Intisari Materi Daurah Muslimah Kab. Mamuju bersama Syaikhah Ummu Abdirrahman Eman Al-Reme hafizhahallah
*PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM*
_Aula Mesjid Raya Suada Mamuju, ba’da Maghrib_
Allah _subhanahu wa ta’ala_ telah mengaruniakan kepada manusia itu rezeki berupa keturunan. Keturunan adalah salah satu nikmat dari Allah yang patut kita syukuri.
Dia berfirman:
المال والبنون زينة الحية الدنيا والباقيات الصالحات خير عند ربك ثوابا وخير أملا
_“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”_ Al Kahfi : 46.
Dalam ayat di atas, kata _al banun_ (البنون) itulah keturunan. Nikmat keturunan ini sudah semestinya kita gunakan pada perkara kebaikan.
Rasulullah _shallallahu alaihi wa sallam_ bersabda,
إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية, أو علم ينفع له, ولد صالح يدع لهز
_“Jika salah seorang anak Adam itu meninggal maka terputuslah amalannya kecuali 3: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan untuknya.”_ Diriwayatkan oleh Muslim dari sahahat Abu Hurairah _radhiyallaahu ‘anhu._
Berkata Syiakh bin Baaz _rahimahullah_, jika seseorang meninggal maka terputuslah amalannya, artinya terputuslah amalannya yang mengalir kepadanya setelah ia meninggal, kecuali ketiga perkara berikut ini:
*1. Sedekah jariyah*
Misalnya harta yang ia wakafkan, seperti mesjid untuk digunakan shalat di dalamnya, atau membangun suatu bangunan yang disewakan yang hasil sewanya disedekahkan, atau tanah ladang yang hasil pertaniannya disedekahkan, atau yang lainnya yang semisal dengan itu. Sedekah jariyah ini pahalanya akan tetap mengalir kepadanya meskipun ia telah meninggal.
*2. Ilmu yang bermanfaat*
Misalnya ia menulis sebuah buku yang bermanfaat bagi manusia. Atau membeli buku-buku islamiyah dan mewakafkannya. Atau mengajarkannya/menyebarkannya sehingga kaum muslimin bisa mengambil manfaat dengannya.
*3. Anak yang shalih yang mendoakan untuknya*
Doa anak yang shalih bermanfaat bagi orang tua yang sudah meninggal, sebagaimana bermanfaatnya doa kaum muslimin jika mereka berdoa untuknya atau bersedekah untuknya.
*Bagaimanakah mewujudkan anak yang shalih?*
Untuk mewujudkan anak yang shalih salah satunya adalah dengan cara mendidiknya.
Diantara bentuk- bentuk pendidikan anak adalah:
🌸 *Menanamkan pada diri anak kecintaan kepada Allah _subhanahu wa ta’ala_.*
Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua menanamkan kecintaan kepada Allah pada diri anak sejak kecil. Jika mengajak anak berbuat kebaikan, katakanlah kepadanya: _“Jika engkau melakukan hal ini maka Allah akan cinta kepadamu. Jika engkau shalat, puasa dll, maka Allah akan cinta kepadamu.”_ Jangan mengatakan, _“Jika kamu tidak shalat maka Allah akan benci dan tidak suka kepadamu.”_
🌺 *Mendidiknya dengan sifat amanah.*
Mengajarkan kepada anak, jika ia menemukan suatu barang di jalan, hendaklah ia tidak mengambilnya untuk dirinya. Akan tetapi mengambilnya untuk diberikan kepada orang yang lebih dewasa atau orang tuanya untuk dicari siapa pemiliki barang tesebut.
🌻 *Mengajari bersedekah*
Anak-anak dididik untuk membiasakan diri bersedekah. Yakni memberikan sebagian apa yang dimilikinya kepada fakir miskin. Mengajarkan kepadanya untuk iltizam kepada sunnah dalam hal bersedekah. Bahwasanya, tersenyum dan berwajah berseri-berseri kepada seseorang itu adalah termasuk sedekah.
Perlu diketahui bahwa kemampuan anak dalam menerima pengajaran dari orang tua itu berbeda-beda. Sebagian anak ada yang cepat memahami apa yang dikatakan oleh orang tua, dan sebagian anak yang lain lambat. Oleh karena itu orang tua harus mengetahui tingkat kemampuan anaknya.
Dalam memberikan pengajaran kepada anaknya ia harus perlahan-lahan, tidak memberikan banyak nasehat setiap hari. Sebaiknya, paling tidak satu nasehat dalam sehari, supaya anak tidak mudah jemu.
Sebagai contoh, ketika mengajarkan anak bersedekah, dalam bersedekah tesebut jangan diikuti dengan menyebut-nyebut sedekah dan menyakiti perasaan si penerima. Karena hal tersebut sama halnya dengan

orang yang menafkahkan harta karena riya’ kepada manusia dan tidak beriman kepada manusia dan tidak beriman kepada hari akhir.
🌹 *Berakhlak dengan Al Quran*
Diriwayatkan bahwasnya Said bin Hisyam bin ‘Amir, dia bertanya kepada Ummul Mu’minin “Aisyah radhiyallaahu anha, _“Wahai Ibu, kabarkanlah kepadaku akhlak rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam.”_ Maka ‘Aisyah berkata: _“Sesungguhnya akhlak rasulullah itu adalah Al Quran.”_
Kita mengajarkan kepada anak agar anak berakhlak dengan Al Quran.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita usahakan untuk mengaitkan semua perbuatan anak-anak dengan Al Quran. Setiap kali terjadi suatu peristiwa tertentu, kalau memungkinkan kita ingatkan mereka dengan ayat Al Qur`an.
Beberapa ayat Al Qur’an dan kesesuaiannya dengan keseharian anak-anak:
1. Ketika melihat rumah yang berantakan, sang ibu mengajarkan ayat ini:
” إِنّا لاَ نُضِيعُ أَجْرَ الْمُصْلِحِينَ ” [سورة الأعراف : الآية : 170
“Sesungguhnya Allah tidaklah menyia-nyiakan pahala orang yang melakukan perbaikan”. Al A’raf: 170.
Kemudian berkata kepada anak: _”Siapa yang ingin pahala?”._Ia berkata dengan suara yang yang santai dan mengulangi kembali ayat tadi, atau menjelaskan maknanya dengan gaya bahasa yang sederhana, dengan memfokuskan ke arah pahala. Kemudian berkata : _“Ayo, kita rapikan rumah, supaya kita dapat pahala.”_
Dan memberikan penekanan pada kata *mushlihin* (orang-orang yang melakukan perbaikan)
2. Jika anak-anak duduk untuk menyelesaikan tugas sekolah, merapikan tempat tidur, merapikan mainan, membantu ibu menyiapkan makanan, dll maka ibu akan mendapatkan adanya kekurangan pada hasil pekerjaan mereka. Maka ibu menghadapinya dan berkata :
” إِنّا لاَ نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلاً ” [سورة الكهف : الآية : 30]
Sesungguhnya Allah Subhaanah Wa Ta’ala berfirman : _”Sesungguhnya Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang paling baik perbuatannya.”_ Surah Al Kahfi : 30.
Dan ia (ibu) menekankan pada kata *”ahsan”* (paling baik). Kemudian mengatakan : sesuatu yang *paling baik*… tulisan *terbaik*, amalan yang *terbaik*…. untuk mendapatkan pahala yang *terbaik*.”
Dan sangat ditekankan untuk banyak menggunakan lafazh-lafazh Al Qur’an tersebut, supaya anak-anak merasakan adanya keterkaitan antara kenyataan dengan ayat *man ahsanu amalaa* yang paling baik amalannya.
3. Ketika anak melakukan kesalahan, misalnya keluar untuk bermain di jalan tanpa izin, atau bertengkar dengan saudaranya dan melampaui batas dengan memukulnya, atau bermain di dapur hingga merusak sebagian perkakas dapur, dll. Maka ibu tidak langsung memarahi dan mengatakan kamu salah. Bahkan ibu mengajari nya untuk meminta maaf dan membacakan ayat Al Qur’an :
إِنّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السّـيّئَاتِ ” [سورة هود : الآية : 114]
_”Sesungguhnya kebaikan itu akan menghilangkan kejelekan.”_ Surah Hud : 114.
Supaya anak mengikutkan kesalahan yang telah dia lakukan dengan kebaikan.
Dan juga aya berikut ini :
” إِنّمَا يُرِيدُ الشّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَآءَ ” [سورة المائدة الآية : 91]
_“Sesungguhnya syaithan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian.”_ Al Maidah : 91
4. Ketika mereka bermain air, atau menghambur-hamburkan makanan. Sampaikanlah ayat ini
“وَلاَ تُسْرِفُوَاْ, إنه لا يحب المسرفين ” [سورة الأعراف : الآية : 31]
_“Dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”_ Al A’raf : 31
Ajarkan kepada anak-anak, bahwa kita harus mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah meskipun sedikit. Ingatkan tentang kondisi orang-orang yang kehidupannya serba kekurangan, bahkan tidak memiliki harta dan makanan. Jadi kita yag telah dikaruniai oleh Allah berupa kelapangan rezeki, sepatutnya kita mensyukurinya dengan cara tidak menghambur-hamburkannya.

💐 Selain menyampaikan ayat-ayat yang berkenaan dengan kehidupan keseharian, orang tua mengajarkan kepada mereka tentang Islam, meskipun sebenarnya anak-anak itu sudah terlahir di atas agama Islam.
Rasulullah _shallallaahu alaihi wa sallam_ bersabda:

_“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”_

Makna hadits di atas adalah manusia difitrahkan (memiliki sifat pembawaan sejak lahir) dengan kuat di atas Islam. Akan tetapi, tentu harus ada pembelajaran Islam dengan perbuatan/tindakan. Siapa yang Allah _Subhanahu wa ta’ala_ takdirkan termasuk golongan orang-orang yang berbahagia, niscaya Allah _Subhanahu wa ta’ala_ akan menyiapkan untuknya orang yang akan mengajarinya jalan petunjuk sehingga jadilah dia dipersiapkan untuk berbuat (kebaikan).

Orang tua mengajari mereka sunnah yang benar, yakni sunnah yang bersumber dari rasulullah _shallalahu alahi wa sallam_. Mengajarkan mereka untuk menjauhi bid’ah dan khurafat. Megajarkan mereka untuk beramal shalih.

Dalam memandu anak menghafal Al Quran, jangan memberikan kesan kaku, misalnya mengatakan: _“Ayo, duduk! Dengar dan hafalkan ayat ini!”_ Tetapi usahakan untuk biasa memperdengarkan anak-anak lantunan ayat-ayat Al Quran setiap saat melalui media tertentu, seperti kaset, mp3 dll. Dengan hal seperti ini, insyaAllah anak dengan mudah akan menghafal ayat-ayat Al Qur`an tersebut.

🥀Yang terakhir, salah satu cara untuk mendapatkan anak yang shalih adalah dengan banyak-banyak mendoakannya. Orang tua, khususnya ibu, seharusnya banyak mendoakan anak-anaknya semoga Allah memberikan hidayah kepada anaknya dan memberikan taufik-Nya supaya anak menjadi anak yang shalih. Salah satu contoh doanya adalah:
ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما
_”Wahai rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”_

Orang tua mendoakan keshalihahan untuk anak-anaknya, baik laki-laki maupun yang perempuan. sebagaimana mereka juga selalu berlindung kepada Allah dari perbuatan durhaka anak-anaknya kepadanya.

_Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengaruniakan kepada kita rezeki keturunan yang shalih yang insyaAllah bermanfaat bagi kita di dunia dan di akhirat. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kepada kalian rezeki untuk berhaji dan berumrah. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mempertemukan kita kembali di surga-Nya sebagaimana Dia telah mempertemukan kita disini. Aamiin yaa rabbal ‘aalaminin._

Allaahu Ta’ala a’lamu bishshawab.

✍ Ummu Abdillah Yusuf

Pendidikan Anak dalam Islam (disarikan dari grup telegram) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *