Study Better With Mind Mapping

Alhamdulillah sudah sampai di minggu kelima, ah tidak terasa sudah di tengah perjalanan matrikulasi batch #5. Sepertinya tim IIP benar-benar menyusun materinya secara bertahap dari materi dasar hingga membuat kepala pusing tujuh keliling *elap keringat.

Sebenarnya yang diminta NHW #5 cukup sederhana; membuat desain pembelajaran. Bukan hal yang baru juga untuk saya, tapi kok ketika diterapkan ke diri sendiri agak puyeng juga. Mudah-mudahan dengan mengerjakan tugas ini semakin tercerahkan.

Emang ngapain sih kudu bikin begituan segala?tanya suami. Nggak wajib juga sih, tapi dalam rangka meluruskan niat, mencapai tujuan dan belajar mengatur diri sendiri, saya merasa perlu melakukan ini. Bagaimana saya akan mendesain pembelajaran untuk anak-anak kalau mendesain pembelajaran untuk diri sendiri saja masih di awang-awang? Saya juga percaya bahwasanya mendidik anak-anak sejatinya mendidik diri sendiri. Jadi teringat kutipan dariĀ bu Septi Peni Wulandari, “selesaikan dulu urusan diri sendiri, selanjutnya pandu anak-anak kita. Ingin anak mandiri, maka selesaikan dahulu perihal kemandirian diri kita. Ingin anak suka membaca, maka sukalah membaca terlebih dahulu. Ingin anak bertemu peran spesifik hidupnya, maka temukan dahulu peran hidup diri.” Nah, sebelum mempraktekkan desain pembelajaran saat membersamai anak-anak, saya harus memulainya dari diri saya sendiri dong.

Baiklah, sebelum saya mengerjakan bingkisan cantik minggu kelima saya mau menyimpan hasil belajar di minggu kelima ini disini šŸ˜Š

Belajar Bagaimana Caranya Belajar

Pada dasarnya sebelum kita memulai belajar, kita harus sudah paham terlebih dahulu apa yang ingin kita pelajari. Sama halnya ketika kita membersamai anak, kita harus paham benar apa yang dibutuhkan anak, tujuan apa yang ingin dicapai. Jika si anak sudah mantap dengan jurusan ilmu yang dipilih dan siap belajar, maka saatnya kita belajar bagaimana caranya belajar.

Apaan coba? Belajar ya tinggal belajar aja to, kok harus cari tahu dulu bagaimana caranya belajar. Yup, karena dengan mengetahui bagaimana cara belajar yang tepat, kita bisa membuat cuztomized curriculum untuk anak-anak. Tiap anak unik, kan? Gaya belajarnya berbeda, karakternya pun juga. Jadi setiap anak bisa memiliki kurikulum yang berbeda.

Di pelajaran minggu keempat, kita telah belajar tentang fitrah. Seperti yang kita tahu setiap manusia punya fitrah belajar, tapi kenapa selalu saja ada orang yang senang belajar dan ada yang tidak. Apalagi kalau pelajarannya sudah bikin malas, misal matematika, fisika… rata-rata pasti mengeluh dan elap keringat.Ā 

Nah, dari quote tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa kita suka atau tidak pada suatu pelajaran bukan bergantung pada berat atau ringannya suatu pelajaran. Namun lebih kepada rasa.Ā Membuat BISA itu mudah, tapi membuatnya SUKA itu baru tantangan.

Menjadi Berbeda

Dengan perkembangan dunia yang semakin canggih, anak-anak kita pun ikut berubah. Jangan samakan anak-anak kita dengan anak-anak di jaman kita, maka sudah sepantasnya kita – para orangtuanya yang perlu mengupdate diri dalam membersamai mereka. Jadi untuk itu kita dan anak-anak perlu belajar tiga hal berikut ini;

1. Belajar Hal Berbeda

Untuk menyeimbangi kemajuan jaman yang sangat pesat, maka penting bagi kita belajar apa saja yang bisa:

šŸŽMenguatkan Iman; ini adalah dasar yang amat penting bagi anak-anak kita untuk meraih masa depannya.

šŸŽMenumbuhkan karakter yang baik.

šŸŽMenemukan passionnya (panggilan hatinya)

2. Cara belajar yang berbeda

Jika dulu Ā kita dilatih untuk terampil menjawab, maka latihlah anak kita untuk terampil bertanya. Keterampilan bertanya ini akan dapat membangun kreatifitas anak dan pemahaman terhadap diri dan dunianya.

Jika dulu kita hanya menghafal materi, maka sekarang ajak anak kita untuk mengembangkan struktur berfikir. Anak tidak hanya sekedar menghafal akan tetapi perlu juga dilatih untuk mengembangkan struktur berfikirnya

Jika dulu kita hanya pasif mendengarkan, maka latih anak kita dengan aktif mencari. Untuk mendapatkan informasi tidak sulit hanya butuh kemauan saja.

Jika dulu kita hanya menelan informasi dari guru bulat-bulat, maka ajarkan anak untuk berpikir skeptik, yaitu tidak sekedar menelan informasi yang didapat bulat-bulat. Akan tetapi senantiasa mengkroscek kembali kebenarannya dengan melihat sumber-sumber yang lebih valid.

3. Semangat Belajar yang berbeda

Semangat belajar Ā yang perlu ditumbuhkan pada anak kita adalah :

šŸ€Tidak hanya sekedar mengejar nilai rapor akan tetapi memahami subjek atau topik belajarnya.

šŸ€Tidak sekedar meraih ijazah/gelar tapi kita ingin meraih sebuah tujuan atau cita-cita.

Ketika kita mempunyai sebuah tujuan yang jelas maka pada saat berada ditempat pendidikan kita sudah siap dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan. Maka pada akhirnya kita tidak sekedar sekolah tapi kita berangkat untuk belajar (menuntut ilmu). Yang harus dipahami,Ā menuntut ilmu bukan hanya saat sekolah, tetapi dapat dilakukan sepanjang hayat kita. Sekolah adalah salah satu cara menuntut ilmu, namun kita bisa menuntut ilmu di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja.

4.Strategi Belajar yang Tepat

GunakanlahĀ strategi meninggikan gunung bukan meratakan lembah. Maksudnya adalah dengan menggali kesukaan, hobby, passion, kelebihan, dan kecintaan anak-anak kita terhadap hal-hal Ā yg mereka minati dan kita sebagai orangtuanya memberikan dukungan semaksimal mungkin. Misalnya jika anak suka bola maka dukunglah kesukaannya dengan memasukkannya pada club bola, maka dengan sendirinya anak akan melakukan proses belajar dengan gembira.

Sebaliknya jangan meratakan lembah, yaitu dengan menutupi kekurangannya. Misalnya apabila anak kita tidak pandai matematika, kita tidak perlu berusaha menjadikannya untuk menjadi pandai matematika dengan menambah porsi belajar matematikanya lebih sering (memberi les misalnya). Justru hal ini akan menjadikan anak semakin stress.

Jadi ketika yang kita dorong pada anak-anak kita adalah keunggulan / kelebihannya maka anak-anak kita akan melakukan proses belajar dengan gembira. Orang tua tidak perlu lagi menyuruh-nyuruh anak untuk belajar akan tetapi anak akan belajar dan mengejar sendiri terhadap informasi yang ingin dia ketahui dan dapatkan. Inilah yang membuat anak belajar atas kemauan sendiri, hingga ia melakukannya dengan senang hati.

Membuat Anak Suka Belajar

Orang tua mana sih yang tidak ingin melihat anak-anaknya suka belajar? Tapi sekarang ini justru banyak orang tua yang mengeluh betapa susahnya menyuruh anak-anak belajar.Ā So, untuk membuat anak-anak suka belajar, lakukan tiga hal berikut ini;

1.Mengetahui apa yang anak-anak mau / minati.

2.Mengetahui tujuannya, cita-citanya.

3.Mengetahui passionnya.

Jika sudah mengerjakan itu semua maka anak kita akan meninggikan gunungnya dan akan melakukannya dengan senang hati.Ā Baik saja itu tidak cukup, tetapi kita juga harus punya nilai lebih yang membedakan kita dengan orang lain.

Orang Tua, Saatnya Kita Mengambil Peran!

Masih banyak saya temui orang tua-orang tua yang menganggap kewajibannya terhadap anak sudah selesai ketika telah memilihkan sekolah yang bagus.

Kalau cuma sampai situ saja kewajiban orang tua terhadap anak, enak banget ya jadi orang tua. Masa cuma ongkang-ongkang kaki, kasih ke sekolah, terus nuntut anak jadi baik? Ironinya, kalau anaknya berkelakuan tidak sesuai dengan harapannya, sekolah yang ditegur dan dikomplain? Atau malah menyalahkan teman-teman anaknya, menyalahkan lingkungannya. Big NO! Sekolah itu cuma partner kita, bukan jadi tempat yang kita mintai tanggung jawab total tentang segala hal yang terjadi pada anak kita.

Sebelum menuding orang lain, mari tunjuk diri sendiri dulu. Selama ini sudah memberikan bekal apa saja ke anak-anak? Kalau memang ternyata belum memberikan bekal yang kuat, jangan salahkan sekolah, jangan salahkan teman-teman anak, jangan salahkan tetangga, jangan salahkan lingkungan, salahkan diri kita sendiri yang belum membersamai anak secara maksimal. Setelah menyadari betapa kita belum banyak berperan, maka saatnya kita mengambil peranan.

Peran kita sebagai orang tuaĀ :

šŸ“ŽSebagai pemandu untuk anak-anak usia 0-7 tahun.

šŸ“ŽSebagai teman bermain anak-anak kita pada usia 7-10 tahun, kalau kita tidak bisa menjadi teman yang asyik untuk mereka, maka anak-anak akan menjauhi kita dan anak akan lebih dekat/ percaya dengan temannya

šŸ“ŽSebagai sahabat yang siap mendengarkan anak-anak kita pada usia 14-17 tahun keatas.

Cara mengetahui passion anak:

1.Observation (pengamatan);

2.Engage (terlibat);

3.Watch and listen ( lihat dan dengarkan suara anak).

Untuk bisa menemukan bakat dan minat anak, ajak anak untuk melakukan banyak aktivitas dan pertemukan anak dengan berbagai komunitas. Perbanyak ragam kegiatan anak, olah raga, seni dan lain-lain. Belajar untuk telaten mengamati, dengan melihat dan mencermati terhadap hal-hal yang disukai anak kita dan apakah konsisten dari waktu ke waktu. Ajaklah anak-anak berdiskusi tentang kesenangan anak, kalau memang suka maka kita dorong.

Cara mengolah kemampuan berfikir anak dengan:

1. Melatih anak untuk belajar bertanya, caranya: dengan menyusun pertanyaan sebanyak-banyaknya mengenai suatu obyek.

2. Belajar menuliskan hasil pengamatannya. Belajar untuk mencari alternatif solusi atas masalahnya.

3.Melakukan presentasi yaitu mengungkapkan apa yang telah didapatkan/dipelajari.

4.Kemampuan berfikir pada balita bisa ditumbuhkan dengan cara aktif bertanya pada si anak.

Menantang kan ya jadi orang tua jaman now? Iya dong. Materi belajar dari kelas matrikulasi minggu kelima ini saya simpan di sini selain agar bisa saya baca kembali, juga sebagai pengingat diri ini ketika semangat mulai menurun. So, ayooo semangaaat jadi orang tua yang selalu membersamai anak-anaknya.

Membuat Desain Pembelajaran

Setelah tuntas belajar mengenai belajar bagaimana caranya belajar, kini saatnya mengerjakan PR yang bikin elap keringat dan merenung berkali-kali.Ā 

Sebelum memulai membuat desain pembelajaran, kita harus mengetahui dulu apa itu makna desain pembelajaran. Baiklah saya meluncur ke website KBBI, dari sana saya jadi lebih paham apa yang dimaksud dengan desain pembelajaran.

DESAIN
Desain/deĀ·sain/ /dĆ©sain/ n 1 kerangka bentuk; rancangan: — mesin pertanian itu dibuat oleh mahasiswa fakultas teknik; 2 motif; pola; corak: — batik Indonesia banyak ditiru di luar negeri;

AJAR
Ajar n petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut);berguru kepalang — , bagai bunga kembang tak jadi, pb ilmu yang dituntut secara tidak sempurna, tidak akan berfaedah;

Pembelajaran/pemĀ·belĀ·aĀ·jarĀ·an/ n proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar.

šŸ“ŽJadi kesimpulannya desain pembelajaran adalah kerangka atau rancangan dari proses atau cara belajar.Ā 

Awalnya saya dilanda kebingungan kemana arah design pembelajaran ala saya. Alhamdulillah, di saat itu pula Mbak Erli – fasilitator kelas membawakan ‘cemilan’ yang menyehatkan tentang Piramida Belajar ala William Glasser.

Dari piramida tersebut kita bisa simpulkan jika;

10% pemahaman berasal dari yang kita BACA

20% pemahaman berasal dari yang kita DENGAR

30% pemahaman berasal dari yang kita LIHAT

50% pemahaman dari yang kita LIHAT DAN DENGAR

70% pemahaman dari yang kita DISKUSIKAN

80% dari PENGALAMAN yang dijalani

95% dari kita belajar untuk MENGAJAR/ BERBAGI

Setelah memahami maksud dari piramida tersebut, saya menyimpulkan bahwa dalam membentuk desain pembelajaran tidak harus berisi teori-teori saja, namun justru harus kita imbangi dengan praktek dalam keseharian. Setelah membaca sebuah buku dan kita mendapatkan inspirasi, ikat ilmunya dulu baru kemudian amalkan ilmu tersebut. Pun juga setelah kita melihat atau mendengar kajian dan menjadi tahu sesuatu syariat yang sebelumnya belum kita ketahui, ikat ilmunya dan segera amalkan dalam keseharian. Semakin banyak kita mengalami dan melakukan apa yang kita baca, lihat, dengar dan diskusikan, akan semakin banyak ilmu yang terikat di dalam diri. Tak lupa berbagi ilmu yang telah kita lakukan, baik lewat tulisan atau lewat diskusi dengan orang lain.

Nah, akhirnya setelah merenung dan menggali kembali apa tujuan belajar saya, saya mencoba membuat desain pembelajaran untuk diri sendiri. Mau tahu?

1. MANAJEMEN DIRI

2. MANAJEMEN PASANGAN

3. BUNDA SAYANG

4. BUNDA CEKATAN

5. BUNDA PRODUKTIF

Selain menyiapkan desain pembelajaran untuk diri sendiri, saya juga mulai menyiapkan desain pembelajaran untuk anak-anak, meskipun masih secara global dan belum detail. Insya Allah dari yang global ini akan membantu lebih dalam menyiapkan ruang belajar untuk mereka.

1.HOMEEDUCATION

2. PARENTING

Alhamdulillah, akhirnya selesai juga bingkisan cantik di NHW #5. Semoga bermanfaat ya. Sampai jumpa di postingan berikutnya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *