Inner Child adalah sosok anak kecil yang berada di dalam diri kita (Ego Personality). Inner child ada yang baik dan ada juga yang memang negatif atau trauma. Inner child dalam diri kita sebetulnya bisa bertumbuh dewasa sesuai usia dan pengalaman yang kita hadapi, hanya kadangkala ketika inner child negatif yang muncul dan sangat memberikan trauma butuh kesadaran penuh untuk mengenalinya dan kemudian berdamai.

Dalam pernikahan biasanya inner muncul di satu tahun pertama, sosok kecil suami atau istri tanpa disadari muncul dengan perwujudan seperti:

🐾 Istri yang semasa kecil jarang dibersamai oleh orang tuanya dan merasa kesepian sering menginginkan suaminya selalu ada di dekatnya, marah ketika suami memberikan perhatian pada keluarganya, dan ingin perhatian suami hanya kepada istrinya saja, padahal bisa jadi suami sebetulnya sudah sangat baik pada sang istri.

🐾 Suami yang semasa kecil diperlakukan keras oleh kedua orang tuanya atau oleh sanak saudaranya tanpa disadari melakukan KDRT pada istrinya.

🐾 Anak memecahkan piring atau merusak barang, tanpa disadari kita tiba-tiba memukul atau membentaknya.

Jika dari ketiga kasus yang di atas kemudian ada penyesalan setelah melakukannya, tapi diulang lagi dan lagi, bisa dipastikan itu inner child negatif.

Jadi, bedanya itu inner child atau karakter adalah dari rasa penyesalan yang timbul. Biasanya, ketika seseorang menjadi orang tua, selalu ada harapan untuk menjadi orang tua yang lebih baik daripada orang tua yang dimiliki. Ada keinginan memberikan kasih sayang dan segala yang terbaik bagi anak yang mungkin di masa kecilnya tidak didapatkan. Tetapi, tidak sedikit juga yang kemudian terjebak pada pola yang sama saat berhadapan dengan situasi anak yang “menguji”. Misal, sebagai seorang ibu, saat diri sudah lelah masak, membereskan rumah, dan mengurus keperluan suami dan anak-anak, pasti yang diinginkan
adalah istirahat, mungkin dengan berbaring sebentar di kasur. Tapi kemudian kita menemukan anak kita sedang menumpahkan susu dan membuat lantai dapur kotor. Rasa lelah dan kaget yang dirasakan membuat kita bereaksi dengan berteriak dan mencubit anak kita.

Memarahinya dengan kata-kata yang tajam, lalu membuatnya menangis dengan
cubitan yang perih. Lalu anak kita yang ketakutan makin keras menangis yang justru
membuat kita makin “naik darah” dan berteriak menyuruh anak kita diam dan masuk ke kamar. Di dalam kamar, mereka pun tertidur karena kelelahan akibat menangis.

Saat itu, kita baru sadar, kenapa ya saya bisa semarah itu? Padahal anak ini tidak salah.
Kemudian rasa bersalah dan penyesalan mulai menyergap hati dan perasaan kita. Kemudian
kita menangis sambil menciumi keningnya dan menyesal dengan apa yang sudah kita perbuat sebagai ibu. Lalu berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Tapi ternyata di lain waktu,
di situasi yang mirip, kita melakukan hal yang sama lagi dan lagi. Terus berulang. Kenapa
ya?

Mungkin di sini pernah ada yang mengalami dimarahi orang tua dengan keras? Atau pernah
juga mengalami dianggap remeh oleh orang tua saat sedang merasakan sakit? Kalau coba
diingat kembali, saat mengalami hal tersebut terasa tidak nyaman, ya? Namun sebagai anak
kecil kala itu mungkin kita tidak bisa memarahi orang tua kita balik atau membantah orang
tua kita karena hal tersebut bukanlah sesuatu yang pantas untuk dilakukan. Alih-alih, kita
memilih penyaluran emosi yang lain, atau malah menahan rasa sakit hati yang kita rasakan
dan mencoba melupakan kejadian tidak menyenangkan yang kita alami dan merasionalisasi rasa sakit tersebut. Tapi ternyata, ketika kita tumbuh dewasa, menjalin hubungan dengan
orang lain dan memiliki peran-peran seperti seorang dewasa selayaknya, ingatan-ingatan
tentang masa kecil berpengaruh pada cara kita berespon pada situasi-situasi tertentu. Nah,
mungkin saat itulah inner child kita muncul.

Well, saya tidak ingin menjadi ibu yang sempurna, karena memang tak akan ada yang bisa menjadi sempurna di dunia ini.. at least, saya ingin anak-anak tidak terluka. Jikalau pun saat ini sudah ada luka yang saya goreskan, saya ingin segera memperbaikinya. Dan saya tahu waktu saya tak banyak, saya harus bergegas. 

Alhamdulillah, saya bertemu dengan satu per satu komunitas yang bisa membuat saya bertumbuh lebih baik. Teman-teman baru yang positif dan memberikan dukungan moril untuk terus berbenah, menjadi sumber kekuatan dan mengisi warna baru dalam hidup. Salah satunya ketika bergabung dengan komunitas HEBAT dan Institut Ibu Profesional.

Saya sudah sangat sadar untuk bisa mengatasi inner child, maka yang saya perlukan adalah menerima masa lalu dengan segala suka dukanya, memaafkan segala kesalahan orang tua yang sengaja ataupun tidak sengaja mereka lakukan, memaafkan kesalahan pasangan yang sengaja ataupun tidak sengaja dilakukannya termasuk memaafkan diri sendiri atas hal-hal buruk yang pernah terjadi. 

Baca juga : Salahkah Jika Aku Punya Innerchild?

Masa lalu, tengoklah seperlunya sebagai pembelajaran. Hidup adalah tentang hari ini. Lakukan yang terbaik, karena langkah yang kita ambil hari ini sangat menentukan kehidupan kita esok hari. Bersyukur sekali rasanya bisa dipertemukan dengan Ustdz Harry Santosa dan Abah Lilik sehingga saya memantapkan hati untuk rehealing dan reparenting. Beberapa materi yang saya peroleh dalam diskusi panjang mengenai innerchild akan saya bagikan disini.

Warisan pengasuhan masa lalu dalam dunia psikolog sering disebut Inner Child, kadang sehebat apapun ilmu parenting atau psikologi yang kita pahami, tetap saja di tataran praktis yang kita pakai adalah apa yang pernah kita alami ketika kecil. Misalnya, kita tahu membentak dan menjewer itu buruk, namun ketika kekesalan memuncak maka hilang semua pemahaman, yang ada lagi lagi membentak dan menjewer. Software yang terinstal di masa kecil, sadar atau tidak sadar akan hadir ke permukaan. Sebagaimana ketika kita diminta untuk menggambar pemandangan, apa yang akan kita gambar? Sebagian besar dari kita akan menggambar dua gunung dengan matahari, juga jalan berkelok di bawahnya serta sawah di kanan kiri.

Ada terapinya untuk ini, namun sebaiknya kita menggunakan jalur alamiah dan syar’i yaitu Tazkiyatunnafs, atau pensucian jiwa. Ini perlu waktu, perlu momen, perlu keberanian untuk keluar dari zona nyaman dan instan.

Tazkiyatunnafs adalah bahasa alQuran untuk mentherapy secara alamiah dan fitriyah apa apa yang menyebabkan kita berperilaku buruk. Tiada cara yang baik dan mengakar kecuali memperbaiki jiwa sebelum memperbaiki fikiran dan amal.

Belum pernah ada surat di dalam Al Quran dimana Allah bersumpah begitu banyak, sampai 11 kali, kecuali untuk pensucian jiwa “sungguh beruntung mereka yang mensucikan jiwanya beruntung mereka yang mensucikan jiwanya beruntung mereka yang mensucikan jiwanya beruntung mereka yang mensucikan jiwanya beruntung mereka yang mensucikan jiwanya beruntung mereka yang mensucikan jiwanya beruntung mereka yang mensucikan jiwanya beruntung mereka yang mensucikan jiwanya beruntung mereka yang mensucikan jiwanya” (surat asSyams). 

Al Quran juga mengingatkan bahwa sebelum ta’lim maka penting untuk tazkiyah lebih dulu. Dalam prakteknya paralel saja, karena begitu kita berniat sungguh-sungguh mendidik anak sesuai fitrahnya maka sesungguhnya kita sedang tanpa sadar mengembalikan fitrah kita atau sedang tazkiyatunnafs. 

Dalam buku tarbiyah ruhiyah, pensucian jiwa itu bisa dilakukan dengan 5M;

1. Mu’ahadah 

mengingat ingat kembali perjanjian kita kepada Allah. Baik syahadah, maksud penciptaan, misi pernikahan, doa-doa ketika ingin dikaruniai anak, menyadari potensi-potensi fitrah, dan seterusnya.

2. Muroqobah

mendekat kepada Allah agar diberikan qoulan sadida, yaitu ucapan dan tutur yang indah berkesan mendalam, idea dan gagasan yang bernas dalam mendidik, sikap dan tindakan yang pantas diteladani. Allah lah pada hakekatnya murobbi anak anak kita, karena Allah lah yang memahami fitrah anak-anak kita. Maka kedekatan dengan Allah adalah agar hikmah-hikmah mendidik langsung diberikan Allah untuk anak-anak kita melalui diri kita.

3. Muhasabah

mengevaluasi terus menerus agar semakin sempurna dan sejalan dengan fitrah dan kitabullah, bukan obsesi nafsu dan orientasi materialisme.

4. Mu’aqobah

menghukum diri jika tidak konsisten dengan hukuman yang membuat semakin bersemangat dan semakin konsisten untuk tidak melalaikan amanah.

5. Mujahadah

sungguh-sungguh menempuh jalan sukses (fitrah) dengan konsisten, membuat perencanaan dan ukuran-ukurannya.

Menuliskan ini, rasanya saya seperti flash back ke masa-masa bersama orang tua saya. Betapa saya terlalu fokus pada keburukan dan air mata, bagaimanapun sebagai orang tua, mereka telah memberikan lebih banyak kebaikan daripada keburukan. Rasanya satu persatu pesan dari Allah terbaca juga oleh diri ini.

Mengapa saya dilahirkan dari rahim seorang Mama, Erna Indrawati buah cintanya bersama Papa Rio Rizal. Dari keduanya lah kemudian tumbuh potensi-potensi diri yang kini saya miliki. Allah ingin saya tumbuh menjadi perempuan tangguh dan menjadi lifetime learner…

Terima kasih, Papa dan Mama telah membesarkan saya. Saya ikhlas menjadi bagian dalam hidup Papa dan Mama. Memaafkan segala perjalanan kita yang tak sempurna. Berbahagialah, Pa. Insya Allah kita berjumpa kembali di jannah-Nya. Aamiin😇
Mama… semoga pilihan Mama adalah jalan yang terbaik saat ini.

Bismillah, semoga dimudahkan setiap usaha saya demi perbaikan kualitas diri. Inner child, terima kasih sudah menjadi bagian dalam hidup saya, sebagai jalan saya untuk berproses menjadi insan yang lebih baik.

Rehealing Inner Child Dengan Tazkiyatun Nafs
Tag pada:    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *