Aliran Rasa Matrikulasi Insitut Ibu Profesional Batch #5 Batam Kepri

Assalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Alhamdulillah, lega rasanya setelah berjibaku mempelajari sembilan materi dan Nice Homework (NHW) yang membantu saya mengenal dan mengembangkan diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Beruntung sekali rasanya saya diberikan kesempatan dan dipercaya oleh Fasilitator untuk mengikuti program CMSE (Class Meeting Student Exchange) Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #5.

Ketika diminta untuk membuat aliran rasa tentang apa yang saya rasakan ketika mengikuti Matrikulasi IIP ternyata tidak mudah, memilih kalimat yang tepat untuk mewakili perasaan setelah 9 minggu lebih melewati hari-hari bersama di kelas matrikulasi. Dari tidak kenal menjadi kenal, curhat-curhatan, baik sesama peserta maupun dengan fasilitator yang telah dengan sabar mendampingi selama ini. Kalau mau dialirkan semua rasa yang ada, kayaknya bisa jadi cerita bersambung deh hehehe.

Bagi saya, Matrikulasi Institut Ibu Profesional ini layaknya kawah untuk menuntut ilmu. Di sini saya wajib memposisikan diri sebagai spons agar bisa menyerap dan menampung ilmu sebanyak-banyaknya. Terkadang godaannya muncul rasa minder, merasa harus segera bergegas meraih cita dan asa. Apalagi jika kedatangan bintang tamu, yang rata-rata masih muda, tetapi memiliki prestasi yang luar biasa hikss, saya makin merasa siapalah saya ini.

Tetapi di sisi lain, berada di Matrikulasi Institut Ibu Profesional ini membuat saya bisa menemukan siapa sesungguhnya saya, potensi apa yang ada dalam diri saya, dan bisa lebih memahami peran saya di kehidupan yang dianugrahkan Allah kepada saya. Banyak nilai-nilai hidup positif yang ajarkan dalam program ini. Satu demi satu NHW membuat hati berdebar-debar setiap minggunya karena dilanda rasa penasaran. Pernah terlintas rasa ingin menyerah, karena keteteran mengatur jadwal menulis di sela rutinitas harian tapi.. masa iya kalah? Harus berubah dong ! Karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH. 

Menjadi ibu memang bukan hanya sekedar ‘cuma’. Ibu adalah tugas seumur hidup bagi seorang wanita. Menjadi ibu adalah tujuan terbesar dan termulia bagi kita. Saking pentingnya peran ibu, ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa mendidik satu anak perempuan berarti mendidik satu generasi. Artinya, ibu memegang peranan yang sangat penting untuk mengantarkan anak-anak hebat agar kelak mampu melakukan tugas peradabannya masing-masing. Berat kan, Mak?Hiks..

Meskipun tugas sebagai seorang ibu ini sangat penting dan berat, di zaman serba cepat ini sudah jarang ditemui anak-anak perempuan yang dipersiapkan untuk menjadi ibu. Iya, kan? Benar, nggak sih?

Padahal, ibu itu termasuk salah satu profesi terpenting di dunia, lho! Jika menengok KBBI, makna kata profesi adalah “bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dan sebagainya) tertentu”. Jadi, jika ingin menjadi seorang ibu selayaknya profesi lainnya, juga membutuhkan keterampilan. Itu juga kalau mau jadi ibu profesional😊

Baca juga : Langkah Awal Menuju Perjalanan Panjang Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

Tahun ini, dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti Matrikulasi IIP. Saya memutuskan untuk belajar menjadi ibu profesional. Ibu terbaik untuk anak-anak, tentunya menurut versi saya dan menjadi istri serta teman yang asyik bagi suami saya.

Sebelumnya, saya berpikir bahwa Matrikulasi ini akan berisi materi-materi bagaimana menjadi ibu yang baik, ibu yang penyabar, dan sifat-sifat keren lainnya. Ternyata, apa yang saya dapatkan jauh lebih mendalam dari itu semua. Peserta matrikulasi diajak berkontemplasi tentang siapa kami sebenarnya, apa yang menjadi minat kami, apa yang menjadi tujuan penciptaan keluarga kami, visi misi dari diri dan keluarga, bagaimana mencapai tujuan hidup, mengelola waktu, mengetahui apa yang dibutuhkan orang-orang terdekat kita dari kita, dan hal penting yang sering dilupakan yaitu mencari tahu bagaimana cara belajar.

Semua materi dan NHW memiliki kesan masing-masing bagi saya. Setiap NHW memberikan pemahaman baru tentang siapa saya dan mau ke mana saya melangkah. Saya rasa, setiap kita, setiap keluarga, sudah seharusnya memiliki visi misi dalam hidup. Menikah bukan hanya bertujuan untuk “menggenapkan agama” atau “memiliki keturunan” tapi jauh lebih dalam daripada itu semua. Menikah adalah langkah awal untuk berkolaborasi demi mencapai peran peradaban. Menyatukan dua insan untuk menciptakan kekuatan yang lebih besar sehingga bermanfaat bagi umat. Memang sebelum menikah saya dan suami sudah punya gambaran akan dirancang seperti apa keluarga kita nanti, bak gayung bersambut Institut Ibu Profesional membuat langkah saya dipacu semakin cepat agar fokus melangkah lebih baik setiap harinya.

Flashback kembali pada tugas NHW #2 adalah checklist “Indikator Profesionalisme Perempuan “. Sebagai individu sangat dibutuhkan effort kuat dalam diri saya pribadi, hingga detik ini masih terbayang ingin menjadi individu seperti apakah saya. Sebagai ibu, setidaknya saya punya indikator ibu ideal yang ingin saya wujudkan kepada anak-anak. Berbekal tips komunikasi produktif saya pelajari dari seminar-seminar parenting, ternyata saya malah bisa ngobrol lumayan lama dan dari hati ke hati dengan suami. Alhamdulillah 🙂

Dari sana saya jadi tahu apa yang suami harapkan dari saya. Saya jadi tahu apa yang suami inginkan, apa yang suami suka, apa yang suami tidak suka, apa yang suami mau. Setelah mengerjakan NHW #2, rasanya lebih lega. Jadi tahu apa yang suami harapkan dari saya, jadi tahu apa yang harus saya lakukan. Kalau tanpa rangkaian NHW ini mungkin saya masih banyak galau dan setengah-setengah dalam melakukan sesuatu. Hiks..

Semua materi spesial, namun ada materi dan NHW yang membuat saya bisa ngobrol cukup panjang lebar dengan Mama saya. Biasanya, karena kami tidak terlalu dekat maka ketika videocall hanya sekedar bertanya kabar dan membahas kegiatan anak-anak saya saja. Entah mengapa, sejak dulu saya tidak bisa nyaman ngobrol panjang lebar dengan Mama. Nah, berkat NHW #9, saya bisa ngobrol cukup panjang dengan Mama, dari hati ke hati. Membicarakan mimpi-mimpi yang selama ini saya gantung namun tenggelam dalam rutinitas harian.Ya! Mimpi menjadi seorang sosiopreneur.

Apa itu sosiopreneur?

Semua orang bisa menjadi enterpreneur namun tak semua orang bisa menjadi sociopreneur. Karena berjiwa bisnis bisa dibentuk sedangkan jiwa sosial memang naluri alamiah seseorang. Semua orang mampu berbisnis namun tak semua orang mau berbagi, berbagi itu sebuah pilihan dan terdapat kepuasaan tersendiri jika bisa bermanfaat untuk orang banyak.

Istilah ini memang masih awam di masyarakat karena mereka lebih akrab dengan enterpreneur. Padahal seseorang yang menjadi enterpreneur belum tentu sociopreneur sedangan sociopreneur sudah pasti enterpreneur.

Sociopreneur merupakan seseorang yang melakukan usaha mandiri untuk mendapatkan uang dan uang tersebut dimanfaatkan untuk kegiatan sosial. Jadi uang dari hasil bisnisnya tak hanya digunakan untuk keperluan pribadi. Namun untuk membantu orang banyak. Itu cita-cita saya sejak dulu. Memang sih jika memilih menjadi wirausaha bidang sosial ini kita harus fokus ke dalam pemberdayaan masyarakat sesuai dengan materi NHW 9 yang membangkitkan kembali adrenalin saya untuk terus mengembangkan diri dan berusaha menciptakan ide-ide yang cemerlang untuk mendapatkan solusi inovatif demi menyelesaikan permasalahan sosial yang ada di masyarakat.

Mulai dari KM-0 saya harus memberikan ruang berkarya bagi diri saya tak lupa mengajak masyarakat agar berfokus pada kondisi dimana sektor sosial belum berjalan dengan baik. Sehingga perlu memecahkan permasalahan tersebut dengan cara mengubah sistem, menawarkan solusi dan mengajak masyarakat untuk melakukan lompatan baru dalam menghadapi permasalahan mereka. Ah, semoga Allah memampukan saya dan mengirimkan orang-orang terbaik agar bisa bersama-sama bersinergi.

Sosial Venture Ini Harus Segera Dimulai Dengan Kesungguhan

Isu global warming memang sedang marak saat ini. Dan saya tertarik untuk mencoba menyampaikan konsep bagaimana mengolah dan memanfaatkan limbah sekitar rumah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai jual. Dan ternyata berhasil

Terimakasih ya, tim Matrikulasi IIP Batch #5, terimakasih juga spesial untuk Fasilitatorku yang sudah sangat sabar bahkan sudah saya anggap seperti kakak sendiri Mbak Erli Oktania Susanti. Dialah yang menguatkan dan meyakinkan kepada saya bahwa produktif itu tidak hanya dinilai dengan materi atau jabatan. Uang akan mengikuti sebuah kesungguhan, bukan bersungguh-sungguh karena uang.

Sebenarnya masih banyak aliran rasa yang ingin saya sampaikan, tapi kayaknya bakal kepanjangan kalau diceritain semua. Pun, malu juga sih. Hihi..

Jadi, semoga saya lulus Matrikulasi IIP Batch #5 dan bisa berlanjut ke kelas-kelas selanjutnya! Wassalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

One thought on “Aliran Rasa Matrikulasi Insitut Ibu Profesional Batch #5 Batam Kepri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *