QOTD : Kenapa sih kok Chef itu Pakai Topi? 

Pagi ini selepas olahraga pagi dan sarapan. kegiatan kami adalah cooking class membuat cake pisang dalam rangka menyelamatkan pisang ambon yang sudah mau busuk wkwk. Jadi ceritanya Faris pagi ini jadi chef. Tugas utama Faris menghaluskan pisang, mencampur dengan bubuk coklat dan memegang mixer saat membuat adonan. 

.
.
.
Apa kabar dengan Irbad?
Adiknya kebagian tugas buang sampah dan menyiapkan loyang untuk adonan yang akan dipanggang nanti.
.
.
.
Ada sesuatu hal yang lucu dari adiknya ini, meskipun nampak berbadan besar dan tegap (bisa dibilang lebih macho) dari kakaknya tetapi dia punya kebiasaan unik. Salah satunya geli jika mendengar suara mesin, mulai dari kipas elektrik, mixer sampai dengan mesin sedot debu pun dia selalu hindari. Padahal dia terkenal lebih berani dalam beberapa tantangan yang berhubungan dengan kemampuan motorik alias gerak. Bahkan dia sudah jago memanjat terlebih dahulu dibandingkan berjalan. Kemampuan motoriknya jauh lebih cepat dibandingkan dengan kakaknya, tetapi entah mengapa dia sangat geli dan tidak mau memegang alat elektronik dengan suara yang cenderung bising. Dalam hati saya mengingat, dahulu sewaktu kakaknya masih belum ada setahun malah bisa terkantuk-kantuk jika mendengarkan mesin penyedot debu saat saya membersihkan kamar.
.
.
.
Anak-anak memang punya banyak cerita.
.
.
.

Baiklah lanjut pembahasan mengenai kelas memasak, setelah menimbang (sambil belajar angka dan besaran tentunya) kami lanjutkan acara mencampur seluruh bahan yang ada. Tidak butuh waktu lama adonan siap untuk dimasukkan ke oven.
.
.
.
Dalam sesi kelas masak ini muncul pertanyaan unik dari Faris yaitu kenapa kok chef pakai topi ma? Kenapa kok seragamnya harus putih nggak hitam aja atau abu-abu?
.
.
.
Mendadak saya mengatur napas dan mencari jawaban yang tepat agar mudah dipahami.
.
.
.
Chef memakai topi mungkin agar aman, kepala dan rambutnya terlindungi dari asap atau api saat proses memasak. Tetapi sepanjang pengetahuan Mama topi yang dipakai oleh chef juga menunjukkan tingkatan/kelas chef itu. Istilahnya di dalam memasak ada juga jabatan untuk chef yang sudah ahli atau yang masih junior. Kurang lebih begitu, kalau mengenai baju chef kenapa harus putih. Itu agar tidak mudah menyerap panas sebab chef kan tempat bekerjanya di dapur. Agar lebih detil yuk kita cari bagaimana sih sejarah adanya topi chef.
.
.
.

Seragam seorang koki biasanya identik dengan warna putih bersih disertai sebuah topi, yang juga berwarna putih. Tipe dan ukuran dari topi tersebut berbeda-beda. Ada yang pendek, tinggi, berlipat-lipat, hingga tanpa lipatan sedikit pun. Mengusut asal topi ini bisa dimulai dari 2.000 tahun yang lalu.

Di Asiria, sebuah kerajaan yang berpusat di Irak, seorang koki, terutama koki kerajaan, memiliki tempat yang cukup terhormat sekaligus ditakuti. Dengan ‘hak’ untuk menyiapkan makanan bagi sang raja, koki dianggap mampu untuk meracuni raja.

Oleh karenanya, raja memutuskan untuk memberikan posisi yang istimewa untuk sang koki. Dia dibedakan dengan pegawai dapur yang lain dengan diberikan topi.

Itu untuk cerita di Asia. Untuk di Eropa ceritanya sedikit berbeda. Kewajiban untuk menghidangkan makanan seenak mungkin mengharuskan koki banyak membaca banyak buku tentang masakan.

Hal ini membuat sebagian besar orang menganggap mereka termasuk golongan pintar. Sayangnya, titel tersebut justru menjadikan mereka, bersama para seniman dan filsuf, sasaran pihak kerajaan Yunani yang ingin memusnahkan para cendekiawan.

Untuk melindungi diri, mereka masuk ke Gereja Ortodoks Yunani dan mencoba berbaur dengan para biarawan. Salah satu cara yang digunakan adalah menggunakan seragam yang mirip dengan ‘seragam’ para biarawan.

Namun, karena tidak mau dianggap melecehkan para biarawan mereka memilih warna putih, sementara biarawan menggunakan warna hitam atau abu-abu. Saat itu pula, para koki mulai menggunakan topi.

Masih di Eropa, Raja Henry VIII dari Kerajaan Inggris memiliki cerita tersendiri. Dalam suatu jamuan makan, Raja Henry menemukan sehelai rambut dalam makanan yang akan dia santap.

Merasa terhina, sang raja memerintahkan tentara kerajaan untuk memenggal kepala sang koki. Tidak lama kemudian dia mengeluarkan aturan bahwa semua koki wajib menggunakan topi ketika memasak. Tentunya tidak ada yang berani melawan.

Sedangkan di Prancis, tahun 1800-an, seorang koki bernama Marie-Antoine Carême memutuskan bahwa koki harus memiliki sebuah seragam yang khusus. Salah satu ketentuan dari seragam tersebut adalah harus berwarna putih. Tujuannya untuk menunjukan betapa bersihnya dapur yang digunakan oleh sang koki.

Nah, selain menentukan warna, Carême juga membuat sebuah ketentuan baru, atau lebih tepatnya sebuah diferensiasi baru, bagi para pengolah makanan tersebut. Walaupun berasal dari dapur yang sama, para koki dengan tanggung jawab dan pengalaman berbeda, akan menggunakan topi yang berbeda pula.

Hal yang membedakan adalah tinggi topi dan banyaknya lipatan pada topi tersebut. Semakin tinggi topi yang digunakan, maka semakin tinggi pula jabatan atau tanggung jawab yang dimilikinya.

Untuk lipatan topi, jumlah lipatan yang semakin banyak, biasanya hingga 100, menunjukan banyaknya kemampuan memasak yang dikuasai oleh koki tersebut. Carême sendiri menggunakan topi hampir setinggi setengah meter disertai 100 lipatan.
.
.
.
disarikan dari intisari. com
.
.
.
Kenapa baju chef itu putih kok nggak hitam aja?

Warna putih pada baju chef ternyata memiliki arti tersendiri.

Dilansir dari TheDailyMeal, Senin (18/1/2016), alasan di balik warna putih pada baju chefadalahadalah menunjukkan kebersihan. Warna putih adalah reflekstor atau pemantul panas, sehingga orang yang mengenakan akan lebih merasa nyaman karena pakaiannya tidak menyerap panas. Lain halnya jika baju berwarna hitam, karena hitam menyerap panas.

Dapur tempat mengolah maknan identik dengan suhu panas, jadi bayangkan jika pakaian seorang chef juga menimbulkan panas. Akan terasa sangat tidak nyaman. Warna putih juga mudah dibersihkan menggunakan bahan pemutih sehingga noda yang menempel bisa dengan mudah hilang.

Selain warna, bahan yang digunakan juga kebanyakan katun yang bisa melindungi koki dari suhu panas karena sifat katun menyerap keringat. Lengan panjang pada baju koki juga punya makna, yakni untuk melindungi tangan koki dari panasnya alat masak atau kompor sehingga meminimalisir resiko saat ada kecelakaan.

Tak hanya itu, baju koki ini didesain khusus bolak balik sehingga jika ada noda di satu sisi maka bisa di balik ke sisi lainnya. Alasan inilah yang membuat koki merasa wajib mengenakan baju ini saat sedang menjalankan tugas di dapur.

Saya juga baru tahu secara detil ternyata itu alasan kenapa baju chef harus putih.*

Setelah kelas memasak hari ini dilanjutkan dengan bermain roleplay : ngebengkel betulin excavator putarnya lagi diservice lanjut bikin garasi. Adeknya mainan geoboard sensory play masukin karet ke paku geoboardnya lanjut diberesin bljr out n in ke dalam plastik. Setelah adiknya tidur lanjut kelas pengenalan huruf hijaiyah “shoqur” untuk elang n membaca ensiklopedi elang. Dengan panduan buku happy hijaiyah dari mbak DK Wardhani dan Ari Nilandari saya mengenalkan seperti apa burung elang itu. 

Rasulullah SAW melarang kita mengonsumsi binatang bercakar seperti elang. Faris memahami kalau tidak boleh dimakan berarti haram ya ma. Sebagian ulama dan cendekiawan berpendapat bahwa larangan Rasulullah SAW ini agar burung elang sebagai binatang predator utama ini tetap ada. Kenapa? Karena jumlah burung elang ini sangat terbatas namun memiliki fungsi utama dalam menjaga keseimbangan alam. Elang memangsa tupai, tikus, musang dan reptil. Tugas elang adalah mengendalikan jumlah hewan pemakan tumbuhan tersebut, bukan memusnahkannya. Apabila elang tidak ada, binatang pemakan tumbuhan akan semakin banyak dan tidak terkendali. Sawah petani dapat hancur dimakan tikus. Selama burung pemangsa itu berpatroli, insyaallah alam akan tetap seimbang. Begitulah Allah menciptakan makhluk tidak akan pernah sia-sia.

.
.
.
Setelah membaca buku, kami lanjutkan ke kelas memasak bikin ramen kari untuk makan siang. Faris bertugas mencuci sayur dan jamur serta memasukkan ke dalam panci. Kemudian memasukkan mie dan rempah-rempah. Selesai memasak kami makan bersama. Sebelum tidur kita membahas mengenai kebiasaan tidur siang Rasululullah SAW. Alhamdulillah bi ni’matimushaalihat.

.
.
.
Kegiatan di sore hari setelah mandi, bermain bebas. Anak-anak memilih menyusun lego dan menyortir beberapa mainannya yang tercampur tidak sesuai pada boxnya. Sebelum tidur kami murojaah surat pendek sambil bermain membuat bentuk bayangan menggunakan senter. Terima kasih untuk pelajaran hari ini 💕

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *