Banyak metode yang bisa dilakukan untuk mendidik anak, menyampaikan pesan-pesan hikmah padanya dan membentuk kepribadiannya. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan berkisah.

Berkisah merupakan salah satu metode terbaik dalam menyampaikan pesan dan hikmah kepada ananda. Bahkan Al-quran sendiri sebagian besar isinya adalah kisah atau cerita. Kisah atau cerita bisa disampaikan pada anak sejak sedini mungkin, bahkan sejak baru lahir anak sudah bisa diceritakan. Tapi perlu dipastikan juga kalau cerita yang disampaikan pada anak kita adalah cerita yang semakin mendekatkan dan mengikatkannya pada Allah dan Rasul-Nya. Ini sangat efektif sebagai sarana untuk menanamkan tauhid dalam diri anak sejak dini.

Banyak manfaat dan hikmah yang saya dapat dari berkisah kepada anak-anak. Beberapa di antaranya adalah

1. Mempermudah anak dalam mempelajari bahasa. Anak yang sering dibacakan kisah akan lebih mudah dalam mempelajari bahasa dan semakin banyak mengenal kosakata.
Dengan berkisah, ternyata dapat meningkatkan kecerdasan anak terutama kecerdasan linguistik dan menumbuhkan kreativitas dalam diri anak. Yang harus digaris bawahi agar menjadi perhatian orang tua adalah cerita yang disampaikan kepada anak adalah kisah-kisah nyata dan sarat akan nilai-nilai Islam sebab sedikit banyak pasti berdampak baik terhadap kepribadian anak-anak.

2. Cerita yang berkualitas akan membentuk kepribadian baik anak
Sejatinya kepribadian kita terbentuk oleh apa yang sering kita dengar dan lihat. Dan salah satu yang efektif dalam membentuk kepribadian seorang anak adalah cerita. Dalam satu kesempatan Ustadz Salim A. Fillah pernah mengatakan kenapa di negeri kita ini banyak koruptor ? Sering terjadi kecurangan dan sejenisnya. Mungkin salah satu penyebabnya kata beliau adalah karena cerita yang lebih sering didengarkan oleh anak-anak di negeri adalah kisah si kancil mencuri ketimun dan berbagai kecurangannya. Secara tak lansung kata beliau sambil berseloroh ini akan membentuk kepribadian kita. Naudzubillah min dzalik.
Berbeda dengan anak-anak di zaman Muhammad Alfatih yang pada waktu itu diceritakan kisah-kisah para Nabi, perjuangan Islam, penaklukan, mimpi Rasulullah akan jatuhnya kota konstantinopel ke tangan Umat Islam. Sehingga kisah-kisah ini membangkitkan semangat perjuangan dalam diri generasi muda di zaman tersebut.
Islam sangat kaya dengan cerita, Al-qur’an sebagian besar isinya kisah, ada kisah para Nabi, para sahabat Nabi, shahabiyah Nabi, para tabi’in, ulama dan lainnya. Sesungguhnya ini adalah aset berharga umat muslim untuk membentuk kepribadian generasi mudanya.

3. Menumbuhkan kreativitas
Anak yang sering mendengarkan cerita sejak masih kecil atau dalam kandungan memiliki kemampuan yang belum diajarkan padanya atau mampu menemukan pemecahan masalah yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh orangtuanya. Hal ini mungkin terjadi karena informasi yang didapat dari indra pendengarannya tersimpan sebagai memori jangka panjang. Di dalam otak terdapat tonjolan bernama “girus: yang berfungsi merekam kode-kode informasi. Semakin banyak informasi, pembelajaran dan rangsangan yang diperoleh anak, semakin banyak pula girus yang terbentuk di otaknya.
Semakin sering dan tekun orangtua menceritakan kisah-kisah berkualitas pada anaknya maka akan sangat baik bagi perkembangan otak dan kreativitas anak.

4. Meningkatkan daya pikir anak
Mendengarkan kisah akan meningkatkan daya pikir anak. Semakin sering anak diajak untuk berkomunikasi, semakin cepat perkembangan daya pikirnya.

5. Menciptakan imajinasi anak
Setelah mendengarkan cerita anak akan berimajinasi dan mempelajari nilai-nilai yang terdapat dalam cerita tersebut. Membacakan kisah mengubah sifat abstrak tersebut menjadi bentuk nyata yang dapat dibayangkan melalui peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam cerita.

6. Cara mudah untuk mengenalkan nilai-nilai Islam pada anak
Berkisah adalah salah satu cara mudah dan efektif untuk mengenalkan keteladanan dari tokoh-tokoh hebat kepada anak. Seperti halnya mengenalkan Nabi Muhammad Saw, para Nabi, para sahabat, tabi’in dan berbagai tokoh-tokoh muslim yang mendunia lainnya.
Jika kita ingin melihat bagaimana penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari tentu tempat belajar yang paling tepat adalah kepada Rasulullah Saw dan orang-orang yang hidup sezaman dengan beliau. Dari kisah-kisah mereka kita akan menemukan banyak sekali keteladanan baik itu tentang perkara beribadah pada Allah Swt, sikap mulia ke sesama manusia, perjuangan dan pengorbanan serta berbagai kemuliaan lainnya.

7. Menjauhkan anak dari TV, gadget, game dan sejenisnya.
Musuh utama bagi anak yang terkadang tidak disadari oleh para orangtua adalah berbagai tontonan yang ia lihat dan permainan digital yang dimainkannya. Terlebih lagi di era digital seperti sekarang ini gadget menjadi satu hal yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. Sudah bukan hal yang aneh lagi saat orang tua membekali anaknya dengan gadget sehingga pada akhirnya membuat anak-anak kecanduan.

8. Sebagai sarana untuk membangun keakraban antara anak dan orangtua
Saat berkisah tentu orang tua akan meluangkan waktu untuk hadir disamping anaknya menyampaikan cerita. Kesempatan ini bisa dijadikan sebagai sarana untuk membangun keakraban antara orang tua dan anak, terlebih lagi bagi orang tua yang pergi pagi dan pulang malam. Waktu malam untuk berkisah bisa menjadi satu waktu yang berkualitas bersama anaknya.
Pengalaman mendengarkan kisah dari orangtua akan menjadi kenangan tersendiri bagi anak.

9. Menambah wawasan orangtua
Ketika membacakan kisah pada anak maka secara tidak lansung orangtua juga ikut belajar. InsyaAllah akan mendapat dua manfaat sekaligus, anak mendapat ilmu dan orang tua pun bertambah wawasannya.

10. Menumbuhkan budaya baca dan kecintaan pada ilmu sejak dini
Bercerita pada anak akan menumbuhkan budaya baca dan kecintaan pada ilmu dalam diri anak. Ketika anak sudah terbiasa dengan buku dan ilmu sedari kecil maka saat ia sudah beranjak remaja dan dewasa InsyaAllah ini akan terbawa dengan sendirinya. PR yang utama bagi orang tua adalah menumbuhkan kecintaan membaca dan juga mencintai ilmu pengetahuan. Tentu ini hal yang sangat berharga terlebih lagi di negeri kita Indonesia yang memiliki budaya membaca sangat rendah.

Kurang lebih, poin-poin di atas adalah berbagai kebaikan dari kegiatan berkisah kepada ananda. Berkisah kepada anak memang tak mudah, butuh waktu, butuh kesabaran dan juga membutuhkan biaya untuk membeli buku-buku berkualitas. Tetapi karena ini adalah sebuah investasi terbaik yang tidak akan membuat kita pada orang tua rugi sedikit pun. Karena disini kita mendidik anak bukan berdagang jadi, indikator keberhasilan orang tua.
Bukan masalah untung atau rugi tetapi buah dari pengorbanan dalam mendidik anak-anak ini akan bisa petik di dunia dengan menyaksikan keberhasilan anak kita dan juga di akhirat kelak saat Allah pertemukan kembali di surga-Nya.

Kapan Waktu Yang Tepat Untuk Berkisah?

Kebanyakan ibu biasanya membacakan buku atau berkisah kepada anak-anaknya dilakukan pada malam hari menjelang tidur. Namun, bagi saya tidak ada waktu khusus dalam agenda berkisah. Saya biasa berkisah kapan saja jika mendapat momentnya. Misalnya saat anak bertanya sesuatu yang bisa membuka jalan diskusi, maka saya gunakan momen menjawab pertanyaan sambil berkisah. Atau bisa juga ketika anak melakukan perbuatan yang kurang baik, saya biasa menegur mereka melalui berkisah.

Jadi buat saya, berkisah tidak harus malam hari tetapi bisa kapan aja. Selama anak rileks dan saya pun tidak sedang menyambi melakukan sesuatu. Hal tersebut dikarenakan untuk menghindari cerita yang terburu-terburu, sehingga cerita yang disampaikan tidak dapat diserap dengan baik.

Saya menghindari berkisah kala anak hendak terlelap, alih-alih bukannya anak segera tidur tetapi justru membuat mereka menjadi susah tidur.
Waktu yang baik untuk berkisah pada anak itu lebih baik waktunya konsisten, akan lebih baik kalau sudah ada jam-jamnya bagi anak yang usianya sudah lebih besar.

Sebisa mungkin orang tua sudah mempunyai waktu yang konsisten dan menjadi suatu kebiasaan bagi anak. Hindari waktu bercerita yang tidak konsisten, seperti contoh, hari ini bercerita dan hari besoknya tidak.

Baca juga : berkisah laba-laba dan hijrah Rasulullah SAW

Peran Ayah Dalam Kegiatan Berkisah

Jika ayah memahami bahwa anaknya adalah masa depan umat, maka tidak ada ayah yang mengabaikan anaknya demi bisnisnya. Salah satu pesan dari Ustadz Budi Ashari, Lc yang saya resapi benar-benar sampai hari ini.

Pakar sejarah Islam ini mengingatkan para ayah bahwa anak-anak adalah hal yang paling mahal. Anak adalah mustaqbala ummah-masa depan ummat-. Di tangan merekalah peradaban Islam kelak. Jika hari ini kita masih kesulitan memilih pemimpin karena keterbatasan individu, maka para ayah harus mulai memikirkan bagaimana mencetak generasi pemimpin masa depan. Jangan sampai ayah terlalu sibuk di luar. Mencari nafkah memang tugas ayah, tapi itu bukan merupakan tugas satu-satunya.

“Nabi adalah sosok yang paling sibuk, tapi masih sempat meluangkan waktu mengusap kepala setiap anak yang ditemuinya. Bahkan Nabi menyempatkan diri mendidik dan bermain dengan cucu-cucunya. Apakah kesibukan kita mengalahkan nabi sehingga tak sempat peduli dan memperhatikan anak-anak?

Coba kita tengok kisah tentang kehebatan ayah Shalahuddin al Ayubi. Tidak mengherankan jika Shalahuddin menjadi orang besar di kemudian hari, pembebas Al Aqsha. Hal tersebut tidak lepas dari peran besar ayahnya yang menanamkan nilai dan keyakinan sejak kecil.

Ketika Shalahuddin kecil bermain dengan anak-anak perempuan di jalan, ayahnya mengambilnya dari tengah mereka. Ia pun mengangkat tubuh Shalahuddin tinggi-tinggi ke udara. Ayah Shalahuddin berkata, “Dulu, saya menikah dengan ibumu bukan untuk melakukan seperti ini. Aku menikah dengan ibumu agar kelak kau yang membebaskan al Aqsha!”

Shalahuddin dijatuhkan ke tanah, ia kesakitan. Ayahnya bertanya, apakah kamu sakit karena jatuh? Shalahuddin menjawab: Ayah menyakiti saya. Ayahnya bertanya lagi, “Mengapa kamu tidak teriak saja karena sakit?” Shalahuddin kecil pun menjawab,” Tidak layak seorang pembebas al Aqsha mengeluh kesakitan!”

Betapa pentingnya peran ayah bagi anak, Dr. Adnan Baharist juga mengungkapkan bahwa Allah telah siapkan perangkat agar aqidah anak terjaga. Anak-anak di usia awal mengambil nilai, akhlaq, hanya dari orang tuanya. Allah menjadikan orang tua sebagai contoh terhebat bagi anaknya.

Di fase awal kehidupannya, anak-anak hanya percaya pada orang tuanya sehingga sulit digendong orang lain. Inilah perangkat yang Allah siapkan dalam rangka menjaga anak dari pengaruh luar. Masa kanak-kanak manusia lebih lama dibanding makhluk lain, agar cukup bagi orang tua menanam aqidah di diri anak. MasyaAllah.

Manfaat Berkisah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *