Meskipun keadaan alat transportasi umum di negara kita masih belum ramah anak, namun tidak ada salahnya kita mulai memperkenalkan dan membiasakan si kecil menggunakannya.

Minggu lalu, saat kami berada di Jakarta kami selalu menggunakan alat transportasi umum ketika akan pergi kemana-mana.
Dalam kesempatan langka ini, tidak ada salahnya kita sebagai orang tua mengajak dan memperkenalkan si kecil menggunakan transportasi umum, seperti Commuter Line, TransJakarta maupun alat transportasi lain. Berikut cerita perjalanan Faris saat pertama kali mencoba naik KRL di Jakarta. Point yang harus dicatat kita sebagai orang tua adalah selalu dampingi anak ketika pertama kali menggunakan transportasi umum. Saat ini Jaringan KRL tidak hanya terdapat di Jakarta namun juga sampai ke kota-kota satelit dari Jakarta, seperti Depok, Bogor, Tangerang, Tangerang Selatan, Bekasi, dan bahkan Rangkas Bitung. Untuk mengetahui di stasiun mana saja KRL beroperasi, bisa dilihat di peta jaringan KRL ini. Kalau menggunakan Google Map, bisa juga melihat peta elektronik ini untuk menentukan posisi stasiun KRL terdekat.
Dari semua stasiun tersebut, jangan pernah mencoba naik KRL di stasiun Gambir. Karena KRL tidak berhenti di stasiun Gambir. Contohnya kami, kemarin kami pergi ke Monas dari Stasiun Tebet mengambil rute turun di Stasiun Juanda (stasiun terdekat, selain stasiun Gambir) karena KRL tidak berhenti di stasiun Gambir. Dari stasiun harus naik bajaj dengan waktu tempuh 15 menit untuk sampai tujuan.

 

Jika ingin mencoba naik KRL ini, kita bisa beli tiket sekali jalan yang lebih terkenal dengan nama Tiket Harian Berjaminan (THB) dengan uang jaminan Rp. 10.000 yang  bisa diambil kembali kalau kita mengembalikan THBnya dalam jangka waktu satu minggu setelah membeli. Alternatif lain, coba pakai tiket terusan yang lebih terkenal dengan nama Kartu Multi Trip (KMT). Harganya cuma Rp. 50.000 dengan saldo Rp. 30.000.
Kedua jenis kartu ini bisa dibeli di loket stasiun- stasiun KRL. Atau bisa juga beli melalui vending machine. Untuk KMT bisa isi ulang di loket dan vending machine.
Tapi kalau kita punya kartu bank sejenis flazz, e money, tap cash, brizzi bisa juga dipakai, asal jangan lupa di aktivasi terlebih dahulu di stasiun. Untuk tempat aktivasinya bisa langsung bertanya ke petugas stasiun.
Selama perjalanan, kami memberi contoh cara membeli tiket dan bagaimana cara menscan kartu sampai dengan dia bisa masuk ke dalam stasiun. Seru sekali! Tidak ketinggalan Faris bertanya, kenapa ya Ma kalau kita naik kendaraan umum harus mengisi kartu dulu? Untuk apa Ma?
Saya berusaha menjelaskan kalau saat ini sistem perkeretaapian di Indonesia sudah lebih baik sehingga memudahkan kita untuk menikmati fasilitas transportasi umum. Kita tidak perlu antri lagi untu membeli tiket di loket jika sudah memiliki Tiket Harian meskipun kita bukan warga Jakarta.
Saat ini di setiap stasiun sudah tersedia peta jalur-jalur Commuter line maupun TransJakarta, sempatkan waktu untuk mendiskusikan jalur-jalur tujuan dengan mempelajari peta tersebut. Melalui kegiatan ini, kami bisa mengajarkan anak untuk bersikap kritis, bertanya pada petugas maupun security untuk mengetahui arah atau tempat tujuan. Mengajarkan kepada anak untuk selalu waspada, seperti tidak bicara pada orang asing, terutama yang menanyakan hal-hal pribadi seperti alamat rumah. Anak-anak kami ingatkan untuk selalu memperhatikan sekeliling untuk meningkatkan kewaspadaan, juga untuk mengetahui berbagai petunjuk maupun rambu-rambu.
Melihat banyaknya penumpang yang memegang smartphone, Faris bertanya kenapa semua orang pada main handphone ma? Kami mencontohkan dan menjelaskan kepada anak-anak untuk tidak tertidur atau bermain telepon genggam maupun gawai di angkutan umum, untuk menghindari tindak kejahatan seperti pencopetan atau perampokan/perampasan. Tidak lupa kami mengingatkan anak-anak untuk bersikap tertib, tidak berebut atau saling dorong ketika akan masuk ke dalam angkutan umum. Berdiri ataupun duduk di tempat yang sudah ditentukan, bukan di pinggir atau di depan pintu yang dapat menyulitkan orang yang akan naik maupun turun. Kami mengajarkan kepada anak-anak untuk selektif memilih tempat duduk, dan mempercayai intuisinya. Jika kita merasa tidak nyaman berada di dalam kendaraan, lebih baik untuk segera turun dan pindah ke kendaraan umum berikutnya. Yang terpenting dan sudah hilang dari peradaban anak jaman sekarang, jami berusaha mengajarkan anak untuk bersikap sopan. Tidak menaikkan kaki ke tempat duduk, tidak bicara dengan suara keras, maupun tertawa keras, memberikan tempat pada orang-orang yang membutuhkan seperti ibu hamil, orang tua, orang cacat, maupun ibu atau bapak yang menggendong balita. Mengingat tingkat empati masyarakat jaman sekarang sangat-sangat rendah, maka kami berusaha belajar memberikan contoh kepada anak-anak. Tak lupa menjaga kebersihan transportasi umum serta jalan raya dengan tidak membuang sampah sembarangan.
Apa yang perlu kita perhatikan saat naik KRL?
🐣Biaya naik KRL cukup murah. Untuk 25 km hanya Rp. 3000 dan untuk setiap 10 km tambahannya hanya menambah Rp. 1000/10 km. Kita tidak perlu pusing dengan kalkulasi biayanya. Kalau kamu pakai THB cukup sebutkan stasiun tujuan kamu dan nanti petugas loket atau tekan stasiun tujuan di vending machine.  Kalau pakai KMT, asal saldo kita tidak kurang dari Rp. 13.000 kita bisa langsung menggunakan KRL. Dijamin murah deh jalan-jalan menggunakan KRL.
🐣Karena saat ini KRL sudah pakai tiket berjenis cashless, maka untuk masuk ke stasiun kamu harus melewati pintu elektronik. Silahkan tap tiketnya ke mesin pembacanya di pintu elektronik. Yang jangan dilupakan kalau tap in gunakan tangan kiri dan kalau sudah sampai silahkan tap out menggunakan tangan kanan.
🐣 Ini terjadi karena pintu elektroniknya menggunakan model tripod. Sehingga kalau masuk, posisi mesin pembaca kartu ada di sebelah kiri. Sementara kalau keluar, posisi mesin pembaca kartu ada di sebelah kanan.
🐣Di dalam stasiun, perhatikan informasi peron buat paham dimana kita harus menunggu untuk naik KRL. Kalau masih bingung, kita bisa tanya ke petugas stasiun. Atau perhatikan pengumuman dan papan digital di stasiun. Sebagai informasi, tidak semua rangkaian Commuter Line dilengkapi sarana informasi audio untuk mengingatkan dimana kamu saat ini berada. Informasi visual umumnya tersedia dalam bentuk gambar peta rute Commuter Line yang terletak di atas pintu-pintu gerbong Commuter Line. Peta rute Commuter Line ini dapat kamu gunakan untuk menghitung berapa stasiun Commuter Line yang akan dilewati dalam perjalanan menuju ke stasiun Commuter Line tujuan.
🐣Saat berada di dalam kereta sebaiknya kita memperhatikan dengan baik informasi-informasi atau pengumuman yang disampaikan oleh petugas di setiap stasiun dimana kereta akan berhenti untuk mengangkut penumpang.
🐣Hindari berjalan-jalan naik Commuter Line pada jam sibuk, terutama pada pukul 6 – 9 (dari luar Jakarta menuju Jakarta) dan pukul 16 – 19 (dari Jakarta menuju luar Jakarta). Pada waktu-waktu tersebut,  cukup sulit untuk dapat masuk dan keluar dari gerbong Commuter Line.
🐣Sebelum melakukan perjalanan kita harus memahami dulu peta jaringan KRL agar tidak bingung. Peta jaringan KRL di Jakarta terbagi menjadi 6 line atau 6 jalur.
Pertama Jalur Hijau yang rutenya adalah Rangkas Bitung/Maja/Parungpanjang/Serpong sampai ke Tanah Abang pp.
Kedua Jalur Coklat yang rutenya adalah Tangerang – Duri pp.
Ketiga adalah Jalur Kuning yang rutenya ada dua yaitu Bogor/Depok – Manggarai – Tanah Abang – Duri – Kampung Bandan – Jatinegara pp kemudian ada rute Nambo – Citayam – Manggarai – Tanah Abang – Duri – Kampung Bandan – Jatinegara pp
Keempat adalah Jalur Merah yang rutenya Bogor/Depok – Manggarai – Jakarta Kota
Kelima adalah Jalur Biru yang rutenya adalah Bekasi – Manggarai – Jakarta Kota. Tapi ada juga kereta di jalur ini yang rutenya Bekasi – Jatinegara – Pasar Senen – Kampung Bandan – Jakarta Kota.
Keenam adalah Jalur Pink yang rutenya adalah Jakarta Kota – Kampung Bandan – Ancol – Tanjung Priok pp.
Nah dari semua jalur tersebut ada beberapa stasiun Transit yang penting diingat yaitu Manggarai yang saat ini adalah stasiun transit terbesar, Tanah Abang, Duri, Kampung Bandan, Jatinegara, dan Jakarta Kota.
Masih ragu untuk mengajak anak naik alat tranaportasi umum?
Memang mengajarkan anak untuk terbiasa menggunakan kendaraan umum bukanlah hal yang mudah. Namun, dengan kesabaran dan ketelatenan, hal tersebut tidaklah mustahil. Selamat mencoba, yuk kita budayakan naik kendaraan umum😘

Belajar Menggunakan Fasilitas Publik : Pengalaman Pertama Naik Kereta Api Komuter /Commuter Line

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *