Catatan penting dari diskusi dengan Teh Kiki

Pertanyaan:

Bagaimana pola komunikasi yang baik kepada anak agar anak mau mendengar pesan kita dan mau melaksanakannya? karena sering sekali anak-anak baru akan mendengar dan melaksanakan pesan yang kita sampaikan ketika kita sudah marah atau menaikkan nada bicara kita pada level tertentu. Sehingga pada saat kita menasehati dengan cara biasa atau berbicara dengan nada yang pelan anak-anak cenderung tidak mendengar dan tidak melaksanakan.

Jawaban teh Kiki Barkiah:

Dalam kesempatan ini saya ingin berbagi bagaimana ibrah yang bisa kita ambil dari pola komunikasi Rasulullah SAW kepada anak-anak dan kepada para sahabat dari beberapa kisah dalam shirah. Dengan mengambil ibrah tersebut mudah-mudahan pola komunikasi kita menjadi lebih efektif, sehingga pesan dapat tersampaikan dan harapan kitapun bisa tercapai.

Sebelum kita berbicara tentang pola komunikasi Rasulullah SAW terhadap anak-anak atau sahabat dalam mendidik mereka, saya ingin mengangkat 1 hadist yang mungkin bisa menjadi ruh bagi keberhasilan pola komunikasi kita dengan anak anak. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadist yang di riwayatkan oleh Ibnu Majah

“Hormatilah anak anakmu dan perbaikilah akhlak mereka”

Maka kita harus berusaha untuk senantiasa menghormati hak, keinginan, dan pendapat mereka. Karena bisa jadi ketika kita terlalu sering mengabaikan pendapat, pandangan, dan perasaan mereka, membuat mereka pun merasa tidak perlu untuk menghargai harapan dan keinginan orang lain khususnya kita. Maka hal ini harus diperbaiki terlebih dahulu. Pastikan hak-hak mereka telah terpenuhi, sehingga hubungan yang baik diantara kita akan membuka jalan bagi kita untuk bisa berkomunikasi secara efektif kepada anak anak. Bila hubungan kita dengan anak anak retak atau renggang, teknik komunikasi sebaik apapun yang kita kuasai tidak akan berhasil mencapai tujuan.

*1. Komunikasi tanpa komunikasi*

Belajar dari cara Rasulullah SAW berkomunikasi dalam shirah, yang pertama Rasulullah SAW berkomunikasi dengan tanpa komunikasi. Sebagai contoh Ibnu Abbas pernah berkata bahwa beliau menginap dirumah bibinya, Maimunah. Kemudian Rasulullah biasa bangun untuk shalat malam suatu malam. Rasulullah SAW bangun kemudian berwudhu dengan wudhu yang ringan dari kendi yang digantung. Setelah itu Rasulullah SAW shalat. Kemudian Ibnu Abbas berwudhu dengan wudhu yang sama seperti Rasulullah SAW lakukan. Kemudian beliau berdiri disamping kiri Rasulullah SAW. Rasulullah SAW kemudian menarik Ibnu Abbas dan meletakkannya disamping kanannya. Kemudian Rasulullah SAW shalat beberapa rakaat.

Disini kita bisa melihat bagaimana Rasulullah SAW berkomunikasi dengan tanpa komunikasi tetapi langsung memberikan teladan. *Jadi ada kalanya komunikasi kita lebih efektif keika kita langsung memberikan contoh.* Sebagai contoh kalau saya meminta anak bersiap-siap pergi,tetapi saya hanya berkomunikasi secara lisan sambil menyusui, mereka biasanya lebih sulit untuk tergerak. Tetapi kalau saya menyelesaikan keperluan saya, kemudian saya bergerak untuk pergi, mulai memanaskan mobil, mulai memasukkan barang barang ke mobil, dengan sendirinya anak-anakpun segera bergerak. Mereka tahu bahwa tidak lama lagi kita akan pergi dan mereka harus menyelesaikan pekerjaan yang harus mereka lakukan untuk persiapan keperluan pergi tersebut.

*2. Fokus pada mengarahkan bukan membahas kesalahan*

Kemudian yang kedua, kita bisa belajar dari shirah bagaimana Rasulullah SAW memberikan contoh dalam melatih skill seorang anak dengan cara memberikan contoh yang benar dan tidak fokus membahas kesalahan anak. Suatu ketika ada seorang anak yang belum mahir menguliti kambing. Rasulullah SAW tidak fokus membahas kenapa ia tidak melakukan dengan cara yang baik. Tetapi di hadapan anak tersebut Rasulullah SAW langsung menunjukkan cara bagaimana menguliti kambing yang benar.

Dalam berkomunikasi, kita juga perlu melihat latar belakang seorang anak ketika ia bersikap di luar harapan kita. Bisa jadi bukan karena ia bermaksud melakukan kesalahan, tetapi karena ia belum tahu atau belum mahir melakukannya. *Seringkali orang tua menaruh ekspektasi yang sangat tinggi. Berharap anak sudah mampu melakukan. Sehingga ekspektasi ini mendorong kita melakukan komunikasi menyimpang yang membuat anak semakin merasa tidak nyaman berhadapan dengan kita.*

Maka sebaiknya fokus kita adalah memberikan contoh, memberitahu apa yang seharusnya mereka lakukan. Sehingga tidak perlu membangun komunikasi yang lebih banyak membahas kesalahan. Apalagi bila komunikasi ini didasari oleh rasa kesal kita. Sehingga membahas kesalahan menjadi kesempatan untuk meluapkan emosi-emosi negatif kita. Ketika kita melihat anak anak melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan prosedur atau tidak sesuai dengan harapan kita. *Terlebih lagi, banyak orang tua yang sebenarnya memiliki permasalahan di luar permasalahan anak, namun menjadikan kesalahan anak sebagai kesempatan meluapkan emosi negatif tersebut.*

*3. Menarik perhatian anak sebelum menyampaikan pesan*

Kemudian yang ketiga, Rasulullah SAW pernah mendekati dan menyapa seorang anak yang sedang bersedih karena burung pipitnya mati. Kemudian Rasulullah menarik perhatian dengan menyapa anak tersebut

“Wahai Abu Umair ada apa dengan burung pipitmu?”

Rasulullah SAW bertanya bagaimana kabar burung pipitnya. Dari kisah ini kita belajar bahwa Rasulullah SAW berusaha menarik perhatian lawan bicara, sebelum kemudian menyampaikan isi pesan yang hendak dikomunikasikan. Rasulullah SAW berusaha menghargai perasaan lawan bicaranya. Terkadang ketika kita menyampaikan sesuatu, kita berteriak-teriak dari dalam kamar. Sementara kita tidak mengundang anak untuk terlebih dahulu memperhatikan kita sehingga ia bersedia memberhentikan aktifitasnya untuk mau mendengar pesan kita. *Jadi apabila anak tidak mendengar pesan kita, barangkali karena kita sendiri yang langsung memberikan pesan tanpa membuat lingkungan yang kondusif agar anak mau dan mampu berkonsentrasi pada apa yang kita sampaikan.*

Bisa jadi saat kita berkomunikasi, anak sedang asik dengan mainannya atau sedang menonton televisi. Mereka bisa mendengarkan suara kita tetapi otaknya tidak mempersiapkan diri untuk memahami pesan-pesan kita. *Belajar dari kisah Rasulullah SAW kita perlu memperbaiki teknik komunikasi dengan cara bebicara secara langsung dan berhadap-hadapan. Gunakan sentuhan lembut yang membuat mereka dapat memusatkan perhatian kepada kita.* Insya Allah akan lebih baik dibanding kita berkomunikasi berteriak-teriak dari tempat jauh. Apabila kita berada dalam keadaan yang sulit untuk mendekati anak, seperti sedang berbaring meyusui, maka panggil dulu anak tersebut atau minta seseorang yang lebih dekat untuk memanggilkan anak tersebut.

*4. Buka diskusi dengan pertanyaan*

Kemudian yang keempat, Rasulullah SAW sering sekali mengajukan pertanyaan terlebih dahulu kepada para sahabat untuk membuka sebuah diskusi. Misalnya “Maukah aku memberitahukan tentang orang yang masuk surga?” Kita dapat melihat dalam banyak hadist bahwa Rasulullah SAW menyampaikan suatu pesan dengan cara bertanya terlebih dahulu kepada para sahabat. Dengan pertanyaan pembuka, orang yang diajak komunikasi diharapkan dapat memusatkan pikirannya. Bahkan secara aktif berusaha untuk mencari jawaban. Tentunya pesan akan lebih terinternalisasi dalam diri anak ketika jawaban itu hadir dari proses berpikir seorang anak dibanding ketika mereka mendengar pesan dari kita. Kita hanya tinggal menyatakan persetujuan atau meluruskan jawaban yang disampaikan oleh anak. Jadi dalam membangun komunikasi, terlebih saat akan memberikan pesan yang sangat penting kepada anak, buatlah waktu khusus untuk berkomunikasi dengan mereka. Tinggalkan sejenak pekerjaan kita dan duduklah bersama dalam suasana yang nyaman. Mulailah dengan mengajukan pertanyaan terlebih dahulu serta hargailah setiap jawaban anak.

BERSAMBUNG…