​Much Ridho:

⁠⁠⁠⁠⁠📢📝 SERIAL KULIAH PENDIDIKAN HSKM – Sesi Keenam 📝
💡 Desain Komunitas Homeschooling (Sebuah Profil HSKM Masa Depan)

🎓 Narasumber: Muchamad Ridho Hidayat 
✅-1-

Bismillahirrahmanirrahim. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasuh dan Maha Penyayang. Karena asuhan dari-Nya alam semesta ini terjaga, terpelihara dan berkembang. Pengasuhan ini diberikan kepada seluruh hamba, baik mereka yang taat penuh khidmah, maupun mereka yang membangkang dan menjadi penentang-Nya. Begitulah tabiat dan asas dari pengasuhan. Pengasuhan adalah proyek sistemik yang saling terkait untuk seluruh hal yang ada di dalam asuhan.
Sejak awal kita sudah memisahkan urusan pengasuhan dan pendidikan. Kita telah mengetahui standing position keduanya. Siapa kita, saat menjadi orang tua, dan siapa kita saat menjadi seorang yang memiliki ilmu. Apa saja kewajiban dan tanggung jawab keduanya telah kita pahami insya Allah.
✅-2-

Dalam konsep pengasuhan dikenal tiga jenis pengasuhan. Pengasuhan fisik, pengasuhan mental/emosi dan pengasuhan sosial. Pengasuhan fisik dan pengasuhan emosi lebih berfokus pada pembinaan internal dan keluarga. Orang tua harus memastikan penjagaan, pemeliharaan dan pertumbuhan fisik dan mental anak. Sementara itu, pengasuhan sosial sangat terkait dengan keadaan diluar rumah.
Pengasuhan sosial bertujuan agar anak tidak merasa terasing dari lingkungan sosialnya yang akan berpengaruh terhadap perkembangan anak pada masa-masa selanjutnya. Pengasuhan sosial akan membentuk sudut pandang terhadap pribadi dan lingkungannya. Bahkan ada psikolog yang mendefinisikan pengasuhan sebagai rangkaian keputusan tentang sosialisasi anak. Artinya, memang pengasuhan ini sangat terkait dengan lingkungan sosial dan apa yang sering disebut sebagai sosialisasi.
Berdasarkan jenisnya, sosialisasi dibagi menjadi dua: 1) sosialisasi primer (dalam keluarga), dan 

2) sosialisasi sekunder (dalam masyarakat). 
Menurut Goffman (mantan presiden American Sociological Association), kedua proses tersebut berlangsung dalam institusi total, yaitu tempat tinggal dan tempat bekerja. Dalam kedua institusi tersebut, terdapat sejumlah individu dalam situasi yang sama, terpisah dari masyarakat luas dalam jangka waktu kurun tertentu, bersama-sama menjalani hidup yang terkukung, dan diatur secara formal.

Much Ridho:

✅-3-

Pepatah dari Afrika mengungkapkan, “It takes a village to raise a child”. Butuh sekampung untuk membesarkan anak. Ini ungkapan arif dan bijaksana dalam memahami kewajiban pengasuhan sosial. Bukan hanya mengasuh anak kandung sendiri, kita punya tanggung jawab sosial untuk mengasuh anak tetangga dan anak yang lainnya. Begitu pun sebaliknya. Betapa sangat harmoni jika tetangga kita juga ikut berperan menjaga, merawat dan membesarkan anak kita.
Pengasuhan sosial ini wujudnya dalam bentuk membangun tradisi/ budaya dan adat setempat. Tentu kita masih ingat ‘dongeng’ tentang pengajian antara magrib sampai isya yang selalu dilakukan warga kampung. Kita juga masih ingat kelas mendongeng dari ayah dan ibu kita di setiap malam menutup hari-hari kita. Jadwal giliran ronda, teguran dan sindiran untuk anak-anak yang menyimpang, dll. Bukankah tutur kata dan unggah-ungguh serta tata krama adalah teladan asuhan yang baik? Apakah kita masih menemukan orang tua yang mengusir teman anaknya diwaktu jam aurat? Masihkah ada orang tua yang peduli tentang larangan memasuki halaman dan kamar orang lain? Siapa yang masih menegur sekumpulan anak yang bermain dilapangan saat azan berkumandang? Atau memperingatkan pilihan kata yang keluar dari mulut para bocah? Siapa menegur anak gadis keluyuran tengah malam?
Sungguh anak-anak kita hidup tanpa asuhan atau salah asuhan. Sementara dimana para Ayah dan para Ibu? Dimana pemerintah kita? Ya! Pemerintah? Sebab kewajiban pemerintah adalah mengasuh masyarakat, bukan mendidiknya. Sebab tugas para wali adalah mengasuh siapa saja yang ada dalam kewaliannya. Entah itu wali murid, wali kelas, wali kota atau waliyul amr. Buat apa ada Wali jika tidak mengemban fungsi kewalian?
✅-4-

Bagaimana dengan pendidikan? Sesi sebelumnya telah dibahas pengantar tentang pendidikan berbasis komunitas. Lagi-lagi pendidikan terkait dengan penguatan akal dan pengajaran ilmu. Dalam sebuah masyarakat yang hidup dengan tradisi ilmu, orang-orang berilmu diantara mereka aktif memberikan pengajaran. Tempat belajar dibuka di setiap sudut kampung atau perumahan. Apa masih logis kita pergi keluar kota untuk belajar ilmu hadis jika tetangga kita seorang ahli hadis? Apa kita masih perlu kuliah jauh-jauh untuk mempelajari ilmu ekonomi sementara dikampung kita ada seorang Master atau Doktor ilmu ekonomi? Lalu kita hanya boleh menemui tetangga kita yang pakar parenting itu diruang kelas dan auditorium saat seminar saja?
Apatah lagi anak kandung kita sendiri. Kita yang sarjana psikologi tidak mengajari anak kita dan tetangga kita tentang ilmu yang telah Allah titipkan kepada kita? Kita yang sarjana teknik tidak mengajari anak kita dan tetangga kita tentang keahlian kita? Sementara masih ada ahli matematika yang menyuruh anaknya belajar berhitung diruang kelas tanpa tahu siapa guru mereka.
Apakah kita tidak bisa membaca dan tidak bisa berhitung sehingga anak kita harus keluar rumah untuk menyelesaikan pendidikan dasarnya? Apakah dilingkungan kita tidak ada yang bisa mengajari mereka hingga harus pergi ke sekolah favorit atau sekolah alternatif yang menawarkan banyak kelebihan muatan..? Lalu para Ayah harus bekerja sampai petang untuk membayar lembaga calistung anak-anaknya. Tidak banyakkah pengalaman dan kisah perjalan hidup kita sehingga mereka harus pergi kesekolah untuk mendapatkan cerita dan pengalaman orang lain.

Much Ridho:

✅-5-

Keluarga yang memilih untuk tetap dirumah dan menanggung-penuh pengasuhan dan merencanakan pendidikan diluar sekolah disebut sebagai Keluarga HS. Keluarga ini telah terpengaruh dengan wacana FamilyMainstreaming (pengarus-utamaan keluarga). Keluarga HS mencanangkan dan meneguhkan Visi – Misi dan Manajemen Strategis Keluarga dengan baik.
Keluarga-keluarga ini berkumpul dan berjejaring membentuk komunitas HS. Komunitas HS dikembangkan sesuai gugus tempat (wilayah/daerah). Masing-masing daerah akan memiliki ciri khas potensi kedaerah, serta memiliki keunggulan yang dapat mendukung pencapaian misi komunitas. Komunitas HS bukan komunitas artifisial atau dunia maya belaka. Mereka membangun komunitas riel yang mampu Mewujudkan Masyarakat Terdidik Melalui Sistem dan Tradisi Ilmu.
Komunitas HS mencita-citakan masyarakat baru yang sudah lepas dari penyakit sekolahisme. Masyarakat ini –sebut saja sebagai –  Masyarakat HS yang memiliki tradisi ilmu. Masyarakat HS adalah masyarakat yang menyerahkan otoritas kembali kepada individu, bukan lembaga. Ijazah dan sanad ilmu diambil dari ahli ilmu. Sebab mereka yang berhak mengeluarkan rekomendasi dan akreditasi keilmuan.
✅-6-

Komunitas homeschooling (HS) ada untuk menjawab semua itu. Komunitas HS mencoba mengaplikasikan pengasuhan (sosial) berbasis komunitas. dan pendidikan berbasis komunitas. Komunitas inilah yang akan mendirikan taman bacaan/perpustakaan, memakmurkan masjid, mendirikan kuttab dan menghidupkan tradisi ilmu dilingkungan sekitar.
Untuk menjalankan fungsi pengasuhan dan pendidikan, komunitas HS harus memiliki 2 jenis kegiatan. Pertama, kegiatan terkait keilmu berupa pengajaran ilmu agama dan ilmu alat (termasuk calistung). Kedua, kegiatan non-keilmuan yang termasuk perangkat menuju kedewasaan (seperti keterampilan, kedisiplian, dan kepemimpinan) dan hobi.
Jenis kegiatan keilmuan diselenggarakan oleh komunitas HS dalam bentuk klub-klub ilmu, komunitas baca dan kursus keilmuan di Perpustakaan, pendirian kuttab atau rumah tahfidz, dan mengupayakan terbentuknya madrasah-madrasah keilmuan di masjid. Sementara itu, kegiatan non-keilmuan diselenggarakan dalam bentuk kepanduan dan klub hobi.

Dari kedua jenis kegiatan ini, komunitas HS akan melakukan perubahan sosial, khususnya dalam bidang pendidikan. Masyarakat akan hidup dalam tradisi ilmu yang berkesinambungan dan akan menghasilkan modal sosial serta sumber daya insani yang tangguh. Nasrumminallahi wa fathun qarib!
#SerialKuliahPendidikan #HSKM #HSKM2017 #DesainKomunitas #Homeschooling #KeluargaMuslim.Org

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *