Flash Back

Hari ini Faris sudah jalan 3 bulan. Nggak terasa saya kembali disibukkan dengan kerempongan mengurus bayi. Yaa…bayi ini yang udah dinanti nanti kedatangannya di rumah ini setelah kakaknya pergi terlebih dahulu. Seneng dan rasa syukur yang teramat dalam telah Alloh gantikan rasa sedih dan sakitnya kehilangan tempo hari dengan kebahagiaan bayi kecil ini (aslinya nggak kecil juga sih, sekarang aja udah 5 kilo berat badannya). Banyaklah yang ingin kuceritakan disini. Mulai dari proses kehamilan sampai dengan kelahiran dan tumbuh kembangnya hingga saat ini. Faris terlahir dengan proses persalinan normal atau biasa disebut persalinan spontan pervaginam. Berat badan saat lahir 3,250gr dan panjang 48cm. Kalau saya ditanya seneng nggak sih punya anak? Jawaban saya pasti “iya”, secara anak ini merupakan amanah sekaligus hadiah yang saya nanti-nanti selama ini. Selalu saya selipkan dalam setiap do’a-do’a saya selama ini, dan Alloh berikan amanah ini di waktu yang terbaik menurutNya. Banyak teman yang sering bertanya “sakit nggak sih melahirkan itu?”, jawabannya yaiyalah sakit, tetapi justru rasa sakit itulah yang kita nanti-nanti kedatangannya karena kalo rasa sakit itu nggak datang justru membuat kita khawatir. “Apakah saya bisa melahirkan normal?” ini merupakan kekhawatiran yang wajar dialami oleh setiap ibu hamil, karena segala sesuatu bisa saja terjadi saat proses persalinan. Persiapan mental yang tangguh adalah hal penting yang harus ibu-ibu persiapkan selain persiapan keuangan tentunya. Sedikit berbagi cerita, alhamdulillah kehamilan kedua saya ini berjalan lancar, sehat dan diberikan kemudahan. Saat trimester pertama saya tidak mengalami kendala yang berarti, mual dan pusing serta mudah lelah merupakan hal yang wajar dialami oleh ibu-ibu yang sedang hamil muda. Itupun saya alami saat trimester pertama, mual jika mencium aroma bawang putih. Bulan pertama saya masih bisa memasak namun bulan kedua dan ketiga saya menyerah karena benar-benar tidak tahan bau bumbu masak di dapur. Badan terasa sakit semua dan mudah lelah, apalagi selepas kerja rasanya kepengen tidur lama-lama. Trimester pertama sukses saya lalui tanpa keluhan yang berarti. Nggak ada acara ngidam-ngidam seperti kebanyakan ibu-ibu, hanya merasa lebih mudah lapar dan terkadang kepengen makan sesuatu (masih wajar keinginannya, masih gampang dicarinyalah ya). Trimester kedua nafsu makan saya mkin meningkat bahkan saya sering membawa bekal cemilan saat ke kantor. Biasanya saya makan di sela-sela bekerja, sebelum atau sesudah makan siang. Cemilan saya biasanya roti tawar gandum, roti isi, buah-buahan segar yang dipotong kecil2, puding, kacang-kacangan, dan wafer atau dark coklat batangan. Meskipun makanan yang saya konsumsi banyak, alhamdulillah kenaikan berat badan larinya semua ke anak jadi tidak membuat badan saya membengkak. Total kenaikan berat badan saya sewaktu hamil 7kg dan alhamdulillah setelah melahirkan saya langsung normal berat badannya sama seperti sebelum hamil. Jadi tanpa diet ketat berat badan sudah hilang bersamaan dengan lahirnya si Faris. Hal ini dikarenakan saat hamil dan setelah melahirkan saya tetap aktif melakukan semua pekerjaan rumah sendirian. Kehamilan saya yang kedua ini saya merasa sangat fit dan dapat mengerjakan banyak kegiatan secara mandiri (tetapi tidak untuk mengangkat beban yang terlampau berat – hal ini membahayakan bagi ibu hamil). Sampai dengan hari-hari terakhir sebelum saya cutipun saya masih kuat naik turun tangga saat bekerja di kantor. Bahkan sayapun pernah naik turun tangga sampai dengan lantai 4 saat di kantor *mantaaplaaa (tapi naik turunnya pelan-pelan loh, itung2 olahraga). Saya sangat menikmati kehamilan ini sehingga tidak merasa berat, memang sih ada beberapa keluhan kecil seperti sering sakit pinggang, pegel2 di punggung atau kram baik di betis maupun perut tapi alhamdulillah Alloh beri kemudahan dan kekuatan selama hamil ini. Kalau ditanya mengenai proses persalinan saya akan selalu menjawab luaarrr biasa. Kenapa begitu? Pengalaman ini sungguh luaarrr biasa, di saat banyak orng di luar sana melahirkan berada di antara keluarga dan orang tua maka kami tidak. Saya melahirkan hanya ditemani dengan suami saja. Sejak awal saya memang sudah menyiapkan hati ini untuk menjalani proses persalinan ini bersama dengan suami saja. Mengingat kami berdua berada jauh dari orang tua dan memang kami berniat untuk mandiri belajar menjadi orang tua. Beribu ribu rasa syukur kami panjatkan kepada Alloh karena ridhoNya kami bisa menjalani proses besar ini dengan mudah dan lancar meski jauh dari orang tua. Alhamdulillah atas bantuan perawat dan bidan yang ada di BMC kami berdua banyak belajar sehingga pengalaman ini menjadi moment yang sangat berharga. Kesimpulannya jika ditanya apakah melahirkan normal itu sakit? Jawabannya iya memang sakit, tetapi bagian yang paling menyakitkan bukan saat melahirkannya akan tetapi saat berjuang melawan tahapan rasa sakit saat kontraksi datang. Tetapi satu hal yang harus ditanamkan dalam pikiran kita adalah “rasa sakit kalo mau datang silahkan datang tetapi saya masih menunggu rasa sakit berikutnya dan saya yakin bisa menaklukkan itu, karena rasa sakit ini yang saya tunggu agar saya segera bertemu dengan buah hatiku”. Jadi bagi bumil-bumil jangan pernah underestimate, tetaplah semangat dan sugesti diri anda dengan pikiran2 positif 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *