Semua Anak adalah Bintang : Menemukan Fitrah Bakat Anak

Alhamdulillah sampai juga di hari kesepuluh dari kelas Pendampingan Portofolio Anak bersama mbak Andita. Rasanya bersyukur sekali Allah berikan kesempatan untuk belajar banyak hal lagi. Di kelas ini saya merasa ada tantangan yang harus saya hadapi setiap hari, hanya satu “KONSISTENSI”. Saya harus membunuh rasa malas agar bisa konsisten menulis selama sepuluh hari belakangan.

Setiap insan mempunyai hak yang sama atas waktu. Tidak ada seorangpun melebihi dari yang lain. Namun tak jarang setiap kita berbeda dalam menentukan sikapnya. Ada yang berjuang untuk melaluinya dengan membunuh waktu. Tidak pula sedikit yang merasakan sempitnya kesempatan yang dia ada. Ya! Itu saya.

Apa rahasia terbesar dalam hidup ini? Melewati hari ini dengan penuh makna. Makna tentang cinta, ilmu, dan iman. Dengan cinta hidup menjadi indah. Dengan ilmu hidup menjadi mudah. Dan dengan iman, hidup menjadi terarah.
Hidup ini merupakan proses pembelajaran menuju lebih baik dan memahami akan cinta yang Allah SWT berikan buat manusia di dunia ini. Jurnal syukur membuat saya terus bersyukur tiada bertepi atas nikmat yang telah Allah beri hambanya. Termasuk untuk cerita hari ini, betapa Allah menyadarkan saya agar tidak keluar dari track. Membuka mata saya agar lebih peka terhadap fitrah yang telah Allah SWT berikan sepaket kepada anak-anak.

Hari ini kami punya cerita tentang fitrah bakat. Fitrah Bakat pada dasarnya ada pada setiap orang, dan merupakan kecerdasan dasar pada anak-anak. Tinggal bagaimana kita membantunya mengembangkan diri, memfasilitasinya dan mendorongnya untuk terus mencoba.

Awalnya, saya merasa sedih karena saya merasa Faris nggak punya bakat seni? Kenapa? Saya melihat teman-teman seusianya sudah senang menggambar atau mewarnai bahkan membuat hasta karya. Tapi dalam hati saya tetap berusaha berpikir positif. Ah, masa! Bukannya anak-anak sudah menyukai semua hal yang berbentuk seni sejak lahir ya? Atau mungkin, lebih tepatnya saya sebagai Mamanya yang belum bisa mengenali bakat seni pada anak-anak.

Saya mencoba mengingat-ingat, anak-anak dulu sewaktu bayi kan pasti suka sekali memperhatikan benda yang bergerak-gerak, apalagi yang berwarna. Saat sudah berusia 1 tahun, mereka mulai suka spidol, pensil warna, krayon. Kemudian mencorat coret di mana saja, termasuk di dinding rumah, di sofa, di seprai. Aargh!

Kemudian mereka lanjutkan dengan kesenangan merobek-robek kertas, kemudian disusun ulang. Bikin patchwork, mungkin begitu pikirnya. Dan yang terjadi hari ini, saat saya mulai mencoba memberi mereka stiker. Bagaimana reaksi anak-anak? Mereka dengan riang gembira meminta saya membantu mengelupasnya, lalu menempelkannya di mana-mana. Dicabut, lalu tempel lagi di tempat lain, sampai tidak bisa nempel lagi.. haha

Mereka juga menyukai musik. Satu hari, ketika saya perdengarkan lagu anak dan lagu daerah lalu mereka otomatis bertepuk tangan mengikuti irama alunan musik. Saya melihat betapa cepatnya mereka menggoyang-goyangkan tubuhnya begitu mendengar irama musik dari mana pun.

Hmmm … masihkah saya merasa anak-anak tak punya bakat seni?

Akhirnya saya tersadar, sesungguhnya seni bukanlah masalah bakat atau tidak berbakat. Menurut para pakar tumbuh kembang anak, seni sebenarnya sudah menjadi bagian proses tumbuh dan kembang si kecil. Mm.. memang sih ada bakat seni pada anak tertentu yang lebih menonjol ketimbang yang lain. Tapi bukan berarti yang lain nggak punya bakat sama sekali. Bahkan baik berbakat atau tidak, semua juga harus dikembangkan kan? Yang berbakat juga tidak akan merasakan manfaatnya jika nggak dikembangkan kan?

Ada anak yang memiliki bakat seni melukis, misalnya, kalau nggak dikembangkan atau diarahkan, maka gambarnya hanya akan begitu-begitu saja. Dia nggak akan kreatif menciptakan gambar yang baru. Sedangkan anak yang katanya tidak berbakat seni, kalau dilatih secara rutin dan baik, mungkin sih nggak akan sespektakuler Salvador Dali. Tapi setidaknya dia akan terlatih untuk kreatif menciptakan bentuk baru.

Namun, meski fitrah bakat seharusnya sudah melekat setiap orang sejak lahir, banyak faktor yang akhirnya membuat seseorang meninggalkan bakatnya tersebut. Misalnya, ada banyak orang yang mengaku nggak bisa gambar, bahkan bentuk sederhana sekalipun. Hmmm … bisa jadi karena dulu faktor lingkungan dan orangtua yang membuatnya begitu.

Ah, curhat deh. Hihihi.

Soalnya kan memang, orangtua zaman dulu sepertinya banyak yang terlalu meremehkan bakat seni pada anak. Mayoritas pasti lebih mementingkan melatih kemampuan matematika dan sains pada anak. Bahkan orang tua saya sendiri (baca : eyangnya anak-anak) kerap melarang begitu anak-anaknya mulai mencorat-coret dinding atau membuat kerusuhan di rumah. Padahal banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan anak-anak seandainya fitrah bakatnya dilatih.

Cerita hari ini, Faris sudah mulai tertarik memegang spidol atau pensil warna lalu membuat coret-coretan abstrak yang hanya dia yang tau maksud dari gambar itu apa. Faris sudah mulai konsisten membuat berbagai macam garis. Kemudian menggabungkan garis-garis tersebut menjadi satu bentuk. Inilah hasil gambar pertama Faris. Ini gambar Mama pakai jilbab, hahah… meskipun bentuknya masih sangat abstrak berhubung gambar perdananya adalah Mama maka Mama mana yang tidak terharu.

Selain menggambar, Faris juga sudah mulai mau untuk fokus dan sabar memegang pensil warna kemudian mencoba mewarnai selembar kertas gambar. Kejutannya ternyata Faris mewarnai dengan cara yang tidak biasa. Bermula dari menggunting crayon berbagai warna hingga menjadi rempahan. Jadilah Mama membatin, mau diapakan kah ini rempahan crayon. Baiklah tugas Mama hanya memfasilitasi, jadi Mama amati dulu apakah yang akan Faris lakukan terhadap rempahan crayon itu. Serius dan fokus sekali ia melakukan kegiatan ini. Kemudian atas inisiatif sendiri, ia menempel rempahan crayon tadi ke kertas gambarnya dengan lem. Wah, dapat ide darimana coba.

Setelah mengamati kegiatan Faris hari ini, Mama jadi semakin yakin kalau setiap anak adalah “bintang”. Orang tua tidak perlu menggaggasnya untuk berlari atau menjejalkan materi-materi yang justru menciderai fitrah yang telah Allah berikan sejak anak-anak dilahirkan. Anak-anak sesungguhnya lahir dalam keadaan sangat kreatif dan kaya imajinasi. Hari ini Mama membuktikannya, bagaimana Faris mewarnai gambar topi dengan gradasi warna hasil menggunting crayonnya atau mewarnai belut dengan warna merah jambu.

Saat Faris menggambar, Faris akan menghabiskan waktunya melibatkan seluruh pancaindra, hati dan jiwanya. Dia juga melatih perasaannya, agar bisa menghasilkan lukisan yang indah. Ketika selesai, dia akan merasa puas dan bangga karena telah berhasil menciptakan sesuatu. Apalagi ditambah dengan apresiasi dari kedua orang tuanya.😊

Manfaat menstimulasi Fitrah Bakat pada anak

1. Membuat anak menjadi lebih kreatif

Kreatif di sini nggak melulu terbatas pada bakat padaooo anak, tapi juga berarti anak akan selalu punya cara untuk menyelesaikan masalah. Contohnya, ketika Faris berebut dengan adiknya, maka dia akan selalu punya cara untuk menyelesaikan konflik dengan baik.

2. Menjadikan anak lebih percaya diri

Membuat karya seni, seperti mewarnai menggunakan rempahan crayon tadi bisa membangun kebanggaan anak terhadap diri sendiri.

3. Lebih cepat mengembangkan kemampuan motorik

Menstimulasi fitrah bakat pada anak berarti mendorongnya untuk melakukan sesuatu dan bergerak secara terkendali. Ini menandakan bahwa kemampuan motoriknya semakin matang. Coretannya semakin rapi, dan bermakna.

4. Belajar fokus

Aktivitas, seperti menggambar, membuat Faris tetap fokus dan konsentrasi pada hal yang dia lakukan, meski banyak aktivitas lain yang terjadi di sekelilingnya.

5. Menjadi sarana komunikasi nonverbal

Dengan menstimulasi fitrah bakat pada anak, berarti kita juga melatih anak mengenali emosi, dan kemudian mengekspresikannya secara nonverbal. Sehingga orang tiap juga jadi lebih mudah pula ikut merasakannya, baik itu berupa coretan, tarian, atau nyanyian mereka.

Lalu bagaimana cara menstimulasi fitrah bakat pada anak?

Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan.

Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menstimulasi bakat seni pada anak

📎Jangan membatasi anak

Akan tiba saatnya si kecil mencorat-coret dinding. Iya sih, rumah bakalan tampak berantakan, kotor, dan sebagainya. Tapi dinding memang merupakan kanvas yang sangat menarik buat mereka. 😁

📎 Dampingi saat mereka berekspresi

Saat anak-anak menyanyikan lagu ciptaan mereka sendiri, jangan lupa untuk ikut mendengarkan. Atau saat gambar mereka selesai, tanyakan, “Ini gambar apa?”sambil memberi contoh bentuk yang lebih baik juga buat mereka.

📎 Berikan pujian dan masukan

Saat anak selesai show off, berikan apresiasi. Saat gambarnya selesai, berikan pujian, kalau perlu kasih nilai. Beri masukan jika memang perlu.

📎 Pajang hasil karya anak

Jika berupa lukisan, Mama bisa memajangnya di pintu lemari es dengan magnet. Atau bikin deh photo wall, yang bisa menjadi hall of fame untuk karya anak-anak.

~Apa pun bentuknya, apresiasilah anak-anak~

Alhamdullilah, mulai hari ini saya sudah tidak bingung dan tidak lagi merasa anak-anak nggak punya bakat seni kan? Mama bisa menstimulasi bakat seni pada anak melalui hal-hal kecil seperti di atas setiap hari.

Fitrah bakat pada anak itu selalu ada, karena merupakan salah satu kecerdasan dasar pada anak-anak. Tinggal bagaimana kita membantunya mengembangkan diri, memfasilitasinya dan mendorongnya untuk terus mencoba.

Mendidik anak itu bukan dengan dijejal macam-macam ilmu ke kepalanya, tapi dibangkitkan fitrah dlm dirinya.

🍁Mendidik anak itu bukan dengan outside in (dari luar ke dalam) tapi dengan inside out (dari dalam keluar). Yaitu dg dibangkitkan gairah belajarnya.

🍁Jika gairah belajarnya bangkit, ia akan belajar seumur hidupnya. Jika gairah keimanannya bangkit, ia akan beriman seumur hidupnya.

🍁 Banyak orangtua tergesa-gesa ingin anak menjadi shalih, tetapi tidak memahami tahapan-tahapannya dengan baik, Lalu menggegasnya sehingga justru banyak masalah ditemui pada diri anak di kemudian hari.

🍁 orang tua sebaiknya tdk obsesif, dan tidak membanding2kan, jgn melihat pada kekurangan anak tetapi lihatlah kelebihan dan kekuatan yg dimiliki, lalu asahlah. Fokuslah pada cahaya maka kegelapan perlahan akan sirna . . .

🍁 selalu berbaik sangka pada Allah dan banyak bersyukur, sehingga Allah berikan hikmah yang banyak dalam mendidik anak.

🍁Mendidik anak sesuai fitrah,akan membuat kedua orang tua rileks dan optimis. ~FBE~ #ntms

Alhamdulillah bi ni’matimushaalihat 😇

#day10
‌#21Feb18
‌#batam
‌#3y6m
#1y3m
‌#KelasPortofolioAnakbyGPA #GriyaPortofolioAnak #MengikatMaknaSepenuhCinta #PekaAkanUnikAnak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *