Membuat Visi Misi Keluarga (Belajar dari Keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam)

Membuat Visi Misi Keluarga (Belajar dari Keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam)

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

“Ya Allah, berikanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berikanlah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Bukhari no. 3370)

Ini adalah salah satu doa dzikir di pagi dan petang hari yang Rasulullah ajarkan kepada kita. Ini adalah shalawat untuk dua manusia terbaik di bumi ini, bukan hanya untuk dua manusia tapi kepada kedua keluarga yaitu keluarga Rasulullah Muhammad Shallallahu a’laihi wa sallam dan keluarga Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam
Artinya dua keluarga ini adalah keluarga yang istimewa dan mulia.

Dalam Al-Qur’an hanya dua manusia yang mendapat gelar Uswatun Hasanah, yaitu Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam (Qs. Al Mumtahana : 4) dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Qs. Al Ahzab : 21)

Allah memilihkan untuk kita dua manusia terbaik sebagai teladan kita dan Allah mengabadikan nama keduanya dalam AlQur’an. Inilah islam, tidak hanya memberi teori namun Allah juga hadirkan contoh nyata sosok manusia untuk kita teladani

Keshalihan dua keluarga ini bukan hanya untuk keluarganya sendiri,  tapi juga memiliki generasi yang menshalihkan (muslih). Pantaslah jika Nabi Ibrahim disebut Bapak para Nabi, dan Rasulullah adalah salah satu buah dari keteguhan doa Nabi Ibrahim.

Jika kita ingin mengambil pelajaran dan hikmah terbaik untuk keluarga kita (terutama untuk ilmu parenting), maka kita harus kembali menengok kisah-kisah keluarga terbaik ini dalam Alqur’an dan Assunnah.
Adapun inspirasi parenting dari sosok mulia Ibrahim Alaihissalam bisa kita tengok dalm surah Ibrahim ayat 35-41 dan kisahnya secara lengkap ada dalam Hadits Shahih Bukhari no. 3364).

Dalam Qs. Ibrahim : 35-41 kita akan menemukan tahapan-tahapan dalam mendidik anak yang dilandaskan kecintaan yang tinggi kepada Allah.

Tahapan dalam mendidik Anak(Qs.Ibrahim:35-41)

1. Tempat
Tempat dimana anak kita dibesarkan (Mencari Tempat Tinggal yang Baik)

{وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ} [ابراهيم : 35]

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhan jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman,  dan jauhkan aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala”.

🔹Pilihlah tempat yang nyaman (14:35)
(kenyaman yang tidak hanya terkait dengan fasilitas dan fisik bangunan rumah)
Tetapi rumah yang membuat penghuninya betah di dalamnya. Rumah menjadi magnet bagi penghuninya, selalu dirindu jika jauh darinya.
Sebagaimana sabda Rasulullah :

Seperti dalam sabda Rasulullah, “Hendaknya rumahmu cukup untuk menampungmu”, makna cukup ini bukan bermakna ukuran rumah yang besar, namun bermakna nyaman untuk ditinggali.

🔹 Dekat dengan Masjid (14:37).
Jika mencari/membeli rumah pastikan dimana masjidnya.
“Sebaik-baik tempat adalah masjid dan seburuk-buruk tempat adalah pasar.  (HR. At Thabrani & Alhakim)

2. Membuat Visi Pengasuhan
Dalam membuat visi pengasuhan ini yang harus diperhatian adalah peran antara ayah dan bunda.  Dimana ayah sebagai Kepala sekolah dan ibu sebagai sekolahnya. Jangan sampai ada pertukaran peran agar visi pengasuhan dapat berjalan dengan baik.

Visi Pengasuhan Ibrahim(Qs.Ibrahim : 35-37)

A. Akidah/Tauhid (14:35)
“..Jauhkan aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala”.

🔹 Pendidikan , Tanamkan Tauhid yang benar pada anak dan jauhkan anak-anak dari kemusyrikan baik (permainan,media-media atau tontonan anak, dll)

🔹 Senantiasa Mendoakan Anak, Ibrahim adalah figur orangtua yang sangat kuat dalam doanya. Ia melepaskan Ismail dengan doa “Rabbana inni askantu mindzurriyati..”. Ini pelajaran bagi orangtua, saat orangtua tidak dapat membersamai anak maka kuatkan doa agar anak kita senantiasa dalam penjagaan Allah.

🔹 Menjauhkan anak dari syaiton, berdoa agar anak jauh dari gangguan syaiton.
Tidak boleh ada kebiasaan syaiton di rumah kita, karena itu akan mempersulit kita mendidik generasi.

Sebagaimana Hannah istri Imran yang meminta peelindungan untuk maryam dari godaan syaiton, begitu pula yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim kepada Ismail dan Ishaq yang kemudian dilakukan pula oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Diriwatkan dari Abdukkah bin Abbas Radhiyallahu anhu dia berkata : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon perlindungan kepada Allah untuk Hasan dan Husain. Beliau bersabda, “Moyang kalian (Ibrahim) meminta perlindungan kepada Allah untuk Ismail dan Ishaq dengan ucapan berikut, A ‘uudzu bikalimaatillaahittammah, min kulli syaithaanin wa hammatin, wa min kulli ‘ainin lammatin (artinya : Aku berlindung kepada Allah dengan Kalimat-Nya yang sempurna, dari setiap setan dan marabaya, serta dari setiap mata yang jahat).” (HR. Bukhari no.3371)

B. Ibadah (Mendirikan Shalat) (14:37)

{رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ} [ابراهيم : 37]

” Ya Tuhan,  sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah)  yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu)  agar mereka melaksanakan shalat,  maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan,  mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Nabi Ibrahim berdoa agar dirinya dan keturunannya menjadi Ahli Shalat.
Begitu pentingnya sholat karena sholat adalah pondasi keislaman kita, yang memisahkan diri kita dari kekafiran dan kemusyrikan.
Sabarlah dalam mengajarkan anak sholat sampai ia baligh (0-15tahun).

C. Penerimaan Sosial
Mengajarkan Akhlak Mulia (14:37)
Masih di ayat yang sama pada kalimat :
“…..maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung pada mereka…. ”

Ini merupakan bentuk pengakuan sosial atas akhlak mulia atau perilaku sosial untuk seseorang,  karena secara fitrah masyarakat menyukai manusia yang berakhlak baik.

D. Fisik
Kebutuhan fisik, atau materi menjadi prioritas terakhir. “….dan berilah mereka rezeki dark buah-buahan,  mudah-mudahan mereka bersyukur. ”

Jika Aqidah dan akhlak telah baik, maka mereka anak-anak kita akan mencari rezeki dengan keberkahan serta kesyukuran. Bukan menjadikan dunia sebagai tolak ukur, namun akhirat yang senantiasa mereka kejar.

Selain tahapan-tahapan pendidikan tersebut,  ada beberapa pelajaran lain bagi kita para orangtua jika kita mencermati kembali kisah dari keluarga Ibrahim,  diantaranya :

1. Cinta kepada Allah yang utama
Jadikah orangtua yang memiliki kecintaan luar biasa terhadap Allah, tidak terlalaikan oleh godaan dunia yang sementara.
Lihatlah bagaimana ujian berat yang menimpa Ibrahim, bahkan harus mengorbankan buah hatinya(Ismail) untuk disembelih padahal ia menanti kelahiran buah hatinya berpuluh-puluh tahun.
Namun ia selalu senantiasa dalam ketaatan.
Cinta tertinggi adalah cinta pada Allah dan Rasul-Nya.

2. Menjadi Ayah yang berkepribadian kokoh
Ibrahim memiliki ciri khas, ia kokoh kepribadiannya. Sehingga ia menjadi sosok hero dihadapan anak.

Jika kita baca kisah Nabi Ibrahim yang meminta Ismail menceraikan istrinya, tentu jika Ayah tidak memiliki tempat yang istimewa dalam hati anak hal itu tidak akan sanggup ia lakukan. Apalagi mengingat Ibrahim diriwatkan hanya 3 atau 4 kali bertemu dengan Ismail(khilafiyah).

3. Ibu Menjadi Jembatan bagi Ayah
Ibu menceritakan kehebatan sosok Agah meskipun Ayah tidak hadir bersama anak.
Anak terikat pada sejarah pengasuhannya, Ibunda Hajar mampu memberikan sejarah mengorbanan yang luar biasa sebagai seorang Ibu (Peristiwa Sai).

Ibunda Hajar mampu memberikan sejarah baik tentang Ayahnya(Ibrahim) kepada Ismail. Ismail dan Ibrahim tidak bertemu namun mereka memiliki ikatan hati dan cinta yang sangat kuat dan mendalam. Ini dikarenakan sang ibu yang selalu menceritakan cerita-cerita baik tentang Ayahnya.

Maka untuk para istri, sebaiknya menjaga qowwamah, kebaikan, dan kewibawaan suami di depan anak-anak.

4. Menjadi Teladan Bagi Anak
🔹 Selalu memulai dari diri sendiri,  mulailah segala kebaikan dari diri sendiri(orangtua) sebelum ke anak. Mengacu doa Ibrahim Alaihissalam yang selalu dimulai dari dirinya terlebih dahulu.
(Qs. Ibrahim :40-41)

Mendidik dengan tingkah laku jauh lebih berharga daripada sejuta kata yang tidak bermakna.

5. Doa yang tidak pernah putus
🔹 Doa adalah pengikat anak disaat jauh
🔹Hati anak terpaut karena Allah yang mengikatnya “dan Dia (Allah)  yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman).  Walaupum kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi,  niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka,  tetapi Allah telah mempersatukan hati merdka.  Sungguh,  Dia Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.”

Dan masih banyak lagi pelajaran yang mahal dan sangat berharga yang bisa kita dapatkan dari kisah salah satu keluarga terbaik dalam AlQur’an ini.  Maka mari sama-sama kita kembali pada AlQur’an dan AsSunnah sebagai pedoman utama dalam pendidikan keluarga kita. ❤️

#CeritaHijrah
#30CeritaHijrah
#CeritaHijrahDay16

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *