Apa sih Media Berkisah?

Menurut buku Bahagia Berkisah karya Ibu Hikmah Yulitasari, media berkisah dibagi menjadi dua, unsur utama dan unsur pelengkap.

Ada tiga unsur utama berkisah, antara lain:
1. Ibu & Ayah
2. Anak
3. Kisah.
Bersumber dari Al Qur’an, hadits, sirah melalui berbagai media berkisah.

Unsur pelengkap media berkisah, diantaranya :

1. Majelis ilmu
2. Buku
3. Alat peraga yang ada di rumah / lingkungan
4. Boneka jari / tangan
5. Audio
6. Audio visual
7. Internet

Agar terlihat jelas, mana yang harus ada. Mana yang tidak ada pun tidak apa-apa asalkan ada unsur utama.
Kaidahnya, yang utama ada pelaku kisah. Ada yang menyimak kisah. Ada sumber kisah.

Adapun media berkisah sebagai pelengkap akan memudahkan, terutama bagi yang sedang berproses memulai rutin berkisah.

Bagi yang sudah rutin berkisah, pelengkap bisa menjadi sangat variatif dan bisa dipadupadankan yakni gabubgan dari beberapa media berkisah.

Bahkan, jika sudah terbiasa berkisah, sudah bisa bertutur kisah secara langsung dengan menarik.

Media berkisah berfungsi sebagai :
1. penarik minat anak
2. Variasi baru penunjang berkisah
3. Suasana baru bagi ibu dan anak.

Namun, pada kondisi tertentu, tanpa media berkisah pun kadang berkisah malah jadi lebih hidup, lebih bervariasi, lebih berwarna.

Point terpenting disini adalah setelah ibu merasa bahagia berkisah, nikmatilah, eksplor potensi diri, eksplor potensi anak, eksplor benda-benda yg ada di rumah dan lingkungan sekitar.

Gunakan mata hati dan akal untuk menemukan, kira-kira apa sih yang bisa dipakai sebagai pelengkap berkisah.

Setiap ibu dan anak punya kebutuhan sendiri. Rumah setiap ibu memiliki kondisinya sendiri. Lingkungan ibu ada situasinya sendiri. Bisa jadi tidak sama antara satu ibu dengan ibu lain, walaupun sama-sama satu grup di KIB. Jadi, silahkan menemukan sendiri yah, kira-kira media berkisah apa yang bisa dipakai.

Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium” yang secara harfiah berarti “perantara” yaitu perantara sumber pesan dengan penerima pesan. Salah satu sumber belajar bagi anak adalah melalui sebuah media berkisah. Dari pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa media berkisah merupakan hal yang penting agar orang tua baik ayah maupun ibu lebih mudah menyampaikan dan anakpun memahami pesan yang disampaikan dalam sebuah kisah.

Memang harus ya cari media berkisah?

Ibu Hikmah, menyarankan iya. Kenapa? Iman kita naik turun. Amal kita turun naik. Kondisi kita berubah terus. Apalagi respon anak hehehe. Makhluk ciptaan Allah yang luar biasa istimewa dengan karakternya sendiri, dengan pikirannya sendiri, dengan tingkah polanya sendiri. Hari ini merespon berkisah dengan antusias dan manis. Besok bisa menolak dan lari kesana kemari. Kemarin kritis bertanya. Lusa datar saja. Begitulah anak-anak.

Jadi ibu memang harus dinamis, dengan tujuan menyegarkan niat, memperbaharui amal, mencari suasana baru yang bikin anak senang dan tidak jenuh.

Bukan berarti, setiap hari ibu harus ganti sarana, ya nggak begitu juga. Ibu-ibu kan banyak urusan yaa. Repot atuhlah kalo tiap hari kita harus cari media berkisah baru.

Maksudnya, saat Ibu sedang ada waktu dan kesempatan, gunakanlah untuk mencari sarana media berkisah baru. Insya Allah bukan hanya anak saja yg senang, bahkan ibu juga ikut senang kan ya. Ibarat mencicipi menu makanan yang beda, punya baju baru, itu kan ada rasa baru yang beda gimana gitu ya hehehe. Nah kurang lebih begitu.

ini diorama kita

Sesungguhnya ada berbagai macam media berkisah untuk anak-anak. Dalam kesempatan kali ini saya akan berbagi cerita tentang media berkisah yang saya gunakan untuk berkisah beberapa hari ini. Saya memilih menggunakan diorama sebagai media dalam berkisah. Kenapa diorama? Karena di usia anak saya saat ini, dia sedang senang-senangnya belajar menggunting tempel dan membuat papercraft. Jadilah kami membuat project diorama kehidupan bawah laut dan ikan paus untuk mendukung kegiatan berkisah.

Cara pembuatan diorama sederhana ini sangat mudah dan anak-anak pun puas dengan hasil karyanya. Alat dan bahannya pun sederhana, kita hanya memerlukan kertas kardus tebal, karton, gunting, cutter, penggaris, lem kertas, selotip, benang, dan jarum.

Langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam pembuatan diorama antara lain sebagai berikut :

1.Membuat sketsa yang akan dibuat dan gambar rencana diorama sesuai dengan tema yang akan diangkat dalam proses berkisah.
2.Menyimpan tempat diorama. Tempat diorama ini dapat berupa kotak karton, kotak kayu, meja, lantai dan sebagainya sesuai dengan ukuran diorama yang diinginkan.
3.Mengerjakan bagian-bagian diorama secara rinci dengan yang direncanakan dalam gambar sketsa. (kalau saya buat di laptop kemudian siap dicetak)
4.Setelah selesai membuat bgaian-bagiannya, barulah kita bisa menyusun bagian-bagian tersebut di atas tempat diorama yang telah disiapkan.
5.Mewarnai dan menghiasi diorama agar nampak lebih hidup dan nyata.

Tiap diorama dibuat di dalam kotak dengan sisi yang terbuka. Sebagian terbesar dari objek diletakkan diatas panggung seperti hewan laut dari karton yang dilipat, cat-cat atau krayon digunakan untuk mendekorasi, bagian belakang dan dinding bagian samping diorama. Karena Faris belum bisa mewarnai dengan baik, jadi saya buat langsung dicetak jadi ia tidak perlu mengecat.

Setelah jadi, biarkan anak untuk menyentuh dan memainkan media diorama tersebut dengan imajinasi yang mereka miliki. Selain diorama, saya juga menyiapkan stiker yang nantinya ditempel sesuai dengan narasi yang saya sampaikan, mudah-mudahan dengan ikhtiar ini anak dapat memahami kisah hikmah yang saya sampaikan.

Manfaat Media Diorama

1. Dengan menggunakan media diorama ini anak akan lebih berkreatif dalam mengekspresikan pemandangan.
2. Cocok untuk anak dengan gaya belajar visual, karena diorama dapat mevisualisasikan apa yang ada dalam pikirannya.
3. Dapat melatih fokus dan kesabaran anak.

Kisah Hikmah Nabi Yunus AS

Hari ini, Mama punya kisah yang penuh hikmah buat Faris. Kisah apa ya? Ini adalah kisah Nabi Yunus AS. Begini kisahnya,

Ada sebuah negeri di bagian Selatan Irak yang bernama Ninawa. Negeri itu sangat kaya. Namun penduduknya ingkar dan tidak bersyukur. Mereka menyembah berhala dan bukan menyembah Allah.

Allah pun mengutus Nabi Yunus Alaihi Salam untuk berdakwah kepada penduduk negeri itu. Nabi Yunus menyeru penduduk Ninawa untuk menyembah Allah, pencipta alam semeata beserta isinya. Ajakan Nabi Yunus ditolak mentah-mentah oleh penduduk Ninawa. Setelah bertahun-tahun, hanya sedikit yang mau mengikuti ajakan Nabi Yunus untuk beriman kepada Allah.

Melihat keadaan tersebut, Nabi Yunus yang memberitahukan bahwa azab Allah segera datang kepdaa mereka. Tetapi, penduduk Ninawa tidak percaya. Mereka tidak peduli dengan peringatan Nabi Yunus. Suatu hari, sebelum azab yang dijanjikan tiba, Nabi Yunus pergi meninggalkan kaumnya.

Tidak lama kemudian, tampaklah awan gelap yang bergumpal-gumpal diselingi petir yang menyambar-nyambar, dan cahaya merah seperti api yang hendak turun dari langit. Penduduk Ninawa berlarian mencari perlindungan. Saat itulah mereka ingat Nabi Yunus. Para penduduk pun berbondong-bondong mencari Nabi Yunus. Mereka beramai-ramai memohon ampun dan bertobat kepada Allah SWT.

Tobat mereka diterima Allah. Awan gelap yang menyelimuti kota itu pun menghilang perlahan- lahan, sehingga azab tidak jadi diturunkan. Penduduk Ninawa pun terkejut melihat berhala sembahan mereka hancur berkeping-keping terkena sambaran petir.

“Benarlah apa yang dikatakan Nabi Yunus. Mulai sekarang, kita akan menyembah Allah dan mengikuti ajarannya!” seru penduduk Ninawa.

Sementara itu, Nabi Yunus telah tiba di pinggir laut. Nabi Yunus akhirnya naik ke sebuah kapal. Ia berencana pergi jauh dari negeri Ninawa karena penduduknya tidak mau menerima dakwahnya. Perjalanan Nabi Yunus ternyata tidak mudah. Di tengah laut, topan dan gelombang besar datang menghadang. Kapal pun terombang-ambing dan hampir tenggelam.

Nakhoda kapal langsung mengumpulkan para penumpang. “Biasanya, hal seperti ini terjadi jika ada seorang pelarian di dalam kapal. Kapal ini tidak mau membawa orang yang sedang dalam pelarian. Karena itu, kita akan mengundi siapa yang akan dibuang ke laut!” seru sang nakhoda.

“Tidak usah diundi. Akulah orangnya. Biar aku saja yang terjun ke laut!” kata Nabi Yunus. “Dari raut wajahmu, aku tidak percaya engkau seorang pelarian,” ucap nakhoda kapal. “Sudah, diundi saja biar adil!” seru penumpang yang lain. Setelah diundi sebanyak tiga kali, nama Nabi Yunus selalu keluar. Itu artinya, Nabi Yunus akan dibuang ke tengah laut. Melihat hal itu, Nabi Yunus tidak terkejut. Dari semula ia merasa bahwa dirinyalah yang menyebabkan kapal terombang-ambing.

Tanpa dipaksa, ia pun langsung terjun ke laut. Tiba-tiba, saat tubuhnya akan mencapai air, sebuah mulut hewan raksasa menangkap dirinya. Ya, seekor ikan paus yang sangat besar diutus Allah untuk menelan Nabi Yunus. Ikan Nun, diperintahkan oleh Allah agar tidak memakan daging dan meremukkan tulang Nabi Yunus, karena Nabi Allah itu bukan santapannya. Allah hanya ingin perut ikan paus itu sebagai penjara untuk Nabi Yunus.

Ikan paus itu lalu membawa Nabi Yunus ke berbagai lautan, hingga sampai di dasar sebuah lautan. Mengetahui dirinya berada di dalam perut ikan, Nabi Yunus pun berdoa pada Allah, “Ya Allah, tidak ada tuhan selain Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim!”

Nabi Yunus terus-menerus berdoa, memohon ampun pada Allah SWT, atas kekhilafannya. Allah SWT pun mendengar doa Nabi Yunus dan berkenan mengampuninya.

Dengan perintah Allah, paus besar yang menelan Nabi Yunus perlahan-lahan berenang ke tepi laut dan memuntahkan tubuh Nabi Yunus yang sakit dan lemas ke daratan. Allah lalu menumbuhkan sebatang pohon dari jenis labu dan melindunginya dari terik matahari sampai keadaan tubuhnya membaik.

Setelah sehat kembali, Allah SWT, memerintahkan Nabi Yunus untuk kembali ke kaumnya di negeri Ninawa yang dulu ditinggalkan. Nabi Yunus pun berjalan menuju kampung halamannya. Penduduk kota Ninawa menyambut gembira kembalinya Nabi mereka yang telah lama menghilang. – tamat –

Pertanyaan yang muncul :
“Mama, ikan Nun masih hidup nggak sekarang? “

Catatan :

kegiatan berkisah kali ini, saya dan Faris sangat menikmati setiap prosesnya. Saat dibacakan kisah, Faris tidak hanya memperhatikan tetapi ia juga memainkan dioramanya sambil menempel stiker yang sudah saya sediakan agar ia memahami alur dari kisah yang saya sampaikan. Sehingga diharapkan ia bisa mengambil hikmah dari kisah ini dan dapat menceritakan kembali. 💕

Media Berkisah : Kisah Nabi Yunus AS dan Diorama Ikan Paus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *