Mengenal Konsep Jual Beli dan Belajar Menakar Timbangan

Jika kita mempelajari shirah Rasulullah, kita melihat bagaimana Rasul mengajarkan kita untuk mandiri sejak usia dini. Rasulullah sudah mulai berdagang di usia 7 tahun. Ikut kafilah lintas negara di usia 9 tahun dan mengembangkan harta dagang khadijah di usia awal 20an.

Sebagai muslim, selayaknya kita meneladani Rasulullah dalam setiap aspek kehidupannya.
Target minimal kita adalah menyiapkan anak-anak untuk bisa menjadi menjadi pribadi mandiri saat mencapai usia baligh tidak seharusnya terus menerus merepotkan dan menjadi beban kedua orangtuanya.

Islam mengajarkan orang yang paling mulia adalah yang paling bermanfaat. Islam mengajarkan tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Anak kita latih untuk tidak suka meminta-minta termasuk meminta kepada ortunya. Kewajiban kita sebagai orang tua adalah memenuhi kebutuhan mereka. Sedangkan untuk memenuhi keinginannya, mereka harus berusaha dulu.
Sejak dini kita pahamkan pada mereka bahwa untuk bisa memenuhi kebutuhan (dan keinginan) seseorang perlu bekerja, berusaha.
Itulah yang harus kita ajarkan pada anak-anak kita.

Mental Enterpreneur

1. Jujur

2. Orientasi sosial

a.Motif Ta’awun

b.Sopan dan ramah-tamah.

c.Sportif “Janganlah seseorang di antara kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dijual oleh orang lain” (H.R. Muttafaq ‘alaih).

d.Tidak egois.
“Berikanlah upah kepada karyawan, sebelum kering keringatnya”.
Ada Ada
e.Tidak boleh melakukan bisnis dalam kondisi eksisnya bahaya (mudharat)yang dapat merugikan dan merusak kehidupan individu dan sosial.

f.Komoditi bisnis yang dijual haruslah barang yang suci dan halal.
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan bisnis miras, bangkai, babi dan“patung-patung” (H.R. Jabir).

g.Bagi pihak yang berhutang, menyegerakan membayar hutang
h.Bagi pihak yang memberi hutang, meringankan yang berhutang.

3. Itqon

Ajari anak agar senantiasa menjaga amanah serta melakukannya dengan profesional. Tanamkan jiwa merit base yaitu jiwa untuk senantiasa menyelesaikan sesuatu dengan baik dan sempurna, tidak hanya sekedar selesai dengan hasil minimalis.

إِنَّ الله يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sebaik-baik pekerjaan ialah usahanya seseorang pekerja apabila ia berbuat sebaik-baiknya (profesional) ” (HR. Baihaqi)

4. Inovatif dan kreatif

a.Berani mencoba hal baru.

b.Memahamkan konsep value added.

5.Leadership

Ajari anak agar memiliki jiwa kepemimpinan, seperti

a.Disiplin
Latih anak agar disiplin dalam setiap aktivitasnya, baik disiplin terhadap waktu ataupun disiplin terhadap target yang ingin dicapai

b.Bertanggung jawab
Ajari anak bertangung jawab terhadap dirinya sendiri, barang miliknya, kebutuhan yang harus dia siapkan sebelum berangkat sekolah, membereskan mainan, dll.

Ajari juga anak agar mengetahui konsekuensi dari setiap aktivitasnya.

c.Bekerja dalam tim
Biasakan anak bekerjasama dengan orang lain.

d.Berani dan optimis
Latih keberanian anak untuk bertanya, berkomunikasi dan mengungkapkan pendapat. Ajari anak untuk berani mempertahankan kebenaran, menerima kritik dan saran dengan lapang dada, tidak takut dengan sesuatu yang tidak beralasan.

Bagaimana Cara Untuk Menumbuhkan Semangat dan Jiwaentrepreneur Pada Anak Sejak Dini ?

Peran orangtualah yang mesti lebih intens dan peka pada pertumbuhan anak. Usia 2 – 5 tahun adalah usia-usia dimana rasa keingintahuan mereka sangat tinggi. Pada masa ini, orangtua bisa mengenalkan dunia kewirausahaan secara bertahap pada mereka. Konsep jual beli dapat dikenalkan pada anak sejak usia 2 tahun. Hal ini bisa dilakukan dengan cara role play jual beli. Anak bisa berperan sebagai penjualnya lalu orangtua bisa berperan sebagai pembeli, atau bisa sebaliknya.

Seperti kegiatan saya hari ini dalam mengenalkan konsep jual beli kepada Faris, yuk ikuti kegiatan kami hari ini.

Ketika proses permainan jual beli itu berlangsung, misalnya, “ Mama mau beli mobil yang biru ini, harganya berapa ya? “Ini uangnya”, “Kembaliannya belum loh ya”, Harganya boleh kurang nggak, om?”. Awalnya anak tentu tidak mengerti, tetapi jika hal ini dilakukan berulang-ulang, lama-lama anak menjadi paham aturan mainnya.

Jika anak sudah beranjak lebih besar, sekitar umur 3 – 4 tahun, sebaiknya perkenalkan anak dengan proses jual beli yang nyata. Anak bisa diajak ke pasar tradisional atau ke supermarket untuk ikut terlibat dalam transaksi jual beli. Berikan penjelasan kepada anak tentang pengetahuan tentang konsep perdagangan secara sederhana dan dengan kalimat-kalimat yang mudah dipahami oleh anak.

Saat anak bertambah usianya, misalnya ketika memasuki usia sekolah dasar, libatkan anak dengan usaha kecil-kecilan. Misalnya anak diikutsertakan untuk membantu berjualan kelereng saat musim permainan kelereng. Ketika sedang musim buah, ajak anak untuk berdagang buah-buahan, atau usaha dagang lainnya yang bermacam-macam. Bertambahnya usia anak, coba latih pikiran kreatif dan ketertarikan mereka tentang usaha-usaha yang sekiranya bisa dikembangkan.

Dorong anak-anak untuk memulai usahanya dari yang kecil terlebih dahulu, dan jadikan ia menjadi pelaku utamanya, sementara orangtua sebagai pembimbing dan pemberi dukungan. Jika anak sudah berani mencoba untuk memulai usahanya, terus dorong semangat entrepreneur anak dan rangsang ide-ide kreatifnya. Bisa jadi usaha pertamanya gagal, tetapi karena dorongan dari orangtua yang begitu tinggi, anak akan bangun lagi dan mencoba usaha di bidang lainnya.

Justru pengalaman kegagalan ini diperlukan agar anak mempunyai mental yang kuat. Selalu beri dia motivasi agar mau bangkit kembali saat gagal, agar kelak tidak canggung lagi dalam berwirausaha.

 
Mengenal Konsep Jual Beli dalam Islam

Format Dokumentasi Pembelajaran

🔖Nama anak: Faris
🔖Tema : Menakar timbangan dan Mengenal jual beli
📍Tujuan pembelajaran
– Tadabbur surat Al Muthoffifin 1-6
– Mengenal jual beli
– Menakar timbangan yang pas
🔖Usia anak: 3y6m
📍Bahan:
1. mainan timbangan anak + timbel
2. bombik, mainan plastik, manik-manik
3. uang mainan

🔖cara membuat&proses:

🐣Pijakan awal :

Tilawah surat Al muthofifin 1-6

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (١) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (٢) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (٣)
أَلا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ (٤) لِيَوْمٍ عَظِيمٍ (٥) يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (٦

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. (Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam (QS. al-Muthaffifîn/83:1-6)

Kegiatan diawali dengan mengajak Faris berdiskusi tentang orang yang curang. Sudah bisa ditebak pertanyaan yang keluar pertama kali adalah “Ma, curang itu apa sih?” Saya berusaha menjelaskan melalui penjelasan yang ada dalam Al Quran dan mengambil contoh dalam kehidupan nyata. Misalnya ketika kita akan melakukan kegiatan apapun maka pondasi dan pegangan hidup kita adalah kejujuran. Kenapa kita harus jujur? Karena Allah Maha Melihat, meskipun kita bersembunyi dengan cara apapun Allah akan selalu melihat apapun yang kita lakukan. Jadi kalau Faris kepengen berat amalannya makin banyak maka Faris harus berlaku jujur.

– Mama memberi contoh cara menimbang yang pas (jika kurang berdosa dan jika lebih kita yang merugi).

– Mama menjelaskan aturan main.
– Berdoa sebelum bermain.

🐣pijakan saat main :
– Bergantian peran menjadi penjual dan pembeli
– Mengingatkan untuk ramah kepada pembeli

🐣pijakan setelah main :

– Menguatkan kembali pentingnya menjadi pedagang dan pembeli yang jujur, jangan sampai menjadi orang uang curang seperti yg disebut surat al muthaffifin.

– beres beres setelah bermain

Perintah Menyempurnakan Takaran dan Timbangan : Kisah Nabi Syu’aib AS dan suku Madyan

Islam dengan kesempurnaan, kemuliaan dan keluhuran ajarannya, memerintahkan umatnya untuk menjalin muamalah dengan sesama atas dasar keadilan dan keridhaan. Di antaranya, dengan menyempurnakan timbangan dan takaran.

Allâh Azza wa Jalla berfirman

وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ

Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu [ar-Rahmân/55:9].

وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ ۖ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya [al-An’âm/6:152].

Syaikh asy-Syinqîthi rahimahullah mengatakan, “Melalui ayat ini, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan penyempurnaan (isi) takaran dan timbangan dengan adil. Dan menyatakan bahwa siapa saja yang tanpa kesengajaan terjadi kekurangan pada takaran dan timbangannya, tidak mengapa karena tidak disengaja”.

Dalam ayat lain, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan bahwa memenuhi takaran dan timbangan lebih utama dan lebih baik manfaat. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya [al-Isrâ`/17:35].

Dalam ayat lain, perintah menyempurnakan takaran mengiringi perintah beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla . Sebab, pelaksanaan dua hal tersebut berarti memberikan hak kepada pemiliknya yang tepat, tanpa ada pengurangan. [1]

Orang yang menyalahi ketentuan yang adil ini berarti telah menjerumuskan dirinya sendiri dalam ancaman kebinasaan. Dan sampai sekarang, praktek ini masih menjadi karakter sebagian orang yang melakukan jual-beli, baik pedagang maupun pembeli. Dengan mendesak, pembeli meminta takaran dan timbangan dipenuhi, dan ditambahi. Sementara sebagian pedagang melakukan hal sebaliknya, melakukan segala tipu muslihat untuk mengurangi takaran dan timbangan guna meraup keuntungan lebih dari kecurangannya ini.

Sejarah telah menyebutkan bahwa Allâh Azza wa Jalla mengutus Nabi Syu’aib Alaihissallam kepada kaum yang melakukan kebiasaan buruk ini. Nabi Syu’aib Alaihissallam sudah menyeru kaumnya, suku Madyan (penduduk Aikah), agar menjauhi kebiasaan buruk itu.

Allâh Azza wa Jalla berfirman.

وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ وَلَا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ ۚ إِنِّي أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُحِيطٍ﴿٨٤﴾وَيَا قَوْمِ أَوْفُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ﴿٨٥﴾بَقِيَّتُ اللَّهِ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ۚ وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ

Dan kepada (penduduk) Madyan, (Kami utus saudara mereka), Syu’aib. Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allâh, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (Kiamat)”. Dan Syu’aib berkata, “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa keuntungan dari Allâh adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu [Hûd/11:84-86]

Namun kaum Nabi Syu’aib menolak dan mengingkari dakwah beliau. Allâh Azza wa Jalla mengisahkan mereka berkata, “Hai Syu’aib, apakah agamamu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami” [Hûd/11:87]

Beliau menjawab: “Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu dengan mengerjakan apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allâh aku bertawakkal dan hanya kepada-Nyalah aku kembali” [Hûd/11:88]

Akhirnya, Allâh Azza wa Jalla menghancurkan mereka dengan siksa-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمْ عَذَابُ يَوْمِ الظُّلَّةِ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

Kemudian mereka mendustakan Syu’aib, lalu mereka ditimpa azab pada hari mereka dinaungi awan. Sesungguhnya azab itu adalah azab hari yang besar [asy-Syu’arâ/26:189]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَأَخَذَتِ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ﴿٩٤﴾كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا

Dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya . Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. [Hûd/11:94-95]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ

Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka [al-A’râf/7:91]

Kurangnya pengetahuan (jahâlah) tentang tata cara berniaga dan berdagang yang baik dan syar’i merupakan salah satu faktor yang melatarbelakangi praktek kecurangan dalam takaran dan timbangan (serta perdagangan secara umum). Maka, menjadi kewajiban orang yang terjun di dunia bisnis (perdagangan) untuk mendalami fiqh buyû (hukum-hukum jual-beli dan muamalah Islam). Tujuannya, agar terhindar dari berbuat kecurangan, riba, dusta, kezhaliman dan kehilangan berkah.

Khalifah ‘Umar bin Khaththâb Radhiyallahu anhu pernah memperingatkan, “Orang yang belum belajar agama, sekali-kali jangan berdagang di pasar-pasar kami”.

Sahabat ‘Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu pernah berkata, “Pedagang bila (pelaku bisnis) tidak faqih (paham agama) maka akan terjerumus dalam riba, kemudian terjerumus dan terjerumus (terus)”.

PENJELASAN AYAT : 4
Meskipun orang-orang yang curang dalam timbangan dan takaran itu, telah diancam dengan siksa, kecurangan itu tetap saja mereka lakukan, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

أَلَا يَظُنُّ أُولَٰئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ﴿٤﴾لِيَوْمٍ عَظِيمٍ﴿٥﴾يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

Tidakkah orang-orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. (Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam

Imam Ibnu Jarîr ath-Thabari rahimahullah mengatakan, “Tidakkah orang-orang yang mengurangi hak-hak manusia dalam timbangan dan takaran itu meyakini bahwa mereka akan dibangkitkan dari kubur-kubur mereka setelah mereka mati, pada suatu hari yang sangat penting, dahsyat lagi menakutkan?”.[2]

Tidakkah mereka takut kepada hari kebangkitan dan saat berdiri di hadapan (Allâh) Dzat Yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi dan tertutupi pada hari yang sangat besar bahayanya, banyak menimbulkan kesedihan, dan agung urusannya. Barangsiapa merugi, pasti akan dijerumuskan ke api yang menyala-nyala ?[3]

Kalaupun mereka tidak meyakini adanya hari pembalasan, bukankah lebih baik menganggapnya ada, kemudian merenungkannya, mencari tahu tentangnya, dan akhirnya berhati-hati mengambil langkah selamat dengan tidak mengurangi hak orang lain.[4]

Orang-orang yang melakukan praktek kecurangan (dan para pelaku dosa lainnya) akan menghadapi hukuman Allâh Azza wa Jalla pada hari itu. Hari yang besar. Allâh telah menyebutkannya sebagai hari yang besar sehingga menunjukkan keagungan dan pentingnya hari tersebut. Allâh Azza wa Jalla telah menyebutkan hari itu sebagai hari yang menakutkan, menyengsarakan, meresahkan dan mengiris perasaan. (Lihat surat at-Takwîr, al-Insyiqâq dan al-Infithâr).

 
Semoga melalui kisah ini dapat dijadikan pengingat dan membuat diri lebih takut melakukan perbuatan curang

 

Referensi :

[1]. Tatimmah Adhwâul Bayân 9/93
[2]. Jâmi’u al-Bayâni fi Ta`wil Ay al-Qur`ân 15/115
[3]. Tafsîru al-Qur`ânil ‘Azhîm, Ibnu Katsîr 8/347
[4]. al-Jâmi li Ahkâmil Qur`ân 19/222
 
[5]. Buku MUAMALAH UNTUK ANAK (Buku Cerita Anak Bergambar)-Mengenal Buruknya Harta Haram-

12 thoughts on “Mengenal Konsep Jual Beli dan Belajar Menakar Timbangan

  1. Moga kita dijauhkan dari perbuatan yang curang yaa, soalnya aku sering banget kalo beli sesuatu kiloannya suka kurang, yowees biarin aja..mendoakan yang baik2 aja deh!

  2. Jualan itu harus jujur…jujur harga..dan tidak menutupi kejelekan barang .dan waspada terhadap kecurangan timbangan…

    Banyak loh yg jualan ngakunya sekilo taunya cuma 9 ons… Duh

  3. Mbak, bagus banget tulisannya.
    Jarang banget yang berpikir mengajarkan anak untuk belajar tidak meminta pada orangtuanya sejak kecil.
    Senang banget bisa mengenalkan konsep dagang serta cara menakar yang benar pada anak.

  4. Artikelnya paaaanjaaaaang banget, dan semuanya berbobot. Salut aku mbaaak. Jadi bahan renungan plus pencerahan juga ni. Iya, ya … Anakku udah 8 tahun tapi belum pernah diajarin ini. Padahal penting banget utk masa depannya. Nice info mbak. Tq.

  5. Aamiin uyk doanya. Menarik nih, nanti aku coba praktekin ke anakku, sambil mainan utk mengenalkan konsep jual beli, proses belajar yg menyenangkan sekalii

Tinggalkan Balasan ke moniquefirsty Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *