Sudah Bobrokkah Budaya Antri di Batam??

IMG01564-20130408-1723

Sejak tinggal di Batam saya merasa banyak sekali hal-hal baru, pengalaman-pengalaman baru yang selalu ingin kubagi disini. Selalu ada alasan untuk mencurahkan isi hati ini, terlalu banyak hal baru yang notabene baru aku alami saat tinggal dan beradaptasi dengan kebiasaan masyarakat di sini.
Batam merupakan salah satu kota besar yang tidak ada penduduk aslinya. Kota ini berada di salah satu pulau terbesar di Kepulauan Riau yang juga disebut Pulau Batam. Saya sama sekali tidak pernah berpikir untuk stay disini, punya bayangan saja nggak apalagi tinggal dalam waktu lama. Dan pengalaman ini sangatlah berkesan bagi saya, karena lama-lama saya merasa betah tinggal di sini hehe… 

Penduduk kota Batam mayoritas adalah orang Cina, baik asli maupun keturunan. Kemudian campuran dari berbagai suku Melayu, Medan, Padang, Palembang dan Jawa. Pengalaman tinggal disini membuat saya mengenal berbagai macam sifat dan kebiasaan orang-orang. Yang ingin saya bahas disini mengenai kebudayaan antri masyarakat Batam. Ini pengalaman yang kurang mengenakkan bagi saya, akan tetapi tidak ada salahnya juga kan untuk dibagi temans…

Ceritanya beberapa hari yang lalu saya dan suami lagi main ke mall seberang rumah. Dengan segala niatan kami berangkat sekitar pukul 8 malam, bukan tanpa rencana atau sekedar jalan-jalan saja loh. Kami bela-belain ngemall jam segitu karena ingin membeli roti di Beans City. Siapa sih yang nggak tau roti Beans City? Memang sih roti ini original buatan Batam tetapi nggak kalah lah soal taste kalau dicompare dengan brand-brand bakery dari luar, hehe…
Kami memang sengaja membeli dua tiga empat potong roti untuk persiapan sarapan besok pagi. Niat banget nggak sih? Yaiyalah niat banget, kan besoknya adalah hari Minggu. Hari dimana saya selalu senam pagi di Ocarina, dan makan sepotong roti sebelum berangkat senam itu adalah ritual yang wajib saya lakukan selama ini.

Balik ke Beans City, fyi toko roti ini selalu memberikan diskon bagi customer yang beli roti di atas jam delapan malam (setiap hari senin sampai dengan jumat) dan jam setengah sembilan (setiap hari sabtu dan minggu). Kami sampai ke toko roti ini sekitar pukul delapan lebih lima belas menit kemudian melihat-melihat stock roti apa yang didisplay, sambil melihat-lihat suami saya mulai menunjuk beberapa potong roti yang rencananya akan ditaruh nampan saat momen rebutan bareng customer yang lain, aw..aw..aw..bisa dibayangkanlah betapa excitednya orang-orang berebut memilih dan mengambil roti yang akan dibeli.

Karena moment sale belum dibuka saya dan suami pun berputar-putar sejenak melihat ada pameran apa saja di mall ini. Sebentar sekali sampailah aku menunggu sale dibuka, saya sudah membawa nampan dan penjepit untuk mengambil roti yang akan saya beli. Benar sekali banyak sekali orang tumplek blek bahkan berdesak-desakan demi mendapatkan roti “beli satu dapat dua”. Karena saya sudah selesai mengambil roti yang akan dibeli maka saya pun mulai mengantri di belakang Cece (karena yang antri di depanku adalah kakak-kakak cina). Awalnya saya nyaman sekali antri di sini karena urutan antri saya tidak terlalu berada di belakang dan artinya semakin cepat pula kami pulang.
Namun hal ini tidak berlangsung lama. Ada dua orang ibu-ibu hijabers (sebutan buat ibu-ibu yang memakai jilbab dengan banyak gaya, banyak tutorial, banyak macam jilbab ditumpuk-tumpuk dengan warna warni aksesoris dan jarum pentul dimana-mana) yang tiba-tiba berdiri sejajar dengan aku dan di depannya juga satu orang temannya mengantri di sebelah Cece. Sunggah payah sekali ibu-ibu ini. Di dalam hati saya sudah kesal sekali melihat tingkah laku mereka yang tidak tahu aturan dan terkesan “sak karepe dhewe”(semaunya sendiri). Sebenarnya ini bukan pengalaman pertama saya, akan tetapi yang biasanya merasakan kekesalan adalah suami saya yakni apabila kita berbelanja sayur dialah yang mengantri timbangan jadi baru kali ini saya benar-benar merasa malas sekali melihat tingkah ibu-ibu yang semaunya sendiri bikin barisan di sebelah saya, illegal lagi *eh.
Memang sih sudah tak terhitung berapa kali saya mengalami kejadian seperti ini (kok jadi merasa terdzolimi, mungkin saya sedikit lebay) akan tetapi saya masih juga merasa kesal dengan orang-orang yang tidak mau berpikir. Entah mereka itu tidak tahu cara antri yang benar atau memang sudah tidak tahu cara untuk antri, kapan harus antri dan manfaat dari antri. Nampak seperti orang yang kurang berpendidikan saja =_____=

Saya sering merasa lebih dihargai oleh orang Bule dan Cina di sini. Kenapa bisa begitu?
Melakukan kegiatan belanja ataupun antri di tempat atau fasilitas umum dengan orang Bule atau Cina lebih berkesan di hati saya jika dibandingkan dengan orang Indonesia asli. Saya punya beberapa pengalaman yang berkesan, Pertama saat memilih makanan dan minuman yang akan saya beli tiba-tiba seorang Bule secara tidak sengaja berjalan mundur sehingga menabrak keranjang belanjaanku dan mereka dengan cepat langsung meminta maaf kepadaku sambil bertanya untuk memastikan kalau tidak ada barang saya yang jatuh. Kedua, saat saya akan pulang dari pasar basah dekat rumah (waktu itu dibonceng naik motor oleh suami saya) kala itu tiba-tiba jalanan penuh dengan mobil dan motor bahkan orang lewat sehingga menyebabkan macet. Adalah seorang pria muda, Cina, meminta permisi untuk lewat depan motor kami dan bilang “thank you yah (dengan logat mereka) setelah menyebrang. Sungguh kebalikan sekali jika dibandingkan dengan orang Indonesia asli yang notabene memiliki label berbudaya santun, lemah lembut dan ramah terhadap orang lain.
Mungkin itu dulu kali ya, soalnya saat ini saya jarang sekali bertemu dengan orang asli Indonesia yang memiliki sikap dan kebiasaan yang baik. Curahan hati ini tidak bermaksud menggeneralisasikan semua orang Indonesia seperti apa yang saya katakan. Ini murni pengalaman pribadi yang pernah saya alami dalam kehidupan sehari-hari saya di sini…
Melihat fenomena tersebut, kita pasti berpikir bahwa dalam budaya antri sebenarnya menunjang kemajuan pola pikir dan kemajuan kehidupan sosial masyarakat suatu bangsa.

Dalam budaya antri mengandung aspek kedisiplinan, dalam mengantri kita dituntut bersikap disiplin. Tidak ragu terhadap keputusannya dan mantap menjalani antrian. Banyak kan kita melihat orang-orang yang mengantri di sebuah pusat perbelanjaan hanya karena tidak mantap menjalani antriannya dan memutuskan untuk berpindah-pindah counter kasir dan saya rasa hal tersebut malah membuat antrian makin lama *capek deh.
Aspek kedisiplinan juga ditunjang dengan aspek tanggung jawab. Jadi orang yang antri harus dapat mempertanggungjawabkan posisinya. Mampu mempertahankan posisi dan berusaha keluar dari pengaruh buruk yang dapat sewaktu-waktu terjadi. Selain kedisiplinan dan tanggung jawab, budaya antri juga mengajari kita menjadi “dewasa”. Inilah yang saya garis bawahi!! Dewasa dalam arti kita dibimbing untuk berpikir bahwa masalah tidak benar-benar selesai dengan jalan curang. Kita dipaksa berpikir dewasa bahwa dengan sedikit menunggu dan sedikit belajar, pasti akan datang juga waktunya bagi kita. Dengan kata lain, belajar menjadi dewasa sama dengan memajukan pola pikir dan intelegensi.

Selain itu aspek yang lainnya adalah respect. Dalam budaya antri kita diajari untuk toleransi terhadap yang lainnya. Kita harus belajar respect. Dengan adanya respect maka akan muncul perasaan iba dengan penderitaan orang lain. Dengan toleransi maka akan tumbuh perasaan saling memahami bahwa semua dihadapkan dalam kondisi yang sama. Dengan respect kita dapat menilai bahwa dengan antrian yang baik maka proses menggapai tujuan akan berjalan lancar.
Jika kita membicarakan budaya antri maka terasa kurang apabila tidak membahas kesabaran. Antri sangat erat kaitannya dengan kesabaran. Orang yang tidak mau antri maka dapat dikatakan dia orang yang tidak sabar. Dalam hal ini tidak sabar dapat disebabkan oleh berbagai alasan, mungkin karena situasi pikiran yang kondusif, namun bisa juga karena memang sedang dikejar-kejar waktu dan dalam jadwal yang padat. Hal ini pula yang sering kali membuat saya kesal, salah satu kebiasaan orang Batam (saya sebut begitu karena lagi-lagi pengalaman buruk saya yang sering sekali diklason saat mengemudi kendaraan, padahal saya sudah berada pada lajur yang benar) adalah mengemudikan kendaraan sesuka hatinya disertai klakson terhadap kendaraan yang berada di depannya, mungkin bisa dikatakan ngawur karena berpindah dari lajur kiri ke kanan atau bahkan berada di tengah-tengah antara lajur kiri dan kanan, tanpa diketahui secara pasti kendaraan ini akan dibawa kemana. Kebiasaan klakson inilah yang membuat aku merasa kalau orang-orang Batam ini nampak seperti orang yang sibuk sekali atau berada dalam level “Emergency Level 12”. Sungguh saya tidak habis pikir, belum juga masalah ketidak jelasan mengemudi di satu jalur, mereka pun tidak pernah menyalakan lampu tanda (sign) saat akan belok atau berhenti dan hal-hal seperti ini sangat-sangat menguras hati.

Back to topic, namun yang pasti orang-orang semacam itu tidak dapat mengendalikan pikiran dan emosinya sehingga mendapat kesan selalu terburu-buru. Dan orang seperti adalah orang yang paling tidak suka melakukan budaya antri. Dan akibatnya akan timbul pemikiran-pemikiran jahat dan menyebabkan kerusakan-kerusakan barisan antrian dan lain sebagainya.
Banyak sekali aspek atau nilai yang dapat kita ambil dari budaya antri. Namun nilai utama dan yang paling utama adalah bahwa budaya antri mengajari kita tentang PERSAMAAN. Budaya antri tidak mengenal gender, jabatan, agama, ras atau warna kulit. Budaya antri membuka mata kita bahwa semua orang itu sama, memiliki hak dan kewajiban untuk memperoleh sesuatu, tidak peduli latar belakangnya. Sikap menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi persamaan inilah yang sangat jarang kita temui di negeri ini.

Di Indonesia masih banyak orang gila akan harta, gila akan jabatan, gila akan kesenangan dunia yang lain. Mereka lupa dan mengabaikan orang-orang di sekelilingnya, bahwa orang-orang itu juga memiliki hak yang sama meskipun tidak memiliki kesempatan yang sama. Mereka seakan-akan menganggap kasta itu bagian penting dalam kehidupan. Sehingga mereka, orang Indonesia, memuja-muja jabatan. Mencari segala cara agar dapat mendapatkan jabatan yang tinggi. Itu semua dikarenakan timpangnya budaya antri di Indonesia. Mereka menganggap rendah lain, dan berpikir bahwa dengan jabatan yang tinggi dapat memperoleh apa yang diinginkan lebih mudah daripada orang lain.

Selain mengajari kita pentingnya memahami persamaan, budaya antri mengajari kita STEP BY STEP. Artinya bahwa dengan antri kita dapat memahami bahwa untuk menggapai sebuah tujuan tidak bisa secara instan.
“Kita bangsa Indonesia itu punya sifat penerobos, maunya cepat.” (Mochtar Lubis)

Dalam sebuah antrian ada orang yang berada didepan dan juga berada di belakang. Dalam hidup kita harus melalui rintangan demi rintangan, sedikit demi sedikit, dan dengan kesabaran dan ketekunan yang baik maka kita akan dapat meraih tujuan yang kita inginkan. Namun jangan lupa bahwa ada orang dibelakang kita. Artinya bahwa ada orang yang memiliki hak yang sama namun belum memperoleh kesempatan yang sama dengan kita. Jadi dalam budaya antri kita diajari bahwa perjalanan kehidupan adalah sebuah proses step by step, bit by bit and little by little.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *