New Me, Better Me (Perjalanan Menjemput Hidayah)

Proses kita menjalani hidup adalah pilihan. Meski takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah ditentukan di Lauhul Mahfuzh, tapi Allah memberi manusia pilihan untuk taat atau membangkang kepadaNya dan keputusan kita itu tetap masih ada di dalam ilmu Allah. Lalu, ketika kita memilih taat pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, saat itulah kita diuji. Sebab, seringkali pilihan itu justru bertentangan dengan hawa nafsu. Sehingga kitalah yang kerap menjadi musuh terbesar bagi diri sendiri.

Setidaknya itulah yang saya alami ketika memutuskan untuk berjilbab. Momen berpuasa di bulan ramadhan tahun 2006 menjadi saat tak terlupakan. Ketika saya memberanikan diri untuk mencoba mengenakan jilbab apabila keluar rumah. Selama satu bulan saya belajar untuk berpakaian panjang dan tertutup serta menggunakan jilbab sebagai penutup rambut. Semua biasa saja sampai seorang teman sekolah ketika berada dalam kelas bimbingan belajar mengomentari penampilan seorang teman wanita lain yang berjalan di hadapan kami. Seorang wanita cantik dengan celana jeans dan kaos ‘ketat’. “Baju adiknya kok dipake ya?” katanya sambil memalingkan wajah.
Namun, kalimat tersebut justru membuatku tak melepaskan pandangan dari wanita cantik itu. Perlahan-lahan timbul rasa malu dalam hatiku, entah mengapa tak sepatah kata pun keluar dari mulutku. Memang saya masih belum berjilbab tetapi berpakaian ketat bukan menjadi pikiran keseharian saya.

Berulang kali saya bertanya pada diri sendiri, mengapa justru saya yang malu melihat wanita dengan pakaian seperti itu? Orang yang memakai pakaian tersebut malah tampak biasa-biasa saja. Kata-kata teman saya pun terngiang terus dalam benak saya lantas saya mencari solusinya ke dalam Al Qur’an. Saya membuka tafsir Al Qur’an yang membahas masalah pakaian. Surat Al Ahzab ayat 59, An Nuur ayat 31 dan Al A’raf ayat 26 menjelaskan bahwa menutup aurat dengan berjilbab sampai ke dada adalah wajib hukumnya. Bahkan jika kita tidak berjilbab maka kita tidak termasuk ke dalam golongan orang beriman. Na’udzubillahi min dzalik.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kita pilihan dalam berpakaian, mau pakaian takwa atau pakaian sebagai perhiasan. Selama ini jilbab merupakan hal baru buat saya, karena di rumah pun tidak ada keharusan menutup aurat. Bahkan Mama saya pun awalnya tidak mendukung saya untuk mengenakan jilbab di usia muda. Toh shalat sudah bener lima kali sehari terus apalagi yang wajib?

Tak butuh waktu lama, dengan bismillahirrahmanirrahim akhirnya saya memutuskan untuk berjilbab. Persis seperti dugaan saya banyak yang terkejut dengan keputusan saya ini terutama Mama saya. ”Si tomboy pakai jilbab? Ntar nggak bisa nari apalagi ikut event lagi dong?” Banyak keraguan yang muncul dalam benak Mama saya, terutama urusan rezeki apabila saya mengenakan hijab. Bahkan beliau pun pernah mengatakan bahwa keimanan saya masih di ujung kuku jadi tak pantas mengenakan hijab. Menurut pendapat Mama, setiap orang itu sama saja tergantung hatinya. Di luar pun belum tentu yang berjilbab itu orang yang baik.

Astagfirullah, begitu menusuk hati perkataan itu hingga saya pun kerap merasa malas jika sering pulang ke rumah kala itu. ”Keimanan saya memang hanya seujung kuku, tetapi saya akan berjuang agar keimanan itu akan terus bertambah!” Janji saya di dalam hati. Pergolakan demi pergolakan berusaha saya hadapi sambil mendalami ilmu agama meski tertatih bahkan terseok-seok. Ketika dihadapkan atas tundingan miring ”Islam garis keras” dan larangan mengikuti kajian islam sebab ditunduh sebagai pengikut teroris. Hiks.

Jilbab di atas kepala saya ibarat mahkota bergelar kehormatan. Dan saya tidak ingin mahkota itu rusak atau menjadi bahan selaan orang akibat tindakan saya. Tuduhan demi tuduhan dari Mama semakin menguatkan tekad saya untuk menambah keimanan dengan belajar. Mulailah saya rajin membaca buku dan browsing materi melalui portal media Islam serta video ceramah ustadz favorit saya demi mempelajari ayat demi ayat Al Qur’an dan mulai memilih hal-hal yang bermanfaat untuk saya lakukan atau yang harus saya tinggalkan. Meskipun merasa terpojok di dalam keluarga sendiri saya tetap bersyukur sebab justru sahabat saya yang menguatkan dan sangat mendukung pilihan saya untuk menjadi lebih baik.

Belajar Berhijab, Kesalahan Hijab yang Bukan Hijab

Tidak dikatakan beriman jika tidak diuji, begitu janji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika duduk di bangku kuliah, saya semakin mantap untuk belajar merubah penampilan sesuai dengan syariat. Namun, lagi-lagi ujian datang kembali bahkan dari Mama saya sendiri. Setiap saya membeli dan mengumpulkan baju panjang, rok dan berbagai macam kerudung tetapi Mama selalu mempertanyakan apakah saya sudah yakin dengan keputusan ini. Suatu malam saya mengambil Al Qur’an dan membaca ayat demi ayat Surat Al A’raf. Bolak balik saya buka lembaran demi lembaran penjelasan Ibnu Katsir rahimulaah tentang ayat-ayat itu. Baru saya sadari betapa urusan pakaian yang kita kira sederhana ini ternyata banyak sekali berkaitan dengan syaitan.

saya di masa lalu. Image source : FB Hijabers Surabaya

Betul! Ada orang yang berpakaian karena Allah dan karena itu dia akan diuji oleh Allah. Pengalaman melawan rasa takut dan dikucilkan oleh keluarga. Pengalaman saya untuk belajar menyempurnakan diri dalam berhijab saja harus dihadapkan dengan berbagai cobaan.

Dililit begini atau begitu itulah kebiasaan berhijab saya di masa lalu, astagfirullah hal adzim, rasanya malu sekali jika mengingat penampilan saya ketika masih belajar berhijab. Hijab bukan sekedar cara dan gaya berkerudung. Hijab merupakan wujud identitas muslimah, sekaligus hak dan kemuliaan yang harus dilindungi. Dari syaitan dan pihak lain. So, understand your hijab right and protect well.

Ingin Menjadi Wanita Yang Lebih Baik di Hadapan Allah

Saya tidak ingin berjilbab setengah-setengah. Saya ingin berubah! Setelah melalui beberapa ujian kecil ditinggalkan oleh Papa terkasih dan menjalani kuret calon buah hati pertama saya, saya pun merasa semakin disayang oleh Allah melalui teguran kecilNya. Berdasar referensi pakaian dan kerudung secara syar’i baik melalui internet, majalah dan ‘pengamatan langsung’ dari muslimah-muslimah yang sudah terlebih dahulu mengenakan jilbab, menambah keyakinan saya. Saya ingin merubah diri, saya tidak akan lagi mengikuti tren berkerudung yang sedang hits kala itu yakni ‘jilbab trendi dan gaya’. Akhirnya, saya menemukan model yang membuat saya nyaman yaitu berjilbab lebar menutup dada. Setelah berjilbab bukan berarti perjalanan meraih hidayah itu selesai. Berjilbab adalah sebuah awal sebagai proses perbaikan. Hidayah berjilbab bagi saya adalah suatu hal yang harus terus menerus dijaga keistiqamahannya. Seperti nama sahabat saya, Anissa Istiqamah yang menginspirasi saya untuk menulis perjalanan saya meraih hidayah untuk berjilbab dan terus memperbaiki diri. Saat ini saya ingin terus meningkatkan keimanan diri agar hidayah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan tidak akan hilang begitu saja.
Tak hanya ingin bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi saya ingin hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memberi kebaikan bagi orang-orang yang ada di sekeliling saya. Saya ingin menjadi wanita yang selalu berusaha lebih baik di hadapan Allah Ta’ala. Saya ingin meringankan pertanggung jawaban orang tua saya kelak di akhirat. Dan semoga sampai akhir hidup saya Allah Subahanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga hidayah saya. Aamin ya rabbal ‘alamin. 

4 thoughts on “New Me, Better Me (Perjalanan Menjemput Hidayah)

  1. perkara hidayah memang ketentuan Allah…. bersyukurlah dan berbahagialah bagi orang yang sudah menggapai hidayah tersebut. Karena pada saat yang sama ada orang sudah diberi hidayah tapi mengabaikannya dan kembali ke masa jahiliyah.
    btw itu mbak moniq yang foto rame2 yang mana ya….. apa yang jilbab ungu yang sebelah kirikah…..

  2. Masya Allah.. Wlpun ada ujian dr keluarga, tp mba moniq ttp bisa..klo aku mah udh lgsg KO mungkin..
    Semoga kita semua istoqamah y mbaa..

    1. Setelah melewati banyak ujian justru makin mendekatkan kita sama Yang Maha Memiliki Kehidupan ini mba Vidi. Aamiin ya rabal’alamin, sama2 mba vidi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *