Kenapa Menulis (lagi)?

Kenapa menulis lagi?
Bagi saya menulis itu melegakan hati, yang susah itu memulainya. Menulis adalah bagian dari ikhtiar kita untuk menceritakan sejarah. Kehidupan kita, kehidupan orang-orang sekeliling kita, dan kehidupan orang-orang yang berpengaruh di sekitar kita akan hilang seiring tua dan matinya orang itu, jika kita tidak menulisnya. Kemudian ia akan hilang dari ingatan kita.

Saya adalah seseorang yang ketika mulai berhijrah nyaris “hilang” dari ingatan publik ketika saya tidak pernah menulis lagi bahkan hendak menghapus segala social media yang saya punya. Kesibukan sebagai seorang ibu adalah alasan yang umum dan klasik yang saya sampaikan ketika ada orang bertanya, “Mengapa kamu tidak menulis lagi?”

Adalah Mbak Unna, biasa saya menyapanya. Lubnah Lukman alias bubun zafruby adalah seorang sahabat baik saya, sesama penulis, blogger dan ibu pembelajar yang hampir setahun tahun terakhir mendorong saya untuk menulis lagi. Perkenalan saya dengan Mbak Unna adalah ketika saya mencoba bergabung ke grup Rulis Ibu Profesional Batam. Setelah bertemu langsung dan ngobrol banyak mengenai program kerja Rulis saya pun mulai mengenal sosok Mba Unna.

Perempuan yang tegas namun sabar. Dia orang yang terbuka dan sangat humble. Saya senang berdiskusi banyak hal dengannya, bertukar pengalaman dan cerita.

“Saya suka tulisan mba Moniq, apalagi basic mba Moniq dulu jurnalis” adalah kata yang paling sering diucapkan Mba Unna ketika bertemu saya. Saking seringnya pernyataan itu diucapkannya, kadang saya menghindar dan memberi ruang untuk berpikir kembali. Kenapa saya tidak memulai menulis kembali, toh insyaAllah melalui tulisan ini saya bisa membuat kenangan dan mengikat ilmu yang pernah saya pelajari. Setelah kopdar perdana Rulis, saya pun memantapkan hati untuk kembali ke dunia menulis. Saya berjanji pada diri sendiri untuk mengosongkan gelas dan belajar dari awal kembali bersama PJ Rulis Ibu Profesional Batam.

kenang-kenangan belajar ngeblog di rumah Mbak Unna

Mba Unna adalah orang yang tidak pernah menyerah untuk mengajak saya menulis. Beberapa bulan bergabung di Rulis semangat dan kebiasaan menulis saya pun terbentuk. Komunikasi kami pun semakin intens seiring dengan pengerjaan project buku antologi Jungkir Balik Dunia Emak (Haru Biru Perjuangan Membersamai Buah Hati) yang alhamdulillah rilis juga pertengahan bulan ini.

Setelah bergabung ke dala Rulis, saya pun semakin semangat untuk terus belajar menulis dan mencoba berbagai tantangan menulis yang lain.

Padahal selama hampir tujuh tahun terakhir saya nyaris berhenti menulis. Jika pun ada hanya tulisan curhatan sebagai sarana pelarian semata dan jumlahnya bisa dihitung pakai jari. Pertengahan tahun 2013 saya hijrah ke Batam, dan terjebak dalam rutinitas kantor. Saya pun lupa bagaimana cara memulai menulis lagi. Berkenalan dengan orang baru dan lingkungan kerja yang sesuai dengan latar belakang pendidikan saya membuat saya semakin nyaman dan melupakan kegiatan menulis apalagi ngeblog.

Mengapa Tidak (Kembali) Menulis?

Saya tidak pernah bertanya, mengapa Mbak Unna getol sekali dan terus menyemangati saya untuk menulis. Suatu ketika saya menemukan sebuah kutipan dari seorang novelis ternama, Pramoedya Ananta Toer. Katanya: “Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tdak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Kutipan Maestro ini mengagetkan saya. Apakah saya akan hilang seperti yang diceritakan Novelis kebanggaan bangsa ini?

Dua pekan lalu, saya bertemu untuk yang terakhir kali sebelum Mbak Unna pindah ke kota Surabaya. Rasanya sedih sekali, baru saja saya mengenal sosok yang selalu tulus berkontribusi dalam Komunitas Ibu Profesional Batam. Mbak Unna terus menyemangati saya untuk terus menulis dan berbagi apapun lewat tulisan. Ah, rasanya saya masih ingin berdiskusi dan belajar banyak hal dari Mbak Unna.

Tulisan ini tentu bukan tulisan yang bagus. Namun, berangkat dari sini saya ingin menancapkan tekat, saya akan memulai lagi, lagi dan lagi. Menulis untuk kesenangan, menulis untuk menambah kebahagiaan.

Saya ingin mengikuti anjuran pepatah yang saya kutip di awal tulisan ini, bahwa sejarah hidup dan pergaulan saya dengan warga dunia tidak boleh menjadi dongeng. Saya ingin buktikan, bahwa sejarah hidup saya layak jadi sejarah, bukan jadi dongeng.

Belakangan ini, kekuatan untuk menulis tiba-tiba muncul begitu kuat. Jika kembali membaca tulisan-tulisan lama saya rasanya nano-nano sekali. Kadang sangat memuaskan, malu, heran, tapi selalu berujung dengan bahagia. Kenapa? saya lega sudah menuliskan apa yang ada dalam pikiran. Menulis merupakan sarana untuk menormalkan pikiran. Hal ini terdengar aneh tapi ini nyata. Dengan menulis otak kita terefleksi untuk mengurai satu persatu hal yang memenuhinya dan hidup terasa lebih bahagia setelah menulis, menurut saya sih begitu.

Bagaimana caranya agar terus konsisten menulis? Tentu saja hal pertama yang perlu dilakukan adalah menguatkan niat dan istiqomah untuk melakukannya. Dua hal tersebut adalah kunci untuk melakukan segala sesuatu.

Hal kedua, menemukan media untuk menulis. Setelah belajar dan bergabung ke dalam komunitas blogger, saya memilih dua media untuk menyusun strategi istiqomah tersebut. Media pertama ialah buku catatan, dan media kedua adalah blog pribadi.

Buku menjadi hal wajib yang diperlukan, bisa dibawa kemana saja dan membuat saya merasa lebih kreatif. Menulis langsung dengan tangan dan melihat langsung tulisan kita, menghiasi kertas dengan berbagai gambar dan warna. What a happy, right? Tapi buku ini tidak bisa saya isi dengan berbagai unek-unek dengan tulisan panjang lebar. Tangan emak-emak terlalu pegal untuk menulis dan inspirasinya ga begitu dapat jika menulis dengan tangan. Saya mencatat kilat sebagian besar aktifitas harian anak-anak, to do list dan jadwal penting lainnya.

WordPress saya pilih sebagai media ketiga yang saya pilih setelah sebelumnya saya menggunakan blogspot (blog ini berisi curhatan random dan catatan semasa kuliah), dan tumblr (lumayan istiqomah entah berapa banyak puisi dan cerita alay yang berhasil terangkai dalam kata tapi sekarang sudah tidak bisa dibuka lagi, entah mengapa, hiks). WordPress saat ini terasa lebih simple untuk dipelajari tanpa perlu ngotak ngatik template dan tema. Saat ini banyak juga referensi pengguna wordpress yang tulisannya lebih mencerdaskan dan mengkayakan wawasan saya. Itu yg membuat saya tertarik!

Lalu gadget macam apa yang digunakan untuk menulis? Haha ini yang lucu. Dulunya saya paling tidak bisa menulis di blog kalau tidak menggunakan PC. Bahkan salah satu alasan saya off ngeblog lantaran saya merasa terhambat karena laptop rusak (padahal hp ada tapi rasanya tidak pernah mendapatkan inspirasi menulis jika menulis menggunakan hp). Tetapi kebiasaan lama ini lambat laun bergeser seiring tuntutan pekerjaan dan ternyata saya pun bisa menulis melalui media hp karena terbiasa. Jadi tidak ada alasan untuk absen menulis lagi ya. Wkwk. Bismillah..

At least, thats all my reason why i am back writing. Terima kasih atas perkenalan yang indah ini ya Mbak Unna, semoga di tempat yang baru dirimu selalu menginspirasi dan menebar manfaat bagi banyak orang. Love 💞

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *