Jangan Takut Menegur Anak (Tidak Ada Anak Usia Dini yang Tidak Bisa Dilarang)

Malam ini,kami sekeluarga ada agenda makan di luar. Saya tidak sempat memasak hari ini sebab mengambil prioritas pekerjaan menyetrika. Jadilah lepas sholat magrib kami pergi ke rumah makan India, Maharaja, favorit keluarga.

Ada insiden kecil, namun Papanya terlalu memberikan reaksi yang berlebihan menurut saya. Faris menumpahkan segelas teh tarik hangat, beruntung gelasnya tidak sampai pecah atau mengenainya.

Ketika gelasnya tumpah, Papanya menarik tangan Faris dengan kuat. Saya yang melihat kejadian itu berusaha kalem, padahal dalam hati ingin rasanya menegur karena menurut saya ia tidak perlu bereaksi sampai sekasar itu, hiks.

Faris dengan rona muka yang kaget campur takut mendadak diam seribu bahasa dan hilang moodnya untuk melanjutkan makan. Saya pun akhirnya memberanikan diri untuk berkata kepada suami agar beliau lebih tenang dan bisa mengendalikan diri. Sebab saya tahu, Faris tidak sengaja menjatuhkan gelas itu. Janganlah melukai perasaan anak hanya karena masalah kecil. Astagfirullah hal ‘adzim.

Alhamdulillah setelah situasi sedikit mereda, kami meminta tolong kepada om pelayan agar membersihkan meja dari sisa tumpahan teh tarik sambil meminta maaf karena ketidaksengajaan anak kami.

Belum selesai dengan urusan tumpah menumpahkan, untuk yang kedua kalinya suami saya tersulut emosi karena lagi lagi Faris menumpahkan sesuatu, kali ini air minum dari botol tupperwarenya. Entah sengaja atau tidak yang jelas tadonya saya melihat ia berusaha membuka botol air minumnya sendiri, dan terjadilah kejadian botol tupperware yang jatuh ke lantai bersamaan dengan tumpahnya air minum.

Nampak seperti bom, tumpukan emosi yang sudah ditahan sejak tadi meledak-ledak. Kembali suami saya merebut botol tupperware dengan sedikit kasar dari tangan Faris. Ah, dalam hati saya berkata agaknya suami saya ini sedang lapar sehingga mudah sekali tersulut emosi.

Akhirnyaa tanpa basa basi Faris langsung memutuskan pindah tempat duduk di sebelah saya. Sabar ya, Pa.. la tagdhob wallakal jannah, jangan marah bagimu surga. ~

Refleksi

Umar bin Abi Salamah pernah bercerita tentang pengalaman masa kecilnya sewaktu masih diasuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bertutur “Sewaktu aku masih kecil dan berada di bawah asuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah tanganku ke sana dan ke sini di atas nampan saat makan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

,《يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ》.
فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِى بَعْدُ

Artinya:
“Wahai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan menggunakan tangan kananmu dan santaplah makanan yang dekat di hadapanmu.”
Maka terus menerus demikian cara makanku setelah itu.
(HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas merupakan salah satu pondasi utama seorang muslim dalam melakukan aktifitas makan berjamaah, akan tetapi yang menjadi perhatian kita di kesempatan ini adalah bagaimana suatu pengajaran nubuwah berupa teguran dan nasehat yang ditujukan kepada seorang anak ternyata akan membuahkan suatu pembentukkan karakter sejak dini.

Perhatikanlah hadits di atas, Umar ibn Abi Salamah dalam akhir hadits menyatakan bahwa dengan sebab teguran dan nasehat rasulullah, perilaku makan beliau yang pada awalnya kurang bagus, menjadi suatu kebiasan yang penuh barakah di sepanjang hidupnya.

Di dalam kisah lain, pernah suatu ketika cucu beliau shallallahu alaihi wasallam yang bernama Al Hasan ibnu Ali didapati sedang mengunyah sebuah kurma shadaqah, padahal syariat telah menetapkan bahwa Rasulullah dan keluarganya tidak diperbolehkan untuk memakan harta shadaqah, maka saat itu juga Nabi melarangnya seraya mengatakan,

《كِخْ كِخْ ارْمِ بِهَا أَمَاعَلِمْتَ أَنَّا لَا نَأْكُلُ الصَّدَقَةَ》

Artinya
“Kikh kikh, buanglah kurma itu! Tidakkah engkau tahu bahwa kita tidak memakan harta shadaqah.”
(HR. Muslim)

Sekali lagi, hadits di atas mengajari kita untuk tak segan melarang anak terhadap suatu perbuatan yang tidak patut, akan tetapi tentunya lebih bijak bagi kita untuk menyebutkan pula kepada mereka tentang sebab pelarangan tersebut dari sisi syariat, sehingga mereka akan terbiasa untuk beragama dengan dalil-dalil yang ilmiyah.

Oleh karenanya janganlah pernah bosan untuk menegur dan mengajari seorang anak kepada adab-adab yang mulia, Abul Ahwash rahimahullah seorang tabi’in murid dari shahabat Abdullah ibn Mas’ud radhiallahu anhu berkata bahwa gurunya (Abdullah ibn Mas’ud) pernah berpesan,

“تَعَوَّدُوا الْخَيْرَ، فَإِنَّ الْخَيْرَ بِالْعَادَةِ”
 (الزهد لوكيع بن الجراح, الأثر: ٣٢)

Artinya:
“Biasakanlah oleh kalian perkara kebaikan, karena sesungguhnya kebaikan itu dengan (adanya) pembiasaan.”
(Az Zuhd-Imam Waki’ Ibnul Jarrah, atsar no. 32)

#day26
#09Maret18 #Batam
#3y7m
#1y7m #KelasPortofolioAnakbyGPA #GriyaPortofolioAnak #MengikatMaknaSepenuhCinta #PekaAkanUnikAnak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *