Kunjungan Pertama Ke Dokter Baru

Setelah kurang lebih enam bulan menata hati dan perasaan setelah kehilang my baby Y, akhirnya aku move on juga untuk mempersiapkan kehamilan kedua (semoga nantinya diberikan bayi-bayi sehat nan lucu, amin…lebih segalanya dibandingkan dengan kakaknya plus aku juga diberikan kesehatan lebih, amin,,amin Ya Rabb).

Sebelumnya aku agak-agak ilfil dengan pendampingan dokter sebelumnya bahkan suamiku dia lebih kesal lagi dengan sikap dsogku sebelumnya yang suka mengejudge dan mengeluarkan analisa-analisa yang sedikit banyak mengerikan, yang baru diketahui pula ternyata dia belum sesenior dokter yang mau aku tuju ini bahkan belakangan juga baru kutahu kalau ternyata si dokter ini non-muslim. Bukan mau underestimate atau apalah tetapi menurut diskusi suami dengan teman kantornya yang memiliki pengetahuan agama yang lebih mendalam kita mendapat sebuah nasehat kalau jangan periksa kandungan ke dokter laki-laki dan non muslim jika ada yang muslim, karena kita harus menjaga aurat kita terhadap mereka meskipun sama-sama perempuan (fyi: dsogku sebelumnya perempuan juga tetapi belakangan baru kutahu kalau dokter itu non muslim).

Akhirnya awal bulan kemaren aku memutuskan untuk periksa lab sesuai rekomendasi dokter yang dulu untuk periksa torch akan tetapi kemaren aku baru tes tokso dan rubellanya saja dulu, meskipun lumayan menguras kantong tetapi karena kita kepengen manfaatin promo hari kesehatan nasional dari Prodia akhirnya kami memutuskan untuk periksa selama hari promo tersebut. Lumayanlah diskon 20% bisa save untuk yang lain. Alhamdulillah hasil labnya bagus, Igg dan Igm untuk toksonya negative. Tetapi untuk rubellanya Igg positif 0,95 yang artinya dahulu pernah terkena virus lampau yang sekarang sudah menjadi antibody (kata mbak-mbaknya di Prodia sih). Setelah membawa hasil lab tersebut aku pulang dan baru memutuskan untuk pergi ke dokter minggu depannya (gegara mensku udah datang jadi terpaksa harus kutunda saja, takut-takut ada periksa dalam) sambil membawa hasil labku.

Secara baru pertama kali ini, mau ketemu sama si dokter aku masih galau dan kaya orang bingung. Yang masalah daftarnya gimana ya, bookingnya, jadwalnya ganti nggak ya, dan bla bla banyak banget yang aku bingungkan. Nampaknya suamiku sudah mulai terbiasa dengan kebiasaanku yang gampang bingungan dan semacam terlalu lebay dalam menghadapi sesuatu yang baru. Setauku, dokter baru ini, dokter Adri Yanti itu prakteknya nggak tiap hari maka dari itu aku booking dokter dulu untuk hari Selasa sesuai dengan ingatanku dulu pernah mendapat informasi kalau dokter Aad (panggilannya) itu nggak praktek tiap hari melainkah hanya hari Selasa, Kamis dan Sabtu kalau tidak salah. Tibalah suatu sore aku menelepon ke BMC tempat praktek beliau mau order booking dokter untuk hari Selasa, dan ternyata sudah full pemirsah. Nampaknya terlalu mepet sekali aku mendaftar, harusnya satu minggu sebelumnya sih udah booking (setelah tahu kemarin nanya ke mbak bagian administrasi). Dan suara mbak di seberang sana menawarkan apakah mau untuk hari Rabu sore saja karena untuk hari Rabu masih ada yang kosongitupun dapat nomor antrian 32. Tanpa berpikir panjang aku langsung mengiyakan dan menyebutkan nama plus nomor hpku.

Nah semalem, sebelum kita berangkat ke dokter si suami nanya emang hari Rabu dokternya ada ya. Lhah iya aku baru kepikiran, waduh jangan-jangan mbaknya salah lagi dan aku dioper ke dokter yang lain. Mendadak aku udahkepikiran yang aneh-aneh mengenai hal tersebut, jangan-jangan nggak ketemu lagi sama dokter Aad (mendadak mellow). Tetapi suamiku bilang “udah deh nggak usah lebay, pokoknya kita berangkat aja dulu kali aja sekarang emang dokter Aad ada jadwal di hari Rabu. Kalaupun bukan dokter Aad ya ntar kita booking lagi” *glek). Mungkin aku memang terlalu lebay dalam menanggapi sesuatu yang tidak diinginkan.
Setelah sholat magrib dan makan kita berangkat ke BMC untuk daftar ulang terlebih dahulu. Sebelumnya sih sewaktu aku booking dokter beberapa hari yang lalu si mbak operator bilang kalau daftar ulangnya mulai jam 3 ya, aku mengiyakan sambil mikir waduh rempong banget kalau harus bolak-balik kesana. Tapi kemaren sore aku telpon ulang menanyakan masalah daftar ulang maksimal sampai jam berapa eh si ibu di seberang menjawab “kita sampai malam kok mbak”. Yaudah akhirnya aku memutuskan sekalian saja daftar ulang sambil menunggu antrian karena aku males bolak balik lagi.

Pertama kali saat datang aku masih bingung ini itunya gimana, sempat bertanya ke mbak kasir dan dianjurkan buat ke meja untuk daftar ulang bersama seorang ibu setengah baya. Aku ditanya udah punya buku belum, kujawab belum karena masih baru mau dan pertama kali aku control ke sini. Kemudian aku diberikan buku baru ditanya namaku dan nama suami. Setelah itu aku timbang berat badan dan tensi layaknya kebiasaan control di dokter manapun. Berat badanku 54kg (masih normal lah, meskipun nggak sekurus kaya sebelum hamil) dengan tensi 110/60 (lumayan rendah ya bawahnya, hm…padahal aku sudah tidak pernah begadang atau kerja capek-capek. Mungkin emang udah bawaan tensi aku segini-gini aja dari dulu). Setelah dicatat data-data awal tersebut, aku diminta untuk antri dan datang kembali sekitar pukul setengah 9). Bener-bener males kalau harus bolak-balik jadilah aku bersosialita di medsos, chatting dengan adekku bahkan berlanjut telepon sampai dengan jarum jam menunjukkan angka setengah 9. Saat menunggu antrian, aku melihat banyak sekali perempuan-perempuan berjilbab besar yang menjadi pasien dokter Aad. Benar kata teman suamiku kalau dokter Aad ini memang seorang muslimah (berjilbab besar atau sering disebut akhwat begitu) dan dokter senior di batam. Sudah banyak teman yang cocok dan berhasil sembuh atau program hamil dengan dokter ini. Semoga akupun berjodoh dan cocok. Amin ya Rabb, ridhoilah usahaku ini.

Sekitar pukul setengah 9 lebih aku akhirnya dipanggil masuk. Kesan pertama yang aku rasa dokter ini nampaknya baik banget deh, pas masuk ke dalam ruangannya si ibu ini meberikan salam dan mengajak bersalaman. Kemudian aku ditanya apa yang bisa saya bantu, akhirnya aku menceritakan riwayat kesehatanku. Kemudian ditanya udah menikah berapa lama, dulu hamil pertama dengan dokter siapa dan bagaimana analisanya. Aku pun menceritakan segala keluh kesahku. Saat si dokter mulai bicara aku simpulin kayanya senior banget deh dokter ini. Bicaranya mengalir begitu saja, aku terus disupport agar tidak menjadikan ujian ini sebagai beban bahkan berujung pada hopeless. Kita tidak pernah tahu rencana Allah, semua sudah diatur olehNya bahkan urusan rezeki anak. Bahkan yang membuat aku tersentuh dokter Aad bilang, meskipun kejadian kemarin membuat aku terpukul sebab aku sudah berusaha sekali untuk menjaga kesehatanku bahkan aku memutuskan untuk tidak bekerja sementara. Dokter Aad menasehatiku, janganlah kita sekali-kali menghakimi bahkan hanya sebuah virus sekalipun. Dengan kita merasa bahwa kita sehat kok, kita yakin kodisi kita benar-benar fit dan tidak apa-apa, tidak sakit apa-apa kemudian kita mendakwa bahwa virus itu satu-satunya penyebab kematian baby Y. Tidak sama sekali. Hanya Allah yang tahu apa penyebabnya dan Allah sudah tetapkan memang jalannya harus begini. Kalau rezeki nggak akan kemana kok, apalagi tertukar. Allah adalah sebaik-sebaik pengatur. Dari situ aku mengubah mindsetku dan lebih ikhlas menghadapi cobaan kemaren dan terus bersyukur karena memang ini ketentuan terbaik dari Allah yang harus terus aku syukuri, karena sesungguhnya semua memang hanya sekedar titipan dan semua ada masanya. Semua ini membuatku lebih kuat dan ikhlas lagi. Dari hasil review dokter Aad Alhamdulillah tidak ada permasalahan yang yang berat, hanya butuh sedikit kesabaran saja jika ingin hamil kembali. Untuk jadwal haidku pun tidak ada masalah, kalaupun maju atau mundur ya masih wajar beberapa hari saja dari jadwal. Kemudian dicek telurku juga Alhamdulillah tidak ada masalah, besar ukurannya dan rahimnya pun tidak ada masalah. Aku bener-bener ngerasa bersyukur banget Ya Allah atas karunia sehat dariMu ini. Dokter Aad hanya memberikan beberapa obat anti virus untuk mengantsipasi si virus rubella ini agar tidak muncul kembali ke depannya. Sebab rubella ini sangat berbahaya dan kitapun tidak pernah tahu kapan sakitnya. Gejala dari rubella itu hanya demam dan Nampak seperti flu biasa. Jadi apabila tidak dicek dengan menggunakan tes darah tidak dapat dideteksi.

Aku pun disarankan untuk cek CMV untuk memastikan kalau aku sehat (semoga besok hasil labku bagus dan tidak ada satu masalah apapun,,,aminn,,amin Ya Allah). Setelah diberikan resep kamipun keluar ruangan, tak lupa bersalaman dan mengucap salam. Rasanya lega sekali berdiskusi dengan beliau, dokter Aad menjelaskan dengan sabar dan tidak mengguri. Sangat komunikatiflah, bahkan bisa dibilang tampak seperti berbicara dengan teman saja bukan layaknya dokter dengan pasien. Alhamdulillah berulang kali aku ucapkan, bersyukur sekali aku mempunyai kesempatan beretemu dan konsultasi dengannya.
Bulan depan insyaAllah pertengan bulan kami kembali control dengan membawa sisa hasil lab CMV, semoga Allah berikan kesehatan aminn.Semoga bulan depan Allah memberikan kemudahan lagi dalam ikhtiar ini. Aminn Ya Rabb…

Setelah pulang dari BMC aku merasa seperti memiliki kekuatan lebih dan semangat lagi dalam menjalani hari. Terima kasih Ya Allah….:)

2 thoughts on “Kunjungan Pertama Ke Dokter Baru

    1. Mba di batam juga kah? Maaf sy lama blm upate kelanjutan ceritanya di blog hehe..untuk kunjungan kedua saya bawa hasil laboratorium dr prodia n dikasih obat anti virus plus asam folat. Kalau mau sharing japri boleh di line monique_firsty atau wasap 085236641736 mba. Salam kenal 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *