Jika teman-teman sudah mengenal saya lebih dekat, pastinya teman-teman akan banyak menemukan tulisan-tulisan yang mungkin terkesan lebay atau penuh drama mengenai masa lalu, pendewasaan diri, ingin diakui, dikecewakan, kurang perhatian, kesunyian dan beberapa tulisan sejenis.

Mungkin banyak teman-teman yang bertanya kenapa sih harus melulu nulis tentang itu-itu terus, bukannya akan terus sakit ketika itu diulang-ulang diceritakan. Atau bahkan ada yang berpendapat untuk apa membuka aib keluarga sendiri dan sebagainya.

Tujuan awal aku membuat blog ini adalah sebagai sarana terapi, tempat pelarian ketika tidak ada yang bisa mendengarkan keluh kesah dan memberikan kekuatan. Bahkan sebelum saya migrasi ke rumah baru ini. Ya, bisa dibilang blog ini adalah tempat saya bisa bebas meluapkan apa yang saya pikirkan dan rasakan. Bahkan meskipun kemudian blog ini mulai saya kembangkan secara profesional. Saya tidak ingin hanya menjejali blog ini dengan artikel-artikel berbayar, namun juga tetap mempertahankan porsinya sebagai tempat saya menuangkan isi hati, pengalaman dan cita-cita. 

Dan menuliskan beberapa hal mengenai luka secara berulang, perlahan justru membuat beban ini terangkat, dan luka ini mengering. Membaca lagi tulisan-tulisan lama yang aku buat, membuat aku tersenyum mengingat setiap prosesnya.

Mengenai Inner Child

Tidak ada manusia yang sempurna, pun juga kedua orang tua saya. Mungkin ada beberapa hal yang salah dengan cara orang tua mendidik saya. Mereka punya cara tersendiri untuk menghadapi karakter saya yang cenderung keras dan meledak ledak. Dulu, ketika masih remaja saya merasa orang tua saya otoriter dan suka memaksakan kehendak. Tetapi setelah saya merenung rupanya Papa bersikap otoriter agar saya bisa jadi perempuan yang kuat dan tangguh, beliau mengajarkan kepada saya untuk bertanggungjawab atas konsekuensi pilihan hidup saya.

Jika memang ada luka yang terjadi itu justru berasal dari pihak ketiga, dimana mereka tidak sanggup untuk tidak memperlihatkan pertikaian demi pertikaian yang ada di depan saya. Dan ketika pertikaian itu terjadi, saya sering melihat hal-hal yang seharusnya saya lihat. Terkadang saya dan adik pun harus menjadi korban atas emosi kedua orang tua kami. Belum lagi konflik dari keluarga Mama yang berdampak kepada kejiwaan saya. Kondisi dan drama kehidupan yang memaksa saya untuk dipaksa dewasa sebelum waktunya. Dituntut untuk kuat karena ada adik yang harus saya jaga dan perhatikan. Demi Allah, di luar semua kejadian itu.. Papa dan Mama adalah orang tua terbaik untuk saya dan adik saya.

Papa saya yang berjuang memperbaiki nasib keluarga dengan kuliah lagi meski harus hidup pas-pas an karena keuangan keluarga yang mau tidak mau harus terbagi. Mama yang kala itu harus membantu perekonomian keluarga sehingga membuat saya kala itu merasa sendiri. Tidak punya kesempatan berbagi cerita atau sekedar melewati momen berakhir pekan bersama orang tua. Betapa Papa saya yang harus meninggalkan keluarga di awal pekan dan kembali pulang saat akhir pekan sungguh pengorbanan yang luar biasa, bahkan sampai pada suatu momen yang menjadi titik balik dalam hidup saya. Dimana saya anak perempuan pertama yang harus tangguh dan kuat ketika ditinggal Mama pergi menemui Papa yang anfal dan opname selama hampir satu bulan di rumah sakit. Sementara saya yang kala itu masih kelas enam SD harus menjaga adik saya yang masih berumur empat tahun.

Mama, meskipun saya tidak punya kesempatan belajar banyak hal kepadamu dan saya selalu kesepian karena tidak pernah bisa terbuka dan bicara dari hati ke hati tetapi kini saya tahu Allah memberi pelajaran langsung melaluimu. Dimana saat ini saya harus berubah karena saya tidak ingin anak-anak merasakan hal yang sama dengan yang Mamanya rasakan. Dimana saya yang tidak pernah rindu untuk pulang ke rumah karena saya tidak punya kenangan masakan favorit seperti teman-teman yang lain, atau sekedar momen jalan-jalan bersama Mamanya kala akhir pekan karena Mama adalah orang yang kaku dan tidak terbuka, bagaimana saya bisa nyambung? Berangkat dari luka dan kenangan masa kecil itu saya berterimakasih dan berjanji pada diri untuk memutus rantai kesalahan yang ada.

Meskipun Papa sangat keras tetapi di tangannya lah aku belajar banyak hal, terutama tentang bertahan hidup dan tetap tersenyum meski luka bertubi-tubi menghujam. Ya! Luka hati yang masih terasa hingga saat ini. Memang Mama tidak pernah memukul tetapi cubitan kecil ketika saya berbuat salah kala menggoda adik rupanya masih terekam kuat di dalam memori hati ini. Segala cacian dan ungkapan kesal yang terlontar akibat kesalahan sederhana ketika piring makan yang pecah atau tidak sengaja mengantongi jarum di kantong seragam sekolah saya dulu.

Ketika Mama kelepasan membentak atau membanting segala barang-barang di rumah ketika amarah membuncah, ah cepat-cepat saya berkaca sambil berdo’a Ya Rabb tahan lisan dan tangan ini untuk melakukan hal yang sama, lembutkan hati hamba.

Ya, saya tidak pernah menyesal lahir sebagai anak mereka, karena saya sudah mengikhlaskan dan menganggap ini semua proses pendewasaan diri. Bahkan, ketika akhirnya pertikaian itu berhenti, rupanya Allah sayang sekali kepada Papa saya dan mengambilnya secepat ini. Masalah datang silih berganti dan keluarga pun oleng sebab ditinggalkan oleh nahkodanya. Meninggalkan Mama yang berkarakter tidak terbuka dan tidak tegas bahkan selalu bingung dalam mengambil keputusan. Ah sudahlah.. lagi-lagi saya kembali bersandar kepada keluarga besar Papa agar mendapat sedikit pencerahan menghadapi satu persatu masalah hingga pada akhirnya, diam-diam Mama menikah lagi dengan seorang lelaki yang masih terhitung saudara.

Saya pikir kekecewaan atas semua pertikaian mereka dan pernikahan kedua Mama merupakan takdir yang terbaik. Saya pikir masalah ini satu persatu akan hilang sendirinya dengan menyibukkan diri, belajar parenting kemudian bertemu teman dan menjalani hidup apa adanya. Ternyata kekecewaan itu seperti bom waktu yang siap meledak saat dipicu. Tanpa saya sadar bom waktu itu terus membesar. Puncaknya, ketika menjadi seorang ibu.. duaarrr. Meledaklah…saya sering kehilangan kontrol atas diri saya sendiri. Dulu, saya berkali-kali melukai anakku. Berkali-kali pula saya meminta maaf padanya. Sampai detik ini, rasanya teriris ketika melihat Faris yang masih saja tidak bisa lepas dari saya, padahal saya berkali-kali melukainya. Saya harus ‘sembuh’. Saya harus bangkit. Apalagi ketika Irbadh lahir.. Saya tidak ingin anak-anak tumbuh seperti diriku, memelihara luka, dan dibayang-bayangi oleh inner child sepanjang hidup. Saya tidak mau anak-anak merasa tidak dicintai, tidak diakui, tidak merasa dibutuhkan, tidak punya tempat nyaman untuk berbagi, sebagaimana apa yang saya rasakan selama ini.

bersambung…

diupdate Desember 2017

Salahkah Jika Aku Punya Innerchild?
Tag pada:        

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *