Personal Branding #KeluargaGalih

Di era teknologi digital seperti sekarang, banyak orang sukses dengan memanfaatkan media sosial. Seseorang yang awalnya biasa-biasa saja, bisa menjadi terkenal karena melakukan personal branding yang tepat.

Mengutip Wikipedia, personal branding merupakan proses ketika seseorang dan pekerjaannya dijadikan sebuah brand. Sebagai contoh, Bapak Emil melalui media sosial Facebook, Twitter, Instagram, dan lainnya, memberikan informasi kepada publik tentang siapa dirinya dan kegiatan-kegiatannya.  

Personal branding penting untuk membangun reputasi positif seperti yang seseorang inginkan. Terutama jika kita adalah seorang pelaku bisnis atau ingin mengembangkan karir. Apabila personal branding sudah terbentuk, maka akan banyak keuntungan yang menghampiri kita.

Misalnya pelanggan atau klien akan lebih percaya, informasi tentang bisnis kita pun lebih mudah menyebar, prestige meningkat, kita juga akan dipandang sebagai ahli di bidang tertentu, dan manfaat-manfaat lainnya.

Namun, bagaimana jika seperti saya, yang kesehariannya sebagai ibu rumah tangga? Perlukah personal branding? Tergantung apakah ingin membangun reputasi atau tidak. Menurut saya sih ibu rumah tangga pun perlu juga melakukan personal branding.

Adakalanya ibu rumah tangga juga kumpul-kumpul kan, misalnya waktu arisan, pengajian atau kegiatan berkomunitas. Di media sosial ibu-ibu juga perlu personal branding. Yang terpenting, jangan sampai kita salah memproyeksikan image kita. Apalagi kalau ibu kan bawa nama anak dan keluarga.

Jika ingin memulai personal branding di media sosial? Kita sebaiknya mengambil spesifikasi tentang diri kita. Langkah awalnya: Anda siapa dan ingin dikenal sebagai apa?

My Home Team

Setelah obrolan panjang sehingga kami memilih nama keluarga kami #keluargagalih. Tanya kenapa? Karena suami sebagai leader, dan beliau lebih suk menggunakan ma yrtdr&cb , nhh memilih #lebih nyaman menggunakan namnpan

Definisi GALIH menurut kamus besar bahasa indonesia :

1. teras kayu yg keras dan berwarna hitam krn tuanya (lha ini yg agak pas…tapi kenapa nyangkut-nyakut tua dan berwarna hitam ya hiks

Sedangkan dalam bahasa Jawa, GALIH mempunyai makna sebagai perasaan terdalam seseorang. Berasal dari kata penggalih sebuah kata krama inggil (kata dalam strata tertinggi dalam bahasa Jawa) yang berarti perasaan, rasaan kalbu.

Umar Kayam dalam Para Prih menggunakannya sebagai sebuah simbolisasi (sanepan) dalam nama sebuah desa yaitu Wanagalih . Wana yang merujuk pada hutan dan galih pada perasaan terdalam. Bukankah belantara hutan identik dengan pohon-pohon besar dengan galih yang berlapis-lapis karena waktu? Sebagai sebuah lapis terdalam dalam diri seseorang, galih tentu juga menjadi simbolisasi tentang betapa sebuah perasaan terdalam kuat atau lemahnya terbentuk oleh usia. Usiapun tidak harafiah berarti umur biologis. Lapis terdalam inilah yang menjadi patokan untuk menilai kualitas. Berkait dengan pohon, GALIH menjadi ukuran untuk menilai kualitas kayu yang bagus dan tidak. Dan karena keluarga kami dilahirkan dari jawa maka arti kata dari bahasa jawalah yang dipilih. Harapan pemilihan nama ini agar keluarga kami orang, GALIH juga menjadi alat ukur kebijakan dan kedewasaan orang seorang dalam menghadapi hidup dan kehidupan.

Visi misi keluarga muslim bagi keluarga kami

Pertama,
❤️VISI:
666 (At Tahrim: 6)

❤️MISI:
NASIHAT LUQMAN

Baca juga : Membuat Visi Misi Keluarga (Belajar dari Keluarga Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam

Membuat Visi Misi Keluarga (Belajar dari Keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam)

Kedua, ketiga dan keempat dst …. menyesuaikan dengan apa yg ingin dicapai keluarga. Misalnya, sementara ini keluarga kami tumbuh di sebuah kota industri, Faris anak sulung kami memiliki kecerdasan bahasa yang tinggi. Di Batam, ia bisa jadi belajar bahasa dan komunikasi untuk menunjang kesuksesan berhubungan dengan yang lain.

Untuk anak kedua kami, Irrbadh yang fokus dan tekun bermain dengan hal-hal yang berhubungan dengan elektro dan pertukangan. Maka mungkin nanti akan kami coba fasilitasi ia untuk mengikuti kelas robotik.

Itulah indahnya PBK alias Pendidikan Berbasis Keluarga, semua customized, namun tentunya membutuhkan doa dan kerja keras untuk melakukannya.

Menurut keluarga kami, panduan setiap tahun hanya tersedia bagi guru yang harus melaporkan perkembangan anak didiknya. Tapi dalam Islam, yardstick itu ada sesuai syariat. Misal, usia 7 tahun anak sudah bisa diajak shalat. Maka kurikulumnya adalah fiqh shalat hingga cara berkomunikasi ala Rasulullah bagi orang tua agar anak mau shalat.

Usia 10th, adalah saat anak sudah aware bahwa dia harus shalat dan mengetahui dirinya. Maka kurikulumnya adalah ilmu2 diin tg dibutuhkan menjelang baligh, agar saat baligh anak sudah siap berranggubg jawab dengan diri sendiri.

Yg harus dilepas dalam PBK ini adalah pola-pikir sekolah yg semua harus seragam, semua harus nilainya 100, semua harus bisa semua pelajaran di akhir tahun. BUKAN! Sebagaimana setiap anak adalah unik, maka pembelajaran ilmu agama pun disesuaikan kecepatannya.

Itulah tadi sedikit cerita mengenai profil keluarga kita. Jika ingin tahu keseharian keluarga kami dan kegiatan apa saja selama membersamai anak-anak silahkan berkunjung ke platform blog pribadi keluarga kami di portofolioanak.com.
Blog ini berisi junal harian rekam jejak kedua anak kami, alfarisi dan alirbadh. ❤️

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *