Hidup Minimalis Sebagai Wujud Rasa Syukur

Pagi, mak sudah sebulan terakhir pasca mudik saya mulai membenahi kembali rumah yang hampir sebulan kosong. Bisa dibayangkan apa yang terjadi di dalamnya? Barang-barang banyak yang tidak kembali pada tempatnya dan kotor serta lembab khas rumah yang tidak pernah dibersihkan.
Harap dimaklumi suami yang balik ke rumah terlebih dahulu dan menempati rumah ini hanya sekedar buat tidur malam doang.

Perlahan saya mencoba membersihkan rumah meski dengan keterbatasan waktu dan tenaga yang saya punya. Sempat terbersit untuk menyerah dan order go clean saja demi mengurangi kekacauan yang ada di rumah namun akhirnya urung saya lakukan. Pasti budget akan membengkak untuk urusan bersih-bersih *rasanya ingin melambaikan tangan saja.
Sudah dua kali dalam seminggu ini saya tidur malam lebih cepat karena kepala berat. Pusing banget rasanya entah kenapa. Ternyata, rumah yang kacau dan berantakan mempengaruhi mood saya untuk mulai kembali produktif. Rasanya waktu untuk menjalani kehidupan normal pun sulit dilaksanakan kalau rumah masih kotor dan acak adut. Gimana mau bermain dan bebikinan sama anak kalau nyari material bebikinannya saja entah tertimbun dimana. Rasanya seperti baru pindah rumah, kerjaan di rumah kaya nggak selesai-selesai. Belum cuaca yang nggak enak banget, sebentar panas sebentar badai.

Iyaaa, cuacanya nggak enak banget. Gimana bisa di Batam yang panas, angin besar sekali sampai dahan-dahan pohon jatuh? Hujan nggak sampe seharian ada pula yang rumahnya kebanjiran. Padahal hawanya masih gerah, tapi angin besar, gimana nggak masuk angin kan?

Belum lagi urusan anak-anak yang sakit bareng-bareng haduhhhh. Sabarrrr.. Tapi dengan banyaknya kejadian beberapa minggu terakhir ini, saya juga jadi lebih aware sama kondisi rumah. Sejak pertengahan tahun ini barang yang menumpuk nggak jelas mulai dipilah untuk dibuang atau diberikan pada orang yang lebih membutuhkan. Terutama baju-baju lama saya, duh baju ini dikasihin kok sayang, disimpen kok ya nggak dipake. Bulan Ramadhan lalu sebenarnya saya sudah menkonmarikan baju sampai 2 kardus banyaknya untuk didonasikan ke Sejuta Cinta Komunitas Ibu Profesional Batam. Termasuk baju kebaya yang saya pakai wisuda S1 pun saya relakan karena udah nggak mungkin dipake lagi. Ujung-ujungnya kemarin saya sortir satu kardus lagi baju saya dan baju anak yang sudah nggak terpakai. Akhirnya tutup mata, satu kardus pindah ke belakang untuk didonasikan

Setelah saya pikir, buat apa juga disimpen, nggak dipake juga. Mending dikasih ke orang, mungkin akan diperlakukan lebih baik daripada cuma ngejugruk doang di atas lemari. Sepatu juga sama, sudah hampir dua tahun ini saya cuma menyisakan 2 sandal gunung dan 1 sepatu lari. Apakabar koleksi sepatu sandal dan beberapa heels. Satu lemari udah bhay semua. Kebanyakan saya jual murah meriah via marketplace.

Iya! saya sama juga lagi usahaaaaa banget menjaga konsistensi ingin hidup lebih minimalis. Nggak lagi menumpuk barang karena rumah yang penuh barang itu tidak nyaman ya. Dulu banget, masalah besar bagi saya adalah terkadang masih menyimpan kenangan pada barang. Padahal barangnya nggak penting!

Yang menguatkan tekad saya untuk berhenti menumpuk barang adalah ungkapan dari sebuah kajian Ust. Syafiq Basalamah. Perumpamaannya jika kita hendak pindah rumah balik ke kampung halaman. Pengennya kita nggak bawa barang-barang yang berat kan biar nggak susah nantinya. Jadi kita kirimkanlah dulu sebagian barang-barang lewat ekspedisi ke kampung kita. Seperti itulah hidup dengan sedekah. Kita pindahkan sebagian harta kita untuk di akhirat nanti, supaya ketika meninggal nggak berat lagi bawaan kita, karena nanti semuanya akan dimintai pertanggungjawaban nya. Melalui sedekah saya lebih tenang dalam melepaskan barang-barang yang sudah memberikan kebermanfaatan dalam hidup saya. Tercerahkan sudah kenapa saya mempertahanankan minimalist sebagai ideal lifestyle saat ini. Yang mau mencoba hidup minimalis juga, yuk kita coba memulainya

1. Sortir Koleksi Bajumu

Ayolah akui saja, baju di lemari pasti BANYAK yang sangat jarang dipakai kan? Atau malah seperti saya (yang dulu) bahkan ada baju yang belum dicopot tagnya karena belanja lewat onlineshop dan ternyata nggak cocok ketika dicoba. Ketika mensortir baju-baju yang sangat jarang dipakai, pisahkan ke satu wadah besar besar bisa kontainer atau kardus. Kalau masih sayang, jangan diapa-apain dulu kontainer atau kardus tersebut. Biarkan saja dulu di rumah 1-2 bulan. Selanjutnya, pasti baru terasa efeknya oh ternyata baju itu nggak ada pun kita nggak sadar kok! Baru setelah itu kita bisa diberikan pada orang yang lebih membutuhkan, mak. 🙂

2. Buku! Alih-Alih Ingin Membuat Perpustakaan Mini
Ini berat banget ngomongnya tapi lebih baik koleksi lah buku dalam versi digital karena merawat buku fisik itu susah! Dulu saya punya banyak novel dan majalah remaja yang berujung didonasikan ke rumah baca rintisan saya dan sahabat di Trenggalek. Novel-novel itu bagus, tapi tidak sebagus itu sampai saya ingin baca ulang. Disimpan pun hanya makan tempat dan sarang debu.
Akhirnya rak buku saya di Batam sekarang hanya berisi buku-buku anak yang memang dibaca berulang-ulang. Saya hanya menyisakan buku pegangan homeeducation dan pendukung kegiatan belajar. Nggak lagi pusing dengan debu di atas buku. Saya pun masih bisa meminjam buku di ipusnas agar tetap bisa baca buku dan punya buku banyak tanpa menumpuk buku dan debu.

3. Declutter paling berat itu Mainan Anak
Mainan anak ini adalah objek paling sayang banget ya dienyahkan dari rumah. Tapi beneran deh, meski sudah disortir setiap minggu mainan anak-anak ini jumlahnya masih banyak banget padahal yang mereka bener-bener suka pegang cuma beberapa aja. Bulan Ramadhan kemarin, kami sudah sale untuk donasi sekalian mengajar anak berjualan sambil beramal karena yah, buat apa menumpuk mainan banyak-banyak? Melalui kelas intensif Shookyu ini juga sebagai ikhtiar untuk mulai menata kembali demi rumah yang lebih lega.

4. Koleksi Mainan Suami
Ini berat banget di suami saya. Entah sudah berapa ratus diecast yang dikoleksi oleh suami saya, yang bahkan belum ada rumahnya. Saya sudah berulang kali mengingatkannya agar mengurangi beli karena buat apa dehhh? Cuma numpuk barang doang! Iya sih sebagian dijual tapi kan nggak ada lagi tempat buat menyimpan. Belum kalau kita pindahan 😑

Untuk menghibur hati yang lara karena belum berhasil sounding ke si bapak pasal ini yasudah saya membantunya berjualan di marketplace demi mengurangi stok mainannya di rumah. Jadi kan nggak cuma ngejogrok doang.

*

Hidup minimalis ini buat saya ngaruh banget loh ke kesehatan jiwa. Rumah lebih lega dan terasa lebih terang karena nggak banyak barang. Debu juga berkurang sekali.

Dari sisi fisik juga saya merasa lebih nyaman, karena apa? Salah satunya karena menumpuk barang itu biasanya jadi sarang nyamuk. Semoga semangat berbenah yang baru ini bisa membentuk habbit baru dan menular ke anak-anak serta suami. 😅

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *