Ketika Anak Sedang Hobi Memanjat

 

Setiap hari, di sudut rumah kami selalu ada adegan saya, Mamanya anak-anak lari-larian demi menghampiri dua AL yang berusaha memanjat terali (kisi–kisi) jendela rumah. “Faris, Irbadh ayo turun, nanti jatuh!” Seru saya dengan panik. Kemudian, dengan sigap saya meraih Irbadh dari terali itu. Namun, beberapa saat kemudian, ketika saya lengah, entah inisiatif sendiri atau bisikan dari Masnya ia kembali memanjat terali itu. Kali ini, ia berhasil memanjat setengah terali jendela setinggi 2 meter itu. Terkadang saya kelepasan berteriak–teriak panik, sementara anak-anak malah tertawa–tawa.

Ya, mungkin begitulah reaksi umum orangtua ketika “memergoki” balitanya tengah memanjat. Jangankan memanjat terali jendela, ketika melihat si batita berusaha naik ke atas meja dengan menggunakan kursi pun, kebanyakan orangtua langsung bergegas melarang. Saya pun demikian, tapi itu dulu hehe.

Kenapa harus dilarang? Padahal, di usianya sekarang, anak-anak memang sedang giat–giatnya melakukan aktivitas memanjat karena koordinasi antara kaki, tangan, dan matanya yang semakin baik. Ditambah, daya eksplorasi di usia ini pun bertambah besar, hingga setiap kali melihat hal baru, mereka selalu tertarik untuk mencobanya, tak peduli berbahaya atau tidak karena mereka memang belum mamahaminya.

Itulah mengapa, ketika anak memanjat apa pun yang ada di dekatnya, orangtua tidak boleh mencap anaknya bandel, nakal, atau tidak mau diatur. Kita sebagai orang tua harus memahami bahwa balita hanya ingin memuaskan keinginan menggunakan kemampuannya dan bereksplorasi.

Saatnya Anak Berkembang

Memang, tidak sedikit orangtua yang khawatir atau bahkan takut anaknya terjatuh. Hal ini wajar. Siapa sih orangtua yang menginginkan anaknya celaka? Tidak ada kan! Hanya saja, jangan sampai kekhawatiran atau ketakutan orangtua ini malah membuat anak jadi tak berkembang. Ini tentu akan merugikan anak. Kejadian ini seperti anak sulung saya yang belum apa-apa sudah takut mencoba karena sewaktu kecil saya suka heboh kalau anak mainnya (agak) rusuh dan berpotensi terjadi cidera. Istilahnya overprotektif gitu, mungkin karena anak baru satu kala itu jadi banyak ketakutan-ketakutan dalam diri saya yang justru membunuh kreativitas dan inisiatifnya untuk mencoba.

Jadi, berilah kesempatan kepada anak untuk menjajal kemampuannya dan mengeksplorasi lingkungan selama tak membahayakan dirinya, Mak.

Jangan Panik, Biarkan Ia Bereksplorasi

Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan orangtua ketika anak hendak memanjat :

1. Pengawasan Ketat

Jangan sampai anak terpeleset atau pegangannya terlepas. Jika terpeleset dan jatuh, selain menyakitkan juga dapat membuat anak “trauma” sehingga ia tak mau memanjat lagi.

2. Jika anak belum mampu melakukannya, arahkan dan ajarkan bagaimana melangkahkan dan menjejakkan kaki, cara memegang yang benar, bahkan sokong anak untuk memudahkannya memanjat.

3. Beri semangat pada anak untuk terus berlatih memanjat sampai berhasil. Jika perlu, kita membantunya sampai ia berhasil melakukannya.

4. Berikan pujian agar anak-anak semangat memanjat kembali. Tetapi bila ia gagal, terus dukung agar anak mencoba lagi sambil memberikan semangat.

5. Beri tahu mana tempat/benda yang boleh dipanjat dan mana yang tidak disertai pula alasannya.

6. Bila anak kedapatan memanjat benda yang dilarang, kita harus tetap bersikap tenang. Segera hampiri anak-anak dan berikan pengertian bahwa apa yang dilakukannya itu bisa membahayakan dirinya.

7. Apabila anak-anak kembali memanjat benda yang dilarang sekalipun sudah dinasihati, jangan dimarahi, tetapi ulangi kembali nasihat kita sampai anak berhenti melakuknnya.

8. Bisa jadi, nasihat kita tidak mempan, anak terus mengulangi dan mengulangi lagi. Jika kondisinya demikian maka dapat dialihkan perhatiannya pada aktifitas lain yang lebih menarik atau ajak mereka memanjat benda lain yang aman.

Mungkin cara–cara di atas, ibu–ayah tak panik lagi ketika anak-anak memanjat, sementara mereka pun dapat mengembangkan kemampuannya secara optimal.

Hobi Naik Turun Tangga

Selain memanjat, anak-anak pun suka naik–turun tangga. Terutama bagi Irbad yang usianya memasuki 19 bulan. Aktivitas ini mirip dengan memanjat, butuh koordinasi gerakan motorik seluruh anggota tubuh. Jadi jangan dilarang ya,Mak tetapi temani dan tuntun anak naik–turun tangga. Mari kita ajarkan caranya mengangkat dan menjejakkan kaki, memosisikan tubuhnya, dan memegang pagar tangga.

Sebagai upaya belajar menjaga keseimbangan anak, anak-anak diajarkan caranya berpegangan pada pagar tangga sementara tangannya yang satunya dipegang oleh orangtua. Wajib diisi de angan memaksa anak langsung sampai ke undakan terakhir. Jika ia letih, beristirahatlah sejenak kemudian lanjutkan lagi setelah anak kelihatan stabil kembali.

Memang, banyak anak ketagihan naik turun tangga.  Memang akan sedikit menguras energi dan letih menuntunnya, namun kita tetap perlu memfasilitasinya demi perkembangan kemampuan motorik anak.

Ketika naik turun tangga, kita bisa mengajari anak mengenal urutan bilangan dengan mengajaknya menghitung langkah kaki dan jumlah undakan. Atau menyebutkan warna dari tangga. Ingat ya, Mak jangan terlalu cepat supaya anak bisa menangkapnya dengan baik. Tak lupa sebaiknya kita memperhatikan jarak antar anak tangga dan pastikan pinggiran setiap anak tangga landai dan tidak runcing agar tidak melukai kaki anak.

Bila Anak Dilarang

Inilah beberapa dampaknya pada anak bila orangtua kerap melarang anak atau bahkan tidak mengizinkannya sama sekali untuk memanjat.

1. Anak tidak memiliki kesempatan mencoba kemampuan yang dimilikinya.
Kemampuan motorik dan koordinasinya sudah baik, ia bisa naik ke atas kursi, dan lainnya. Jika tak digunakan, kemampuannya itu tidak terstimulasi sehingga perkembangan kemampuannya tidak akan maksimal. Anak yang diberi kesempatan biasanya kematangan motoriknya akan lebih baik dibandingkan anak yang tak diberikan kesempatan.

2. Anak Jadi Suka Parno dan Takut Berlebihan.

Melihat ekspresi orangtuanya yang takut, cemas, dan marah, anak pun akan berekspresi sama sehingga ia tak berani melakukan aktivitas–aktivitas lain yang cukup menantang. Ini bisa berpengaruh hingga di usia prasekolah, ketika anak lain berani memanjat wahana bermain seperti seluncuran, ia malah ketakutan.

3. Menjadi Pribadi yang Penakut dan Ragu-Ragu

Karena tidak diberikan kesempatan untuk mengeluarkan kemampuannya, bisa jadi anak-anak selalu takut dan ragu–ragu melakukan sesuatu karena mereka dibayangi kegagalan.  Anak menjadi pasif, tidak kreatif, minim ide dan gagasan, selain juga akan menghambat pertumbuhan kemampuannya dan membuat anak tidak memiliki kepercayaan diri yang baik.

 

Manfaat Memanjat Untuk Keseimbagan Otak

Memanjat merupakan  aktivitas stimulus yang melibatkan hampir semua indera dan motorik tubuh, yaitu:

1.Koordinasi motorik kasar dan halus

2. Sensori penglihatan, pendengaran, taktil, vestibular, dan proprioseptif.

3. Koordinasi antara belahan otak kanan dan kiri.

Aktivitas memanjat dengan didampingi orang dewasa dapat mendatangkan MANFAAT STIMULUS yang banyak, antara lain:

1. Menstimulus perkembangan aspek motorik dan sensori integrasi.

2.Menstimulus aspek bahasa anak melalui latihan keterampilan menyimak (listening) dan memahami maksud/isi, sebagai bekal keterampilan berbahasa.

3 Melatih keseimbangan otak kanan dan kiri.

4. Mengembangkan kemampuan bernalar, meningkatkan fokus, serta menumbuhkan kepercayaan diri (self confident) dan penghargaan diri (self esteem).

Jadi jangan ragu lagi meng ajak dan dampingi anak-anak kita berlatih memanjat ya, Mak 😊

 

 

#HijrahParenting

#CeritaHijrah

#CeritaHijrah23

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *