“Tante, kenapa ya anakku kok sekarang adeuhhh … nggak nurut, ngelawan, mau-maunya sendiri, dan gampang ngambek. Padahal dulu gak gitu deh. Manis, nurut, enak banget pokoknya ngurusnya”

“Iya, si adek ni kan umurnya 2,5 tahun. Itu memang karakteristik anak umur 1-3 tahun. Berusaha untuk menunjukkan bahwa dia punya keinginan dan ingin lihat juga bagaimana lingkungan berespon terhadap keinginannya. Terutama anak-anak yang basic trustnya sudah terbentuk baik pada usia 0-1 tahun. Nah, keberanian dia untuk melawan, menantang aturan orangtua, dll, adalah karena dia merasa nyaman dengan itu semua, dan yakin bahwa dia gak apa-apa dan akan aman untuk menyampaikan pendapatnya. Ini sehat dan wajar sebetulnya. *Justru kalau ini tidak terbentuk pada usia tersebut, maka yang terjadi adalah anak yang pemalu dan peragu untuk mengekspresikan diri dan menunjukkan pendapatnya.”*

“Tapi jadinya musti diapain? Diikutin kan emang salah. Gak diikutin rewelnya ampun deh. Kadang jadi kebawa emosi, gak sabaran jadinya.”

“Pertama, kita sebagai orangtua paham dulu, bahwa ini proses wajar. Justru kalau tidak terjadi, ini yang kita perlu bertanya-tanya. *Kalau dia terlalu penurut, malah di kemudian hari bisa jadi mudah terpengaruh orang lain karena tidak berani mengungkapkan pendapatnya.*

Jadi, dengerin aja dulu maunya apa. Biar dia bicara. Itu yang paling dulu dia perlu dapat. Masalah apakah kemauannya perlu diikuti atau tidak, patokannya adalah pada aturannya itu sendiri. Kalau bisa diikuti, ikuti. Kalau memang tidak boleh diubah aturannya, maka jangan diubah. Yang penting, apapun keputusan kita mengabulkan atau tidak permintaan anak, keduanya perlu reasoning/alasannya. Hindari mengatakan “Pokoknya kata bunda, gak boleh …!”

Sebetulnya proses ini pembelajaran buat anaknya, sehingga dia bisa tahu kemampuan bargainingnya sejauh apa. Anak juga belajar mana aturan yang bisa ditawar dan mana yang tidak. *Bagi orangtua, ini juga titik kritis apakah kita akan jatuh menjadi orangtua yang mudah bingung, tidak konsisten, dan terjebak pada target jangka pendek supaya anak tenang dan senang. Atau sebaliknya, kita mempersiapkan diri menjadi orangtua yang konsisten, fokus pada target jangka panjang dan bisa membedakan keinginan dan kebutuhan anak.”*

“Duh, tapi ngerepotin banget deh, Tante. Jadi lambat semuanya. Pas mau berangkat, tiba-tiba ngadat …. cape deeee ….”

“Iya sih … memang cape dan perlu kesabaran berlipat-lipat … Tinggal beberapa bulan lagi nih. Pada usia 3 tahun, bila tahap ini terlewati dengan baik, maka anak akan masuk pada masa initiative. Masa ketika anak mengembangkan kreativitasnya. Dia akan coba-coba dan membuat berbagai macam hal. Siap-siap deh rumah berantakan, hehe… *Tapi sebaliknya kalau tahap ini tidak tuntas terlalui, maka anak biasanya akan menjadi penakut berpendapat dan membuat sesuatu. Jadi sering merasa bersalah dan tidak puas dengan apa yang dicapainya.*

Nah, kita sebagai orangtua mau pilih mana? Mau anak yang berani berpendapat atau yang malu dan peragu? Keduanya kita perlu hadapi konsekuensinya. Tante percaya, kamu bisa melaluinya dengan baik. Yang sabar ya …”

“Iya Tante … “

*Teori Perkembangan Psikososial, Erik Erikson*

Yeti Widiati 010816

Catatan Parenting : *AUTONOMY VERSUS SHAME AND DOUBT – yws* (Perkembangan Psikososial 1-3 tahun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *