Mengenal Profesi Pemahat Patung Melalui Karyanya dan Kisah Nabi Ibrahim As

Meskipun sudah berada di Tanjung Pinang, kegiatan outing kali ini sangat mendadak dan tidak terencana akan pergi kemana saja pun belum terpikir sama sekali. Mau nggak mau akhirnya kami ngikut rute rombongan kantor untuk mampir ke sebuah vihara yang biasa disebut wisata seribu patung di daerah Kijang. Meskipun sebenarnya saya kurang sreg dan bukan menjadi prioritas berkunjung k tempat ibadah selain umat Islam akhirnya dengan berat hati saya memutuskan ikut sambil berdo’a di dalam hati mudah-mudahan Faris tidak bertanya hal yang sulit dijawab. Kesan pertama ketika melancong ke vihara sekaligus objek wisata Ksitigarbha Budhisattva atau lebih dikenal dengan nama Vihara Patung Seribu di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau adalah bersih dan asri tempatnya.

Ada hal unik yang saya temukan dalam kunjungan ke vihara ini. Sudah diketahui banyak orang, salah satu etnis terbesar di Tanjungpinang adalah Tionghoa, sehingga keberadaan vihara tentu tidak asing lagi. Selain sebagai tempat beribadah, Vihara Patung Seribu yang kini juga menjadi salah satu tujuan wisata menunjukkan keberagaman umat beragama, etnis dan budaya di Tanjungpinang yang tetap terjaga keharmonisannya dan selalu bertoleransi. Terbukti dengan banyaknya umat muslim yang juga mengunjungi vihara ini,sekedar ingin tahu atau mengambil foto di dalam bangunan yang memiliki suasana layaknya berada di negeri tirai bambu.

Vihara yang dibangun di atas bukit ini memberi pengalaman tersendiri. Ada rasa penasaran sebelum mencapai lokasi sebab pengunjung bisa sedikit berolahraga sambil menanjak bukit. Dari atas, kita bisa menikmati indahnya pemandangan sekitar dengan perbukitan dan hamparan perkebunan warga. Begitu memasuki gerbang depan kita akan disambut gapura batu beraksen Tiongkok yang megah, dengan suasana mirip kota kuno. Di bagian depan, berdiri kokoh sebuah patung berukuran raksasa.

Tembok di belakangnya dibuat menyerupai benteng yang di atasnya terdapat pagoda. Saat berjalan ke balik tembok, kita harus berjalan sekitar sepuluh meter melewati halaman bagian tengah yang luas, lengkap dengan taman dan tumbuhan hias hingga menuju bagian paling menarik. Yakni jejeran rapi patung seribu.

Inspirasi pembuatan patung-patung ini berasal dari kesucian para arahat. Arahat adalah orang yang sudah mencapai tingkat kesucian spritual tertinggi untuk mengikuti agama Buddha. Ada hal yang menarik perhatian saya kenapa terdapat nama muslim di bagian bawah patung besar berisikan nama pendiri vihara ini. Saat saya bertanya kepada penjaga vihara tersebut, mereka enggan menjawab dan saya tidak memperoleh informasi yang akurat. Mereka hanya menjelaskan bahwa nama tertera itu merupakan nama biksu yang mendirikan vihara ini.

Rata-rata patung memiliki ketinggian sekitar 1,8 meter sampai dua meter dan yang terpendek 1,7 meter. Meski dinamakan Patung Seribu, jumlah patung yang berada disini tak genap seribu melainkan hanya sekitar setengahnya saja. Mungkin sebutan seribu itu untuk “seribu wajah.” Ini hanya dugaan saya hehe. Sebab patung-patung tersebut menampilkan ekspresi dan pakaian yang berbeda. Seolah mengajak berkomunikasi, ada patung yang tersenyum, sedih, tertawa, melotot, marah dan ada juga yang sedang membawa binatang. Macam-macam bentuk dan rupanya, patung-patung tersebut memiliki roman muka berbeda-beda. Juga bentuk tubuh yang berlainan. Di bawah setiap patung terdapat tulisan Mandarin, yang menjelaskan sosok patung seribu wajah itu beserta namanya. Konon, ratusan patung tersebut merupakan representasi dari para murid Buddha yang disebut Arahat.

Pengunjung tak bisa menyentuh langsung karena dibatasi pagar besi setinggi 1 meter. Namun seluruh wajah dan ekspresi patung dapat dilihat dengan jelas. Sebab, semuanya ditata rapi berundak-undak dengan pola barisan bertingkat. Sepintas, pemandangan ini mirip seperti yang terdapat di sebuah kuil di, Jepang.

Selain turis domestik, Vihara Ksitigarbha Bodhisattva banyak disambangi wisatawan mancanegara. Kebanyakan dari Singapura dan Cina, bahkan saya bertemu banyak rombongan orang yang sama-sama menginap di hotel tempat kami menginap. Vihara Ksitigarbha Bodhisattva masih terus dibangun. Patung-patung yang diukir langsung oleh tangan manusia itu terus ditambah.

Setelah mengunjungi vihara ini, saya hanya menjelaskan kepada Faris bahwa tempat ini namanya vihara. Tempat ibadah orang yang beragama Budha, karena Faris anak muslim Faris tidak boleh masuk ke dalam tempat ibadah umat yang lain. Kita berkunjung kemari karena akan melihat hasil karya orang yang profesinya dinamakan pemahat, pemahat batu. ”Faris jadi tahu kan sekarang bisa melihat hasil karya pemahat yang namanya patung?” tanya Mama kepada Faris.

”Oh, ini ya Ma yang namanya patung? Yang buat patung ini profesinya pemahat ya Ma? Kok kaya pekerjaan bapaknya Nabi Ibrahim?” tanya Faris heran. Ini merupakan pengalaman pertamanya melihat hasil karya seni berupa patung.

Mama pun mengulang kisah tentang masa kecil Nabi Ibrahim AS. Alkisah bercerita tentang masa kecil Nabi Ibrahim AS. Diusir oleh ayahnya, dibakar oleh kaumnya, lalu Allah selamatnya dengan menjadikan api itu dingin. Semasa Nabi Ibrahim kecil, kaumnya terbagi menjadi tiga golongan. Golongan yang menyembah berhala (patung-patung), golongan penyembah bintang, dan golongan penyembah raja.

Nabi Ibrahim sendiri anak dari seorang pemahat patung profesional dan sangat tersohor pada zamannya. Azar nama Ayahnya, seorang seniman dengan bakat istimewa sebagai pemahat ahli dan dari golongan yang amat dihormati. Keluarga yang amat dihormati dan disegani, Nabi Ibrahim mampu menentang penyimpangan yang terjadi pada keluarga dan masyarakatnya.

Nabi Ibrahim kecil sering sekali bermain-main dengan patung-patung buatan ayahnya. Saatu hari, Nabi Ibrahim menunggangi punggung patung Mardukh. Saat itu ayahnya marah, dan meminta Nabi Ibrahim lekas turun dari punggung patung buatannya.

Nabi Ibrahim bertanya, “Patung apakah ini ayahku? Kedua telinganya besar, lebih besar dari telinga kita.”
Ayahnya menjawab, “Namanya Mardukh, tuhan dari para tuhan. Kedua telinganya yang besar, sebagai simbol kecerdasannya yang luar biasa.”

Lantas Nabi Ibrahim kembali bertanya, “Siapa yang menciptakan manusia, wahai ayahku?” Ayahnya kembali menjawab, “Manusia, akulah yang membuatmu, dan ayahkulah yang membuatku.”

“Tapi aku pernah mendengar orang tua berkata, wahai tuhan, kenapa engkau tidak memberikanku anak?”

“Benar anakku, tapi tuhan tidak melakukannya langsung. Dia membantu manusia, oleh karena itu manusia harus menunjukkan kerendahannya dengan memberikan kurban.”

“Lantas, ada berapa banyak tuhan itu ayah?” “Tidak ada jumlahnya Ibrahim.”

“Kalau begitu, kalau aku hanya patuh pada satu tuhan, apakah tuhan yang lain akan marah? kalau tuhan yang lain marah, aku takut tuhanku akan dibunuh, lalu setelah itu aku yang dibunuh.” “Jangan terlalu khawatir Ibrahim, tidak akan terjadi permusuhan sesama tuhan.”

“Dari apa tuhan-tuhan itu diciptakan?”

“Dari kayu-kayu pelepah kurma, dari kayu-kayuzaitun, nah kalau yang berhala kecil itu dari gading. Lihatlah, sangat indah bukan? Hanya saja, patung tidak memiliki napas.”

“Kalau tuhan tidak memiliki napas, artinya mereka tidak memiliki kehidupan. Bagaimana para tuhan memberikan kehidupan, bila mereka saja tidak memilikinya? Pasti, mereka bukan tuhan yah..” Mendengar jawaban Nabi Ibrohim, ayahnya marah, berang, dan memukul Nabi Ibrohim.

Hari telah berlalu, Nabi Ibrahim tumbuh menjadi pemuda remaja. Kebenciannya pada patung-patung, tidak pernah surut. Nabi Ibrahim memperhatikan patung-patung itu tidak pernah makan maupun minum, juga tidak mampu berbicara. Bahkan, seandainya ada yang membalik patung itu, Nabi Ibrohim yakin, patung itu tidak mampu bangkit pada posisi semula.

Nabi Ibrahim terus saja berpikir, bagaimana manusia yang berakal membuat patung dengan tangannya sendiri, lantas sujud dan menyembahnya. Menyembah apa yang dibuatnya sendiri. “Bukankah yang demikian sangat mengherankan?” tanya Nabi Ibrahim di dalam hatinya.

Suatu hari, Nabi Ibrahim diajak ayahnya ke mihrab. Tempat di mana banyak jenis dan ukuran berhala dikumpulkan di dalam mihrab. Semua orang datang dengan pandangan tunduk dan hormat, bahkan ada yang sampai menangis tersedu-sedu.

Nabi Ibrahim justru datang dengan pandangan sinis dan menantang, membuat aneh orang-orang di sekitar. Kebetulan, di tempat penyembahan itu ada sebuah pesta, ada juga seorang dukun di sana yang memimpin doa masyarakat kepada para berhala itu.

Di tengah keheningan doa, tiba-tiba Nabi Ibrahim berbicara, “Hai dukun, para patung itu tidak mendengarmu, Apakah kamu juga yakin patung itu mendengar doamu?”

Sontak masyarakat hampir saja marah dengan pertanyaan Nabi Ibrahim. Lantas, buru-buru ayahnya menjelaskan dan segera membawa Nabi Ibrahim pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Nabi Ibrahim yang diminta segara tidur oleh ayahnya justru kabur ke salah satu gua.

Nabi Ibrahim terus saja berpikir, mustahil baginya patung-patung itu menjadi tuhan bagi kaumnya. Nabi Ibrahim lantas termenung bersandar pada dinding gua, pandangan matanya menatap lurus kelangit malam hari.

Di sana ia melihat begitu banyak bintang yang indah. Lantas Nabi Ibrahim berpikir, mingkin inilah tuhanku. Sama seperti golongan yang kedua yang menyembah bintang-bintang. Nabi Ibrahim mempercayai itu. Kemudian, Nabi Ibrahim melihat bintang yang besar yaitu bulan. Nabi Ibrahim pun menyerukan pada kaumnya, bahwa tuhan mereka adalah bulan yang cahayanya lebih terang dari bintang yang banyak itu.

Di kemudian hari, Nabi Ibrahim kembali tidak mendapati bulan di langit. Nabi Ibrahim kembali berpikir, bulan juga menghilang sama sepertihalnya bintang-bintang kecil. Nabi Ibrahim juga berpikir, pada esok pagi, bulan juga menghilang. Justru ada cahaya yang lebih besar dari bulan.

Cahaya yang lebih kuat yaitu matahari. Lalu, Nabi Ibrahim meyakini inilah tuhannya, tuhan yang paling terang, tuhan yang paling kuat. Lantas, Nabi Ibrahim kembali kecewa. Saat malam datang, matahari tenggelam. Tuhan tidak mungkin tenggelam pikir Nabi Ibrahim.

Nabi Ibrahim AS, merenungi dengan sangat apa-apa yang telah dilaluinya. Otaknya terus saja berpikir, tentang sesuatu yang paling kuat, sesuatu yang paling terang, dan sesuatu yang tidak mungkin tenggelam. Nabi Ibrahim menyakini, bahwa bintang-bintang yang dikaguminya, bahwa bulan dan matahari yang diikutinya, semuanya bisa muncul kemudian menghilang.

Tuhan tidak mungkin seperti itu. Nabi Ibrahim meyakini, bahwa Tuhanlah yang menjadikan mereka, Tuhanlah yang memunculkan dan menenggelamkan mereka. Tuhanlah yang menciptakan mereka, alam semesta, termasuk menciptakan dan memberi kehidupan bagi manusia. Belajar dari situ, Mama berharap Faris lebih kuat lagi imannya kepada Allah yang Maha segalaNya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *