Pertanyaan ini muncul ketika Faris membantu Mama menjemur baju, kemudian tanpa sengaja ia nampak terheran-heran saat mendapati sekumpulan awan yang ia lihat di atas langit bergerak dan terasa seperti mengejar-mengejarnya.
Awan dalam bahasa arab disebut ‘sahaab‘ atau ‘ghamaamah‘.  Kata ‘sahaab‘ adalah nama massal dari kata individual ‘sahaabah‘ yang artinya ‘awan’. Kata ‘sahaba‘ adalah kata kerja bentuk lampau yang berarti menarik atau menyeret sesuatu di permukaan tanah. Awan dikatakan ‘sahaab‘ oleh al-Qur’an karena awan itu bergerak ke sana ke mari karena seolah diseret dan digiring oleh angin.

Bentuk jamak dari kata ‘sahaab’ adalah ‘sahaa-ib’ atau ‘suhub’. Kata ini semakna dengan kata ‘ghaimah’ dan ‘ghamaamah’.

”   سحاب  “

Di dalam al-Qur’an, kata ‘sahaab’ disebut sebanyak sembilan (9) kali, masing-masing di dalam QS An-Nuur [24]: 40, dan 43, QS An-Naml [27] : 88, QS Ar-Ruum  [30]: 48, QS Faathir [35]: 9, tanpa diikuti kata sifat untuk kata ‘sahaab’. Selanjutnya kata ‘sahaab’ yg diikuti dengan kata sifat (na’tun) ada di empat tempat ini: QS Al-Baqarah [2]: 164 dengan sebutan ‘sahaab musakhkhar’ (=awan yang dikendalikan), QS Al-A’raaf [7]: 57 dan QS Ar-Ra’d [13]: 12 dengan sebutan ‘sahaab tsiqaal’ (=awan tebal alias mendung), serta dalam QS Ath-Thuur [52]: 44 dengan sebutan ‘sahaab markuum’ (=awan bertidih-tindih). Allahu’alam

Kalau Faris tidak bertanya belum tentu Mama mempelajari kembali bab awan, proses terjadinya awan dan semuanya telah Allah jelaskan lengkap di dalam Al Qur’an. Proses terjadinya awan ternyata sudah dikupas tuntas di dalam Al-Qur’an. Dari awan kemudian turunlah air hujan, munculnya petir atau halilintar, semuanya dapat kita pahami salah satunya dalam QS An-Nuur [24]: 43:

“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan”.

Dalam berbagai referensi menyatakan bahwa awan banyak jenisnya namun hanya sedikit yang menyebabkan turunnya air hujan, sedangkan sisanya lebih banyak yang tidak berpotensi menurunkan air hujan. Awan dibagi berdasarkan ketinggian letaknya dari muka Bumi (cloud base), dan bentuknya. (sumber bacaan : Buku seri Cerita Cuaca : Awan, Fifadila, Tiga Ananda)

Berdasarkan bentuknya, Awan terbagi menjadi 3 yaitu :

1. Kumulus, yaitu awan yang bentuknya bergumpal-gumpal dan dasarnya horizontal (Sahaab Markuum).

2. Stratus, yaitu awan yang tipis dan tersebar luas sehinga menutupi langit secara merata (Sahaab Tsiqaal).

3. Sirrus, yaitu awan yang berbentuk halus dan berserat seperti bulu ayam. Awan ini tidak dapat menimbulkan hujan (Sahaab Musakhhar).

Pembentukan awan hingga menjadi hujan yang turun ke Bumi adalah prosessunnatullah. Awan yang bertumpuk-tumpuk di langit itu digerakkan dan digiring mengikuti arah angin (QS. Ar-Ruum [30]: 48 dan Faathir [35] : 9).

“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan ke luar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira.”

“Dan Allah, Dialah Yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu ke suatu negeri yang mati lalu Kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu.”

Di dalam perjalannya awan-awan kecil digerakkan Allah dengan angin menuju area konvergensi, dan setelah tiba di area konvergensi awan menjadi semakin banyak dan lama2 menjadi tebal.
Apa itu konvergensi? Sebuah kata yang cukup asing di telinga kita kan? Konvergensi merupakan gerakan aliran udara yang mengalir berkumpul memasuki suatu daerah. Jadi suatu tempat yang merupakan tempat berkumpulnya udara. Pada daerah ini terjadi penurunan kecepatan angin, dimana angin akan cenderung menjadi teduh saat memasuki wilayah ini. 

Pada saat awan mulai menebal, maka kecepatan angin menjadi semakin berkurang sehingga awan menjadi saling bertumpukan dan saling menindih (rukaaman = ركا ما), kemudian ada yang membentuk gunung (jibaal = جبال) dan mengandung butiran air dan kristal es. Setelah tekanan dan temperatur butiran air siap diterjunkan, dari celah2 gunungan itu kemudian Allah menurunkan air hujan ke muka Bumi di wilayah yang dikehendaki-Nya. Inilah ayat kauniyah dan qauliyah-Nya (QS Al Baqarah : 164)

📎“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan Bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”

Allah menurunkan air hujan tidak bersamaan di semua wilayah namun dibagi merata sesuai kehendak-Nya. Saat hujan di wilayah barat, namun di wilayah timur cerah dan Matahari bersinar. Itulah kenapa bisa terjadi pelangi, insyaAllah akan kita bahas di lain kesempatan.

QOTD : Ma, kenapa kok awan bergerak terus? Kok awannya ngejar Faris ya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *