiri sendiri dan kurang compact adalah tidak menyisakan gap.

TEKNIK MENYIMPAN PAKAIAN

1. Simpan vertikal (berdiri)

Metode ini menurut Marie dapat membuat benda lebih “bernafas” karena tidak saling tindih menindih satu sama lain. Dengan penyimpanan vertikal, kita juga bisa melihat semuanya dalam satu kali lihat (all at one glance). Selain mempermudah saat mencari dan memilih sesuatu, metode penyimpanan ini juga dapat memudahkan kita saat mengambil tanpa merusak susunan pakaian yang lain. Untuk menambah kadar joy, pakaian dikelompokkan berdasarkan warna. Disusun dari warna gelap ke warna terang (bergradasi)

2. Digantung

Penyimpanan dengan metode digantung ditujukan untuk pakaian yang lebih “happy” di gantung. Contohnya jaket tebal, coat, suit, gaun pesta dll. Pakaian di gantung dari yang tebal/berat ke yang ringan, dari yang gelap ke yang terang dan dari yang panjang ke yang pendek. Sehingga membentuk ↗ (rise ke kanan). Usahakan menggantung pakaian sesuai kategori juga (bila memungkinkan). Misal jas bersebelahan dengan jas, jaket dengan jaket.

Tips:
Setelah selesai disortir, simpan pakaian yang digantung lebih dahulu karena lebih mudah dan tidak perlu dilipat. Sehingga mempercepat berkurangnya tumpukan pakaian yang akan disimpan.

keadaan lemari sebelum dirapikan

Pakaian dalam dilipat dan disusun vertikal kecuali bra. Bra tidak perlu dilipat cukup disusun berdiri berjajar dan talinya disembunyikan kedalam. Pakaian yang bahannya sangat lembut dan lemas dapat digulung atau digantung.

MENYIMPAN AKSESORIS DAN LINEN

1. TAS

Ada 2 cara, yang pertama dilipat seperti pakaian. Untuk tas-tas yang berbahan kain dan memungkinkan untuk dilipat. Tas yang dilipat disimpan vertikal di dalam kotak. Cara ke dua: bag inside bag. Keuntungan dari metode ini adalah menghemat tempat dan membuat tas dalam posisi yang lebih stabil (tidak pleyat pleyot). Usahakan pegangan/handle tas/bagian atas tas terlihat dari luar. Sehingga kita bisa tau apa tas yang didalam hanya dengan melihat sekilas saja.

2. SEPATU

Menyimpan sepatu di rak, tersusun dan terlihat. Tidak disarankan bertumpuk-tumpuk.

3. TOPI

Topi disimpan dengan cara disusun agar bentuknya tetap terjaga

4. PERHIASAN

Disimpan seperti di toko emas, berjejer.

5. SPREI DAN SARUNG BANTAL

Disimpan vertikal dan diatur berdasarkan kategori warna dan motif (bila ada).

6. HANDUK
Dapat disimpan vertikal maupun disusun seperti cara konvensional. Sesuaikan dengan kebutuhan. Bila rotasi pemakaian cukup cepat dan saat mengambil handuk tidak perlu memilih warna/motif maka bisa disusun seperti biasa.

7. LAP DAN KESET CADANGAN
Sama dengan nomor 5. Dilipat ala Konmari dan disimpan vertikal (berdiri).

8. KAOS KAKI
Dilipat, disusun berdiri, susun berdasar warna. Jangan digulung agar karet elastis lebih awet.

Berikut foto-foto perubahan yang sudah saya lakukan.

Notes:

Posisi paling bawah berisi sprei, cadangan handuk, mukena, sajadah, dan sarung belum tertata dengan maksimal.Pakaian anak disimpan di tempat yang terjangkau untuk memudahkan anak kita. Posisi dan penataan bisa berubah sewaktu-waktu menunggu hasil hunting storage di flea market 😂 Kami sengaja masih pakai storage dari dus agar ketika sudah mendapat storagenya, bisa langsung dipindahkan ke rumah baru sebagai gantinya.

Gimana kira-kira..udah spark joy belum yaa…

Sensei, lemari saya bukan drawer, bagaimana ini? Tunggu cerita saya minggu depan 😊

Happy decluttering and discarding 💪🏼

Enjoy the festival!

Salam, Spark Joy 🌸✨

Sumber Lecture KKI:
1) Online Course KonMari Udemy
2) Buku Spark Joy
3) The Life- changing Magic of Tidying up
4) The Life- Changing Magic of Tidying up – Manga

Kegiatan Seru di Akhir Pekan

Modernisasi bukan hanya memoles fisik lingkungan kita,namun merambah masuk hingga ke segala urusan manusia, termasuk urusan bermain anak-anak. Dulu seorang anak bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk main di tanah lapang, di padang rumput, atau di tanah-tanah kosong yang becek.

Mulai dari sepak bola, jalinan rotan atau jeruk bali sampai membuat patung dari tanah liat atau sekedar menangkap capung dan kunang-kunang. Sekarang, dimana kita mencari lapangan bermain untuk anak-anak, sementara sejauh mata memandang yang kita lihat adalah gedung-gedung pencakar langit atau komplek perumahan yang padat?

Tak heran, kalau tempat bermain anak sekarang bergeser ke playstation rental atau playground untuk bermain games online. Coba tengok deh, tak hanya di Batam atau kota besar lainnya, bahkan di kota-kota kecil pun anak-anak sudah sangat akrab dengan gadget mereka masing-masing. Tak jarang mereka sampai lupa waktu dan ketagihan untuk terus bermain bahkan berujung tantrum jika diambil gadgetnya. So, bagi keluarga kami momen bermain merupakan
momen untuk kumpul keluarga yang menyenangkan dan seru. Yuk, tinggalkan gadget sejenak dan lakukan permainan berikut ini.

Baca juga : Nerf Gun War Bahasa Kasih Keluarga Kami

1. Bermain Uno Stacko Bersama Keluarga
Permainan ini sangat membuat saya gemas ketika memainkannya. Tetapi hal inilah yang bisa membuat antar anggota keluarga menjadi semakin akrab. Permainan ini dilakukan engan cara menyusun-susun balok dan nanti harus diambil dengan cara acak pondasinya, kalau jatuh dan berantakan maka dialah yang kalah. Kalau kalah anggota keluarga boleh memberikan coretan bedak di wajahnya, yang akan menambah seru permainan.😀

Namun, esensi dari permainan ini semakin random karena dimainkan oleh balita jadi no intervensi. Planingnya main uno stacko mau bebikinan gedung aparteman yang tinggi. Action plannya, “bukan kaya gitu bikinnya harusnya balok yang kuning di bawah dan balok yang merah di atas, baru yang hijau disusun di atas yang merah.” Sok bebaskan, anak-anak bermain tumpuk sesuka hatinya. Justru dari situ mereka belajar mereka-reka bentuk konstruksi yang sesuai dengan imajinasinya. Jadi, berikan kesempatan seluas mungkin pada anak untuk mencoba mengerjakan dan membuat keputusan sendiri. Dengan begitu, imajinasinya makin berkembang dan harapannya dapat menstimulasi munculnya ide kreatif. Bukan tak mungkin kan kelak mereka mampu mencipta bentuk tertentu secara orisinal yang tak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, semisal membuat mobil bak sampah luar angkasa buat angkut sampah yang ada di luar angkasa (ini hasil pemikiran Faris😂).

2. Percobaan Sains
Pernah mendengar Hot Wheels yang bisa berubah warna? Series Hot Wheels yang satu ini dinamakan dengan Hot Wheels Color Shifter. Di mana warna bodi tersebut bisa berubah saat dicelupkan ke dalam air hangat, untuk merubahnya kembali ke warna semula cukup di celupkan ke air dingin. Kok bisa begitu ya? Beberapa hari ini anak-anak sibuk mengeluarkan dan memasukkan mainan mobil-mobilannya ke dalam kulkas. Biasanya jika sedang bermain mobil-mobilan, anak-anak hanya duduk di atas karpet dan menjalankan mobil itu dengan tangannya namun kali ini berbeda.

Setelah kami amati, akhirnya satu keluarga tertarik untuk mencoba memainkannya juga. Jadi ternyata, mobil-mobilan ini bila dimasukkan ke dalam air dingin akan berubah warna begitu pula sebaliknya. Meskipun kami bukan engineer, sebagai fasilitator tentunya harus punya rasa penasaran tentang material apakah ini? seperti plastik namun bisa berubah warna dengan pengaruh suhu. Dan kegiatan ini adalah sesuatu yang menarik untuk diamati dan ditelusuri teknologi apakah yang dimasukan ke dalam mainan anak-anak. Apakah itu? Ternyata ini merupakan salah satu teknologi paramagnetic color changing?

Menurut epiccarnage.com menjelaskan, cat bisa berubah warna dengan perubahan suhu. Dengan menyesuaikan tegangan arus listrik melalui body kendaraan bisa membuat warna berubah.

Diecast Hot Wheels memproduksi mobil mainan dengan kemasan yang bertulis Color Shifters. Mobil mainan Hot Wheels dengan kemasan color shifters inilah yang memiliiki keunikan cat mobil akan berubah warna dalam suhu berbeda. Misalnya saat suhu normal warnanya akan putih, namun saat dimasukkan ke dalam kulkas mobil tersebut akan berubah warna menjadi hitam atau biru. Hal ini terjadi karena cat yang dilapiskan pada mobil mengandung partikel paramagnetik oksida besi.

Dengan menerapkan arus listrik, jarak kristal oksida akan disesuaikan dan hal ini memengaruhi pantulan cahaya serta persepsi warna yang bisa ditangkap mata maupun kamera video.

Itulah dua kegiatan seru di akhir pekan kami minggu ini. Acara kumpul keluarga memang selalu menjadi hal menyenangkan apalagi kalau sambil bermain. Kalau teman-teman punya ide seru apa untuk dimainkan bersama keluarga di akhir pekan nanti?

Belajar Berbagai Macam Komposter, Kamu Sudah Coba Yang Mana?

Sudah lama Faris sangat tertarik dengan bahasan masalah #sampah. Saking concernnya sampai-sampai ia ngotot membeli buku berjudul “Oh, ternyata… Kita bisa melakukan kegiatan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) untuk mengurangi sampah!” dan minta langsung dibacakan sesampainya di rumah.

buku favorit Faris

Kalau ngomongin #sampah, saya selalu terkenang dengan obrolan bedtime saya bersama Faris yang pada suatu malam menceritakan cita-citanya kalau ia ingin sekali membuat truk sampah di luar angkasa. Dengan semangat yang berapi-api ia menjelaskan rancangan truk sampah antariksanya bahkan ia meyakinkan kepada saya bahwa di luar angkasa juga pasti banyak sampah loh, Ma. Rasanya terheran-heran kok bisa pula anak tiga tahun berimajinasi seperti itu. MasyaAllah

Di rumah, kami memang sudah mulai memilah dan meniadakan pemakaian tisu dan mengurangi belanja produk kemasan namun bahasan khusus bab sampah belum saya ajarkan lebih mendalam kepada anak-anak. Saya dan suami hanya memberikan contoh dalam kegiatan sehari-hari seperti menyediakan beberapa macam tempat sampah di rumah, menggunakan tas belanja sendiri, membawa kotak makan dan bekal makanan sendiri jika keluar rumah, mengurangi makanan dan jajan dalam kemasan serta membuat komposter karena project #FarisNandur.

Dengan berbekal tekad ingin belajar lebih, akhirnya saya pun mencari informasi agar bisa masuk ke kelas #zerowaste yang diampu oleh bu Dini. Alhamdulillah saya bisa keangkut di kelas #zerowaste batch 2 meskipun belum terlalu aktif chit chat di kelas tetapi saya berusaha untuk terus mengikat ilmu yang saya peroleh dari kelas ini.

Jadi di minggu ketiga kelas #zerowaste, kami belajar berbagai macam jenis komposter. Lalu kenapa sih setiap rumah sudah seharusnya punya komposter?

Teman-teman, bagaimana kalau kita mulai membiasakan diri untuk memilah sampah sebelum dibuang? Kira-kira, kenapa kita harus memilah sampah sebelum dibuang?

1. Upaya Mempercepat Proses Penguraian
Sampah itu ada dua jenis, yakni sampah organik dan sampah anorganik. Untuk sampah organik, proses penguraiannya akan lebih cepat terjadi jika digabungkan dengan sampah organik lainnya.
2. Mengurangi Bau Busuk
Sampah organik akan mengeluarkan bau busuk saat terurai. Supaya bau busuk itu hilang, kita harus memisahkan sampah organik dari sampah anorganik. Setelah dipisahkan, sampah organik bisa dikubur di dalam tanah, sebagai pupuk. Dengan begitu, bau busuk dari sampah organik tidak akan tercium. Lalu, tanaman pun tubuh subur.
3. Meningkatkan kebersihan sampah
Penguraian pada sampah organik akan terjadi lebih cepat daripada sampah anorganik. Jika kedua sampah itu dicampurkan, sampah anorganik yang tadinya bersih akan menjadi kotor. Padahal, jika kita memilah sampah, kebersihan sampah anorganik bisa terjaga, lo. Hal itu akan memudahkan para pengepul dalam mendaur ulang sampah anorganik.
4. Mengurangi jumlah sampah
Dari seluruh sampah yang ada, lebih dari 55% nya adalah sampah organik. Jika kita memilah sampah dan mengolah sampah organik itu menjadi kompos, maka jumlah sampah yang ada di tempat pembuangan akhir sampah (TPAS) pun akan berkurang setengahnya.
Nah, teman-teman, sekarang pasti sudah tahu, kan kenapa kita harus memilah sampah sebelum dibuang? Jadi, mari kita lakukan kebiasaan baik itu mulai dari sekarang. Ini semua demi Indonesia yang bebas sampah!

Rumah Tanpa Sampah, Mungkinkah?

Mengutip materi dari #kotatanpasampah, ada 3 strategi agar #rumahtanpasampah kemudian dapat terwujud:

1. STRATEGI PINTU DEPAN. Saat pra konsumsi, kita dapat mencegah dan menyaring sampah apa yang akan masuk ke dalam rumah kita, dengan cara bawa botol minum sendiri, kotak bekal sendiri, tas belanja, bahkan toples/wadah untuk belanja, menanam/membuat sendiri apa yang kita konsumsi serta mengadakan acara dengan memasak kue-kue dan gunakan toples serta hindari kemasan sekali pakai.

2. STRATEGI PINTU TENGAH. Saat konsumsi, kita dapat mencegah terjadinya sampah terbuang, misalkan dengan menggunakan kembali, memperbaiki barang, dan mencegah makanan sisa.

3. STRATEGI PINTU BELAKANG. Pasca konsumsi, sampah yang terlanjur masuk rumah atau terpaksa ada harus diolah, dengan memilah sampah, membuat kompos, sampah yang bernilai ekonomis disalurkan ke pengepul.
Kalau semua berjalan baik, maka benar-benar TIDAK ADA SAMPAH YANG DIBUANG KE TPS/TPA.
KOTA TANPA SAMPAH? MUNGKIN. SANGAT MUNGKIN

sumber : http://www.kotatanpasampah.id

Berikut ini saya coba membuat ringkasan materi mengenai beberapa jenis komposter untuk sampah organik dari kelas #zerowaste. Menurut Mbak Dini, perjalanan menemukan komposter yang cocok itu layaknya mencari jodoh 😁 Kalau kita nggak ribet sebenarnya ada cara yang gampang dan sudah biasa dilakukan oleh orang-orang zaman dulu yaitu dengan membuat lubang di tanah alias juglangan lalu kita bisa masukkan sampah sisa konsumsi sehari-hari disitu. Ditimbun sekali-kali atau kita bisa pelihara ayam dan ikan yang siap menyantap sampah buah dan sayur sisa dapur (tetapi tidak semuanya sih) hehe.

SERBA-SERBI KOMPOSTING

Komposting itu -bahasa sederhananya- adalah proses pengolahan sisa bahan organik menjadi pupuk. Terdapat beragam metode komposting. Sebelum memilih jenis metode komposting tertentu yang ingin digunakan, maka ada baiknya melakukan langkah-langkah ini:

  1. Analisa jenis sisa bahan organik (sayuran, daun kering, produk hewani) yang dihasilkan dan volumenya setiap hari, minggu, ataupun bulan.

  2. Bagaimana pola aktifitas anggota keluarga? Sibuk setiap hari sehingga hanya tersisa sedikit waktu di rumah? Ada anggota keluarga yang sering (selalu) di rumah dan punya banyak waktu luang?

  3. Analisa karakter anggota keluarga yang akan bertanggung jawab atas proses komposting, Telaten memilah, rajin merajang, lebih suka yang praktis dan cepat?

  4. Akan digunakan apakah kompos yang nantinya dihasilkan?

Empat hal di atas berkenaan dengan kita, si pelaku komposting. Nah, terkait komposternya, maka yang harus dipertimbangkan adalah:

  1. Luas area yang tersedia untuk si komposter. Apakah masih terdapat lahan cukup luas atau komposter akan ditempatkan di teras rumah?

  2. Cara penggunaan, masa panen kompos (periode waktu), cara merawat komposter, biayanya.

  3. Apakah komposter tersebut tahan lama? Artinya, bisa dipakai untuk jangka panjang dan tidak harus membeli lagi yang baru setelah beberapa waktu pemakaian.

Mengapa banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih metode komposting?
Karena, pilihan yang tepat akan membuat kita nyaman melakukan kegiatan komposting, dan bukannya sebagai beban.

Secara umum, sistem komposter terbagi dua, yaitu AEROB (memerlukan udara) dan ANAEROB (tidak memerlukan udara).
Sistem aerob akan menghasilkan kompos padat. Sementara produk sistem anaerob berupa pupuk cair dan kompos padat (yang agak basah).

berbagai macam komposter rumah tangga, pict by Mbak Dini

Sistem komposting rumah tangga dengan lahan terbatas:

1. Lasagna sguare foot garden
Langsung membayangkan lasagna ya?
Dan memang seperti kita membuat lasagna.Bagaimana cara membuatnya? Batasi lahan yang akan dipakai untuk komposting, misalnya diberi ‘pagar’ dari batu bata dan sejenisnya. Alasnya boleh terbuat dari plesteran semen.
Tempatkan tanah di dasar lahan komposting, lalu beri pupuk kandang (seperti kotoran sapi/kambing/pupuk jadi) di lapisan atasnya. Maka lahan siap diisi dengan sisa bahan organik, kertas, ataupun tissue.
Kalau isinya sudah merata, tutup dengan sekam, tanah, lalu pupuk kandang. Lalu isi lagi dengan sisa bahan organik, dan ditutup dengan cara yang sama.
Begitu seterusnya.
Kalau tinggi media sudah mencapai 15cm, maka bisa mulai dijadikan media tanam.
Mengapa harus 15 cm? Dengan tinggi lapisan 15 cm, maka penguraian sisa bahan organik dinilai cukup aman untuk akar tanaman.
Meski sudah dijadikan media tanam, proses komposting di lasagna foot garden tetap dilangsungkan.

2. Takakura/gerabah/drum/felita
Keempat metode komposter ini memiliki teknik yang serupa, yakni sisa bahan organik dikumpulkan dalam satu wadah, lalu diperlukan bakteri pengurai/starter.


Kekhususan dari setiap metode adalah:

Takakura hanya menghasilkan kompos padat. Diperlukan sedikit waktu dan tenaga untuk merajang sisa bahan organik agar cepat terurai. Penjelasan lebih lanjut mengenai takakura bisa dibaca disini.

Sistem gerabah lebih mampu mengurai daun kering dalam jumlah agak banyak. Kompos yang dihasilkan berwujud padat. Penjelasan lebih lanjut mengenai sistem gerabah bisa dibaca disini dan disini.

Komposter dengan memanfaatkan drum, ember bekas cat, atau sejenisnya akan bisa menghasilkan kompos padat saja, ataupun campuran antara pupuk cair dengan padatan. Tergantung sistem yang dibuat pada wadah komposter tersebut.

Penjelasan lebih lanjut bisa dibaca lebih rinci mengenai

Drum Biru #komposterdrumbiru disini dan disini.

Felita ini serupa dengan sistem drum atau ember, tapi dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Sehingga bisa ditempatkan di dapur. Cocok untuk rumah yang dihuni sedikit orang. FELITA menghasilkan kompos dalam dua bentuk, padat dan cair. Felita tidak menghasilkan gas metana (yg menyebabkan terjadinya efek gas rumah kaca). Di dalam Felita juga terjadi CO2 offset di fase keduanya, saat kita memasukkan fermentasi limbahnya ke dalam tanah.

Penjelasan lebih lanjut mengenai Felita (Fermentasi Limbah Rumah Tangga) #felita bisa dibaca disini dan disini.

3. Mulsa tanaman
Rumah dengan pohon-pohon besar biasanya akan kerepotan saat musim daun berguguran tiba
Daun-daun kering memiliki manfaat sebagai mulsa tanaman. Tempatkan daun kering di atas media tanam, maka akan mengurangi penguapan air. Ini sangat membantu di saat musim kemarau.

4. Lubang biopori
Untuk pekarangan rumah yang masih bisa digali hingga kedalaman minimal 50cm, maka pembuatan lubang biopori bisa menjadi pilihan.

Penjelasan mengenai biopori bisa dibaca disini dan disini.

Dan untuk tempat tinggal dengan lahan yang cukup dan amat luas -seperti perkebunan – sebenarnya lebih mudah dalam melakukan komposting. Ada beberapa cara yg sebenarnya sudah dilakukan banyak orang, yakni:

1. Mulsa tanaman

2. “Banana ring”

Kenapa pilihannya banana ring meski itu istilah? Karena tanaman pisang adalah tanaman yg paling bisa memanfaatkan sampah organik dalam bentuk apapun hingga yg keras seperti perabot kayu bekas, dibanding dengan tanaman lain. Makanya penggunaan tanaman yg paling bagus adalah pisang di sekitar juglangan banana ring. Tapi bisa ditanam tumpang sari dengan tanaman lainnya.

3. Composting toilet

Composting toilet itu khusus kotoran manusia. Untuk kompos hewan, bisa digunakan hasilnya pada tanaman pangan. Tapi untuk hasil kompos toilet, hanya digunakan pada tanaman non pangan atau tanaman buah jenis pohon, seperti mangga dan sejenisnya. Komposting toilet baru bisa dipanen minimal 6-9 bulan, tergantung kecepatan terdegradasi dan menjadi tanah lagi.

4. Vermicomposting, menggunakan tiger worm, yg bisa makan kain dari serat alami.

5. “worm tower”, juga menggunakan cacing tiger seperti vermicomposting. Mirip biopori. Kalau biopori, lubangnya ke dalam tanah. Sementara worm tower ke atas tanah alias diberi pipa yang keluar dari tanah, untuk menjadi tempat sampah organik untuk sumber makanan cacing tiger.

6. Biopod

Digunakan untuk komposting bahan organik yg lebih basah tapi bukan cair. Tanpa starter dan memerlukan udara, maka yg dihasilkan adalah black soldier larvae alias uget-uget gendut. Biasanya belatung yg dihasilkan untuk pakan ternak seperti ayam, ikan, burung.

Tiap komposter punya plus minus sendiri ya.. cocok atau tidaknya sesuaikan saja dengan kondisi rumah dan kebutuhan. Setelah praktek, ternyata memang masalahnya adalah mau atau tidak, bukan susah atau mudah..

Catatan penting untuk memulai dan menjalankan kegiatan komposting, adalah
***Perlu mencoba beberapa metode komposting untuk mendapatkan sistem komposting yang paling mudah, paling efektif, dan murah untuk gaya hidup setiap keluarga. Namun dengan menganalisanya terlebih dahulu, kita akan mengurangi biaya dan waktu percobaan. Juga akan lebih cepat menemukan cara pengomposan/pengolahan sisa bahan organik, yang paling pas untuk keluarga kitayang unik.***

Happy Composting !

referensi : disarikan dari berbagai materi kelas #zerowaste, Bu Dessy “Greenmommies” dan Mbak Kristien “Omah Hijau”

Project Bedah Rumah ala Konmari With Kids

Setelah hampir satu bulan, saya dan teman sekelas #shokyuuclass menerima materi demi materi tentang basic metode konmari, sekarang tiba saatnya special event yang ditunggu-tunggu yaitu Tidying Festival.

Sesuai dengan namanya, Tidying Festival berarti berbenah secara besar-besaran, menyeluruh dan sekaligus dilakukan sekali seumur hidup. Karena begitu spesialnya, para peserta Shokyuu Class harus benar-benar mempersiapkan diri sebelum melakukan festival sekali seumur hidup ini.

Berbenah Sekaligus, Jangan Sedikit-Sedikit

“Mulailah dengan membuang. Kemudian rapikan ruangan anda secara sekaligus, menyeluruh, dalam satu waktu, ” Ini yang Marie Kondo sampaikan nelalui bukunya the life-changing magic of tidying up. Kesimpulannya berbenah harus dilakukan sampai tuntas agar terasa perubahan yang terjadi.

Dulu saya suka berbenah sedikit-sedikit. Hasilnya, barang-barang kembali berantakan. Tapi melalui kelas ini saya mencoba berbenah secara sekaligus dan tuntas, harapan saya mudah-mudahan barang-barang akan tertata lebih rapi dan akan banyak space di dalam rumah. Hari ini saya mencoba mencicil membenahi kategori baju, semoga ruangan “baru” yang kami benahi tidak berantakan kembali, kecuali tempat bermain anak yang memang (harus) dibereskan setiap hari.

Jadi, mulai hari ini saya meluangkan waktu khusus untuk berbenah baju sampai selesai dalam kurun waktu kurang lebih dua minggu ke depan. Tak lupa diiringi dengan do’a dan penuh rasa syukur karena Allah telah memberikan banyak rezeki sampai detik ini. Saya tidak habis pikir, rupanya momen berbenah ini ternyata menjadi sesuatu yang penting dan istimewa.

Beberapa persiapanpun saya lakukan untuk menyambut festival ini, diantaranya:

1. Membuat Schedule of Tidying Festival bersama anak-anak

Dengan membuat jadwal berbenah yang telah disepakati oleh saya dan suami, akan sangat memudahkan kami dalam mengatur dan melihat target-target yang telah dibuat. Anak-anak sengaja saya libatkan dalam kegiatan ini agar mereka mengenal barang-barang miliknya dan lebih bertanggung jawab terhadap barang kepunyaan mereka. Di sisi lain, mereka juga belajar untuk melipat dan meletakkan barang-barang kembali pada tempatnya. Istilah yang mereka pakai adalah ‘masuk kandang,’ misalnya baju yang baru dilipat langsung dimasukkan ke dalam laci (kandangnya,pinjam istilah anak-anak).

Baca juga : Konmari Bukan Sekedar Belajar Seni Berbenah

●》Meluangkan waktu untuk berbenah tiap akhir pekan.

Kalau biasanya akhir pekan banyak kami habiskan untuk melakukan kegiatan diluar rumah seperti berlibur, berolahraga, berenang, bermain di taman kota atau silaturahim ke beberapa teman dan saudara, kali ini saya dan anak-anak sepakat menggunakan weekend kami untuk berbenah besar-besaran.

●》Mengunduh foto-foto dan video tutorial yang berhubungan dengan Metode Konmari.

●》Menyiapkan beberapa keranjang atau kardus sebagai storage sementara untuk barang-barang spark joy dan mengumpulkan karung bekas untuk barang yang tidak spark joy.

●》Menentukan akan didonasikan kemana barang-barang yang tidak akan kami simpan.

Itulah beberapa persiapan kami sebelum memulai “Tidying Festival”. Saya sangat bersyukur menjadi bagian dari keluarga @konmariindonesia. Mudah-mudahan kami bisa mengikuti tahapan belajar yang disiapkan tim #konmariindonesia dan semua target berbenah keluarga tercapai di akhir program Intensive Class ini. Aamiin

#konmariindonesia
#komunitaskonmariindonesia
#menatadirimenatanegeri
#shookyuclass
#shookyuB2task3
#sparkjoy

Hidup Minimalis Sebagai Wujud Rasa Syukur

Pagi, mak sudah sebulan terakhir pasca mudik saya mulai membenahi kembali rumah yang hampir sebulan kosong. Bisa dibayangkan apa yang terjadi di dalamnya? Barang-barang banyak yang tidak kembali pada tempatnya dan kotor serta lembab khas rumah yang tidak pernah dibersihkan.
Harap dimaklumi suami yang balik ke rumah terlebih dahulu dan menempati rumah ini hanya sekedar buat tidur malam doang.

Perlahan saya mencoba membersihkan rumah meski dengan keterbatasan waktu dan tenaga yang saya punya. Sempat terbersit untuk menyerah dan order go clean saja demi mengurangi kekacauan yang ada di rumah namun akhirnya urung saya lakukan. Pasti budget akan membengkak untuk urusan bersih-bersih *rasanya ingin melambaikan tangan saja.
Sudah dua kali dalam seminggu ini saya tidur malam lebih cepat karena kepala berat. Pusing banget rasanya entah kenapa. Ternyata, rumah yang kacau dan berantakan mempengaruhi mood saya untuk mulai kembali produktif. Rasanya waktu untuk menjalani kehidupan normal pun sulit dilaksanakan kalau rumah masih kotor dan acak adut. Gimana mau bermain dan bebikinan sama anak kalau nyari material bebikinannya saja entah tertimbun dimana. Rasanya seperti baru pindah rumah, kerjaan di rumah kaya nggak selesai-selesai. Belum cuaca yang nggak enak banget, sebentar panas sebentar badai.

Iyaaa, cuacanya nggak enak banget. Gimana bisa di Batam yang panas, angin besar sekali sampai dahan-dahan pohon jatuh? Hujan nggak sampe seharian ada pula yang rumahnya kebanjiran. Padahal hawanya masih gerah, tapi angin besar, gimana nggak masuk angin kan?

Belum lagi urusan anak-anak yang sakit bareng-bareng haduhhhh. Sabarrrr.. Tapi dengan banyaknya kejadian beberapa minggu terakhir ini, saya juga jadi lebih aware sama kondisi rumah. Sejak pertengahan tahun ini barang yang menumpuk nggak jelas mulai dipilah untuk dibuang atau diberikan pada orang yang lebih membutuhkan. Terutama baju-baju lama saya, duh baju ini dikasihin kok sayang, disimpen kok ya nggak dipake. Bulan Ramadhan lalu sebenarnya saya sudah menkonmarikan baju sampai 2 kardus banyaknya untuk didonasikan ke Sejuta Cinta Komunitas Ibu Profesional Batam. Termasuk baju kebaya yang saya pakai wisuda S1 pun saya relakan karena udah nggak mungkin dipake lagi. Ujung-ujungnya kemarin saya sortir satu kardus lagi baju saya dan baju anak yang sudah nggak terpakai. Akhirnya tutup mata, satu kardus pindah ke belakang untuk didonasikan

Setelah saya pikir, buat apa juga disimpen, nggak dipake juga. Mending dikasih ke orang, mungkin akan diperlakukan lebih baik daripada cuma ngejugruk doang di atas lemari. Sepatu juga sama, sudah hampir dua tahun ini saya cuma menyisakan 2 sandal gunung dan 1 sepatu lari. Apakabar koleksi sepatu sandal dan beberapa heels. Satu lemari udah bhay semua. Kebanyakan saya jual murah meriah via marketplace.

Iya! saya sama juga lagi usahaaaaa banget menjaga konsistensi ingin hidup lebih minimalis. Nggak lagi menumpuk barang karena rumah yang penuh barang itu tidak nyaman ya. Dulu banget, masalah besar bagi saya adalah terkadang masih menyimpan kenangan pada barang. Padahal barangnya nggak penting!

Yang menguatkan tekad saya untuk berhenti menumpuk barang adalah ungkapan dari sebuah kajian Ust. Syafiq Basalamah. Perumpamaannya jika kita hendak pindah rumah balik ke kampung halaman. Pengennya kita nggak bawa barang-barang yang berat kan biar nggak susah nantinya. Jadi kita kirimkanlah dulu sebagian barang-barang lewat ekspedisi ke kampung kita. Seperti itulah hidup dengan sedekah. Kita pindahkan sebagian harta kita untuk di akhirat nanti, supaya ketika meninggal nggak berat lagi bawaan kita, karena nanti semuanya akan dimintai pertanggungjawaban nya. Melalui sedekah saya lebih tenang dalam melepaskan barang-barang yang sudah memberikan kebermanfaatan dalam hidup saya. Tercerahkan sudah kenapa saya mempertahanankan minimalist sebagai ideal lifestyle saat ini. Yang mau mencoba hidup minimalis juga, yuk kita coba memulainya

1. Sortir Koleksi Bajumu

Ayolah akui saja, baju di lemari pasti BANYAK yang sangat jarang dipakai kan? Atau malah seperti saya (yang dulu) bahkan ada baju yang belum dicopot tagnya karena belanja lewat onlineshop dan ternyata nggak cocok ketika dicoba. Ketika mensortir baju-baju yang sangat jarang dipakai, pisahkan ke satu wadah besar besar bisa kontainer atau kardus. Kalau masih sayang, jangan diapa-apain dulu kontainer atau kardus tersebut. Biarkan saja dulu di rumah 1-2 bulan. Selanjutnya, pasti baru terasa efeknya oh ternyata baju itu nggak ada pun kita nggak sadar kok! Baru setelah itu kita bisa diberikan pada orang yang lebih membutuhkan, mak. 🙂

2. Buku! Alih-Alih Ingin Membuat Perpustakaan Mini
Ini berat banget ngomongnya tapi lebih baik koleksi lah buku dalam versi digital karena merawat buku fisik itu susah! Dulu saya punya banyak novel dan majalah remaja yang berujung didonasikan ke rumah baca rintisan saya dan sahabat di Trenggalek. Novel-novel itu bagus, tapi tidak sebagus itu sampai saya ingin baca ulang. Disimpan pun hanya makan tempat dan sarang debu.
Akhirnya rak buku saya di Batam sekarang hanya berisi buku-buku anak yang memang dibaca berulang-ulang. Saya hanya menyisakan buku pegangan homeeducation dan pendukung kegiatan belajar. Nggak lagi pusing dengan debu di atas buku. Saya pun masih bisa meminjam buku di ipusnas agar tetap bisa baca buku dan punya buku banyak tanpa menumpuk buku dan debu.

3. Declutter paling berat itu Mainan Anak
Mainan anak ini adalah objek paling sayang banget ya dienyahkan dari rumah. Tapi beneran deh, meski sudah disortir setiap minggu mainan anak-anak ini jumlahnya masih banyak banget padahal yang mereka bener-bener suka pegang cuma beberapa aja. Bulan Ramadhan kemarin, kami sudah sale untuk donasi sekalian mengajar anak berjualan sambil beramal karena yah, buat apa menumpuk mainan banyak-banyak? Melalui kelas intensif Shookyu ini juga sebagai ikhtiar untuk mulai menata kembali demi rumah yang lebih lega.

4. Koleksi Mainan Suami
Ini berat banget di suami saya. Entah sudah berapa ratus diecast yang dikoleksi oleh suami saya, yang bahkan belum ada rumahnya. Saya sudah berulang kali mengingatkannya agar mengurangi beli karena buat apa dehhh? Cuma numpuk barang doang! Iya sih sebagian dijual tapi kan nggak ada lagi tempat buat menyimpan. Belum kalau kita pindahan 😑

Untuk menghibur hati yang lara karena belum berhasil sounding ke si bapak pasal ini yasudah saya membantunya berjualan di marketplace demi mengurangi stok mainannya di rumah. Jadi kan nggak cuma ngejogrok doang.

*

Hidup minimalis ini buat saya ngaruh banget loh ke kesehatan jiwa. Rumah lebih lega dan terasa lebih terang karena nggak banyak barang. Debu juga berkurang sekali.

Dari sisi fisik juga saya merasa lebih nyaman, karena apa? Salah satunya karena menumpuk barang itu biasanya jadi sarang nyamuk. Semoga semangat berbenah yang baru ini bisa membentuk habbit baru dan menular ke anak-anak serta suami. 😅

Konmari Bukan Sekedar Belajar Seni Berbenah

Kali ini, saya akan menuliskan kembali bahasan mengenai mindset dalam metode KonMari yang saya pelajari beberapa minggu terakhir dan bagaimana cara menjaga mindset tersebut. Menurut pemahaman saya, Task 1 dan 2 di Shookyu Class KKI ini masih berkutat seputar mindset dan visualisasi. Kenapa begitu? Setelah saya tarik benang merah, mindset adalah hal terpenting saat kita ingin melakukan sesuatu. Perubahan yang besar dan langgeng hanya bisa terjadi jika kita terlebih dahulu mengubah pola pikir kita mengenai hal tersebut. Dalam hal ini, pola pikir yang “benar” mengenai berbenah yang perlu kita jaga. Sementara visualisasi diperlukan untuk menguatkan keyakinan dan semangat kita dalam mencapai tujuan, sekaligus memprogram pikiran bawah sadar kita untuk menujunya.

Banyak orang yang tidak berhasil mencapai tujuan bukan karena tak mampu. Tetapi, lebih disebabkan oleh mindset yang salah. Begitu juga dengan berbenah. Jika kita mengalami masa-masa berbenah tiada akhir, melelahkan, bahkan frustasi, saatnya kita harus memeriksa ulang mindset kita. Ketika mendapat tugas terkait mindset dan menjaga mindset, saya dan suami lalu berdiskusi. Berdiskusi terkait mindset apa yang kami miliki selama ini, dan bagaimana seharusnya mindset itu dibangun. Dari hasil diskusi itu akan nampak mana saja mindset yang salah selama ini, dan terbentuk mindset baru dengan harapan dapat menata hidup yang lebih baik. Di task kedua, saya merasa mindset yang baru pun harus dijaga agar tetap on track. Membangun mindset yang benar, bukanlah hal mudah. Terlebih lagi menjaganya. Bagaimana kami akan menjaga mindset untuk sebuah goals atas tujuan proses berbenah ini? Dan bagaimana cara menjaga mindset positif dalam berbenah itu menjadi poin yang harus saya diskusikan lagi bersama suami.

Menjaga Mindset

“The question of what you want to own is actually the question of how you want to live your life.” – Marie Kondo

“Focusing solely on throwing things away can only bring unhappiness. Why? Because we should be choosing what we want to keep – not what we want to get rid of.” – Marie Kondo

Kutipan yang pertama mengingatkan saya pada mindset yang sudah cukup mengakar di lingkungan sosial kita: semakin banyak benda yang dipunyai seseorang, maka semakin sukses pula hidupnya. Sayangnya, mindset seperti itu akan membuat kita menjadi gemar mengumpulkan barang-barang hanya demi terlihat ‘sukses’ (dalam banyak artian), padahal sebenarnya kita tidak terlalu membutuhkan barang-barang tersebut. Atau kalaupun butuh, kita hanya perlu dalam jumlah kecil saja.

Kutipan yang kedua juga sangat berkaitan dengan ini. Alih-alih berbelanja dan menyimpan banyak barang, akan lebih baik jika kita menyimpan sedikit, tapi kita tahu bahwa yang sedikit itulah yang paling bisa memberi kebahagiaan dan kebermanfaatan untuk kita.

Visualisasi Ideal Lifestyle Keluarga Kami

Tahap awal yang saya lakukan ketika memilih hidup minimalis adalah membuang hingga tuntas. Membuang barang disini artinya membuang barang yang sudah tidak bisa dimanfaatkan kembali sedangkan barang yang masih layak pakai dapat disedekahkan atau dijual kembali. Perumpamaannya jika kita hendak pindah rumah balik ke kampung halaman. Pengennya kita nggak bawa barang-barang yang berat kan biar nggak susah nantinya. Jadi kita kirimkanlah dulu sebagian barang-barang lewat ekspedisi ke kampung kita. Seperti itulah hidup dengan sedekah. Kita pindahkan sebagian harta kita untuk di akhirat nanti, supaya ketika meninggal nggak berat lagi bawaan kita, karena nanti semuanya akan dimintai pertanggungjawaban nya. (Ust syafiq basalamah). Intinya, saya harus menjaga konsistensi agar jangan terbiasa menumpuk barang!

Lalu untuk saya pribadi, bagaimana caranya agar mindset-mindset ini tetap terjaga? Ini PR bagi semua orang yang sedang berjuang untuk berubah lebih baik. Barang yang paling mudah membuat saya melakukan penimbunan (hoarding) adalah buku dan mainan anak. Barang-barang ini, bisa dibilang, adalah barang-barang yang paling berpotensi untuk menghancurkan kembali mindset yang sudah saya bangun. Akhirnya saya pun mengaplikasikan prinsip One In One Out. Awalnya saya sortir dulu, buku dan mainan anak mana yang lebih sering dibaca dan dimainkan. Jadi fokusnya ke buku dan mainan yang ingin disimpan, bukan yang harus dipensiunkan. Baju anak yang sudah kekecilan dan jarang dipakai lagi saya discard dari lemari.

Saya sudah melakukan perubahan kecil ni sejak lebih dari setahun yang lalu. Hasilnya, hidup saya terasa lebih simpel dan bahagia. Kenapa? Karena sekarang saya tidak perlu lagi mengurus terlalu bangsa barang di rumah. Apalagi dalam situasi berlama-lama di depan lemari yang penuh sesak sambil kebingungan mencari barang yang hendak saya pakai. Menurut saya, kita tidak perlu merasa sedih atau baper, karena sebetulnya those book and toys (in this case) have served their purpose: barang-barang ini sudah memberikan kebahagiaan pada saya saat saya membeli mereka. They had brought me joy, but now it’s time to move on. Efek samping dari ini: sekarang saya tidak mudah lapar mata. Kalau pun saya akhirnya memutuskan untuk membeli buku atau mainan anak, saya hanya membeli buku yang berkualitas saja bahkan kebanyakan barang yang kami pakai di rumah hasil hunting di flea market dan mudah dijual kembali with good price.

Berdasarkan goals tersebut, maka saya harus membuat timeline dan meluangkan waktu khusus untuk berbenah secara total. Memulai berbenah sama halnya dengan membuka lembaran baru. Setelah membuat timeline berbenah kita harus mengantisipasi juga hambatan atau tantangan apa yang akan muncul dalam proses berbenah nantinya serta solusi apa yang harus kita siapkan jika kemungkinan-kemungkinan hambatan itu terjadi. Berikut ini timeline project konmari saya bersama anak-anak.

 

Hambatan dalam Berbenah

Hambatan pertama dan utama yang pasti akan saya hadapi adalah ‘keikutsertaan’ anak dalam proses berbenah. Ini saya alami juga ketika saya dan suami harus packing besar-besaran saat kami pindah rumah beberapa tahun yang lalu. Anak saya ketika masih Faris dan baru berumur 1,5 tahun, ketika itu terasa agak susah jika ia harus dilibatkan dalam proses berbenah. Yang ada berbenah malah makin lama selesainya dan saya jadi stres karena pekerjaan tidak kunjung selesai. Nah, apa kabar sekarang saya sudah punya dua balita laki-laki yang MasyaAllah sedang heboh-hebohnya.

Jadi bagaimana solusinya? Solusi untuk kegiatan ini ada dua. Pertama, saya dan suami berbenah ketika anak-anak tidur. Kedua, saya berbenah sendirian dan anak-anak diajak papanya bermain outdoor saja. Dua solusi ini pernah kami lakukan, and it worked.

Hambatan kedua berkaitan dengan komonos. Untuk kosmetik, alat tulis dan mainan anak, saya sangat susah membuat benda-benda ini rapi dalam jangka waktu yang lama. Ketika saya sudah selesai merapikan, pasti tidak lama nanti akan berubah berantakan lagi.

Solusi untuk kosmetik dan alat tulis, saya akan membuat storage divider agar lebih rapi dan mudah menemukan apabila sedang mencari.

Untuk mainan anak-anak, saya akan sortir seluruh mainan sesuai kategori untuk kemudian saya kemas ke dalam kotak-kotak tertutup. Toh tidak semua mainan harus dimainkan pada hari itu. Jadi saya harus lebih konsisten dalam kegiatan bermain dan belajar bersama mereka dengan cara membuat tema harian atau mingguan. Peralatan/buku/mainan yang di-display hanya yang sesuai tema saja dan ditaruh di rak berbeda dengan mainan yang sudah disimpan di kotak tertutup.

Hambatan ketiga yaitu ketika saya sudah berhasil memisahkan barang-barang yang akan disimpan dengan barang-barang yang akan saya discard, pasti rumah jadi terlihat penuh dan berantakan (terutama oleh barang-barang yang akan di-discard).

Solusinya, sejak awal saya akan menyediakan kotak kardus besar yang terdiri atas dua kategori: kardus untuk barang yang didonasikan dan kardus untuk barang yang akan dibuang. Jadi barang-barang tidak berceceran di lantai karena saat selesai disortir, semuanya langsung dimasukkan ke kotak kardus.

Hm, tugas kali ini tantangan besar bagi saya. Karena saya harus segera memulai dan menuntaskan kegiatan berbenah yang telah saya jadwalkan. Kebetulan saya dan suami sudah mulai berbenah minggu ini, semoga kerapian bisa bertahan lebih lama. Yes, we’ll start doing the KonMari Method from zero.

 

#konmariindonesia
#komunitaskonmariindonesia
#menatadirimenatanegeri
#shokyuuclass
#shokyuuB2Task2
#sparkjoy

Kenapa Menulis (lagi)?

Kenapa menulis lagi?
Bagi saya menulis itu melegakan hati, yang susah itu memulainya. Menulis adalah bagian dari ikhtiar kita untuk menceritakan sejarah. Kehidupan kita, kehidupan orang-orang sekeliling kita, dan kehidupan orang-orang yang berpengaruh di sekitar kita akan hilang seiring tua dan matinya orang itu, jika kita tidak menulisnya. Kemudian ia akan hilang dari ingatan kita.

Saya adalah seseorang yang ketika mulai berhijrah nyaris “hilang” dari ingatan publik ketika saya tidak pernah menulis lagi bahkan hendak menghapus segala social media yang saya punya. Kesibukan sebagai seorang ibu adalah alasan yang umum dan klasik yang saya sampaikan ketika ada orang bertanya, “Mengapa kamu tidak menulis lagi?”

Adalah Mbak Unna, biasa saya menyapanya. Lubnah Lukman alias bubun zafruby adalah seorang sahabat baik saya, sesama penulis, blogger dan ibu pembelajar yang hampir setahun tahun terakhir mendorong saya untuk menulis lagi. Perkenalan saya dengan Mbak Unna adalah ketika saya mencoba bergabung ke grup Rulis Ibu Profesional Batam. Setelah bertemu langsung dan ngobrol banyak mengenai program kerja Rulis saya pun mulai mengenal sosok Mba Unna.

Perempuan yang tegas namun sabar. Dia orang yang terbuka dan sangat humble. Saya senang berdiskusi banyak hal dengannya, bertukar pengalaman dan cerita.

“Saya suka tulisan mba Moniq, apalagi basic mba Moniq dulu jurnalis” adalah kata yang paling sering diucapkan Mba Unna ketika bertemu saya. Saking seringnya pernyataan itu diucapkannya, kadang saya menghindar dan memberi ruang untuk berpikir kembali. Kenapa saya tidak memulai menulis kembali, toh insyaAllah melalui tulisan ini saya bisa membuat kenangan dan mengikat ilmu yang pernah saya pelajari. Setelah kopdar perdana Rulis, saya pun memantapkan hati untuk kembali ke dunia menulis. Saya berjanji pada diri sendiri untuk mengosongkan gelas dan belajar dari awal kembali bersama PJ Rulis Ibu Profesional Batam.

kenang-kenangan belajar ngeblog di rumah Mbak Unna

Mba Unna adalah orang yang tidak pernah menyerah untuk mengajak saya menulis. Beberapa bulan bergabung di Rulis semangat dan kebiasaan menulis saya pun terbentuk. Komunikasi kami pun semakin intens seiring dengan pengerjaan project buku antologi Jungkir Balik Dunia Emak (Haru Biru Perjuangan Membersamai Buah Hati) yang alhamdulillah rilis juga pertengahan bulan ini.

Setelah bergabung ke dala Rulis, saya pun semakin semangat untuk terus belajar menulis dan mencoba berbagai tantangan menulis yang lain.

Padahal selama hampir tujuh tahun terakhir saya nyaris berhenti menulis. Jika pun ada hanya tulisan curhatan sebagai sarana pelarian semata dan jumlahnya bisa dihitung pakai jari. Pertengahan tahun 2013 saya hijrah ke Batam, dan terjebak dalam rutinitas kantor. Saya pun lupa bagaimana cara memulai menulis lagi. Berkenalan dengan orang baru dan lingkungan kerja yang sesuai dengan latar belakang pendidikan saya membuat saya semakin nyaman dan melupakan kegiatan menulis apalagi ngeblog.

Mengapa Tidak (Kembali) Menulis?

Saya tidak pernah bertanya, mengapa Mbak Unna getol sekali dan terus menyemangati saya untuk menulis. Suatu ketika saya menemukan sebuah kutipan dari seorang novelis ternama, Pramoedya Ananta Toer. Katanya: “Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tdak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Kutipan Maestro ini mengagetkan saya. Apakah saya akan hilang seperti yang diceritakan Novelis kebanggaan bangsa ini?

Dua pekan lalu, saya bertemu untuk yang terakhir kali sebelum Mbak Unna pindah ke kota Surabaya. Rasanya sedih sekali, baru saja saya mengenal sosok yang selalu tulus berkontribusi dalam Komunitas Ibu Profesional Batam. Mbak Unna terus menyemangati saya untuk terus menulis dan berbagi apapun lewat tulisan. Ah, rasanya saya masih ingin berdiskusi dan belajar banyak hal dari Mbak Unna.

Tulisan ini tentu bukan tulisan yang bagus. Namun, berangkat dari sini saya ingin menancapkan tekat, saya akan memulai lagi, lagi dan lagi. Menulis untuk kesenangan, menulis untuk menambah kebahagiaan.

Saya ingin mengikuti anjuran pepatah yang saya kutip di awal tulisan ini, bahwa sejarah hidup dan pergaulan saya dengan warga dunia tidak boleh menjadi dongeng. Saya ingin buktikan, bahwa sejarah hidup saya layak jadi sejarah, bukan jadi dongeng.

Belakangan ini, kekuatan untuk menulis tiba-tiba muncul begitu kuat. Jika kembali membaca tulisan-tulisan lama saya rasanya nano-nano sekali. Kadang sangat memuaskan, malu, heran, tapi selalu berujung dengan bahagia. Kenapa? saya lega sudah menuliskan apa yang ada dalam pikiran. Menulis merupakan sarana untuk menormalkan pikiran. Hal ini terdengar aneh tapi ini nyata. Dengan menulis otak kita terefleksi untuk mengurai satu persatu hal yang memenuhinya dan hidup terasa lebih bahagia setelah menulis, menurut saya sih begitu.

Bagaimana caranya agar terus konsisten menulis? Tentu saja hal pertama yang perlu dilakukan adalah menguatkan niat dan istiqomah untuk melakukannya. Dua hal tersebut adalah kunci untuk melakukan segala sesuatu.

Hal kedua, menemukan media untuk menulis. Setelah belajar dan bergabung ke dalam komunitas blogger, saya memilih dua media untuk menyusun strategi istiqomah tersebut. Media pertama ialah buku catatan, dan media kedua adalah blog pribadi.

Buku menjadi hal wajib yang diperlukan, bisa dibawa kemana saja dan membuat saya merasa lebih kreatif. Menulis langsung dengan tangan dan melihat langsung tulisan kita, menghiasi kertas dengan berbagai gambar dan warna. What a happy, right? Tapi buku ini tidak bisa saya isi dengan berbagai unek-unek dengan tulisan panjang lebar. Tangan emak-emak terlalu pegal untuk menulis dan inspirasinya ga begitu dapat jika menulis dengan tangan. Saya mencatat kilat sebagian besar aktifitas harian anak-anak, to do list dan jadwal penting lainnya.

WordPress saya pilih sebagai media ketiga yang saya pilih setelah sebelumnya saya menggunakan blogspot (blog ini berisi curhatan random dan catatan semasa kuliah), dan tumblr (lumayan istiqomah entah berapa banyak puisi dan cerita alay yang berhasil terangkai dalam kata tapi sekarang sudah tidak bisa dibuka lagi, entah mengapa, hiks). WordPress saat ini terasa lebih simple untuk dipelajari tanpa perlu ngotak ngatik template dan tema. Saat ini banyak juga referensi pengguna wordpress yang tulisannya lebih mencerdaskan dan mengkayakan wawasan saya. Itu yg membuat saya tertarik!

Lalu gadget macam apa yang digunakan untuk menulis? Haha ini yang lucu. Dulunya saya paling tidak bisa menulis di blog kalau tidak menggunakan PC. Bahkan salah satu alasan saya off ngeblog lantaran saya merasa terhambat karena laptop rusak (padahal hp ada tapi rasanya tidak pernah mendapatkan inspirasi menulis jika menulis menggunakan hp). Tetapi kebiasaan lama ini lambat laun bergeser seiring tuntutan pekerjaan dan ternyata saya pun bisa menulis melalui media hp karena terbiasa. Jadi tidak ada alasan untuk absen menulis lagi ya. Wkwk. Bismillah..

At least, thats all my reason why i am back writing. Terima kasih atas perkenalan yang indah ini ya Mbak Unna, semoga di tempat yang baru dirimu selalu menginspirasi dan menebar manfaat bagi banyak orang. Love 💞

Foodwaste dan Apa Solusinya?

Ketika membahas makanan sisa alias foodwaste, kebanyakan orang merasa hal ini bukanlah suatu masalah besar karena kebiasaan ini sudah membudaya dalam kehidupan masyarakat. Bahkan, buruknya lagi beberapa orang tidak berpikir ada sesuatu yang salah apabila membuang makanan segar dan makanan yang masih bisa dimakan karena itu sudah menjadi keseharian.

Sampah makanan adalah salah satu problem saat ini. Bahkan salah satu survei menyebutkan Indonesia adalah salah negara penghasil sampah makanan terbanyak di dunia. Menurut Economist Intellegence Unit, ada 300 kilogram makanan/bahan makanan yg dibuang oleh setiap orang Indonesia per tahunnya.

Jika kembali kepada petunjuk hidup, sesungguhnya terdapat aspek yang sering diabaikan oleh kita dari ajaran agama Islam yakni penekanan pada kesederhanaan, penghematan dan menghindari pemborosan.

Allah SWT berfirman dalam Al Quran:
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Surat Al A’raaf ayat 31)

” Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (Surat Al Israa ayat 26-27)

Dalam masalah pemborosan, Islam bahkan telah selangkah lebih maju ketika menyatakan bahwa jika waktu tidak dihabiskan untuk kegiatan yang berarti dan produktif maka hal tersebut dianggap sebagai bentuk pemborosan.

Allah berfirman:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (surat Al Asr ayat 1-3)

Jika manusia dapat lebih bijaksana, banyak masalah akan diselesaikan secara otomatis tanpa perlu melakukan terlalu banyak usaha. Mari berpikir ulang, berapa jumlah sumber daya alam yang dapat diselamatkan, jumlah orang lapar yang bisa makan, dan tingkat kerusakan lingkungan yang dapat diperbaiki atau dicegah jika pemborosan makanan terjadi sedikit.

Perintah ajaran Islam bahwa sebagai Khalifah Allah di bumi, manusia harus mengelola dunia ini dengan cara yang terbaik untuk mendapatkan kebaikan dan melakukan keadilan untuk semua makhluk, bukan untuk memanjakan keserakahan manusia dan nafsu yang tak pernah puas.

Meskipun benar bahwa sebagian besar keadaan sulit dunia saat ini adalah murni buatan manusia, manusia juga memiliki kemampuan beragam dan kekuatan pikiran untuk menghadapi krisis terbesar dan menyelesaikan bencana terburuk.

Saat merubah mindset dan tidak ingin membuang makanan yang masih bisa dimakan sebab pemborosan saat ini adalah kekurangan untuk besok.

Miris yah, di tengah maraknya pemberitaan gizi buruk, orang-orang mengantri berjam-jam untuk membeli sembako, ternyata tanpa kita sadari masih banyak makanan dan bahan makanan yang terbuang sia-sia. Sampah yang kita hasilkan sehari-hari kebanyakan berasal dari limbah rumah tangga makanan yang tidak habis termakan atau bahan makanan yang sudah rusak tanpa sempat diolah.

Nah, salah satu solusi mengurangi produk sisa tersebut adalah beli dan masak bahan makanan seperlunya saja. Loh, berarti kita nggak boleh nyetok bahan makanan? Trus apa mesti ke pasar tiap hari? Gimana kalo emak-emak yang sempatnya belanja seminggu sekali? Itulah kegalauan yang muncul di benak kita berkaitan dengan kampanye less food waste ini.

Tetapi semua pasti ada solusinya kan, mak? Kita tetap bisa belanja bahan makanan seminggu sekali, simpan di dalam kulkas dan dibagi dalam beberapa porsi agar bisa digunakan seperlunya sedikit-sedikit. Kalaupun terpaksa ada sisa dalam pengolahannya maka kita bisa menyelamatkan bahan sisa ini dengan mengolah mereka menjadi kompos.

Saatnya kita menjadi konsumen bijak. Wortel bengkok dengan wortel yang tegap lurus, nutrisinya sama loh. Bayam yang daunnya kecil-kecil memang lebih susah disiangi, tapi rasanya sama kan dengan bayam yang daunnya bulat cantik lebar? Untuk konsumsi harian kan tidak masalah. Industri pangan adalah industri terpadu, zero waste. Sisa makanan bisa digunakan untuk pakan ternak kan? Sehingga akan menekan biaya pakan dan meningkatkan akses masyarakat untuk protein hewani. Adil untuk manusianya, adil untuk hewannya.