Drama Kunjungan ke Dokter Gigi Baru

Dokter gigi dimata anak-anak kebanyakan dianggap sebagai “monster” menakutkan karena anak-anak biasa mendengar kalau ke dokter gigi, mereka akan kehilangan giginya dan tentu saja meninggalkan rasa sakit. Padahal sejak anak tumbuh gigi kita bisa memulai untuk mengenalkan bab merawat kesehatan gigi dan mulut. Mulailah dari hal sederhana untuk mengajarkan alasan mengapa anak-anak harus rajin menggosok gigi.

Mulai Usia 2 Tahun

Sejak anak berusia dua tahun sebenarnya kita sudah bisa mengajaknya ke dokter gigi. Ingat ya Mom, tujuan utama kita adalah mengajaknya tour de tallent yakni mengenalkan profesi dokter gigi. Anak akan belajar tentang apa saja yang dilakukan oleh dokter gigi dan juga mengenal alat-alat yang dipakai. Kunjungan pertama atau disebut sebagai field trip ke dokter gigi bisa kita manfaatkan untuk konsultasi atau bertanya seputar bagaimana menjaga kesehatan gigi dan mulut anak-anak. Kita bisa meminta dokter untuk mencontohkan cara menyikat gigi yang benar. Biasanya kunjungan saat usia anak 2 tahun, dokter hanya mengajaknya ngobrol dan melihat kondisi gigi saja. Jadi pengalaman yang menyenangkan tersebut akan membuat anak tidak lagi takut bila diajak ke dokter gigi. Beda kasusnya dengan Faris, ia berkunjung ke dokter sejak usianya masih satu tahun karena giginya mulai terkena carries. Jadi suka tidak suka kami harus segera membawanya ke dokter gigi. Tetapi hal ini membawa dampak positif, ia sekarang lebih friendly ketika diajak ke dokter gigi.

Baca juga : Kunjungan Pertama ke Dokter Gigi Anak di Batam

Drama ke Dokter Gigi Baru

Siang ini, Faris mengeluh “Ma, gigi Faris sakit banget nih kalau dipake ngunyah.”
Saya menaruh curiga kalau Faris hanya drama dan membuat skenario cerita. Betapa tidak, sungguh dia adalah aktor di rumah kami yang dapat memerankan satu karakter dan memainkan berbagai emosi dengan baik. Saya menjawab ringan, “Ya sudah nggak usah dihabiskan makannya, Fa. Coba gosok gigi dulu mana tau ada makanan yang nyangkut.”
Dengan semangat ia bergegas ke kamar mandi untuk segera menggosok gigi dan menyatakan giginya sedikit enakan.
Eits, drama baru dimulai pemirsa. Rupanya tak lama setelah itu episode cerita sakit gigi berlanjut dengan keluhan, “Ma, udah nggak tahan nih sakit gigi Faris. Faris mau ke dokter gigi.”
Makin keheranan pula emaknya, masa iya sih kalau Faris lagi sakit gigi. Tanya saya dalam hati, kalau emang Faris lagi sakit kok masih tahan nggak yang nangis-nangis gitu. Mainan sendiri anteng, di rumah juga masih bisa tidur nyenyak, nggak rewel hanya sekedar merajuk dengan sebentar-sebentar bilang, “Ma, sakit nih gigi Faris. ”
Akhirnya siang ini saya menghubungi dokter Rizki, dokter gigi yang baru berpraktek di ruko King Bussiness Center. Sebelumnya, Faris periksa riwayat gigi carries dengan dokter Alia, tetapi karena tempat prakteknya lumayan jauh dari rumah maka saya memutuskan untuk berkunjung ke dokter Rizki saja. Jadilah saya membuat jadwal untuk konsultasi malam, lepas shalat Magrib.

Sampai di sana kita sudah disapa ditanya-tanya oleh perawatnya. Setelah mendaftar Faris dipersilahkan untuk masuk ruang pemeriksaan dan ia langsung excited. Sempat berkenalan sebentar dengan dokter Rizki, Faris sangat bersemangat dan kooperatif saat diminta untuk duduk dan diperiksa giginya. Sambil diperiksa Faris bertanya kepada dokter Rizki, segala apa yang ia lihat. Mulai dari apa saja alat dokter itu, kemudian fungsinya untuk apa sampai dengan kenapa kok mejanya bisa dinaik turunkan terus kok senter besarnya harus diletakkan di atas kursi 😂

Drama Kunjungan ke Dokter Gigi Baru Dokter gigi di mata anak-anak kebanyakan dianggap sebagai "monster" menakutkan karena anak-anak biasa mendengar kalau ke dokter gigi, mereka akan kehilangan giginya dan tentu saja meninggalkan rasa sakit. Padahal sejak anak tumbuh gigi kita bisa memulai untuk mengenalkan bab merawat kesehatan gigi dan mulut. Mulailah dari hal sederhana untuk mengajarkan alasan mengapa anak-anak harus rajin menggosok gigi ya Moms. Kunjungan rutin ke dokter gigi setahun dua kali juga membuat anak terbiasa mencium aroma di ruang konsultasi gigi, dekat dengan alat-alat dental yang dipakai dan tentu saja membantu anak untuk menjadi akrab dengan dokter dan perawat yang membantu. Sahabat, sudahkah merawat gigimu dengan benar? #HijrahParenting #30CeritaHijrah #CeritaHijrah02

A post shared by monique firsty (@monique_firsty) on

MasyaAllah, senangnya saya ketika melihat Faris sudah jadi anak hebat dan tidak perlu dibujuk rayu agar mau naik ke meja periksa bahkan dengan inisiatif sendiri tanpa didampingi Mama. Dan langsung akrab dengan dokter barunya.

Alhamdulillah kondisi carries di empat gigi depannya belum perlu untuk dicabut. Dr Rizki berkata, sebaiknya gigi sulung dipertahankan untuk menjaga ruang tumbuh gigi dewasanya nanti. Jadi apa penyebab Faris mengeluh sakit gigi? Dokter pun masih ragu, apakah carriesnya sampai mempengaruhi sistem syaraf di akar gigi sehingga menyebabkan ngilu dan perlu dilakukan perawatan intensif atau hanya perlu pembersihan saja dan dibantu penggunaan toothmouse.
Setelah berdiskusi akhirnya dokter Rizki memutuskan untuk melakukan tindakan brushing dan polishing. Polishing adalah salah satu metode untuk mencerahkan warna gigi kembali, dengan cara menghilangkan noda-noda yang menempel di permukaan gigi seperti noda kopi, teh, rokok, dan lain sebagainya.  
Dokter Rizki berpesan, jika nanti masih ada keluhan ngilu di gigi berarti akan dilakukan pemeriksaan lanjutan.

**

Kesalahan yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orangtua adalah membawa anak ke dokter gigi ketika anak mengeluh sakit gigi. Padahal menurut pengalaman seorang sahabat yang juga berprofesi sebagai dokter gigi, hal ini akan meninggalkan trauma pada anak. Mengunjungi dokter gigi saat kondisi gigi sakit tentu sangat tidak menyenangkan. Karena dokter akan melakukan pemeriksaan sekaligus tindakan terhadap kondisi gigi yang sedang sakit.

Berdasarkan pengalaman tersebut, jadi disarankan untuk membawa anak ke dokter gigi saat kondisi gigi anak tidak sakit. Dengan begitu, pemeriksaan akan lebih baik dan saat anak memang sakit gigi, anak tidak mendapatkan pengalaman yang kurang menyenangkan saat diperiksa giginya.

Setahun Dua Kali

Sebaiknya kegiatan berkonsultasi ke dokter gigi setahun dua kali atau enam bulan sekali. Tujuan dari kunjungan rutin tersebut untuk mencegah dan mendeteksi secara dini bila ada kerusakan pada gigi dan perawatan gigi sebelum kondisi gigi anak semakin parah.

Sebaiknya saat kunjungan ke dokter gigi, tidak hanya anak tetapi orang tua juga harus ikut serta sebagai pasien. Melihat kamu nyaman saat periksa gigi akan membuat anak lebih berani. Kunjungan rutin ke dokter gigi setahun dua kali juga membuat anak terbiasa mencium aroma di ruang konsultasi gigi, dekat dengan alat-alat dental yang dipakai dan tentu saja membantu anak untuk menjadi akrab dengan dokter dan perawat yang membantu. Sahabat,sudahkah merawat gigimu dengan benar?

Praktek Dokter Gigi T Rizki Lanera, drg, M.M.R.S
Alamat : Komplek Ruko KBC blok A 3 No. 03, Batam Centre, Kepulauan Riau
Praktek :
Senin s.d Jumat 13.00 – 20.00
Sabtu 09.00 – 17.00
Minggu (dengan perjanjian)
Tlp/WA : 08121646224

#HijrahParenting
#30CeritaHijrah
#CeritaHijrah02

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *