RESUME KULWAP PARENTING BERSAMA @PARENTINGISLAM dan KIKI BARKIAH “BIJAK MENGENALKAN GADGET PADA ANAK SESUAI USIA

Alhamdulillah, senang sekali saya mendapatkan kesempatan belajar melalui WAG bersama teh @kikibarkiah yang dipandu oleh admin @parentingislam dengan tema khas pengasuhan anak jaman sekarang. Banyak yang bilang, saat ini kita berada di zaman Abad 21 yang disebut juga Abad Milenium, di mana semua alat-alat serba canggih, hampir semua menggunakan mesin, contohnya memasak nasi, pemanas air sampai media komunikasi. Hal ini memberikan efek positif yakni mempermudah/mempercepat proses tersebut. Tetapi, di sisi lain bisa memberi efek negatif, contoh apabila alat  komunikasi  seperti handphone tidak di gunakan dengan benar bisa merusak generasi anak-anak kita.

Saat ini peralatan canggih yang bernama smartphone, tidak hanya dimanfaatkan oleh orang dewasa saja,  tetapi juga sudah menjadi konsumsi anak-anak.  Bahkan banyak anak yang masih berusia 3 tahun – 5 tahun yang sudah terbiasa dengan peralatan digital ini.  Hal ini harus sangat diwaspadai, sebab kecanduan dengan peralatan digital atau gadget ini akan berdampak kurang baik pada anak. Kecanduan gadget akan membuat anak kehilangan minat untuk belajar, bersosialisasi dan selain itu juga bisa berdampak buruk pada pengelihatan anak.
Diperlukan metode khusus mendidik generasi Islam di Abad 21 yang penuh tantangan, dilema, dan banyak faktor yang akan menjauhkan mereka dari agamanya, terutama paham liberal/kebebasan dalam bersikap dan berpendapat tanpa aturan menjadi kepribadian anak-anak kita.
Wahai Kaum Muslim,” didiklah anak-anak mu sesuai dengan zamannya karena mereka hidup bukan di zamanmu, demikian kata Ali bin Abi Thalib. Di zaman ilmu pengetahuan yang semakin maju yang harus kita tanamkan kepada anak-anak kita yang paling utama adalah keimanan dan ketaqwaan (IMTAQ) kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Jadikan Halal dan Haram sebagai tolak ukur dalam perbuatan, meraih Ridho Allah Subhanahu Wata’ala sebagai tujuan hidupnya, agar generasi anak-anak kita menjadi generasi umatan wasathan (umat yang paling mulia di sisi Allah Subhanahu Wata’ala) serta mempunyai kepribadian Islam yang utuh, (baca surat 2:143). Aamiin…Aamiin…
Materi yang menjadi perhatian saya dalam kuliah whatsapp tersebut adalah mengenai cara agar anak tidak terlalu tertarik dengan gadget dan hanya menggunakan gadget untuk beribadah kepada Allah. Hampir semua orang, dari kalangan manapun pasti tertarik mendapatkan informasi melalui paparan multimedia. Saking asyiknya, perhatian kita saat melihat multimedia akan fokus terpusat. Bahkan sulit peduli pada kondisi sekitar. Ketika ada orang lain di sekitar kita, kita kurang aktif merespon. Ini nyata adanya. Oleh karena itu untuk sesuatu yang sangat mengasyikan ini, kita tidak perlu terburu-buru menawarkan mereka sedari dini. Karena semua anak pada akhirnya akan suka dan tertarik dengan gadget dan multimedia.
Jadi sekarang bagaimana upaya kita agar anak-anak tidak tertarik dengan paparan multimedia. Dengan kata lain, bagaimana membuat anak tertarik pada hal lain selain multimedia. Tentunya perlu pembiasaan dalam lingkungan, agar anak-anak memiliki kegemaran lain selain berinteraksi dengan multimedia.
Anak-anak tidak pernah saya berikan gadget, sulung saya saat usianya 2 tahun baru tahu fungsi handphone itu untuk berkomunikasi, untuk telepon atau videocall saja. Baru-baru ini saja dia tahu kalau ternyata di hp kita bisa lihat video edukasi (tetapi tetap belum tahu youtube😁). Jadi kita mencari informasi mengenai pembahasan tematik harian, bisa lewat video tutorial atau video edukasi melalui youtube.
Apa tidak repot membersamai dua balita sekaligus tanpa dialihkan dengan gadget? Tidak tentunya. Akan lebih repot lagi apabila anak sudah kecanduan dan tantrum sudah menjadi keseharian kala permintaannya tak dituruti.
Apa solusinya?
Kita perlu memberikan sekian banyak pilihan menu aktifitas dalam rangka beribadah kepada Allah. Ketika ada banyak menu pilihan aktifitas, otomatis waktu untuk berinteraksi dengan multimedia itu menjadi semakin sedikit.
 Ketika mereka sudah diperbolehkan terpapar multimedia, jadikan gadget dan multimedia sebagai sarana belajar dan melihat keagungan Allah melalui pengetahuan akan tanda-tanda kekuasaan-Nya,  sarana mengingat Allah, sarana menuntut ilmu agama, sarana untuk memudahkan ibadah, serta sarana untuk meningkatkan kualitas ibadah. 
Ketika hal ini kita biasakan sedari kecil, insya Allah anak-anak pun akan memahami bahwa multimedia dan gadget ini memiliki berbagai pilihan dalam memanfaatkannya. Tidak hanya sekedar untuk hiburan. Apabila dari awal suasana keluarga yang dibangun dalam memanfaatkan gadget indentik dengan bermain games dan hiburan lainnya, maka wajar jika ditengah jalan kita butuh effort yang lebih besar ketika ingin menghadirkan gadget sebagai sarana lain selain hiburan. Mendidik anak itu memberikan teladan. Ketika kita ingin anak-anak berbuat baik maka orang tualah yang seharusnya memperbaiki diri terlebih dahulu.
Oleh karena itu sedari kecil, anak-anak pun saya berikan pilihan aktifitas permainan sehingga multimedia itu hanya sebagian kecil dari keseharian mereka. Saya tidak mengidentikkan permainan masa kini selalu berupa games multimedia. Sehingga otomatis ketika anak jaman sekarang masuk pada jam bermain mereka sibuk dengan gadget. Ketika anak berkumpul dengan teman selalu bermain games. Sungguh memprihatinkan. Oleh karena itu, sedari kecil mari kita perkenalkan bahwa multimedia dan gadget adalah sarana belajar yang bisa meningkatkan keimanan kita kepada Allah dan meningkatkan ibadah kita kepada Allah. Mari kita sodorkan sebanyak-banyaknya sisi positif dari gadget dan multimedia. Yang dengan sendirinya membuat mereka tidak ada waktu untuk menggunakannya pada hal-hal yang sia-sia apalagi bermaksiat kepada Allah.
Pesan penting bagi orang tua di luar sana, perhatikan kapan waktu terbaik orang tua memberikan gadget kepada anak-anak dan berikan aturan yang jelas terhadap penggunaan gadget. Bagi orang tua yang anaknya sudah terlanjur kecanduan gadget maka segera putuskan rantai masalahnya, dorong anak-anak melakukan aktivitas outdoor. Minta anak-anak bermain di luar rumah, bersama teman-temannya atau anak-anak lainnya. Bermain atau melakukan kegiatan outdoor akan membangun kebugaran mental dan fisik anak, terutama jika mereka bermain dalam kelompok.  Orangtua bisa membantu anak bermain dengan teman sebayanya, misalnya dengan mengantarkan atau mengenalkan anak dengan tetangga yang sebaya. Sediakan permainan fisik, yang dimaksud di sini adalah permainan yang menuntut mereka bermain secara fisik seperti lompat tali, main boneka, masak-masakan, robot-robotan, menggambar, mewarnai dan lain sebagainya yang membuat mereka aktif secara fisik dan lepas dari gadget. Kembangkan hobi anak, hal ini bisa dijadikan hobi yang menjauhkan anak dari gadget. Anak akan lebih antusias dengan menekuni hobinya daripada menghabiskan waktu dengan gadget. Dukung dan fasilitasi anak untuk melakukan hobinya.
Ada banyak keterampilan seni atau olahraga yang bisa membantu fisik motorik dan kognitif anak sehingga anak lebih kreatif dan punya hubungan sosial yang baik. Ajak anak untuk membuat barang-barang dari barang bekas, atau berlatih berenang, les musik dan lain sebagainya untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya.
Apabila anak memang tidak terlalu suka kegiatan fisik, maka orangtua bisa mengalihkan perhatian anak dengan mengajak anak membaca.  Sediakanlah buku-buku yang menarik dan mendidik sesuai dengan usia anak.  Ajak anak membaca bersama-sama,  lalu orangtua bisa mengajukan tanya jawab tentang isi bacaan dan sebagainya.  Bisa juga dengan mengajak anak menyelesaikan puzzle. Kenalkan puzzle secara bertahap mulai dari yang jumlah kepingannya sedikit hingga bertambah banyak. Selain itu piknik atau berlibur ke alam
Sesekali ajak anak untuk lebih dekat dengan alam, mentadaburinya. Menyadari bahwa dunia ini sangat indah, dan ada banyak hal yang bisa dieksplor selain berkutat dengan gadget. Biarkan anak-anak menikmati waktunya bermain di alam dan menemukan banyak hal yang belum pernah ia alami.
Ada banyak alternatif permainan dan kegiatan yang jauh lebih seru dibanding hanya memandang layar gadget di luar sana. Bukannya tidak boleh mengenal teknologi dengan lebih dekat, namun alangkah baiknya jika waktu yang dihabiskan anak dengan gadget tidak lantas merusak interaksinya dengan teman-teman dan merenggut waktu bermainnya bersama anak-anak lain. Semangat berubah lebih baik, insya Allah💕 #kulwapparentingislam10nov @parentingislam

Science with Kids : Kuman Kocar Kacir

Jumat ini Faris masih melanjutkan pengamatan dengan bahan yang hampir sama dengan kegiatan yang dipakai kemarin. Ada dua kegiatan yang kami lakukan hari ini.Penasaran?Yuk ikuti kami…

Kegiatan Kreasi Warna

Untuk kegiatan pertama, mama menyiapkan kegiatan #sciencewithkids dengan tema
” Kuman Kocar Kacir “

Alat dan bahan:
● Semangkuk air 
● Pewarna makanan
● Lada
● Sabun mandi

Cara bermain:
● Faris memasukkan pewarna ke dalam air yaitu menggunakan 3 warna dasar, yaitu merah, biru, dan kuning, saat warna mulai larut terlihat pencampuran warna dan terbentuklah warna2 sekunder.
● Faris menaburkan lada pada air. 
● Faris mengolesi tangannya dengan sabun. 
● Faris mencelupkan tangannya yg sudah diolesi sabun ke dalam air, apa yang terjadi???? 

Wahhh, ladanya bergerak menjauh.. MENGAPA??
Bubuk lada dapat tenang berada di permukaan air karena ditahan oleh tegangan permukaan air. Cairan seperti sabun merusak tegangan permukaan air. Karena sabun dicelupkan di bagian tengah, maka bubuk lada bergerak ke tepi, mencari bagian air yang belum rusak tegangan permukaannya.

Faris sebenarnya belum mengerti dengan teori ini?? Mama hanya menjelaskan, kalo lada itu diumpakan sebagai “kuman”, nah kalo tangan kita dicuci dengan sabun, kumannya akan lari nak, kumannya kocar kacir. Maka dari iti Faris harus rajin cuci tangan sehabis berkegiatan. Jangan lupa selalu mencuci tangan ya teman-teman. 

Kenalan dengan Homeeducation

Bismillah izin sharing. Saya mengenal homeschooling saat anak sulung saya, Faris masih berusia 14 bulan. Jauh sebelum mengenal homeschooling saya terlebih dahulu mengenal metode belajar montessori, itu salah satu hal yang mempengaruhi keputusan saya untuk menunda sekolah Faris, yaitu tidak masuk preschool dan TK. 
Saat itu saya mencari ide kegiatan dan tahapan bermain bersama anak sesuai usianya. Saya ngeblank sekali, alhamdulillah akhirnya bertemu dengan komunitas IMC. Jd tahap awal homeeducation anak batita saya mulai dengan mengikuti tahapan sensory play metode montessori kemudian setelah ank berusia 2 tahun dan paham instruksi saya mulai mengikuti materi hs dr sabumi hs. Catatan harian progresive anak kala itu belum terlalu terstruktur hanya beberapa yang penting bisa terdokumentasi. Saat ini ank sy 3th dan sy mulai smakin serius dg mulai membuat portofolio anak dalam bentuk lapbook. Untuk materi belajar sy mix dr grup hsmn dan kejutan karena stiap hari pasti ada saja objek pengamatan anak-anak. 
Saya pribadi setuju dengan pendapat bahwa meski banyak preschool dan TK yang keliatannya santai, “tidak berat”, dan hanya “main-main” saja, tapi tidak punya “otoritas yang lebih tinggi” di usia dini untuk mendikte Faris melakukan sesuatu itu cukup penting sebagai pondasi menumbuhkan rasa percaya diri (self-confidencedan membentuk paradigma (mindset) baik ke kami, orangtuanya, maupun ke dirinya sendiri, bahwa dia, bisa belajar otodidak tentang apapun sejak dini. Saya sangat berharap dengan belajar di rumah buah pemikirannya dan  kreatifitasnya tidak dipatahkan oleh orang lain.

Perkenalan dengan homeeducation based on fitrah juga mengajari saya bahwa yang terpenting di usia dini justru menumbuhkan rasa nyaman dan betah tinggal dirumah(dengan tidak keluar rumah terlalu dini) dan memberi kesempatan lebih panjang untuk saling mengenal (get connecteddengan anggota keluarga sendiri. Saya mempercayai pendapat yang bilang, setelah itu, kebutuhan ke luar rumah akan tumbuh secara alami dan dengan sendirinya, datang dari anak itu sendiri, dimana kapan kebutuhan tersebut muncul, akan bervariasi tiap anak.
Keputusan ini ternyata merupakan keputusan berharga, karena saya menjadi “saksi mata” bagaimana Faris mampu “mengupgrade” diri tanpa ada “yang mengajari”. Saya ingin melihat kemampuan anak untuk self-taught (mengajari diri sendiri) dan self-learning dengan minimal intervensi. Dimulai dari bisa meronce demi membuatkan gelang untuk mamanya dengan sendirinya di usia 2 tahun (padahal saya berencana baru akan mengajar meronce detil di usia 3tahun), hingga detik ini Faris terus membuktikan diri bahwa anak-anak bukanlah wadah kosong yang perlu diisi, tapi lebih mirip dibilang seperti spons yang menyerap sekelilingnya secara alami tanpa perlu “susah payah”. 
Rupanya “minimal intervensi” dari saya sebagai orangtua, menumbuhkan rasa gelisah dan galau, karena merasa “tidak ngapa-ngapain”, meski sudah jelas catatan belajar (portofolio) Faris sudah membuktikan bahwa dirinya terus belajar tanpa ada halangan, dan kemampuannya terus keliatan berkembang.

Paradigma kalau Anak tidak keliatan “terpaksa” dan “stress” berarti tidak belajar, ternyata tetap menghantui. Paradigma kalau “guru” (dalam hal ini orangtua) harus melakukan persiapan belajar seperti lesson plan, materi belajar, kurikulum, dan jadwal belajar, supaya keliatan “serius mengajar”, terus membayangi. Terutama kalau ada teman, keluarga, dan pihak luar mulai bertanya-tanya (beneran ingin tahu karena tertarik, bukan sekedar nanya), tentang jadwal belajar anak-anak homeschool.

Saat ini saya dan suami sedang membentuk lingkungan rumah yang menarik untuk di eksplorasi. Semua kembali kepada visi misi masing-masing keluarga.  Ada satu keluarga yang membangun perpustakaan keluarga dan memenuhi dengan koleksi-koleksi menarik, sementara yang lain akan merasa cukup dengan googling di internet. Satu keluarga memutuskan mematikan TV, sementara keluarga lain berlangganan TV kabel sebagai investasi. Satu keluarga memutuskan menggunakan gadget seperti komputer, iPad, playstation, dan lain sebagainya sebagai bagian dari keseharian belajar, sedangkan keluarga lain memutuskan untuk menunda mengenalkan anak ke gadget sampe waktu tertentu. Menghindari praktik-praktik yang akan membuat anak jadi enggan membaca. Dilibatkan dalam urusan rumah tangga (household chores) sebagai bagian dari lifeskill, seperti memasak, membersihkan rumah, dan lain sebagainya. Merencanakan kegiatan keluarga bersama dan field trip secara reguler sebagai bagian dari keseharian belajar. Terlibat dalam kegiatan di lingkungan rumah, sebagai bagian dari volunteering/kerja sosial. Mendaftar ke kursus/les yang berhubungan dengan hobi dan kesukaan anak. Merencanakan play dates (kencan bermain) dengan sesama homeschooler. Happy homeschooling!! ^_^

Mengumpulkan Yang Terserak

Sudah hampir dua minggu saya merasa keteteran saat menjadi fasilitator bagi dalam proses belajar anak-anak. Dengan semakin bertambah kemampuan anak-anak energi yang harus dikerahkan oleh emaknya pun semakin besar. Baiklah mengenai laporan harian untuk project harian anak saat ini saya berusaha mencatat hal-hal penting dan berkesan setiap harinya di notes kecil dengan tulisan seadanya karena dibutuhkan kemampuan multitasking saat mengajar dan mencatat. Anak saya ini tipe anak yang nggak gampang puas jika bertanya dan pembahasan akan melebar kemana mana sampai keluar dari topik. Baiklah semoga usaha saya menuangkan jurnal harian kegiatan belajar kami di dalam blog ini tidak sia-sia.  Bismillah…

Saat melihat berbagai contoh portofolio anak di pinterest saya  jadi tertarik ingin membuat dalam bentuk lapbook. 
Lapbook adalah portofolio yang murah, koleksi dari buku buku kecil, lembaran buka tutup, dan materi tampilan yang dapat dilipat yang memungkinkan ruang interaktif untuk gambar, cerita, grafik, alur waktu, diagram, pekerjaan tertulis dari topik apapun, unit pembelajaran, buku yang kita pilih, kemudian dipilih, dikumpulkan,ditempelkan, lalu secara kreatif ditampilkan dalam map warna warni ukuran standar.-Johanna Whittaker
Lapbook adalah salah satu alat hands on dalam homeschooling yang menyenangkan, sesekali kami melakukannya bersama.
Ya, tanpa saya sadari saya mengumpulkan beberapa hasil karya faris sejak dia berusia 2 tahun. Kami sering bermain, mengamati dan membuat sesuatu  dadakan tanpa rencana jadi jangan samakan dengan kurikulum ala anak sekolah. Intinya jangan memaksa ketika anak anak memang sedang mogok atau nggak  mau melanjutkan kegiatan yang sudah dimulai. Dan yang utama jangan kaget kalo melenceng jauh dari rencana emaknya hahha..sering juga emaknya yang kegirangan bikinnya tapi anak anak mainan apa gitu yang lain. Ini beberapa karya saat kita di kelas gunting, lipat dan menempel. 

Jangan juga mengira hasilnya akan selalu indah menawan seperti yang ada di Pinterest. Karena setelah beberapa kali melakukannya, yang murni dibuat dari keinginan anak anak..ya bener bener original banget deh, tidak rapi dan isinya masih belum fokus pada satu tema. Bukan dengan gaya emaknya, bukan dengan gaya Pinterest.
Harap dimaklumi masih tahap belajar. Tidak ada yang benar atau salah kok dalam membuat lapbook. Lapbooking adalah cara yang menyenangkan untuk mengajarkan konten dan proses.
Konten datang dari topik yang menarik anak anak hingga diharapkan akan mengeluarkan motivasi internal dan rasa kepemilikan pada hasil karyanya.
Proses dalam pembuatan Lapbook akan membantu anak anak (dan fasilitatornya nih ) dalam hidup, untuk melakukan penelitian, perencanaan, kreatifitas, presentasi, dan evaluasi.
Kelebihan lapbook itu, adalah tersimpannya satu unit atau topik belajar anak anak dalam wadah yang kapanpun bisa dipelajari ulang sambil buka tutup lembarannya, atau memutar roda rodanya, atau mengeluarkan dari dalam kantung kantungannya, atau sambil menambahkan lagi fakta baru atau menempelkan gambar baru. Malam ini saya mulai mengumpulkan materi untuk membuat lapbook tahun pertama kami, tidak kata terlambat dalam belajar. 
Kalau tertarik membuat lapbook bisa berkunjung ke http://www.homeschoolshare.com/lapbooking_resources.php. Ada tutorial dan templatenya yuk mari kita buat 

Cerita Toilet Traning Part 2

Lain lubuk, lain belalang. Beda anak, beda cerita. Cerita toilet training part 2 ini tentang pengalaman latihan toilet training anak saya yang kedua. Secara motorik anak sungsang saya ini jauh lebih cepat dibandingkan dengan kakaknya. Belum ada 3 bulan dia sudah bisa tengkurap tanpa bantuan. 
Dan di usia belum ada 6 bulan sudah mahir duduk sendiri bahkan senang sekali lompat-lompat. Jadi bisa dibayangkan saat usianya 1 tahun sudah bisa apakah dia? sebelum laju jalannya bahkan Irbad sudah mahir memanjat apa saja mulai dari sofa, tralis, meja di ruang tamu bahkan rak bukupun dipanjat olehnya. Irbad bisa jalan tepat di usia 1 tahun 2minggu. Belum ada 2 minggu bisa jalan alhamdulillah Irbad sudah bagus koordinasi tubuhnya dan sedang belajar berlari.

Melihat perkembangannya yang bagus ini maka saya memutuskan untuk mulai mengajarkan toilet training kepadanya. Toilet training dimulai di usia 13 bulan dengan mencoba melepas clodi dari pagi hari hingga malam sebelum dia tidur. 
Alhamdulillah hari pertama saya berjalan dengan lancar.

First trial, saya biarkan Irbad pipis di celana seharian itu sambil saya amati frekuensi pipisnya setiap berapa jam sekali. Ternyata Irbad jauh lebih peka, awalnya dia pipis sembarangan akan tetapi setelah saya bilang “Irbad, kalau mau pipis bilang sama mama dulu”  dia bisa mengutarakan meskipun belum jelas ngomongnya.

Dengan sedikit bantuan bahasa isyarat dengan memegang celana sebagai tanda dia ingin buang air kecil. Berawal dari situ latihan pipis berjalan dengan lancar meski ada sedikit kotor di lantai dan harus ada adegan mengepel itu adalah hal biasa.

Saya bersyukur sekali cerita toilet training kali ini tidak penuh dengan drama seperti masnya dulu. Untuk poopnya pun Irbad sudah berhasil poop di toilet karena sesungguhnya lebih sulit toilet training pipis dibandingkan poop. Saat ini saya sudah berani mengajak Irbad pergi sebentar sejam dua jam tanpa clodi. 
Semoga tidak lama lagi Irbad bisa lulus toilet training, aamiin 
bye bye clodi 

Science with Kids : Belajar Membuat Hujan

Week 3 : Kreasi Warna

Date      : 23/10/17
Theme  : #Sciencewithkids



HOW CLOUDS MAKE RAIN

Tik Tik Tik Bunyi Hujan Di Atas Genting
Alhamdulillah patut disyukuri nikmat Allah yang satu ini. Tepat sekali momen nya dengan cuaca di Batam yang setiap harinya hujan, mama mengajak Faris membuat simulasi hujan.

Alat dan Bahan:
Wadah bening
Air
Pewarna makanan
Sabun Mandi Faris

Proses:
Siapkan wadah, tuang air ke dalamnya kira-kira 1/2 sampai 3/4 tinggi wadah. Kocok2 sabun yang sudah dicampur air sedikit, lalu semprotkan di atas permukaan air. Lalu teteskan pewarna makanan di atas foam. Amati apa yang terjadi

Foam atau busa sabun itu diibaratkan sebagai awan. Awan yang tertiup angin, perlahan-lahan terkumpul menyatu. Semakin lama semakin berat gumpalan awan. Lalu turunlah tetesan air yang disebut hujan (tetesan air hujan disimulasikan dengan tetesan pewarna makanan). Berulang kali membacakan buku mengenai petualangan air, termasuk terjadinya hujan itu prosesnya seperti apa. Dan baru kali ini kesampaian eksekusi simulasi sederhana bagaimana awan meneteskan hujan.
.
.

Apapun yang Faris ingin ketahui mengenai air, ya terjawab di buku ini. Tentang energi tenaga air, siklus air juga dinelaskan di dalam buku ini. 
Buku yang dibaca berulang kali, tiada bosan nya ini. Sampai-sampai sudah lama minta dibikinkan simulasi hujan, tapi baru kesampaian kemarin (24/10/17) .
.
.
.

Apasih Portofolio Anak? 

Apa sih portofolio anak itu? Jadi portofolio anak itu adalah alat bantu orangtua untuk mengukur, melihat, atau mengenali bakat, minat, gaya belajar atau keunikan seorang anak. Biasanya kan kalau mau tau bakat atau minat anak, orang tua seringkali mengikutkan anak mereka tes bakat/minat. Nah, portofolio ini sama seperti itu. Bedanya, portofolio anak ini dibuat sendiri oleh orangtua si anak dengan mengamati dan memberi stimulasi ke si anak. Jadi, dalam membuat portofolio untuk anak, orangtua pastinya harus aktif mencatat, mengamati dan menggali apa saja yang membuat anak senang, apa yang membuat mereka sedih, apa yang mereka suka, dan apa yang mereka kurang suka.
Kata “Portofolio” itu sendiri berasal dari kata Port (laporan) dan Folio (penuh atau lengkap), yang artinya laporan yang lengkap dan menyeluruh. Lalu apa sih manfaatnya bikin portofolio anak? Dari materi kulwap, inilah beberapa manfaatnya :
1. Untuk Memfasilitasi Pertumbuhan Anak (Development Portfolio)
Portofolio ini berfokus tunggal pada salah satu aspek pertumbuhan anak. Anak-anak special needs atau anak dengan kebutuhan khusus, umumnya menggunakan portofolio.
2. Untuk Menyediakan Basis Evaluasi atau Persiapan Ujian (Assessment/Standard besed Portofolio)
Portofolio ini biasanya digunakan di sekolah karena harus memenuhi standar tertentu atau juga digunakan untuk persiapan ujian atau sertifikasi.
3. Untuk Menyoroti Kinerja dan Kapabiliti Anak (Showcase Portofolio)
Portofolio ini sifatnya atau konteksnya sangat personal, dapat digunakan untuk memahami pola potensi anak atau untuk pengembangan bakat melalui beragam kegiatan atau proyek.
4. Untuk Merekam Proses Belajar Anak dan Konten Pengetahuan yang Dikuasai (Learning Portfolio)
Portofolio ini bisa menggunakan standar, bisa pula bebas disesuaikan dengan minat dan kebutuhan anak.
Dengan membangun portofolio pendidikan anak, maka para orangtua akan jauh lebih mengenal anaknya, akan lebih memahami pola perkembangan dan potensi keunikan fitrah anak. Hal ini karena Portofolio akan memberikan rekam jejak melalui pencatatan jurnal kegiatan, atau dokumentasi jurnal kegiatan, disertai lampiran bukti (evidence) produk atau karya bisa dalam bentuk tulisan, audio, video, dan lainnya.
Membuat portofolio anak ini bisa dilakukan sejak bayi dengan develop portofolio tentang tumbuh kembang anak. Setelah tau sedikit tentang portofolio anak, yuk kita buat portofolio anak kita agar bisa memantau perkembangan mereka. Karena yang paling tau seorang anak, adalah orangtuanya.

Terapung atau Tenggelam? 

Hari ini kami belajar konsep 

“Terapung dan Tenggelam”

Kami mencoba eksperimen Sains sederhana,saya menjelaskan pada Faris konsep tenggelam dan terapung.
Menggunakan jeruk, apel, mangga, Faris memasukkan ke dalam air dan lihat apakah buahnya mengapung atau tenggelam. Mama juga sudah siapkan apel dan jeruk yang dikupas.

Ternyata semuanya mengapung, kecuali jeruk yg sudah dikupas.
Hal itu disebabkan adanya rongga udara di pori-pori kulit jeruk yang menahan jeruk supaya tetap mengapung, ketika kulitnya dikupas jeruk akan tenggelam. Jadi kulit ibarat baju pelampung.

Kenapa jeruk yang besar tidak tenggelam? Selain karna masih memiliki kulit, konsep terapung dan tenggelam itu tidak ditentukan dari berat buah, tetapi massa jenis. Jeruk yang tenggelam karena massa jenis jeruk (tanpa kulit) lebih tinggi dibanding air.

Membaca informasi mengenai Hewan cacing

.

Kenapa air mancur jatuh? Karena ada gaya gravitasi.

.

Kenapa nenek sudah tua giginya rusak?
Setiap manusia mengalami fase pertumbuhan dalam kehidupannya. Kalau nenek itu berada pada tahap akhir kehidupan makanya lama-lama beberapa bagian dari tubuhnya akan merasakan lelah atau bahkan terjadi kerusakan. Misalnya gigi nenek rusak karena sudah lama dipakai untuk makan dan terkena zat-zat yang dapat menipiskan email gigi. Faris tau kan email gigi fungsinya untuk apa? Untuk melindungi gigi agar tidak mudah rusak dan keropos.

Hari ini faris belajar bersama dengan papanya karena mama mengikuti kegitan rumah belajar ibu profesional batam jadi hari ini papa yang bertugas sebagai fasilitator. Faris menemui banyak hewan saat belajar outdoor sehingga muncul pertanyaan dimana tempat tinggal hewan?
Hewan Allah ciptakan berbagai macam jenis dan rupanya. Semua hewan yang Allah ciptakan sepaket lengkap dengan fungsi dari organ tubuhnya. Misalnya ikan, ikan diciptakan dengan kesempurnaannya sehingga bisa berenang karena memang Allah ciptakan untuk tinggal di air, berbeda dengan kucing misalnya Allah menciptakannya dengan 4 kaki yang fungsinya untuk mencari makan dan membuat sarang. Jadi semua sudah Allah ciptakan pada porsinya dan sesuai dengan kebutuhannya.
.
.
.
Muncul lagi pertanyaan dari Faris kenapa burung bisa berenang tetapi tidak tinggal di air? Karena Allah memberikan kemampuan bisa berenang agar burung mudah mencari makanan yang ada di air. 

Ternyata Ini Penyebab Telinga Sakit (sekali) saat Naik Pesawat

Ketika pesawat lepas landas, perubahan ketinggian kerap membuat telinga kita sakit. Bagi orang normal, ini bisa diatasi dengan menelan. Tapi, bagi mereka yang sedang menderita hidung mampet karena pilek atau flu, perjalanan di atas ketinggian bisa sangat menyakitkan. Inilah yang saya alami kemarin, baru pertama kali saya merasa kesakitan yang teramat sangat saat naik pesawat bahkan kemarin saya sampai menangis saat landing.

Mulut, hidung, dan telinga diketahui saling berhubungan sebagai saluran udara dan tekanan. Gendang telinga merupakan bagian yang menjadi pembatas antara tekanan udara di luar dengan tekanan di dalam rongga kepala.

Saat tekanan udara di luar tinggi, saluran udara di dalam telinga harus dapat mengalirkan udara dengan tekanan yang sama. Ini bisa dilakukan dengan kegiatan menelan atau berbicara, agar udara bisa didorong ke saluran telinga.

“Bila rongga hidung atau sinus meradang karena pilek atau flu, saluran rongga tersebut ke telinga akan terblokir. Saat tekanan udara ke telinga tersumbat, inilah yang sebabkan telinga sakit,” kata seorang kawan saya yang berprofesi sebagai dokter di salah satu rumah sakit swasta di Surabaya.

Keluhan sakit tersebut akan lebih sakit ketika ‘landing’. Tapi, ini bisa dicegah dengan mengonsumsi obat mengandung dekongestan naik ke pesawat. “Obat dekongestan akan mengurangi peradangan, jadi keluhan sakit telinga bisa dicegah,” pesannya.

Ini merupakan pengalaman baru bagi saya dan bisa menjadi pelajaran untuk perjalanan kami selanjutnya. 😊

JAKARTA : Menginap di Sabda Guest House

Alhamdulillah meskipun cuaca kurang bersahabat dan laju pesawat agak kurang mulus kami bisa menjejakkan kaki kembali di kota Jakarta. Kami terakhir ke Jakarta hampir 10 bulan yang lalu, transit saja sesaat sebelum melanjutkan perjalanan ke Purbalingga rumah mertua saya.

Perjalanan ke Jakarta kali ini dalam rangka ikut suami saya dinas sekaligus mengajak anak-anak fieldtrip. Untuk jadwal fieldtrip, keluarga kami tidak punya jadwal khusus. Agenda travelling kebanyakan tidak pernah kami rencanakan secara pasti kecuali mudik tahunan saat libur hari raya nasional karena suami harus mengajukan cuti terlebih dahulu ke kantor. Inilah salah satu kenikmatan menjadi ibu rumah tangga dan anak-anak homeschooling. Kita bisa pergi kapan saja tanpa harus terikat izin 😁 Kali ini saya berkesempatan menginap di guesthouse murah meriah di daerah Tebet. Ini kali kedua saya menginap disini. Sebenarnya suami saya hari ini berkegiatan di Lapangan Banteng tetapi kami memutuskan untuk menginap di Tebet dengan alasan dekat dengan rumah kakak ipar saya. Sabda Guest House ini beralamat di Komplek Gudang Peluru blok A1 Nomor 2, Kebon Baru, menawarkan penginapan dengan suasana yang homey dan harga menarik. Saya membooking kamar untuk beberapa hari disini melalui aplikasi traveloka dan ini sangat membantu sekali untuk mendapatkan harga termurah. Guest House ini masuk dalam jaringan Zen Rooms. Apasih ZEN Rooms? ZEN Rooms adalah jaringan hotel berkualitas yang berpartner dengan hotel hotel budget terbaik di seluruh Indonesia, Singapore, Thailand,Filipina, Sri Lanka, hingga Brazil. Didukung dengan tim terbaik dan teknologi terbaru, ZEN Rooms menawarkan pengalaman traveling yang lebih efisien dan menyenangkan. Fasilitas ini membantu saya menemukan kamar terbaik dimana pun. Meski dengan harga yang relatif miring, fasilitas yang ditawarkan penginapan ini cukup oke untuk sekelas penginapan bertarif murah.

Ada tiga tipe kamar yang disediakan di Guesthouse SABDA yaitu tipe kamar standar (single) yang bisa digunakan untuk satu orang saja. Kemudian kamar double untuk dua orang, bisa memilih satu bed atau dua bed dan yang ketiga kamar family dengan dua bed (queen dan single).

Bagi saya yang membawa anak dan tidak ingin ekstrabed karena ingin hemat, kamar ini cocok dipilih karena bisa menghemat pengeluaran.

Resepsionis dari Guest House SABDA mengatakan, untuk harga ditawarkan mulai dari Rp 200.000 hingga Rp 400.000 dan sebaiknya memesan melalui aplikasi agar mendapatkan harga termurah. Pelayanan yang ditawarkan oleh guest house seperti di rumah sendiri, kita memperoleh fasilitas share dapur dan kolam renang di basement. Kalau lapar tengah malam tamu boleh memasak menggunakan fasilitas yabg ada disini. Di dalam kamar pun disediakan kulkas kecil untuk menyimpan makanan, apalagi jika membawa bayi/balita kulkas merupakan hal yang sangat dibutuhkan untuk menjaga kualitas makanan.

Untuk kemanan, guest house ini memiliki satpam yang stand by berjaga 24 jam. Ditambah fasilitas atm mandiri yang berada di sebelah pos satpam semakin memudahkan untuk melakukan transaksi keuangan. Guesthouse ini juga dekat dengan alfam*rt dan indom*art jadi jika membutuhkan apa-apa tinggal jalan sebentar sudah sampai. Banyak juga penjual makanan yang lewat depan guest house ini karena sabda guesthouse berada di jalan utama.

Di Sabda Guest House kenyamanan tamu adalah prioritas. ZEN Rooms menawarkan jaminan brandnya. Yang paling penting, kami tidak hanya memiliki WiFi gratis, tetapi juga tempat tidur nyaman, kamar mandi, penyejuk ruangan dan kamar yang selalu bersih.

Untuk akomodasi budget terbaik (guesthouse) di Jakarta, ZEN Rooms adalah tempat untuk dituju. Mereka memastikan tamu mendapatkan harga terbaik dan disediakan dengan semua fasilitas dan layanan yang dijanjikan dengan memeriksa properti sebelumnya. 😊