Menuju Bunda Produktif, Rejeki itu Pasti Kemuliaan yang Dicari

Assalammu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

Hari ini, saya akan berbagi tentang materi yang saya dapat dari kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #5. Alhamdulillah, ‘kuliah’ sudah berjalan hingga minggu ketujuh.

Setelah minggu-minggu lalu, kami diberi perkenalan materi tentang bagaimana menjadi Bunda Sayang dan Bunda Cekatan, kini saatnya kami belajar bagaimana menjadi Bunda Produktif. Dalam materi ini diajarkan untuk lebih memahami tentang konsep produktif dan lebih mengenal apa tujuan penciptaan kita di bumi ini.

Materi ini merupakan materi yang saya tungu-tunggu selama mengikuti kelas matrikulasi. Di sini semangatku kembali dilecutkan bahwasanya produktif itu tidak harus melulu bekerja di ranah publik. Bahkan seorang ibu yang fokus di ranah domestik namun bisa memberikan banyak manfaat tidak hanya pada keluarganya, namun juga masyarakat di sekitarnya, bisa jadi lebih produktif.

Baca juga: Belajar Menjadi Manajer Keluarga yang Handal

Baik yang memilih fokus pada ranah domestik ataupun publik, setiap bunda harus menjadi sosok yang produktif. Hal itu karena produktivitas dapat menambah syukur, menegakkan taat dan berbagi manfaat.

Menjadi Bunda Produktif dan Memahami Hakikat Rezeki

Kita seringkali menghubungkan produktivitas dengan aktivitas yang bisa menghasilkan uang atau gaji. Padahal Bunda Produktif tidak selalu dinilai dari uang, namun dari kemanfaatan yang dihasilkan. Menilik kembali,  ada orang yang bisa bergaji banyak, namun ternyata anak-anaknya tak terurus, ketemu keluarga hanya di ambang jam tidur. Namun ada ibu yang tidak memiliki pendapatan sendiri, namun ia selalu mendampingi anak-anaknya belajar, aktif dalam kegiatan sosial dan disukai oleh para tetangga karena keramahannya. Maka mana yang lebih produktif?

Bunda Produktif harus sesuai dengan value di Ibu Profesional yaitu “bunda yang akan berikhtiar menjemput rejeki, tanpa harus meninggalkan amanah utamanya yaitu anak dan keluarga.” Bahkan meskipun ia beraktivitas pula di ranah publik, ia tetap memperhatikan semua kebutuhan anak dan keluarga. Kita harus mulai mengubah orientasi produktif kita bukan semata-mata untuk mencari gaji, namun menjadikan produktif sebagai bagian dari ibadah, sedangkan rejeki itu urusanNya. Tugas kita hanya berikhtiar dengan sungguh-sungguh, masalah hasil kita pasrahkan pada Allah Subhanahuwata’ala.

Kita juga perlu memahami bahwa hakikat antara rejeki dan gaji itu berbeda. Rezeki tidak selalu terletak pada pekerjaan kita, Allah menaruh dan membagi sekehendak-Nya. Antara bekerja dan rezeki, bukanlah dua hal yang selalu harus menjadi hukum sebab akibat, karena rezeki kadang perlu kita tafakuri. Rasulullah pernah bersabda bahwa “Sesungguhnya rezeki itu akan mencari seseorang dan bergerak lebih cepat daripada ajalnya.” 

Nasihat dari Imam Al Ghazali, “bisa jadi engkau tidak tau dimana rezekimu, namun rezekimu tau dimana engkau. Jika rezeki itu ada dilangit maka Allah akan turunkan, jika rezeki itu berada didalam bumi maka Allah akan perintahkan untuk muncul supaya berjumpa dengan kita.”

Maka tidaklah patut kita takut akan kekurangan rezeki, apalagi jika sampai menghambakan diri pada manusia lain. Rejeki itu pasti, maka tidaklah perlu kita mengejar  sesuatu yang sudah pasti, apalagi jika sampai mengorbankan amanahNya dan melupakan ketaatan padaNya hanya demi angka-angka yang ada di struk gaji.

Jika kita menggali lebih dalam bahwasanya rezeki itu tidak melulu soal uang, mempunyai keluarga yang sakinah, mawaddah warrohmah, anak-anak yang sholih-sholihah, sehat jasmani-rohani, mempunyai ilmu yang bermanfaat dan dikelilingi sahabat-sahabat sejati juga merupakan rezeki yang luar biasa.

Banyak diantara kita yang merasa galau ketika dihadapkan pada pilihan; perlukah bekerja di ranah publik? Termasuk saya yang kadang masih gonjang-ganjing ingin kembali berkarir di luar rumah. Namun materi kali ini menguatkan pilihan saya. Sebelum memutuskan untuk bekerja di luar rumah, kita bisa mengevaluasi dulu beberapa hal. Apa kita bekerja untuk membantu suami, apa kita bekerja untuk menyalurkan hobi, apa kita bekerja untuk mengisi waktu luang, saat kita bekerja di luar rumah adakah yang menjaga anak-anak kita, bagaimana efeknya untuk tumbuh kembang anak, bagaimana caranya menjaga kebersamaan keluarga, bagaimana caranya agar anak-anak tidak merasa kehilangan ibunya, dan masih banyak lagi hal lainnya.

Jika menjadi produktif di luar rumah akan meningkatkan kemuliaan diri, anak-anak dan keluarga, maka lanjutkan. Jika tidak, maka kuatkan dulu pilar-pilar sebagai bunda sayang dan cekatan. Jika manfaat yang kita dapatkan jauh lebih banyak ketika kita berkarir di luar rumah, maka jangan ragu. Luruskanlah niat tersebut sebagai ibadah. Tugas kita sebagai Bunda Produktif bukan untuk mengkhawatirkan rezeki keluarga, melainkan menyiapkan sebuah jawaban “Dari Mana” dan “Untuk Apa” atas setiap karunia yang diberikan untuk anak dan keluarga kita.

Ibu yang bekerja di ranah publik, bahkan ibu rumah tangga sekalipun, seringkali merasa galau, kasihan dan merasa bersalah ketika harus meninggalkan anak, entah itu untuk bekerja, belajar (mengikuti seminar atau workshop), atau melakukan me time. Termasuk saya pribad Padahal sesungguhnya kita tidak perlu merasakan itu semua. Jika kita meninggalkan anak-anak untuk hal yang positif, maka jangan ragu. Anak-anak tidak harus selalu bersama ibunya kok, mereka juga memiliki dunianya sendiri. 

Cara untuk mengurangi rasa galau, rasa bersalah dan kasihan saat harus meninggalkan anak; kita harus FOKUS.  Saat kita harus bekerja, fokuslah dengan pekerjaan kita. Saat kita harus bersama anak, fokuslah bersama anak. Tidak ada sambil-sambilan. Tidak ada yang namanya ‘aku sedang bersama anakku kok’, tapi di tangan kita lagi pegang handphone dan asyik menjelajahi sosial media. Itu namanya kita sedang berada di dekat anak, namun ruh kita tidak bersamanya. Begitu juga saat kerja, fokuslah dengan apa yang harus kita kerjakan, sehingga pekerjaan kita cepat selesai dengan hasil yang maksimal. Jangan malah kepikiran anak yang di rumah, anak-anak rewel nggak ya… nangis nggak ya… mau makan nggak ya… Yang ada sudah nggak bisa membersamai anak, pekerjaan pun terbengkalai.

Mengenal Kekuatan Diri sebagai Langkah Awal Memulai Menjadi Bunda Produktif

Selain harus memahami hakikat rezeki dan fokus pada aktivitas yang kita kerjakan, kita juga perlu tahu bahwasanya Bunda Produktif adalah bunda yang senantiasa menjalani proses untuk menemukan dirinya, menemukan “MISI PENCIPTAAN” dirinya di muka bumi ini, dengan cara menjalankan aktivitas yang membuat matanya “BERBINAR-BINAR”. Kira-kira, selama ini aktivitas yang kita kerjakan sudahkah membuat kita merasa senang menjalaninya atau terpaksa karena keadaan?

Kalau sampai saat ini kita masih kebingungan dengan aktivitas apa yang bisa membuat mata kita berbinar-binar, mungkin kita belum benar-benar memahami kelebihan dan kelemahan diri kita. Nah, NHW #7 kali ini kami diminta untuk lebih mengenal potensi diri (strength typology).

Masuk ke web www.temubakat.com, lalu isi form yang ada; nama lengkap, tanggal lahir, pekerjaan, jenis kelamin, dll. Lalu kerjakan test tersebut hingga selesai dan mendapat hasilnya. Kita juga bisa download versi PDF nya. Setelah itu amati hasil tersebut dan konfirmasi ulang dengan apa yang kita rasakan selama ini. Sudah sesuaikah dengan apa yang kita jalani? Atau malah kita menemukan potensi yang baru dan belum pernah kita sadari selama ini?

Sebelum mengerjakan NHW #7 ini, sebenarnya saya sudah pernah mengerjakan tes di web ini. Namun, saya kurang fokus ketika mengerjakannya sehingga saya merasa ada beberapa hasil yang kurang sesuai dengan diri ini. Buat yang pernah mendengar Talent Mapping yang diperkenalkan Abah Rama, web ini merupakan bagian dari Talent Mapping tersebut. Memang sih lebih afdolnya ikut assesment-nya biar lebih lengkap ‘menguliti’ diri kita. Sayangnya hingga hari ini saya elum berkesempatan untuk ikut assesment-nya.

Semoga next time bisa ikut assesment test Talent Mapping aah, biar lebih paham sama diri sendiri. Karena ternyata memahami potensi kekuatan dan kelemahan diri juga berpengaruh dalam proses pengasuhan anak lo.

Oke, back to hasil ST30 (Strenght Typology) yang saya dapat setelah mengerjakan tes di web Temu Bakat.Ternyata hasilnya seperti ini;

Untuk meyakinkan diri bahwasanya memang seperti itulah potensi saya atau setidaknya yang mendekati, maka bahkan saya melakukan tes hingga empat kali. Setelah melihat hasil tesnya memiliki jawaban yang hampir sama antara satu tes dengan tes lainnya, maka saya baru bisa percaya kalau seperti inilah saya;

Monique anda adalah orang yang suka sekali mengatur penempatan atau penugasan orang , banyak ideanya baik yang belum pernah ada maupun dari pikiran lateralnya , selalu ingin memajukan orang lain dan senang melihat kemajuan orang , senang mengkomunikasi ideanya , suka mengumpulkan berbagai informasi atau teratur , senang menggabung-gabung kan beberapa teori atau temuan menjadi suatu temuan baru. (source; www.temubakat.com)

Dan meski belum dijelaskan secara lengkap, tapi saya merasa deskripsi yang diberikan web tersebut cukup menggambarkan diri saya. Berikut ini adalah keterangan dari potensi kekuatan yang saya miliki;

Akhirnya setelah mengenal kekuatan dan kelemahan diri saya, kini saatnya untuk membuat kuadran aktivitas, yang terdiri dari; kuadran 1 (aktivitas yang saya SUKA dan saya BISA), kuadran 2 (aktivitas yang saya SUKA tetapi saya TIDAK BISA), kuadran 3 (aktivitas yang saya TIDAK SUKA tetapi saya BISA), dan Kuadran 4 (aktivitas yang aku TIDAK SUKA dan aku TIDAK BISA). Inilah kuadran aktivitas versi saya.

Alhamdulillah, selesai sudah memahami materi tentang bunda produktif dan mengerjakan NHW #7. Semoga proses mengenali kekuatan dan kelemahan diri ini, bisa membuat saya menjadi seorang ibu yang tidak sekedar sukses, namun lebih dari itu; ibu yang BAHAGIA. Yaitu ibu yang mengerti apa yang ia inginkan sekaligus mensyukuri apapun yang ia kerjakan dan ia dapatkan, meski mungkin keinginannya tidak selamanya tercapai. yang mengerti apa yang ia inginkan sekaligus mensyukuri apapun yang ia kerjakan dan ia dapatkan, meski mungkin keinginannya tidak selamanya tercapai.

Sampai jumpa di postingan berikutnya.

Wassalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

One thought on “Menuju Bunda Produktif, Rejeki itu Pasti Kemuliaan yang Dicari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *