sesuatu banget

Bagi setiap perempuan, pengalaman melahirkan merupakan pengalaman yang tiada duanya. Baik itu proses melahirkan normal, dengan operasi C-section, water birth, induksi, dll, semua tetap memberikan pengalaman tak terlupakan.

Nah, saat berbicara tentang pengalaman melahirkan, kita pasti tak bisa melupakan peran orang-orang yang mendampingi kita. Entah itu pasangan, orangtua, saudara maupun sahabat. Saya yakin, semua ibu pasti ingin didampingi saat melalui proses melahirkan. Terutama para rookie moms alias ibu baru. Sayangnya, tak semua bisa mendapatkannya.

Saat saya melahirkan, saya cukup beruntung bisa ditemani suami sejak saya mulai pembukaan sampe Faris lahir 15 jam kemudian. Mama dan mamah mertua saya tidak ada saat proses kelahiran cucunya yang notabene maju 9 hari sebelum Hpl dari dokter (dari awal kehamilan sih saya sudah feeling kalo anak ini bakalan lahir sebelum hpl, secara sejak uk 16wk ini bocah sering banget kram dan kontraksi di perut). Meski tak bisa menemani tapi keduanya tetap datang menengok cucunya secara bergantian. Saya dan suami sejak awal memang bertekad untuk berjuang dan belajar bersama dalam menyambut kehadiran anak kami ini. Jadi meskipun hanya berdua saja, kami malah merasa semakin dekat dan yakin kalau Allah pasti memudahkan segala sesuatunya. Memang sih banyak mata yang memandang aneh kok kita hanya berdua saja, sedangkan yang lainnya banyak keluarga dan saudaranya datang akan tetapi kami justru bangga karena bisa melewati segala sesuatu dengan lancar tak lain karena Allah mudahkan segalanya.

Pengalaman melahirkan Faris tidak sedrama ibu-ibu hamil yang lainnya (lagi-lagi alhamdulillah banget semuanya Allah mudahkan).

Ceritannya berawal saat kontrol terakhir kalinya sebelum Faris lahir, sebenarnya saya sudah malas untuk kontrol lagi karena tinggal menunggu due date dan si baby nggak ada masalah atau keluhan apapun. Akan tetapi suamiku nggak setuju dan tetap mengantarknku untuk berlibur. Sesampainya disana ternyata jalan lahir saya sudah masuk pembukaan 1 longgar dan dsogku bilang besok sebaiknya saya datang kembali ke BMC, tempat saya berencana akan melahirkan. Keesokan harinya saat bangun tidur sebelum sholat subuh saya mendapati tetesan darah kental saat buang air kecil, degg rasanya hati ini. Wah kayanya udah deket nih kata hati kecil saya, akhirnya saya pun tidak jadi sholat subuh dan segera membangunkan suami saya dan bergegas berangkat ke BMC. Sesampainya disana saya memutuskan untuk stand by saja disana meskipun baru pembukaan 2. Daripada bolak balik dari rumah ke BMC apalagi di rumah saya nggak ada yang menemani kalo saya butuh apa-apa jadilah saya putuskan untuk menunggu di BMC saja. Suami saya hari ini nggak masuk kerja, cuma sempat absen saja tadi pagi setelah mengantarkan saya ke BMC. Pukul 10 pagi saya diberikan obat pelunak jalan lahir oleh bidan sesuai perintah dsog saya, beliau memantau kondisi saya by phone. Obat ini kecil sekali, bentuknya tablet dan dimasukkan jalan lahir. Ini yang kedua kalinya saya diberikan obat seperti ini, yang pertama dulu saat hamil yang pertama saya juga diberikan obat ini. Jam berlalu terasa sangat lama, tetapi setelah di atas jam 2 siang rasanya jarum jam beradu dengan rasa sakit yang saya rasa makin meningkat dosisnya. Saya berjalan keliling kamar, naik turun ranjang, sesekali goyang inul, menungging, bolak balik ke kamar mandi untuk sekedar buang air atau menyiram badan dengan air hangat dan semua itu saya lakukan tidak lain untuk mengurangi rasa sakit yang saya rasa. Suami saya bolak balik bertanya apakah sakit sekali? Mau dipijit atau butuh apa kuambilkan katanya sambil melihatku iba. Saya hanya meminta agar suami saya nggak banyak bertanya karena saya tahu saya harus bagaimana untuk mengurangi rasa sakit ini, mencari posisi yang enak agar rasa sakit yang saya rasa ini bisa saya kendalikan. Karena saya punya prinsip, memang rasa sakit ini yang saya tunggu agar saya bisa segera bertemu dengan buah hati saya dan saya yakin bisa melewati tingkatan demi tingkatan rasa sakit yang ada. Bahkan saya tidak menyadari bahwa pembukaan sudah lengkap karena saya rasa mungkin masih ada rasa sakit lagi, ini bukan puncaknya. Saya baru mengetahui kalau pembukaan sudah lengkap dan saat untuk melahirkan sudah dekat saat perawat yang mengecek kondisi saya di ruang perawatan dan menyuruh saya untuk segera pindah ke ruang bersalin. “Cepat bu, takutnya nggak keburu lagi ini. Bayinya udah mau nongol”, kata perawatnya. Sambil menahan kontraksi yng makin menjadi saya berjalan menuju ruang bersalin. Sampai disana dua orang perawat mempersiapkan segala sesuatunya dan menelepon dsog saya memberitahukan bahwa saya sudah akan segera melahirkan. Sebelum dsog saya naik ke atas (kebetulan saat itu dokternya sedang praktek di bawah) saya diajarin cara mengejan dan posisi yang benar untuk melahirkan. Beberapa kali saya mencoba dan bolak balik mereka mnyalahkan saya. Tetapi akhirnya saya bisa dan merekapun memberikan semangat dan meyakinkan diri saya bahwa saya bisa. Suami saya pun dengan sabar membantu mengangkat badan saya (baru saat itu saya merasa badan saya berat sekali padahal sebelum2nya tidak) saat proses melahirkan, dia terus memberikan semangat dan menyampaikan pada saya bahwa kepala Faris sudah kelihatan jadi saya harus lebih semangat lagi mengejan agar dia segera lahir. Saya mencoba mengejan sebanyak tiga kali dan akhirnya lahirlah si Faris. Dokter aad langsung meletakkan dia di dada saya setelah dibersihkan sebentar dan dipotong tali pusarnya. Rasanya bersyukur sekali akhirnya bisa bertemu dengan Faris dalam kondisi sehat dan Allah mudahkan segala prosesnya. Kesan pertama saat melihat anak ini, lucu banget ya dia secara insting langsung mencari puting. Kurang lebih 15menitlah dia berada di atas dada saya, terasa sekali kalau anak saya ini lumayan berat juga hehe..Faris lahir dengan bb 3,250gr dan pb 48cm, melalui proses kelahiran spontan pervaginam meskipun dengan jahitan di sana sini. Ampun..ampun dah perihnya ini luka. Bukan karena saya salah posisi saat melahirkan sehingga menyebabkan banyaknya jahitan, tetapi hal ini terjadi karena jarak antara jalan lahir dengan (maap) anus atau yang sering disebut perineum itu terlalu pendek sehingga mnyebabkan perobekan yang lumayan panjang. Saat proses penjahitan dokter aad menyuruh saya agar tidak banyak gerak sehingga proses penjahitan bisa segera selesai akan tetapi tetap saja saya sulit menahan rasa sakit yang ada, jadinya saya mengaduh “ah, eh, uh” saat dijahit. Dokter aad dan perawat meminta saya untuk melihat Faris saja agar tidak terasa sakitnya (semacam mengalihkam perhatian) namun saya tetap merasa sakit dan perih. Dan ini baru benar-benar sembuh 2 minggu kemudian. Oh iya, malam itu saya dan Faris sudah tidur satu kamar loh, sayapun alhamdulillah bisa langsung memberikan dia ASI. Tetapi melahirkan memang menguras banyak energi loh, setelah berjuang saya makan banyak sekali untuk mengganti tenaga yang hilang saat melahirkan. Kalau ditanya melahirkan itu sakit nggak? Jawabannya so pasti, tapi kalo menurutku melahirkannya nggak sakit, nunggu pembukaannya itu yang sakitnya nggak ketulungan. Alhamdulillah saya bisa menjalani semua proses ini dengan lancar, terima kasih Alloh sudah memberikan kemudahan dan kelancaran meskipun kami hanya berdua saja, berada di rantau tanpa ada saudara akan tetapi Alloh kirim banyak kemudahan melalui dokter dan perawat yang ada disini, teman-teman yang sudah seperti saudara sendiri. Kalau ditanya kapok nggak buat hamil lagi? Kapok sih kapok, tapi kapoknya cuma 2 minggu setelah itu mau dong hamil lagi kalo dapet bayinya lucu dan nggemesin kaya Faris..hehehe..

Saya masih punya hutang sama suami saya hamil 2x lagi. Semoga Alloh amanahkan lagi di waktu yang tepat. Aamiin šŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *