Pengalaman Melahirkan Bayi Sungsang

credit by mommypedia.id

Setelah melahirkan irbad, anak kedua saya, banyak teman yang mengucapkan selamat dan berlanjut sampai dengan pertanyaan-pertanyaan detil mengenai bagaimana proses melahirkan saya kali ini. Memang tak mudah, tapi bisa diberi Allah kesempatan melahirkan bayi sungsang melalui persalinan normal dan spontan memang bukan hasil yang instan. Setelah diawali dengan minggu-minggu pertama pergolakan batin untuk menerima kehamilan yang tak direncana, akhirnya saya memutuskan untuk bahagia meski sesekali saya juga khawatir akan kerepotan mengurusi 2 balita kerap datang menggoda.

Tidak berbeda dengan kehamilan pertama dulu yang tiap bulan saya ingin lihat bayi saya melalui USG, pada kehamilan kedua saya tetap semangat melihat perkembangan bayi kecil ini meskipun rumah saya sudah pindah dan notabene menjadi lebih jauh jaraknya dengan BMC, tempat saya rutin kontrol kehamilan. Saat hamil faris dulu tiap saya kelelahan, saya mengalami kontraksi dan berujung pada kram di kedua kaki saya. Alhamdulilah saat hamil Irbad, meski saya mengasuh Faris yang super aktif ke sana ke mari kandungan saya baik-baik saja. Bahkan beberapa hari sebelum melahirkan saya masih mengemudi motor, belanja ke pasar dan senam lantai sampai jungkir balik kepala di bawah kaki di atas.

Tantangan yang saya hadapi selama kehamilan kedua justru dalam mengelola emosi saya sendiri. Faris yang sedang memasuki masa “terrible two” sering sekali tantrum: menangis tanpa sebab yang jelas, kadang menginginkan sesuatu tapi saat ditanya tidak jelas apa maunya. Emosi saya ikut naik turun, belum segudang pekerjaan rumah yang setiap hari menanti untuk diselesaikan. Kalau tidak segera dikendalikan bisa berantakan semuanya. Faris pun bisa makin stres saat bermain bersama saya. Hingga suatu hari saya tak sengaja membaca retweet mas Reza Gunawan dari Cheri Huber yang menyebut “back to the breath”.Insight  itu saya coba praktekkan tiap kali emosi memuncak dan malah saya anggap sebagai latihan rileksasi. Dengan tak adanya waktu dan kesempatan untuk mengikuti kelas pelatihan apa pun karena tak mudah meninggalkan Faris di rumah, saya juga memutuskan untuk tak boleh tergantung pada kelas atau pelatih untuk belajar rileks, tenang dan fokus. Saya harus melatih diri saya sendiri untuk fokus pada napas saya, kekuatan emosi saya, kapan saja, bahkan saat Faris tantrum dan ketidaknyamanan kandungan sedang mencapai puncaknya.

Belajar dari pengalaman kelahiran Faris, saya memutuskan untuk tak membuat banyak syarat. Saya lebih tenang dan berpasrah dengan segala proses yang memang harus saya jalani nantinya.
Rencana A: Melahirkan di sebuah klinik pro gentle birth di Batam. Tempat saya kontrol kehamilan setiap bulannya. Tentunya dengan dokter yang selama ini sudah menemani perjalanan cerita kehamilan saya sejak saya hamil Faris.

Rencana B: Melahirkan di Rumah Sakit Otorita Batam atau Rumah Sakit rujukan BPJS. Awalnya saya harus melakukan negosiasi dengan suami berhari-hari karena saya lebih cenderung ingin melahirkan di klinik tetapi suami melihat kondisi kehamilan saya yang ada indikasi..hiks, sedih kalau ingat saat itu air mata saya selalu jatuh. Alasan suami saya, kalau ada keperluan emergency peralatannya sudah lebih lengkap. Sedangkan alasan keberatan saya adalah kemungkinan besar Almira akan ikut menginap padahal RSU berisi tak hanya pasien yang melahirkan tapi juga pasien-pasien lain dengan berragam penyakit. Analisis risiko-manfaat kami lakukan dari sudut pandang yang berbeda.
Setelah beberapa minggu akhirnya suami saya luluh juga pada pilihan saya: klinik yang (tampak) paling nyaman, tidak terlalu ramai, dan di sana berpraktek dr. Adriyanti, sp.OG, dokter kandungan kepercayaan sejak hamil Faris. Konon menurut mereka, dokter senior yang membantu persalinan mereka ini sangat mengutamakan persalinan normal dan tidak melakukan pemeriksaan USG apalagi USG 4D jika memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Proses kelahiran Irbad sangat menguras energi dan emosi. Betapa tidak, anak bayi yang sudah ditunggu-tunggu kelahirannya tak jua memberikan sinyal cinta untuk segera bertemu dengan kedu orang tua dan abangnya. Saya pun terus berusaha untuk tenang meskipun hpl sudah terlewat. Saya masih rutin jalan-jalan di pagi hari bersama dengan anak pertama saya, Faris. Flek yang saya tunggu juga tak kunjung datang, kontraksinya pun masih jarang, ya Rabb sungguh Engkau Maha Membolak Balikkan hati ini. Meskipun sudah pernah melahirkan namun bagi saya setiap kelahiran itu unik, setiap bayi memiliki waktu dan caranya sendiri untuk lahir. Jadi sewaktu saya kontrol terakhir sebelum melahirkan (tepat hpl) dokter Adriyanti sedang berhalangan dan digantikan oleh dr. Rinta, juniornya. dr Rinta mengecek masih pembukaan 1 (teraba bokong) dan saya disuruh kembali untuk observasi kembali jika 3hari lagi belum melahirkan. Saya disuruh rekam jantung bayi (ctg) juga untuk memastikan kondisi bayi baik n air ketuban dilihat melalui usg masih oke.

Dan hari yang dinanti tiba, mungkin karena sudah terlatih untuk bisa fokus dan bernapas rileks kapan saja, maka saat kontraksi datang setelah sholat subuh, saya masih bisa mandi dan memandikan Faris, masih tenang untuk mengunyah beberapa biskuit sebagai tambahan tenaga, minum air putih dan cairan isotonik yang cukup. Kemajuan persalinan saya cukup bagus. Pukul 05.00 saya mulai melihat bercak darah di celana dalam saya, jam 05.30 saya mulai kontraksi, jam 07.00 suami saya meyakinkan saya kalau dia tidak masuk kantor dan hanya absen saja. Selepas absen kami masih sempat sarapan bertiga. Sesampainya di klinik jam 08.30 saat dicek ternyata sudah pembukaan 3. Sambil menunggu dokter yang sedang membantu persalinan pasien lain yang lebih urgent, saya masih menikmati pelvic rocking sambil berjalan jalan di dalam kamar.

Karena sudah pernah melahirkan, jadi saat merasakan ketuban akan pecah, saya panggil suami untuk menyiapkan alas. Tak sempat menyiapkan alas air ketuban sudah tercecer banyak sekali di ranjang. Setelah itu saya dipindah ke ranjang tindakan di ruang bersalin. Saat VT (periksa dalam) yang kedua bidan yang membantu dokter kaget karena ternyata yang teraba adalah KAKI, bukan bokong. Dokter kandungan pun segera ditelpon agar segera meluncur ke klinik. Bahkan VT yang pertama pun bidan belum menyadari posisi kaki bayi yang berada di bawah. Untungnya dengan wajah optimis, dokter saya mengatakan “Insya Allah bisa normal kok. Nanti episiotomi saja.” Kaget memang, karena tak sedikit pun pernah terbersit mengenai kemungkinan melahirkan bayi sungsang. Jadi sama sekali saya belum punya referensi. Tapi karena saat itu sudah pecah ketuban dan pembukaan hampir lengkap, tak mungkin saya mendadak googling.

Saya tidak anti episiotomi karena sejak awal saya memang sudah mempersiapkan diri untuk menerima segala intervensi medis jika memang diperlukan. Saya juga memutuskan secara sadar untuk melahirkan dengan posisi terlentang jika memang itu memudahkan dokter dalam mengeluarkan bayi saya, apalagi nanti kakinya dulu yang akan keluar. “Bantu mama ya Nak. Kita mohon pertolongan pada Allah.” Itu yang saya sampaikan pada bayi saya di dalam perut. Dalam masa-masa penantian pembukaan lengkap, saya memilih terus fokus untuk bernapas rileks. Tiap gelombang kontraksi datang, saya menenangkan diri sendiri sambil mengobrol dengan bayi saya “Ayo cari jalan ya, Nak.” Sampai akhirnya pembukaan lengkap tanpa saya sadari, entah mengapa bayi yang ada di dalam perut seperti mendesak dan mendorong kakinya untuk keluar. Saat itu saya menahan diri untuk tidak mengejan terlebih dahulu karena belum yakin pembukaan sudah lengkap. Pada puncaknya, saya sudah tidak bisa menahan gelombang yang datang dari dalam perut saya. Akhirnya saya pun memanggil dokter yang masih duduk di ruang sebelah sembari menunggu sampai saya pembukaan lengkap. Ternyata kaki bayi yang sebelah kiri sudah keluar dan saya belum siap dengan posisi hendak bersalin. Otomatis tim bidan dengan sigap langsung mengangkat kaki saya.

Sebelum membantu mengeluarkan bayi saya, dr. Aad memimpin kami semua yang ada di ruang bersalin untuk membaca surat Al-Fatihah. Tak semudah melahirkan Faris yang keluar kepala dahulu, untuk melahirkan adiknya yang muncul kaki dahulu saya perlu mengejan beberapa kali lebih banyak dengan tenaga beberapa kali lebih besar. Saat mengejan, sekali waktu saya sempat berteriak. Untung saja bidan mengingatkan untuk tetap tenang agar tenaga bisa dihemat. Kata suami saya yang menemani saat itu, kaki bayi keluar dahulu satu per satu, dilanjutkan tangannya satu per satu, yang terakhir baru mengeluarkan kepalanya. Mengeluarkan kepala menurut saya sangat sulit dan dokter pun menekan saya untuk segera mendorong karena kepala harus cepat keluar tidak boleh lewat waktu. Suami saya tidak fokus saat menemani saya bersalin karena Faris sudah bangun tidur dan dia menunggu di depan ruang bersalin sembari bermain mobil sendirian, ah kasian sekali kalau mengingatnya.

Indah sekali saat akhirnya irbad sudah lahir dan dibersihkan badannya. Rasa syukur tiada tara dan lega rasanya beban hati selama beberapa minggu terakhir kehamilan sirna sudah. Sayangnya saya tidak bisa langsung inisiasi menyusui dini karena irbad harus segera dibersihkan dan dicek kesehatannya.  Alhamdulillah ASI saya pun langsung keluar meski irbad belum bisa langsung menyusu saat itu juga. Senang sekali saya tak salah pilih tempat melahirkan meskipun tidak dicover bpjs yang terpenting rasa nyaman saya dan keluarga itu nomor satu. Saya tidak bisa membayangkan jika harus melahirkan di rumah sakit sementara tidak ada yang menjaga anak pertama saya, belum lagi ada intervensi medis yang bisa terjadi kapan saja. Kalau di BMC, mulai dari cleaning service, bidan, perawat sampai dokternya sudah seperti keluarga sendiri. Faris bahkan sering bermain dan diberi kue oleh bidan dan perawat selama menemani saya menginap disana.

Alhamdulillah berat Irbad saat lahir 3,4 kilogram sudah diambang batas untuk bisa dilahirkan melalui vagina meski posisinya sungsang (karena jika iingin melahirkan normal dengan posisi bayi sungsang tidak boleh lebih dari 3,5kg). Soal diet selama kehamilan saya memang cukup ketat terutama di minggu-minggu terakhir. Karena tak mudah meninggalkan nasi, jadi saya memilih untuk tidak mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula putih agar penambahan berat badan janin tidak cukup drastis. Saya juga memperbanyak konsumsi buah, sayur dan air putih mengingat paska persalinan sebelumnya saya mengalami sembelit yang tidak nyaman. Entah mengapa setiap hamil meski sudah mengatur porsi makanan dan aktif bergerak tetapi berat bayi saya selalu besar, sepertinya makanan yang saya konsumsi diserap maksimal oleh bayinya.

Setelah hampir empat bulan berlalu saya masih bersyukur bahwa setelah lahir hingga kini irbad masih setenang dulu ketika masih di perut saya, tak banyak merepotkan bundanya. Sejak lahir dia juga tak pernah begadang. Bahkan dia bisa tidur sendiri tanpa perlu disusui dan digendong jika perutnya sudah kenyang dengan ASI. Hanya kadang saja jika memang sedang manja dia minta gendong dan akan tertidur dalam waktu cepat. Seakan-akan dia mengerti bundanya juga perlu mengurusi abangnya.

Kehadiran Irbad membuat saya belajar lagi. Pertama, salah satu proses pemberdayaan diri yang penting adalah belajar pengelolaan emosi yang ternyata masih dan akan terus saya butuhkan bahkan setelah anak-anak lahir. Kedua, saya belajar untuk mengatasi kekhawatiran saya sendiri, belajar menerima situasi dan kondisi. Di saat-saat genting tanpa referensi, Irbad yang ternyata memilih posisi sungsang mengingatkan saya kembali arti berserah diri pada Allah. Manusia berencana dan berusaha, tapi Allah Maha Berkuasa untuk Memampukan dan Mengijinkan dengan cara-Nya. Alhamdulillah ‘ala kulli haal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *