NHW#8 : Misi Hidup dan Produktivitas

Assalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Alhamdulillah tidak terasa sudah di penghujung kelas Matrikulasi. Kali ini saya kembali akan melanjutkan catatan ilmu yang saya peroleh di kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #5 yang telah berjalan hingga minggu ke delapan. Setelah minggu lalu, para peserta matrikulasi semakin mengenal potensi diri lewat tes talent mapping sederhana yang dilakukan lewat www.temubakat.com, minggu ini kami diminta untuk menggali lebih dalam lagi mengenai misi spesifik hidup.

Mungkin bagi orang lain kenapa sih musti begini begitu, sudahlah mengalir saja. Yang jelas Allah menciptakan kita di dunia pasti memiliki maksud tertentu. Masa iya sih kita tidak ingin mengetahui apa sebenarnya yang Allah inginkan dari diri kita. Kenapa kita diminta melewati kejadian A, B, atau C. Kenapa juga kita dipertemukan dengan si A, B, atau C. Kenapa Allah membekali kita dengan kemampuan X, bukan kemampuan Y, padahal kita ingin bisa melakukan Z. Ada banyak rahasia yang harus dipecahkan di dalam hidup, agar hidup kita memiliki arah dan kita bisa menjadi lebih produktif setelahnya.

NHW #8 kali ini berkaitan erat dengan NHW sebelumnya. Jika minggu lalu saya dipertemukan dengan sebuah jargon yang menginspirasi “rejeki itu pasti, kemuliaan harus dicari”, yang membuat saya semakin menyadari bahwasanya produktivitas hidup kita ini tidak akan selalu diukur dengan berapa rupiah yang akan kita terima, melainkan seberapa meningkat kemuliaan hidup kita dimata Allah dan seberapa manfaat hidup kita bagi sesama.

Pada minggu ini saya semakin dikuatkan dengan jargon “be professional, rejeki will follow”. “Be professional” artinya sangat penting bagi kita untuk bersungguh-sungguh dalam menjalankan peran. Kesungguhan dan keistiqomahan seseorang dalam menjalankan peran hidupnya akan meningkatkan kemuliaan dirinya di mata Allah dan kebermanfaatan untuk sesama.

Sedangkan “rejeki will follow” bermakna bahwasanya rejeki setiap orang itu sudah pasti, yang membedakan adalah nilai kemanfaatan dan keberkahannya seiring dengan brsungguh-sungguhnya seseorang menjalankan apa yang dia BISA dan SUKA.

Jika selama ini kita masih saja memusingkan uang, uang dan uang demi bertahan hidup. Bahkan tak jarang kita rela melakukan hal yang sebenarnya tidak kita sukai dan nikmati, hanya demi mendapatkan uang. Maka saat ini sudah saatnya kita untuk berbenah. Tanya pada diri sendiri benarkah yang kita jalani ini sungguh-sungguh kita sukai dan nikmati, ataukah ada hal lain yang lebih bisa membuat kita berbinar-binar?

Berkaca dari refleksi diri perjalanan hidup beberapa tahun ke belakang saya merasa orang tua seringkali mencekoki anaknya untuk sekolah yang tinggi, dapat nilai bagus biar gampang cari kerja. Kalau sudah dapat pekerjaan, pastikan kumpulkan uang yang banyak biar bisa hidup bahagia. Nyatanya setelah lulus kuliah, saingan untuk mendapatkan sebuah pekerjaan antrenya Masyaallah. Bahagia? Sayangnya banyak yang tidak. Rata-rata justru banyak yang bilang mereka salah jurusan bertahun-tahun dan tidak menikmati pekerjaannya.

Para orang tua, termasuk saya sebaiknya mengubah mindset-nya. Bahagia itu bukan dijadikan tujuan. Namun kita harus dalam kondisi bahagia agar bisa mencapai sebuah tujuan. Kita harus tahu apa yang kita sukai, lalu jalani dengan sepenuh hati. Hal yang membuat mata kita berbinar-binar tentunya akan membuat kita lebih bersungguh-sungguh dalam menghadapi segala rintangan yang nantinya akan kita hadapi.

“Do your passion, money will follow”, bu Septi menyampaikan “uang akan mengikuti sebuah kesungguhan, bukan bersungguh-sungguh karena uang.”

Sudahkah Misi Spesifik Hidup Diketemukan?

Pada dasarnya menemukan misi hidup itu tidak ada hubungannya dengan usia seseorang. Semakin awal seseorang merasa “galau” kemana arah hidupnya, semakin “risau” untuk mencari sebuah jawaban “mengapa Allah menciptakan dirinya di muka bumi ini?” maka semakin cepat akan menemukan misi hidup.

Kalau di pendidikan berbasis fitrah, proses ini secara alamiah akan dialami oleh anak-anak pre aqil baligh akhir (sekitar 10-13 tahun) dan memasuki taraf aqil baligh (usia 14 tahun ke atas). Kalau sampai hari ini ternyata kita masih galau dengan misi hidup kita, maka bersyukurlah, karena kita jadi tahu kesalahan proses pendidikan kita sebelumnya, sehingga nanti tidak perlu lagi mengalami kegalauan tersebut pada usia paruh baya yang banyak dialami oleh sebagian besar manusia (mid-life crisis).

Maka sekarang, jalankan saja yang kita BISA dan SUKA tanpa pikir panjang, karena Allah pasti punya maksud tertentu ketika memberikan kepada kita sebuah kemampuan. Apabila kita jalankan terus menerus, kemungkinan itulah misi hidup kita.

Seseorang yang sudah menemukan misi hidup tersebut apabila menjalankan aktivitas produktif akan lebih bermakna, karena keproduktivitasannya digunakan untuk mewujudkan misi-misi hidupnya. Sehingga selalu memiliki ciri-ciri :

a. Selalu bersemangat dengan mata berbinar-binar
b. Energi positifnya selalu muncul, rasanya tidak pernah capek.
c. Rasa ingin tahunya tinggi, membuat semangat belajar tinggi
d. Imunitas tubuh naik, sehingga jarang sakit, karena bahagia adalah imunitas tubuh yang paling tinggi.

NHW #8 ini disusun untuk mempermudah para peserta kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional dalam menemukan misi spesifik hidupnya. Berikut ini langkah-langkah untuk menemukannya;

a. Mengambil salah satu aktivitas yang telah aku tulis di kuadran SUKA dan BISA.

Saya memutuskan untuk mengambil aktivitas “menulis” karena memang hal itulah yang paling bisa membuat saya berbinar-binar dan bersemangat, hingga sering lupa waktu kalau sudah melakukan aktivitas tersebut. Meski begitu ke depannya, aktivitas tersebut harus dikombinasikan dengan aktivitas lainnya untuk mencapai tujuan yang saya inginkan.

b. Kini saatnya saya harus menyelesaikan tantangan “BE DO HAVE” di bawah ini :

1. Saya ingin menjadi apa ? (BE)
Saat ini aku ingin menjadi penulis yang bisa menghasilkan karya-karya yang lebih bermanfaat, tidak hanya untuk diri sendiri, namun juga bagi mereka yang membacanya.

# melakukan apa ? (DO)

Menulis, menulis, menulis lebih banyak lagi. Namun untuk bisa menghasilkan tulisan yang berkualitas, maka saya harus lebih banyak membaca buku berkualitas, bersilaturahmi dengan orang-orang yang menginspirasi, menghadiri kegiatan-kegiatan yang membawa banyak kemanfaatan, traveling ke tempat-tempat baru untuk memperkaya wawasan dan pengalaman. Belajar teknik menulis agar bisa menghasilkan tulisan yang lebih baik lagi. Belajar lebih dalam tentang SEO, fotografi, dasar design grafis dan monetize blog/vlog. Belajar melakukan self-editing agar tulisan lebih enak dibaca dan mudah dipahami.

3. Saya ingin memiliki apa? (HAVE)

– Melanjutkan konsistensi menulis di blog keluarga portofolioanak.com dengan menulis lebih banyak lagi, tidak hanya mendokumentasikan kegiatan keluarga kami tetapi juga artikel yang mudah-mudahan bermanfaat bagi pembacanya.

– Menyusun buku duet bersama keluarga bertema parenting tentang kumpulan pertanyaan unik dari anak-anak selama membersamai mereka.

– Mendirikan agensi penulisan dan penerbitan.

c. Untuk lebih mengkerucutkan tujuan hidup saya, terutama berkaitan dengan hobi menulis saya, maka saya harus menyusun rencana pada 3 aspek dimensi waktu di bawah ini:

1. Apa yang ingin aku capai dalam kurun waktu kehidupan saya (lifetime purpose):

– Menghasilkan karya yang bermanfaat entah itu melalui blog atau tulisan-tulisan yang nantinya bisa saya bukukan.

– Saya ingin bisa memfasilitasi orang-orang yang ingin belajar menulis, khususnya mereka yang ingin writing for healing, mereka yang memiliki inner child, para remaja yang memiliki kesulitan berkomunikasi atau bermasalah dengan orang tuanya, para ibu yang ingin memiliki portofolio online buah hati mereka.

– Menjadikan tulisan-tulisan saya sebagai warisan dan kenangan untuk anak-anak kelak. Maka itu saya ingin menuliskan lebih banyak tentang perjalanan hidup saya bersama mereka; jatuh bangun saya belajar untuk menjadi ibu profesional bagi mereka. Saya ingin menjadi ibu yang tak pernah berhenti belajar, agar anak-anak juga tumbuh menjadi lifetime learners.

2. Apa yang ingin saya capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan (strategic plan):

– Monetize Blog.

– Menerbitkan buku solo dengan tema parenting.

-Membuka lapangan kerja dengan mendirikan agensi penulisan dan penerbitan yang mewadahi penulis-penulis pemula.

3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (new year resolution):

– Disiplin mengatur jadwal postingan blog keluarga, portofolioanak.com, sehari satu postingan.

-Memfasilitasi teman-teman yang ingin belajar blogging bersama di rumah.

-Menambah referensi buku bacaan dan menemukan genre menulis.

Alhamdulillah akhirnya terjawab sudah semua pertanyaan pada NHW #8 ini. Namun ini baru awalan, selanjutnya yang saya butuhkan adalah mulai berkomitmen untuk “BERUBAH” dari kebiasaan-kebiasaan tidak baik. Harus gerak cepat kemudian buat prioritas dan action.

Ada yang sudah menemukan jugakah misi spesifik hidupnya? Kalau sudah, selanjutnya kita perlu menyusun langkah-langkah usaha apa saja yang bisa kita lakukan untuk menunjang sebuah produktivitas hidup kita. Kita bisa mulai dengan menetapkan target waktu dan jadwal kegiatan selama satu tahun, serta menentukan ukuran atau indikator keberhasilan dalam setiap kegiatan yang kita lakukan. Yang paling penting adalah membuat prioritas dan pilih hal-hal yang memang kita perlukan. Hindari membuat daftar yang terlalu panjang, karena hal tersebut bisa membuat kita “gagal fokus”.

Semoga postingan ini bermanfaat ya. Jangan menunggu sukses untuk berbahagia. Berbahagialah dan sukses pun akan datang. Sampai jumpa di postingan berikutnya!

Wassalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *