NHW #1

Alhamdulillah, memasuki tahun 2018 banyak sekali hal yang ingin saya pelajari sebagai bekal dalam proses menjadi seorang Ibu yang lebih baik. Setelah tertunda tunda dan melalui proses yang sangat panjang akhirnya saya berkesempatan menimba ilmu di kelas Institut Ibu Profesional Batam.

Terhitung mulai hari Senin, tanggal 22 Januari 2018, Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP) Batch 5 Batam resmi dibuka. Kelas ini nantinya akan berlangsung selama 8 minggu. Nah, tiap minggu akan ada materi yang berkaitan tentang bagaimana menjadi seorang ibu profesional, ada diskusi dan ada PR yang juga harus dikerjakan. PR ini disebut dengan NHW (Nice Homework). Pengumpulan NHW sesuai tenggat waktunya akan menjadi dasar kelulusan matrikulasi, apakah lulus atau harus remidi di batch selanjutnya. Buat yang mengerjakan tepat waktu tentunya mendapat apresiasi juga loh, ada badge keren ala Ibu Profesional.

Apa itu IIP? Kelas Matrikulasi?

Bagi yang belum pernah dengar dan tidak familiar dengan IIP atau Institut Ibu Profesional, IIP ini didirikan oleh Bunda Septi Peni yang juga merupakan pembuat Jarimatika. Tujuan beliau mendirikan IIP adalah untuk meningkatkan kualitas ibu di Indonesia. Semakin berkualitas para ibu, maka insya Allah semakin berkualitas pula anak-anak dan keluarganya. Jika keluarga di Indonesia semakin meningkat kualitasnya, insya Allah kehidupan berbangsa dan bernegara pun akan semakin berkualitas pula. Saya sendiri mulai kenal dengan IIP pada tahun 2014, saat memutuskan resign dan bertekad membersamai anak-anak. melalui perjalanan panjang dan mood yang naik turun akhirnya bisa bergabung ke grup Whatsapp Foundie beberapa bulan yang lalu. Kayanya waktu jaman sekolah nggak pernah tuh diajarin bagaimana menjadi ibu apalagi saya yang notabene tidak pernah dekat dengan Mama saya. Nah, ketika diberi kesempatan oleh Allah menjadi seorang ibu saya merasa kelimpungan, ternyata banyak sekali hal yang harus dipersiapkan sedangkan bekal saya tidak ada. Jadilah ketika anak saya lahir, saya berburu ilmu secara otodidak melalui berbagai grup menyusui, menggendong sampai parenting yang membuat saya semakin bingung karena sistem coba-coba haha.

Dulu kata Mama saya, jadi ibu kan alamiah, nggak usah belajar juga nanti bisa sendiri. Memang sih, rasa keibuan itu alamiah, begitu menggendong bayi di tangan kita, langsung kok tanpa disuruh ada rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Anak nangis begini, langsung bisa tahu dia butuh apa, anak nangis begitu bisa tahu anak butuh digendong, dan sebagainya. Lalu? Masalahnya kan jadi ibu nggak cuma sebatas urusan susu atau popok. Apalagi zaman sudah semakin berkembang, pastinya perlu pengembangan wawasan dan pengetahuan agar lebih up to date menjawab tantangan zaman. Kalau kata Ali Bin Abi Thalib, “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya. “

Kalau ditanya kenapa pusing-pusing, kan ada sekolah, apalagi zaman sekarang banyak sekali pilihan sekolah tinggal kita mau yang seperti apa kompetensinya. Atau daripada pusing-pusing, pilih aja sekolah paling bonafit selesai deh. Apa iya sesederhana itu? Kayanya nggak deh. Bagaimanapun nanti anak-anak akan selalu menjadi tanggung jawabnya orang tua.

Baca juga : Lulusan Perguruan Tinggi Cuma Jadi Ibu Rumah Tangga, Why Not?

Saya memutuskan bergabung dengan IIP karena merasa tidak punya bekal menjadi seorang ibu. Saya merasa butuh teman-teman dan fasilitator yang bisa menjadi teman diskusi berbagai hal terutama tentang menjadi ibu di era digital seperti saat ini. Berharapnya nih setelah mengikuti perkuliahan demi perkuliahan di IIP, kualitas diri sebagai wanita, baik menjadi istri, ibu dan anggota masyarakat bisa semakin meningkat.
Bismillahirrahmanirrahim..

Namun sebelum mulai belajar ilmu demi ilmu yang sudah disusun secara sistematis oleh tim Dapur Nasional, saya wajib ikut kelas matrikulasi dulu. Sistem perkuliahannya online, lewat whatsapp, segala hal yang berhubungan dengan kuliah pun tersimpan secara sistematis di googleclassroom. Kurang apa coba? Alhamdulillah yah, memudahkan sekali buat ibu-ibu seperti saya yang masih susah kemana-mana.
Kenapa sih setiap member wajib ikut matrikulasi?
Intinya, supaya kita lebih paham dengan materi-materi yang diajarkan, dan bisa sejalan dengan visi misi yang ada.

Baca juga : Aliran Rasa Pramatrikulasi IP Batam

Review Materi Matrikulasi Minggu #1: Adab Menuntut Ilmu

Sebelum belajar lebih jauh tentang menjadi ibu yang profesional, kami diberikan dulu prolog mengenai adab menuntut ilmu. Dalam sebuah kajian, saya pernah mendengar bahwasanya kita perlu belajar iman dulu sebelum adab, dan adab sebelum ilmu. Sebelum kita fokus dan merengkuh ilmu sebanyak-banyaknya, kita harus belajar dulu tentang adab dan akhlaq dalam menuntut ilmu.

Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU. ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya.

Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.

Jika kita sudah tahu adab menuntut ilmu, hasil itu bukanlah tujuan utama, hasil itu adalah bonus dari proses pencarian ilmu yang kita jalani. Oleh karenanya, dalam proses mencari ilmu kita harus menegakkan cara-cara yang baik; datang tepat waktu – malah kalau bisa datang sebelum guru kita datang, menghormati guru, tidak sok pintar meski kita sudah pernah mendapat materinya, kita harus mau mengosongkan gelas agar bisa menambah kedalaman materi yang kita punya dan masih banyak lainnya.

Baca juga: Iman Sebelum Adab, Adab Sebelum Ilmu, Ilmu Sebelum Amal

Mengutip apa yang disampaikan oleh Abu Zakaria al-Anbari berkata: Ilmu tanpa adab bagaikan api tanpa kayu bakar. Adab tanpa ilmu bagaikan ruh tanpa jasad (Imam as-Sam’ani, Adab al-Imla’ wa al-Istimla’; al-Khathib al-Baghdadi, Kitab al-Jami’, juz I, hal 17). Maka, ilmu dan adab harus menyatu dalam diri muslim, dan semestinya semakin berilmu, harus semakin beradab.

Semoga dengan memperbaiki adab dalam menuntut ilmu, akan jauh lebih banyak ilmu yang terikat dan bermanfaat tidak hanya untuk diri sendiri, namun juga keluarga dan sesama. Insya Allah dimulai dari ibu yang memiliki adab akan melahirkan anak-anak dengan peradaban yang baik.

Setelah belajar dan berdiskusi mengenai materi pertama, fasilitator membagikan NHW #1. Dan ada tiga pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta. Setelah melalui perenungan, kurang lebih berikut ini jawaban menurut versi saya..

Pertanyaan pertama pada NHW #1, peserta diminta untuk menentukan jurusan ilmu yang ingin ditekuni di universitas kehidupan ini.

Usia yang bertambah, pola pikir yang semakin berkembang, dan anak-anak telah merubah banyak beberapa tujuan dan visi misi hidup saya. Dulu tujuan saya saat masih berstatus sebagai mahasiswa sangat sederhana, lulus kuliah, mencari pengalaman kerja dan membuka kantor untuk beberapa goal duniawi.
Namun sejak Faris lahir, ditambah kini sudah ada Irbadh, saya memiliki tujuan baru yaitu bagaimana mendidik, mengasuh dan menumbuhkembangkan fitrah anak-anak agar selalu sejalan dengan Quran dan Sunnah. Oleh karenanya jika disuruh memilih, saya ingin mengambil jurusan ilmu tentang IBU PROFESIONAL.

Di universitas-universitas favorit sekalipun, jurusan ilmu ini tidak akan pernah saya temukan, namun lewat universitas kehidupan, saya yakin akan ada banyak cara mencapai jurusan yang saya inginkan. Semoga saja Allah memudahkan langkah saya dalam menimba ilmu sehingga bisa lulus membanggakan dari jurusan yang saya pilih ini.

Pertanyaan selanjutnya yang diajukan ialah apa alasan terkuat sehingga saya memilih jurusan ilmu tersebut.

Alasan terkuat sudah pasti anak-anak dan suami. Keluarga adalah pendorong pertama dan utama kenapa saya ingin bertumbuh dan berkembang lebih baik. Sekarang, saya memang telah menjadi ibu, namun masih jauh dari kata sempurna. “Al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq.” Ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.

Mendidik anak adalah anugerah terbesar bagi seorang manusia. Anugerah ini memberikan kesempatan kepada orang tua untuk meraih amal-amal yang paling mulia. Ya, mulia dan bahagia dunia akhirat, insyaAllah. Tentu dengan syarat apabila amalan-amalan mendidik anak ini dijalani dengan ikhlas karena Allah dalam mengarahkan anak-anaknya kepada agama, akhlaq, dan pengajaran yang baik.

Saya sadar diri betapa jauh dari kesempurnaan. Betapa diri ini masih butuh banyak diisi, sedangkan usia anak-anak tidak bisa menunggu apalagi diulang. Mereka membutuhkan ibu yang bisa mengarahkannya pada kehidupan yang lebih baik dan menuntun mereka untuk membangun peradaban yang lebih berkualitas. Saya ingin memberikan warisan terbaik kepada anak-anak.

Saya yang seorang ibu, seorang muslim, seorang pengajar (yang memilih mengajar anak-anak sendiri). Kewajiban saya tidak hanya menyampaikan ilmu. Tapi juga mendidik adab, ilmu, dan menerapkannya.

Beuh… berat ya? Terutama pas bagian ‘menerapkannya’.

Begini mungkin ilustrasinya…

PAS JAMAN KERJA KANTORAN:
Gampanglah, nanti setelah resign buka kantor sendiri, anak-anak masih aman ibunya di rumah. Kalau udah gedean dikit tinggal dititip aja di sekolah Islam, di TPA. Anak pinter agama dan jadi hafidz(ah). Kita cari uang… atau paling nggak saya bisa terima klien di rumah, masih sempet nemenin anak belajar. Kita? Hafalan? Ke majelis ilmu? Belajar? Halah… mana sempet. Cari uang, Bro!

PAS JAMAN FTM:
Bahasa Arab? Gampaaang, ada aplikasi. Tahfiz, tuuuh deket rumah ada rumah tahfiz. Saya? Hafalan? Bentar… ng.. ini cucian belum kelar. (Dan blass sampai keesokan harinya) Kajian ke masjid? Temanya apa? Tar browsing aja.

Ng… iya. Itu saya dulu. Sekarang? Masih ada residunya sih, semoga Allah memberi kekuatan agar istiqomah menghilangkannya.

Nah, dalam sebuah majelis rutin yang membahas salah satu kitab parenting Islam dari jaami’ul ahkam fii adab al shibyan, saya ditampar dengan ayat ini (tafsir lengkap dari Ibnu Katsir dan para sahabat bisa dilihat di sini):

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Mengapa kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kalian berpikir? (Q.S. Al Baqoroh: 44)

Iya, saya sangat tertohok di kajian ituuu, astagfirullah 😭 Anak-anak BERHAK mendapat contoh yang baik dari saya. Bukan hanya perilaku baik, tapi juga kebiasaan menuntut ilmu (diin). Betapa sombongnya saya, dengan secuil yang saya miliki (titipan Allah pula), petantang-petenteng bilang “Saya cari uang aja, ilmu mah belakangan.” Iya kalau dapat waktunya. Lhah, kalau pas ‘cari uang’ udah diketok duluan sama malaikat maut, piye? Terzolimi lah hak anak-anak
Jadi, semua mindset yang saya bangun sejak awal tentang mendidik saya bongkar total. SAYA HARUS BELAJAR. MEMBUANG RASA MALU.

Pertanyaan ketiga tentang strategi menuntut ilmu yang saya rencanakan.

Di dalam bayangan saya, seorang ibu profesional adalah wanita yang mampu menyeimbangkan waktu antara menjadi ibu, istri dan anggota masyarakat. Seorang wanita yang mampu memaksimalkan semua kapasitas dan kapabilitas dirinya. Saya bercita-cita tidak hanya ingin menjadi ibu yang nyaman bagi anak-anak saya, namun juga ibu yang berwawasan luas dan mampu menjadi tempat bertanya serta berkeluh kesah bagi anak-anak. Saya juga ingin bertumbuh menjadi istri yang lebih baik dalam memahami dan menghormati suami. Bisa menjadi ‘rumah’ yang nyaman dan selalu dirindukan olehnya. Serta ingin bisa berkualitas lebih baik sebagai seorang anggota masyarakat, tidak hanya menjadi anggota yang pasif, namun juga yang aktif dalam berbagi kemanfaatan kepada sesama.

Strategi Mencari Ilmu

Untuk mencapai cita-cita tersebut, maka berikut ini adalah strategi yang saya rencanakan;

1. Mengikuti Kajian Keagamaan

Agama merupakan pondasi utama dalam kehidupan. Agama adalah darah dan nafas dalam kehidupan. Saya sadar betul bahwasanya bekal agama saya masih jauh dari cukup, maka yang pertama aku lakukan adalah mengikuti kajian keagamaan dengan lebih baik dan disiplin. Saat ini saya memang sudah mengikuti liqo pekanan bagi muslim yang baru berhijrah dan mualaf, namun sering karena rasa lelah akibat pekerjaan domestik yang harus saya kerjakan sendiri saya jadi bolos hadir. Saya bertekad ke depannya akan lebih rajin dan mampu menimba ilmu tentang Quran dan Sunnah lebih banyak lagi. Selain ingin memperbaiki tajwid, saya juga ingin lebih memahami tafsir Al Quran agar bisa menjelaskan lebih baik kepada anak-anak mengenai hukum-hukum Allah, juga agar bisa hidup sesuai dengan tuntunan yang telah disusun oleh Allah.

2.Belajar Parenting

Mengikuti Kelas Parenting
Mengasuh anak sejatinya adalah mengasuh diri kita sendiri. Secara tidak langsung dengan mengikuti kelas-kelas parenting, baik itu berupa seminar, workshop, entah itu online ataupun offline, saya diajak untuk lebih mengenal diri saya sendiri dan karakter masing-masing anggota keluarga.
Belajar parenting membuat saya lebih terbuka terhadap kekurangan dan kelebihan saya pribadi. Belajar parenting juga memaksa saya untuk bisa menerima goresan luka masa lalu dan segala kesalahan serta kekurangan pola asuh orang tua saya. Belajar parenting membantu saya melepas emosi-emosi negatif sehingga bisa menjadi ibu yang utuh bagi anak-anak saya, serta istri yang menyenangkan untuk suami.

3. Membekali Diri dengan Pengetahuan Digital.

Saat ini era telah berkembang ke arah digital, maka saya harus belajar lebih banyak tentang hal-hal yang berkaitan dan diperlukan dalam kehidupan di era digital. Saya ingin lebih mengembangkan ilmu di dunia tulis menulis dan blogging. Ke depannya, saya ingin bisa membuat infografis yang menarik dan membuat orang nyaman membaca blog ini.

4. Networking

Memperluas pertemanan adalah hal yang saya butuhkan dalam mencapai tujuan saya menjadi ibu profesional. Belajar sendiri itu tidak mudah, kita perlu berkomunitas dan bergandeng tangan dengan teman-teman yang memiliki passion, tujuan dan cita-cita yang sama. Bagaimanapun kita akan selalu butuh teman untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.

5. Time Management.

Saya sadar hingga detik ini terkadang, saya masih kacau balau dalam mengatur waktu. Terutama membagi waktu untuk tugas domestik dan kelas belajar dalam homeeducation anak-anak. Berkali-kali saya menyusun lesson plan kegiatan belajar anak-anak, berkali-kali pula saya langgar. Saya sadar bahkan terkadang terlewat mencatat poin-point penting kegiatan anak-anak selama satu hari. Intinya, saya wajib belajar tentang pengelolaan waktu ini dengan lebih serius.

Apalagi dengan tujuan saya untuk menjadi ibu profesional, time management adalah hal yang sangat penting, saya ingin bisa membagi waktu antara menjadi ibu untuk anak-anak, menjadi partner untuk suami, serta jika sudah tiba waktunya bisa menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat.

Sejauh ini 5 strategi itulah yang terpikirkan dalam rencana saya untuk mencapai tujuan utama saya sebagai seorang ibu profesional.

Pertanyaan terakhir dalam NHW #1 yaitu berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang harus saya perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.

Saya sangat menyadari sejauh ini adab yang saya miliki dalam menuntut ilmu masih sangat kurang, terkadang saya masih suka datang telat ke lokasi belajar dan menyepelekan materi yang sudah pernah saya dapat, bahkan terkadang tidak sempat mencatat hal-hal penting dari sebuah ilmu.

Memperbaiki Diri

Maka saya pikir beberapa hal inilah yang harus saya perbaiki agar saya bisa menjadikan ilmu yang saya dapatkan menjadi cahaya yang bermanfaat:

1. Memperbaiki waktu kehadiran.

Sebisa mungkin sebelum guru atau pemberi materi hadir, saya sudah hadir terlebih dulu di lokasi acara.

2. Mengosongkan gelas.

Ilmu terus bertambah dan berkembang, bahkan ilmu yang sama ketika disampaikan di saat yang berbeda, ataupun oleh pemateri yang berbeda bisa menghasilkan sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya saya harus belajar untuk tidak sok tahu, dan menyepelekan materi yang pernah saya pelajari. Mau tidak mau saya harus mengosongkan gelas agar ilmu yang saya dapat lebih berkembang.

3. Menghormati Guru.

Saya harus fokus kepada apa yang disampaikan, bukan siapa pematerinya. Dengan menghormati guru dan fokus kepada apa yang disampaikan saya berharap bisa menuai ilmu dengan lebih banyak.

4. Menyediakan buku catatan khusus.

Buku catatan fungsinya sebagai alat untuk mengikat ilmu dan memisahkannya dengan catatan harian anak-anak agar lebih rapi dan tersistematis. Mencatat dengan rapi. Mengikat ilmu dengan menulis. Oleh karenanya ke depan saya ingin lebih konsisten untuk menulis ulang catatan yang saya punya di laptop agar mudah dibagikan dan disimpan. Selain itu, dengan tidak menunda waktu memindahkan catatan ke bentuk digital, saya masih bisa mengingat apa yang akan ditulis.

Alhamdulillah, akhirnya selesai juga NHW #1 nya. Nggak sabar menunggu materi dan NHW #2. Sampai berjumpa dengan ilmu selanjutnya. wassalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh. Salam Ibu Profesional,

Refleksi Diri 2018

11 gagasan untuk “Refleksi Diri 2018

  • Januari 25, 2018 pukul 12:09 am
    Permalink

    Uwow… Keren tulisan mb Moniq, meski panjang enak sekali dibaca
    Semangat terus ya ibu pembelajar 💪

    Balas
    • Januari 26, 2018 pukul 4:39 am
      Permalink

      Terimakasih cikgu, masih blajaran. Mudah2an bisa lebih baik lagi, dlm prakteknya juga tentunya

      Balas
  • Januari 25, 2018 pukul 2:27 am
    Permalink

    Kereeenn beud ini mbak monique….huhuhu…pengen bisa nulis kayak gini….

    Balas
    • Januari 26, 2018 pukul 4:37 am
      Permalink

      MasyaAllah tabarakallah, hayukk join ke rumbel menulis mbaa. Mari kita belajar n bertumbuh bersama 😘

      Balas
  • Januari 25, 2018 pukul 9:00 am
    Permalink

    Barakallah fiik..
    Keren banget, mbak Monique! Tulisannya mengalir panjang tapi ga bosan membacanya. Bahasanya ringan tapi sarat makna. Tiba-tiba jadi pengen bisa menulis kaya gini.. Tapi merangkai satu kalimat aja saya mikirnya lama. Hahaha..

    Balas
    • Januari 26, 2018 pukul 4:36 am
      Permalink

      Wafiikbarakallah, masyaAllah mba ayu yuk join ke rumbel menulis. Mari kita belajar n bertumbuh bersama 😘

      Balas
  • Januari 25, 2018 pukul 4:41 pm
    Permalink

    Woaaa..keren mba Monique tulisannya menginspirasi..😃👍👍
    Panjang dan berisi dalem.. terimakasih mba monique..😊

    Balas
    • Januari 26, 2018 pukul 4:34 am
      Permalink

      MasyaAllah tabarakallah, masih belajar mba intan,mudah2an yg ditulis bisa dipraktekin smua. Aamiin

      Balas
  • Januari 26, 2018 pukul 11:53 pm
    Permalink

    Ga cuma gaya bahasanya yg ebak dibaca, mbaaak.. isinya juga bikin aku manggut2 sendiri.. sambil bilang ‘iya, iya ini penting nih..’ ‘oh iya ya itu betul juga..’ sampe ‘Yaa Allah yg ini makjleb 😭’

    Barokalloh, mbaak.. keep inspiring 💖

    Balas
  • Januari 26, 2018 pukul 11:53 pm
    Permalink

    Ga cuma gaya bahasanya yg ebak dibaca, mbaaak.. isinya juga bikin aku manggut2 sendiri.. sambil bilang ‘iya, iya ini penting nih..’ ‘oh iya ya itu betul juga..’ sampe ‘Yaa Allah yg ini makjleb 😭’

    Barokalloh, mbaak.. keep inspiring 💖

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *