5 Kegiatan Sederhana Dalam Melatih Kemandirian Anak Usia Dini

Kemandirian dapat dikenalkan melalui hal-hal sederhana yang bisa diaplikasikan dalam rutinitas keseharian, konsep tersebut akan mudah dicerna oleh anak.

 

Pastinya, proses mengenalkan hingga melatih kemandirian memerlukan kerjasama dari kedua belah pihak. Baik pihak orang tua maupun sang anak.

Seiring perkembangan kemampuan yang dimiliki, tak sedikit juga akan menemui tantangan di tengah jalan. Tetap tenang dan konsisten adalah salah satu kuncinya.

Kedua hal tersebut kami temukan dan pelajari akhir-akhir ini. Mengajarkan kemandirian kepada Irbadh, anak kedua yang keras kemauannya bagi kami tantangannya justru ketika dia tidak mau diarahkan dan tidak seratus persen percaya pada apa yang kami sampaikan.

Semisal, mengajarinya untuk bisa makan dan minum sendiri. Maunya saya melatihnya secara bertahap sejak Irbadh menunjukkan minatnya untuk memainkan piring dan sendok di usia 8 bulan. Tetapi rupanya dia justru meminta diberikan kepercayaan untuk makan sendiri sejak usia 9 bulan. Baiklah kami fasilitasi dan sudah bisa diprediksi konsekuensinya saya harus lebih intens membersihkan rumah dengan mengepel lantai sejumlah berapa kali anak-anak makan..😂

Tiga bulan berselang, atau saat Irbadh berusia 12 bulan, dia sudah bisa mandiri makan sendiri, meski masih ada makanan yang tumpah. Namun, dengan kuantitas yang lebih sedikit.

Tantangan datang manakala menginjak usia 16 bulan, dimana kemampuan komunikasinya menjadi lebih baik.

Maka terjadilah proses negosiasi yang cukup alot saat memintanya untuk duduk di kursi dan mau makan dengan baik.

Realitanya Irbadh tetap makan sambil bermain, terkadang makan di atas sepeda atau bahkan saya menemuinya makan di dalam lemari baju karena ia sedang ngumpet disana.

Selamat
Semakin menantang bukan? Haha.

Nah, hal sederhana apa yang mampu melatih kemandirian anak usia dini?

1. Makan dan minum

Menyiapkan anak untuk bisa mandiri saat makan dan minum berarti menyiapkan diri untuk menghadapi segala kerepotan yang nampak di depan mata.

Setiap kali menemani Irbadh makan, saya harus menyiapkan 2 porsi makanan dan minuman. Satu untuk cadangan, sedangkan satu untuk (belajar) makan Irbadh.

Porsi untuk Irbadh sudah bisa ditebak tentu saja mayoritas berakhir dengan lantai dihiasi tumpahan, lengkap beserta alat makan yang ikut terlempar di bawah kursi makannya.

Insiden tersebut akan berangsur-angsur mereda bilamana keterampilan mengkoordinasikan tangan mulai bisa dikuasai dengan baik.

Di samping itu, proses eksplorasi akan tetap berjalan selama anak menunjukkan minat terhadap menu makannya. Alangkah baiknya berjaga-jaga dengan meletakkan alas di bawah kursi makan.

Percaya atau tidak, justru hal ini merupakan penanda baik bagi kami. Artinya sudah banyak kemajuan yang berarti bagi kemandirian anak.

Jika Irbadh sangat tertarik dengan makanan di hadapannya, tentu dia antusias mengacak-acaknya, dan ujung-ujungnya seringkali menunya habis dilahap.

Lain ceritanya saat wajahnya datar melihat piring di depannya, bisa-bisa hanya mau beberapa suap saja. Atau dicemilin yang dia suka saja.

2. Mengisi gelas air minum

Beberapa bulan sebelum menginjak usia 2 tahun, Faris telah memiliki kepercayaan diri untuk mengisi gelas minumnya sendiri.

“Mama, Faris mau minum. ” sambil mengambil gelas minumnya.

Itu merupakan sebuah sinyal bahwa Faris akan berjalan sendiri ke dapur, meletakkan gelasnya di meja, lalu sekuat tenaga mengambil tumblr yang ada.

Segala usahanya kadang hanya mampu mengisi setengah isi gelas, kemudian memanggil Papa atau Mamanya meminta bantuan. Itu kabar baiknya, kabar buruknya kalau terdengar terikan “Mama tumpah!”, itu artinya dia kepenuhan mengisi gelasnya.

Airnya luber dan meluncur bebas ke lantai? Atau gelasnya jatuh ke lantai dan harus dicuci beberapa kali? Ah, itu sudah biasa, tidak apa-apa! Namanya juga belajar. Haha.

3. Membereskan mainan sendiri

Mengingat keseharian lebih banyak dihiasi dengan aktivitas fisik dan mengeksplorasi hal apapun di sekelilingnya, sebagai orang tua saya harus berlapang dada bahwa kondisi rumah akan jauh dari kata “rapi”.

Tak peduli berapa kali saya harus membereskan mainan maupun barang yang tergeletak dan berserakan di lantai, setiap kali selesai menatanya, beberapa saat kemudian pasti akan diacak-acak lagi oleh anak-anak

Ya sudah, nyerah deh! Kalau tidak berantakan, kita tidak mungkin bisa belajar banyak hal kan, nak? Haha.

Untuk mengatasinya maka kami siasati dengan proses negosiasi. Anak-anak boleh main apapun selama tak membahayakan, namun segera setelahnya harus ikut ambil bagian dalam sesi beres-beres.

Tentu, mereka berdua akan saling bahu membahu membereskan mainannya. Tetapi saya harus lebih memberikan apreasiasi kepada Faris karena dia harus lebih bersabar atas tingkah laku adiknya yang masih suka menebar mainan dimana mana termasuk menuang kembali box yang baru saja mereka bereskan bersama.

4. Melepaskan dan memakai celana

pakai celana sendiri sampai dua lapis

Setelah melalui perjalanan panjang melatih Irbadh untuk toilet training akhirnya saya menyatakan ia sudah lulus toilet training meskipun terkadang sekali dua kali ngompol kalau lagi kedinginan haha.

Sembari bersama-sama meluangkan waktu dan tenaga demi keberhasilan toilet training, tanpa instruksi rupanya ia menunjukkan kesiapan dan minat untuk belajar melepas dan memakai celananya sendiri.

baca juga : Cerita Toilet Training Part 2

Untuk bagian melepaskan celana tentu perkara yang gampang. Yang menjadi pekerjaan rumah adalah bagaimana agar Irbadh tidak ngotot memakai baju sebagai celana atau sebaliknya. PR besar memberikan pengertian jika ia belum bisa maka Mama akan memberikan sedikit bantuan. Dan penolakan-penolakan pun saya terima dengan kesabaran sembari menunggu kelapangan hatinya.

Proses tersebut tentunya bukan hal yang instan, perlu konsistensi dan kesabaran.

Sebelum Irbadh memulainya, saya akan menyiapkan celananya dengan posisi yang akan memudahkannya. Terkadang masnya pun ingin membantunya, tetapi sekali lagi penolakan dan penolakan. Bahkan ketika dilihat atau didekati masnya pun ia tidak mau. Ah, dasar anak-anak 😊

Semisal, saya meletakkan celana tepat di depan kaki Irbadh, dengan posisi bagian gambarnya menghadap depan. Fungsinya, agar ia mengenali mana bagian depan dan belakangnya agar tak terbalik.

“Irbadh, gambar tanknya di bagian depan ya.”

“Irbadh ayo duduk dulu. Gambar helikopternya di bagian depan ya.”

Trik ini berhasil, dengan diwarnai adegan celana terbalik pastinya.

Terkadang jika sedang muncul isengnya, dia akan memasukkan semua kakinya di lubang celana yang sama hanya untuk menguji kesabaran saya 😂

5. Memakai dan melepas sandal

Keterampilan ini sudah dikuasai Irbadh saat dia berusia 16 bulan. Ketika Irbadh menunjukkan ketertarikan untuk memakai sandalnya sendiri maka saya pun memfasilitasi dengan memberikannya kesempatan.

Setelah melalui sejumlah trial error, tak perlu waktu lama untuk membuatnya terampil memakai dan melepaskan sandalnya tanpa bantuan dan tanpa terbalik.

Seringkali dia malah sengaja memakainya dengan posisi terbalik hanya untuk melihat bagaimana reaksi kami.

“Mama baik.. baik.. ” (terbalik).

“Ini sayah.”

Kalau sudah tahu terbalik mengapa masih dipakai? Ada-ada saja kan.

Dari hal sederhana tersebut, Irbadh belajar banyak hal.

Bagaimana, apakah teman-teman juga memiliki aktivitas berlatih kemandirian yang sama dengan Irbadh dan Faris? Sharing dong 😊

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *