Berkenalan dengan Arsitektur, Melihat Jembatan Barelang

Sebetulnya, apa manfaat ilmu arsitektur bagi anak usia dini?
Belajar arsitektur itu penting buat anak, karena pada dasarnya arsitektur itu tidak sekadar membuat bangunan, tetapi belajar bagaimana gedung yang didesain memiliki keselarasan. Arsitektur itu, kan, ilmu art yang logis. Misalnya, membuat rumah kemudian temboknya dicat merah. Kalau di arsitektur, harus ada alasan kenapa rumah dicat merah. Demikian pula ketika membuat desain sebuah kota, maka desainnya harus logis. Di mana letak rumah sakit, letak mall, pasar, fasilitas umum dan lainnya, jadi tidak asal membuat. Belajar arsitektur akan membuat otak kanan dan kiri seimbang.

Ada kejadian menarik yang saya amati dari kebiasaan Faris setiap hari selepas mandi, ia semangat sekali memilih baju mana yang akan dipakainya. Ia senang memadupadankan warna baju yang dikenakan,iya dia sedang belajar komposisi warna. Ini contoh kecil saja ternyata ia mulai menyukai sesuatu yang berkaitan dengan ilmu arsitektur.

Belakangan Faris tertarik dengan jembatan. “Ma, gimana sih cara membangun jembatan? Apa harus digambar dulu ya. ” tanyanya penasaran.

“Iya betul, kalau Faris membuat bangunan dari lego atau gigo biasanya Faris buat apanya dulu?”  Mama balik bertanya.

“Dibuat rangkanya dulu lah Ma biar kuat.” Masyaallah sudah mulai jalan logikanya.

Mempelajari arsitektur seharusnya disesuaikan dengan usia dan tingkatannya. Untuk anak usia dini perkenalan pada arsitektur dimulai dengan belajar menggambar alias sketching, mewarnai (colouring), dan painting untuk melatih motorik.  Belajar shapes, diperlihatkan ragam arsitektur sederhana, dan teori warna. Kalau sudah masuk usia sekolah secara bertahap anak-anak mulai bisa diajarkan variasi fungsi bangunan, teori warna, dan desain kota. Dan akan belajar banyak hal lain mengenai arsitektur sesuai dengan minat dan bakatnya.

Pasti enggak gampang ya, memperkenalkan dunia arsitektur kepada anak-anak. Ya, butuh perjuangan sendiri memang. Yang pasti, Mama sebagai fasilitator’ harus telaten dan sabar dalam membersamai anak-anak. Untuk menjawab rasa penasaran Faris akan jembatan maka kami ajak anak-anak trip ke Jembatan Barelang untuk melihat ragam arsitekturnya.

Jembatan Barelang adalah sebuah nama icon wisata kota Batam yang sangat tidak asing lagi di telinga pelancong. Apalagi bagi penduduk di Pulau Batam, juga bagi turis lokal dan mancanegara. Lokasi Jembatan Barelang terletak sekitar 20 kilometer dari Batam Centre, tempat kami tinggal.

Jembatan Barelang terdiri dari  enam buah jembatan yang menghubungkan tiga pulau besar dan beberapa pulau kecil yang termasuk dalam provinsi Kepulauan Riau. Nama Barelang sendiri merupakan kepanjangan dari Batam-Rempang-Galang. Batam-Rempang-Galang adalah nama tiga buah pulau besar yang dihubungkan oleh jembatan ini.

Jembatan ini dibangun pada tahun 1992 dan selesai tahun 1998, pemrakarsanya adalah Bapak B.J Habibie yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi.

Jembatan dengan total panjang 2.264 meter ini terdiri dari rangkaian enam jembatan yang masing-masing diberi nama raja yang pernah berkuasa pada zaman Kerajaan Melayu Riau pada abad 15-18 Masehi.

  1. Jembatan yang pertama yang kami  kunjungi bernama Jembatan Tengku Fisabilillah. Jembatan ini adalah jembatan yang paling dikenal oleh masyarakat. Jembatan ini menghubungkan Pulau Batam dengan Pulau Tonton dan memiliki lebar tinggi 642 x 350 x 38 meter. Struktur dan model jembatan ini mirip dengan golden gate-nya San Fransisco USA. Faris senang sekali melihat dan menyamakan dengan gambar yang ada di bukunya. Jembatan Golden Gate di San Fransisco mempunyai rentangan-rentangan yang menggantung pada kawat-kawat baja dari kabel yang terentang di antara dua menara yang tinggi.
  2.  Jembatan kedua bernama Jembatan Narasinga yang menghubungkan Pulau Tonton dengan Pulau Nipah, berbentuk lurus tanpa lengkungan dan memiliki panjang lebar tinggi 420 x 160 x 15 meter. Tidak kalah megahnya dengan Jembatan sebelumnya.
    Menurut pengamatan Faris, jembatan ini termasuk jembatan balok. Seperti sebagian besar jembatan jalan raya di kota, tergantung pada kekuatan materialnya-biasanya baja atau beton untuk menyangga balok di antara rentangannya yang diperkuat oleh kerangka di bawahnya.
  3. Jembatan ketiga bernama Jembatan Ali Haji adalah jembatan yang menghubungkan Pulau Nipah dengan Pulau Setokok dan memiliki panjang lebar tinggi 270 x 45 x 15 meter.
  4. Jembatan keempat bernama Jembatan Sultan Zainal Abidin yang menghubungkan Pulau Setokok dengan Pulau Rempang dan memiliki panjang lebar tinggi 365 x 145 x 16,5 meter.
  5. Jembatan kelima adalah Jembatan Tuanku Tambusai yang menghubungkan Pulau Rempang dengan Pulau Galang dan memiliki panjang lebar tinggi 385 x 245 x 31 meter. Jembatan ini mempunyai arsitektur yang indah dengan lengkungan di bawahnya seperti Jembatan London, sangat kokoh karena berat jembatan disalurkan ke samping ke pangkal jembatan bukan ke bawah.
  6. Jembatan keenam atau yang terakhir bernama Jembatan Raja Kecil,menghubungkan Pulau Galang dengan Pulau Galang Baru dan memiliki panjang lebar tinggi 180 x 45 x 9,5 meter.
    Jembatan keenam ini sangat dikenal karena nilai sejarah dari pulau yang dihubungkannya. Di Pulau Galang ini pernah dijadikan tempat penampungan sedikitnya 250.000 pengungsi dari Vietnam pada tahun 1975-1996. Bekas tempat pengungsian yang berada di Desa Sijantung, Kecamatan Galang ini masih menyisakan benda-benda atau bangunan-bangunan peninggalan para pengungsi yang kaya dengan nilai sejarah.

    🏗Ensiklopedi Membangun Jembatan 🏗

    Langkah pertama dalam membangun jembatan adalah membangun pilar-pilar dan pangkal-pangkal jembatan. Untuk membangun pilar di dalam air, dinding atau penahan air dari baja di bangun di dasar sungai.  Kemudian air dikuras pada saat pilar-pilar dibangun, sebelum dindingnya dilepas dan rentangan dipasang diantara pilar.

    Itulah keseruan kami mengamati ragam seni arsitektur di Jembatan Barelang, sampai jumpa di jalan-jalan selanjutnya 😊



    Referensi :
    [1] Bagaimana Benda Bekerja,  John Farndon, Pakar raya Pakarnya Pustaka.
    [2] Ensiklopedi Seni dan Budaya, Gendhis Paradisa.
    [3] Pusat Ensiklopedia Dunia.




    ‌#day29
    ‌#12Maret18
    #batam
    ‌#3y7m
    #1y6m
    #KelasPortofolioAnakbyGPA #GriyaPortofolioAnak #MengikatMaknaSepenuhCinta #PekaAkanUnikAnak






Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *