Foodwaste dan Apa Solusinya?

Ketika membahas makanan sisa alias foodwaste, kebanyakan orang merasa hal ini bukanlah suatu masalah besar karena kebiasaan ini sudah membudaya dalam kehidupan masyarakat. Bahkan, buruknya lagi beberapa orang tidak berpikir ada sesuatu yang salah apabila membuang makanan segar dan makanan yang masih bisa dimakan karena itu sudah menjadi keseharian.

Sampah makanan adalah salah satu problem saat ini. Bahkan salah satu survei menyebutkan Indonesia adalah salah negara penghasil sampah makanan terbanyak di dunia. Menurut Economist Intellegence Unit, ada 300 kilogram makanan/bahan makanan yg dibuang oleh setiap orang Indonesia per tahunnya.

Jika kembali kepada petunjuk hidup, sesungguhnya terdapat aspek yang sering diabaikan oleh kita dari ajaran agama Islam yakni penekanan pada kesederhanaan, penghematan dan menghindari pemborosan.

Allah SWT berfirman dalam Al Quran:
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Surat Al A’raaf ayat 31)

” Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (Surat Al Israa ayat 26-27)

Dalam masalah pemborosan, Islam bahkan telah selangkah lebih maju ketika menyatakan bahwa jika waktu tidak dihabiskan untuk kegiatan yang berarti dan produktif maka hal tersebut dianggap sebagai bentuk pemborosan.

Allah berfirman:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (surat Al Asr ayat 1-3)

Jika manusia dapat lebih bijaksana, banyak masalah akan diselesaikan secara otomatis tanpa perlu melakukan terlalu banyak usaha. Mari berpikir ulang, berapa jumlah sumber daya alam yang dapat diselamatkan, jumlah orang lapar yang bisa makan, dan tingkat kerusakan lingkungan yang dapat diperbaiki atau dicegah jika pemborosan makanan terjadi sedikit.

Perintah ajaran Islam bahwa sebagai Khalifah Allah di bumi, manusia harus mengelola dunia ini dengan cara yang terbaik untuk mendapatkan kebaikan dan melakukan keadilan untuk semua makhluk, bukan untuk memanjakan keserakahan manusia dan nafsu yang tak pernah puas.

Meskipun benar bahwa sebagian besar keadaan sulit dunia saat ini adalah murni buatan manusia, manusia juga memiliki kemampuan beragam dan kekuatan pikiran untuk menghadapi krisis terbesar dan menyelesaikan bencana terburuk.

Saat merubah mindset dan tidak ingin membuang makanan yang masih bisa dimakan sebab pemborosan saat ini adalah kekurangan untuk besok.

Miris yah, di tengah maraknya pemberitaan gizi buruk, orang-orang mengantri berjam-jam untuk membeli sembako, ternyata tanpa kita sadari masih banyak makanan dan bahan makanan yang terbuang sia-sia. Sampah yang kita hasilkan sehari-hari kebanyakan berasal dari limbah rumah tangga makanan yang tidak habis termakan atau bahan makanan yang sudah rusak tanpa sempat diolah.

Nah, salah satu solusi mengurangi produk sisa tersebut adalah beli dan masak bahan makanan seperlunya saja. Loh, berarti kita nggak boleh nyetok bahan makanan? Trus apa mesti ke pasar tiap hari? Gimana kalo emak-emak yang sempatnya belanja seminggu sekali? Itulah kegalauan yang muncul di benak kita berkaitan dengan kampanye less food waste ini.

Tetapi semua pasti ada solusinya kan, mak? Kita tetap bisa belanja bahan makanan seminggu sekali, simpan di dalam kulkas dan dibagi dalam beberapa porsi agar bisa digunakan seperlunya sedikit-sedikit. Kalaupun terpaksa ada sisa dalam pengolahannya maka kita bisa menyelamatkan bahan sisa ini dengan mengolah mereka menjadi kompos.

Saatnya kita menjadi konsumen bijak. Wortel bengkok dengan wortel yang tegap lurus, nutrisinya sama loh. Bayam yang daunnya kecil-kecil memang lebih susah disiangi, tapi rasanya sama kan dengan bayam yang daunnya bulat cantik lebar? Untuk konsumsi harian kan tidak masalah. Industri pangan adalah industri terpadu, zero waste. Sisa makanan bisa digunakan untuk pakan ternak kan? Sehingga akan menekan biaya pakan dan meningkatkan akses masyarakat untuk protein hewani. Adil untuk manusianya, adil untuk hewannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *