Diary Berkisah : Kisah Nabi Musa AS dan Ular

Namirun harimau
Asadun singa
Tamshaahun buaya
Hotitun badak
Jarofatun jerapah
Subanun ular
Rosalun rusa
Jamalun unta
Difdaatun katak
Tuyurun burung
Kittun itu kucing
Syalalalala
Fa’rotun itu tikus
Nahlun itu lebah
Arnabun kelinci
Bakorotun sapi
Hisonun kuda
Fiiilun itu gajah
Samakun ikan
Namlun itu semut
Dajjajatun ayam

Kisah Nabi Musa AS dengan Ular

Ular merupakan salah satu hewan yang disebutkandi dalam Al Qur’an. Allah mengabarkankan di dalam Al Qur’an surat Toha ayat : 65-71 mengenai kisah pertempuran antara nabi Musa ‘alaihissalam melawan para tukang sihir Fir’aun. Dan kisah ini sudah sangat masyhur. Hari ini agenda kami berkisah tentang hewan yang ada di dalam Al Qur’an dan anak-anak memilih hewan ular karena dua hari yang lalu anak-anak baru saja melakukan pengamatan terhadap hewan ular. Ketika berkunjung ke Festival Pasar Rame, kami berkunjung ke stand Batam Reptil Age yang menampilkan berbagai macam jenis reptil dan salah satunya adalah hewan ular.

Berikut ini materi berkisah hari ini yang bersumber dari ceramah kajian Ust. Syafiq Basalamah. Al Imam Abu Ja’far Ath Thabary ketika menafsirkan kisah tersebut, beliau menukil sebuah riwayat sebagai berikut :

Sebagaimana yang dikabarkan kepadaku oleh Ibnu Humaid, mengabarkan kepadaku Salamah dari Abu Ishaq. Ia berkata Aku diberi kabar oleh Wahb bin Munabbih beliau berkata ketika membaca firman Allah ta’ala: “Mereka berkata wahai Musa kamu duluan yang melemparkan atau kami duluan yang melemparkan ? (QS. Taha : 65). Musa berkata: Silahkan kalian melemparkan duluan”. (QS. Taha : 66)

Yang pertama kali terkena dampak sihir mereka adalah matanya Musa, kemudian matanya Fir’aun, kemudian matanya manusia yang hadir disana kala itu.

Lantas masing-masing dari para tukang sihir itu melemparkan apa yang mereka pegang berupa tali-tali dan tongkat-tongkat mereka. Tiba-tiba tongkat dan tali tersebut seolah berubah menjadi ular seperti gunung yang memenuhi lembah. Dan ular-ular itu saling tumpang tindih satu sama lain”. (Tafsir Ath-Thabary ; 16/109).

Lantas Al Imam Abu Ja’far Ath Thabary kembali menukilkan riwayat berikut:

Mengabarkan kepadaku Ibnu Humaid, mengabarkan kepadaku Ya’qub dari Ja’far dari Sa’id ia berkata: Ketika mereka telah berkumpul dan melemparkan apa yang ada di tangan mereka berupa sihir yang dikhayalkan pada Musa seolah ia adalah ular yang merayap. (Lantas Musa terkejut dan merasakan takut di dalam dirinya (QS. Taha : 67). Kami katakan wahai Musa janganlah engkau takut karena engkau adalah orang yang menang (QS. Taha : 68). Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, ia akan menelan apa yang mereka perbuat) (QS. Taha : 69).

Musa lantas melemparkan tongkatnya. Tiba-tiba tongkat tersebut berubah menjadi ular yang sangat nyata. Ia (Said) berkata: Ular tersebut membuka mulutnya seperti lubang yang sangat besar. Ia meletakkan bibir bawah di bumi dan mengangkat bibir atasnya ke atas, kemudian menelan semua sihir yang dilemparkan oleh para tukang sihir. Lantas Musa mendatangi ular tersebut dan menangkapnya tiba-tiba ia berubah menjadi tongkat kembali.

Maka para tukang sihir pun jatuh tersungkur seraya bersujud (Mereka berkata kami beriman terhadap Tuhannya Musa dan Harun (QS. Taha : 70). Berkata Fir’aun: “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik) (QS. Taha : 71).

Ia (Said) berkata: Orang pertama yang memotong tangan dan kaki secara silang adalah fir’aun (Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik) (QS. Taha : 71).

Dan orang yang pertama kali menyalip manusia pada batang pohon kurma adalah Fir’aun. (Tafsir Ath-Thabary : 16/113).

Poin penting dari kisah ini adalah sesiapa yang jujur pasti mengalahkan yang dusta. Walaupun yang dusta itu memiliki kekuatan, kekuasaan. Ajarkan kepada anak, bahwa ia harus jujur. Kejujuran akan membawa keberkahan di dalam hidup ini. Katakan yang benar walaupun itu pahit.

Lalu muncul pertanyaan dari Faris, ”Mama, ular itu bisa dimakan nggak? Boleh dipelihara nggak sih? Kok omnya pelihara ular.” Ketika ditanya hal-hal yang berkaitan dengan prinsip dan memaksa Mama harus menyampaikan dasar dari sebuah aturan dalam Islam maka ini merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi Mama. Syeikh Utsaimin rohimullah mengatakan : Sebaiknya anak-anak diberikan pengetahuan tentang hukum-hukum sesuatu beserta dalil-dalilnya-dalilnya.

Hukum Makan Ular

قال النووي رحمه الله :

” مَذَاهِبِ الْعُلَمَاءِ فِي حَشَرَاتِ الْأَرْضِ كَالْحَيَّاتِ وَالْعَقَارِبِ وَالْجِعْلَانِ وَبَنَاتِ وَرْدَانَ وَالْفَأْرَةِ وَنَحْوِهَا : مَذْهَبُنَا أَنَّهَا حَرَامٌ , وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَأَحْمَدُ وَدَاوُد , وَقَالَ مَالِكٌ : حلاَل ” .

Al-Imam An-Nawawy berkata: Madzhab para ulama tentang binatang melata yag ada di bumi seperti ular, kalajengking, bonthe, kecoak, tikus dan lain-lain madzhab kami binatang tersebut adalah haram. Dan pendapat ini dikatakan pula oleh Abu Hanifah, Ahmad, Abu Dawud, dan apaun Malik berkata ia adalah binatang yang haram. (Lihat Majmu’ Syarh Muhadzdzab : 9 : 16-17 Oleh Imam An-Nawawy).

Dari sini kita memahami bahwa para ulama berselisih akan hukum mengkonsumsi ular. Mayoritas ulama mengatakan haram adapun Imam Malik bin Anas berpendapat akan halalnya ular. Namun demikian pendapat yang rajih dan yang benar adalah pendapatnya jumhur/mayoritas dengan beberapa alasan sebagai berikut:

1. Ular termasuk katagori binatang buas yang memiliki taring.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ; “Setiap binatang buas yang bertaring haram dimakan” (HR. Muslim : 1933).

2. Ular termasik binatang fasik yang diperintahkan untuk dibunuh sebagaimana telah berlalu penyebutan hadis tentang hal ini.

3. Ular termasuk binatang yang kotor

Allah subhanahu wata’ala berfirman :Dan Allah menghalalkan bagi mereka makanan yang suci dan mengharamkan atas mereka makanan yang kotor”. (QS. Al-A’raf ; 157).

Hukum Memelihara Ular

Ibnu Qudamah Al-Maqdisy menetapkan sebuah kaidah:

وما وجب قتله حرم اقتناؤه

”Binatang yang wajib dibunuh, haram untuk dipelihara.” (Al-Mughni : 9/373 Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisy).

Demikian pula Az-Zamakhsyary mengatakan:

يَحْرُمُ عَلَى الْمُكَلَّفِ اقْتِنَاءُ أُمُورٍ: مِنْهَا: الْكَلْبُ لِمَنْ لَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ، وَكَذَلِكَ ” بَقِيَّةُ ” الْفَوَاسِقِ الْخَمْسِ، الْحَدَأَةُ وَالْعَقْرَبُ وَالْفَأْرَةُ وَالْغُرَابُ الْأَبْقَعُ وَالْحَيَّةُ

“Haram bagi mukallaf (orang yang mendapat beban syariat) untuk memelihara beberapa binatang, diantaranya : anjing bagi yang tidak membutuhkannya, demikian pula lima binatang pengganggu lainnya, seperti elang, kalajengking, tikus, gagak bercorak putih, dan ular”. (Al Mantsur fil Qawaid : 3/80).

 

referensi :

[1] Fabel Qur’an Pro-Kids

[2] Kisah Nabi dan Rasul Tafsir Ibnu Katsir

[3] https://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/memelihara-ular.htm#.WvMVW9JS3IU

One thought on “Diary Berkisah : Kisah Nabi Musa AS dan Ular

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *