Tentang Aku dan Kamu

Surat ini ditulis beberapa hari yang lalu, sebelum ulang tahun pernikahan kita, sementara saya masih asyik mengetik di aplikasi note karena anak-anak masih tidur siang. Lalu, kamu yang masih bergulingan di kasur dan tidak segera beranjak untuk mandi membuat saya gemas.

Hidup ini adalah tentang siapa yang kau cintai dan kau sakiti.
Tentang bagaimana perasaanmu.
Tentang dirimu sendiri.
Tentang kepercayaan, kebahagiaan dan kasih sayang.
Hidup adalah tentang menghindari rasa cemburu, mengatasi rasa tak peduli dan membina kepercayaan.
Tentang apa yang kau katakan dan apa yang kau maksudkan.
Tentang menghargai orang apa adanya dan bukan karena apa yang dimilikinya.
Tapi sesungguhnya hidup adalah tentang memilih untuk menggunakan hidupmu menyentuh hidup orang lain hanya dengan cara kita. Hidup adalah tentang pilihan-pilihan.

Saya menghela nafas panjang, berusaha mengingat-ingat apa yang telah kita lewati selama enam tahun perjalanan berumah tangga.

Sungguh kita berdua yang teramat berbeda. Kita yang masing-masing beranjak dewasa berdasarkan nilai-nilai yang kita genggam sejak kecil.

Aku yang dibesarkan oleh seorang Papa yang sangat menjunjung tinggi kedisiplinan diri, komunikasi, dan kebersihan rumah, menjadikan aku yang sekarang. Kamu yang dibesarkan oleh Ibu yang sangat tenang menghadapi setiap situasi seolah tidak ada satupun hal yang perlu dikhawatirkan,  menjadikan kamu yang sekarang.

Maka demikianlah aku dan kamu. Dua raga dan isi kepala yang berbeda, “tiba-tiba” saja berada dalam satu atap yang sama.

Akulah perempuan yang mengatakan apa yang aku pikirkan, aku rasakan, dan aku inginkan kepada kamu saat aku ingin menyampaikannya. Dan kamu sang lelaki yang lebih senang menata rapi pikiran dan perasaanmu sendiri dalam sebuah lorong. Sampai tiba saatnya kamu menemukan momen yang tepat untuk menyampaikannya, meskipun tidak melalui kata-kata.

Aku perempuan pemimpi yang selalu berkalang gelisah. Gelisah saat melihat temannya bisa kembali bersekolah, gelisah saat kenalannya sukses dalam karier, gelisah bercampur bahagia saat mendengar kawannya sudah memiliki anak lagi, untuk kedua atau ketiga kalinya, gelisah saat tugas belum selesai, gelisah saat rumah berantakan. Dan kamu menjelma lelaki bersalut ketenangan, layaknya hutan pinus di keheningan malam. Yang menghalau semua gelisahku dengan selalu berkata “semua akan baik-baik saja”.

Di satu waktu aku menjelma menjadi perempuan yang mengharapkan adanya sebuah percepatan dalam sebuah tanya. Kamu menjelma menjadi lelaki yang percaya bahwa jawab hanya mendarat pada saat yang tepat.

Lalu kita masing-masing memasang pelindung bagi diri sendiri. Kita masing-masing merasa ada batas yang terlalu jauh dilewati. Kita pun kemudian sama-sama merasa tertekan lalu berpikir, “kamu sungguh mengesalkan”.

Lalu kita sama-sama terdiam.

Aku terdiam dan menangis. Kamu terdiam dan lalu tetap diam.

Lalu kita sama-sama marah.

Lalu kita sama-sama merasa kesepian.

Lalu kita sama-sama mencoba mendekat kembali dengan saling berbicara.

Berbicara tentang apa inginnya aku. Berbicara tentang bagaimana inginnya kamu.

 

Kemudian,

apa lagi yang diharapkan dua insan ini saat tidak ada alasan untuk melanjutkan amarah?

Kita barangkali sama-sama kecewa, tapi kita bersepakat untuk mengucap dan menerima maaf.

Karena pikiran kita tidak selalu bersenyawa, maka harus selalu dikalibrasi agar satu frekuensi.

 

Aku dan kamu jadi kita. Yang sejak awal kamu selalu berharap agar kita bisa selamanya, tidak sekedar bersama menjadi pasangan semata-mata karena adanya ikatan pernikahan. Saat perasaan cinta ala anak muda yang meluap-luap sudah lewat masanya, tapi aku tetap padamu.

Karena bersamamu, aku menjadi tenang.

Maka demikianlah aku dan kamu. Yang bersama dalam kurun waktu enam tahun lamanya pada hari ini. Saat aku merasa terbiasa padamu, tapi ternyata kamu tetap membawa kejutan baru. Saat aku merasa sudah sangat mengenalmu, ternyata kamu masih memiliki sisi misteri untuk selalu aku gali.

Kamu adalah kisah yang tidak akan pernah selesai aku baca. Karenanya, aku selalu mempelajarimu. memperhatikanmu. Membaca setiap detilmu.

Tetapi aku tetap belum bisa menyelesaikannya. Karena saat aku selesai mempelajari satu kisah, ternyata kisah yang baru sudah terbit lagi. Maka aku merawat dan meletakanmu hati-hati, layaknya cinta seorang pecandu buku terhadap aroma kertas dan tulisan hangat, yang baru saja keluar dari percetakan.

Maka demikianlah aku dan kamu. Saat kamu membaca ini, mungkin kamu akan berekspresi secara datar seperti biasanya. Tapi aku tahu, ada senyum yang tidak bisa kamu sembunyikan dari hadapanku. Dari hadapan perempuan yang membaca kamu.

 

Hai, tidak usah bingung. Aku cuma mau bilang, aku sayang kamu.

Dan kamu pun nanti akan menatapku sambil mengatakan bahwa kamu juga sayang padaku.

 

Karena,

memang seperti biasanya, demikianlah,

aku dan kamu.

Batam, 12 Januari 2018

~mengenang pertemuan yang tak terbilang~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *