Belajar Berbagai Macam Komposter, Kamu Sudah Coba Yang Mana?

Sudah lama Faris sangat tertarik dengan bahasan masalah #sampah. Saking concernnya sampai-sampai ia ngotot membeli buku berjudul “Oh, ternyata… Kita bisa melakukan kegiatan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) untuk mengurangi sampah!” dan minta langsung dibacakan sesampainya di rumah.

buku favorit Faris

Kalau ngomongin #sampah, saya selalu terkenang dengan obrolan bedtime saya bersama Faris yang pada suatu malam menceritakan cita-citanya kalau ia ingin sekali membuat truk sampah di luar angkasa. Dengan semangat yang berapi-api ia menjelaskan rancangan truk sampah antariksanya bahkan ia meyakinkan kepada saya bahwa di luar angkasa juga pasti banyak sampah loh, Ma. Rasanya terheran-heran kok bisa pula anak tiga tahun berimajinasi seperti itu. MasyaAllah

Di rumah, kami memang sudah mulai memilah dan meniadakan pemakaian tisu dan mengurangi belanja produk kemasan namun bahasan khusus bab sampah belum saya ajarkan lebih mendalam kepada anak-anak. Saya dan suami hanya memberikan contoh dalam kegiatan sehari-hari seperti menyediakan beberapa macam tempat sampah di rumah, menggunakan tas belanja sendiri, membawa kotak makan dan bekal makanan sendiri jika keluar rumah, mengurangi makanan dan jajan dalam kemasan serta membuat komposter karena project #FarisNandur.

Dengan berbekal tekad ingin belajar lebih, akhirnya saya pun mencari informasi agar bisa masuk ke kelas #zerowaste yang diampu oleh bu Dini. Alhamdulillah saya bisa keangkut di kelas #zerowaste batch 2 meskipun belum terlalu aktif chit chat di kelas tetapi saya berusaha untuk terus mengikat ilmu yang saya peroleh dari kelas ini.

Jadi di minggu ketiga kelas #zerowaste, kami belajar berbagai macam jenis komposter. Lalu kenapa sih setiap rumah sudah seharusnya punya komposter?

Teman-teman, bagaimana kalau kita mulai membiasakan diri untuk memilah sampah sebelum dibuang? Kira-kira, kenapa kita harus memilah sampah sebelum dibuang?

1. Upaya Mempercepat Proses Penguraian
Sampah itu ada dua jenis, yakni sampah organik dan sampah anorganik. Untuk sampah organik, proses penguraiannya akan lebih cepat terjadi jika digabungkan dengan sampah organik lainnya.
2. Mengurangi Bau Busuk
Sampah organik akan mengeluarkan bau busuk saat terurai. Supaya bau busuk itu hilang, kita harus memisahkan sampah organik dari sampah anorganik. Setelah dipisahkan, sampah organik bisa dikubur di dalam tanah, sebagai pupuk. Dengan begitu, bau busuk dari sampah organik tidak akan tercium. Lalu, tanaman pun tubuh subur.
3. Meningkatkan kebersihan sampah
Penguraian pada sampah organik akan terjadi lebih cepat daripada sampah anorganik. Jika kedua sampah itu dicampurkan, sampah anorganik yang tadinya bersih akan menjadi kotor. Padahal, jika kita memilah sampah, kebersihan sampah anorganik bisa terjaga, lo. Hal itu akan memudahkan para pengepul dalam mendaur ulang sampah anorganik.
4. Mengurangi jumlah sampah
Dari seluruh sampah yang ada, lebih dari 55% nya adalah sampah organik. Jika kita memilah sampah dan mengolah sampah organik itu menjadi kompos, maka jumlah sampah yang ada di tempat pembuangan akhir sampah (TPAS) pun akan berkurang setengahnya.
Nah, teman-teman, sekarang pasti sudah tahu, kan kenapa kita harus memilah sampah sebelum dibuang? Jadi, mari kita lakukan kebiasaan baik itu mulai dari sekarang. Ini semua demi Indonesia yang bebas sampah!

Rumah Tanpa Sampah, Mungkinkah?

Mengutip materi dari #kotatanpasampah, ada 3 strategi agar #rumahtanpasampah kemudian dapat terwujud:

1. STRATEGI PINTU DEPAN. Saat pra konsumsi, kita dapat mencegah dan menyaring sampah apa yang akan masuk ke dalam rumah kita, dengan cara bawa botol minum sendiri, kotak bekal sendiri, tas belanja, bahkan toples/wadah untuk belanja, menanam/membuat sendiri apa yang kita konsumsi serta mengadakan acara dengan memasak kue-kue dan gunakan toples serta hindari kemasan sekali pakai.

2. STRATEGI PINTU TENGAH. Saat konsumsi, kita dapat mencegah terjadinya sampah terbuang, misalkan dengan menggunakan kembali, memperbaiki barang, dan mencegah makanan sisa.

3. STRATEGI PINTU BELAKANG. Pasca konsumsi, sampah yang terlanjur masuk rumah atau terpaksa ada harus diolah, dengan memilah sampah, membuat kompos, sampah yang bernilai ekonomis disalurkan ke pengepul.
Kalau semua berjalan baik, maka benar-benar TIDAK ADA SAMPAH YANG DIBUANG KE TPS/TPA.
KOTA TANPA SAMPAH? MUNGKIN. SANGAT MUNGKIN

sumber : http://www.kotatanpasampah.id

Berikut ini saya coba membuat ringkasan materi mengenai beberapa jenis komposter untuk sampah organik dari kelas #zerowaste. Menurut Mbak Dini, perjalanan menemukan komposter yang cocok itu layaknya mencari jodoh 😁 Kalau kita nggak ribet sebenarnya ada cara yang gampang dan sudah biasa dilakukan oleh orang-orang zaman dulu yaitu dengan membuat lubang di tanah alias juglangan lalu kita bisa masukkan sampah sisa konsumsi sehari-hari disitu. Ditimbun sekali-kali atau kita bisa pelihara ayam dan ikan yang siap menyantap sampah buah dan sayur sisa dapur (tetapi tidak semuanya sih) hehe.

SERBA-SERBI KOMPOSTING

Komposting itu -bahasa sederhananya- adalah proses pengolahan sisa bahan organik menjadi pupuk. Terdapat beragam metode komposting. Sebelum memilih jenis metode komposting tertentu yang ingin digunakan, maka ada baiknya melakukan langkah-langkah ini:

  1. Analisa jenis sisa bahan organik (sayuran, daun kering, produk hewani) yang dihasilkan dan volumenya setiap hari, minggu, ataupun bulan.

  2. Bagaimana pola aktifitas anggota keluarga? Sibuk setiap hari sehingga hanya tersisa sedikit waktu di rumah? Ada anggota keluarga yang sering (selalu) di rumah dan punya banyak waktu luang?

  3. Analisa karakter anggota keluarga yang akan bertanggung jawab atas proses komposting, Telaten memilah, rajin merajang, lebih suka yang praktis dan cepat?

  4. Akan digunakan apakah kompos yang nantinya dihasilkan?

Empat hal di atas berkenaan dengan kita, si pelaku komposting. Nah, terkait komposternya, maka yang harus dipertimbangkan adalah:

  1. Luas area yang tersedia untuk si komposter. Apakah masih terdapat lahan cukup luas atau komposter akan ditempatkan di teras rumah?

  2. Cara penggunaan, masa panen kompos (periode waktu), cara merawat komposter, biayanya.

  3. Apakah komposter tersebut tahan lama? Artinya, bisa dipakai untuk jangka panjang dan tidak harus membeli lagi yang baru setelah beberapa waktu pemakaian.

Mengapa banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih metode komposting?
Karena, pilihan yang tepat akan membuat kita nyaman melakukan kegiatan komposting, dan bukannya sebagai beban.

Secara umum, sistem komposter terbagi dua, yaitu AEROB (memerlukan udara) dan ANAEROB (tidak memerlukan udara).
Sistem aerob akan menghasilkan kompos padat. Sementara produk sistem anaerob berupa pupuk cair dan kompos padat (yang agak basah).

berbagai macam komposter rumah tangga, pict by Mbak Dini

Sistem komposting rumah tangga dengan lahan terbatas:

1. Lasagna sguare foot garden
Langsung membayangkan lasagna ya?
Dan memang seperti kita membuat lasagna.Bagaimana cara membuatnya? Batasi lahan yang akan dipakai untuk komposting, misalnya diberi ‘pagar’ dari batu bata dan sejenisnya. Alasnya boleh terbuat dari plesteran semen.
Tempatkan tanah di dasar lahan komposting, lalu beri pupuk kandang (seperti kotoran sapi/kambing/pupuk jadi) di lapisan atasnya. Maka lahan siap diisi dengan sisa bahan organik, kertas, ataupun tissue.
Kalau isinya sudah merata, tutup dengan sekam, tanah, lalu pupuk kandang. Lalu isi lagi dengan sisa bahan organik, dan ditutup dengan cara yang sama.
Begitu seterusnya.
Kalau tinggi media sudah mencapai 15cm, maka bisa mulai dijadikan media tanam.
Mengapa harus 15 cm? Dengan tinggi lapisan 15 cm, maka penguraian sisa bahan organik dinilai cukup aman untuk akar tanaman.
Meski sudah dijadikan media tanam, proses komposting di lasagna foot garden tetap dilangsungkan.

2. Takakura/gerabah/drum/felita
Keempat metode komposter ini memiliki teknik yang serupa, yakni sisa bahan organik dikumpulkan dalam satu wadah, lalu diperlukan bakteri pengurai/starter.


Kekhususan dari setiap metode adalah:

Takakura hanya menghasilkan kompos padat. Diperlukan sedikit waktu dan tenaga untuk merajang sisa bahan organik agar cepat terurai. Penjelasan lebih lanjut mengenai takakura bisa dibaca disini.

Sistem gerabah lebih mampu mengurai daun kering dalam jumlah agak banyak. Kompos yang dihasilkan berwujud padat. Penjelasan lebih lanjut mengenai sistem gerabah bisa dibaca disini dan disini.

Komposter dengan memanfaatkan drum, ember bekas cat, atau sejenisnya akan bisa menghasilkan kompos padat saja, ataupun campuran antara pupuk cair dengan padatan. Tergantung sistem yang dibuat pada wadah komposter tersebut.

Penjelasan lebih lanjut bisa dibaca lebih rinci mengenai

Drum Biru #komposterdrumbiru disini dan disini.

Felita ini serupa dengan sistem drum atau ember, tapi dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Sehingga bisa ditempatkan di dapur. Cocok untuk rumah yang dihuni sedikit orang. FELITA menghasilkan kompos dalam dua bentuk, padat dan cair. Felita tidak menghasilkan gas metana (yg menyebabkan terjadinya efek gas rumah kaca). Di dalam Felita juga terjadi CO2 offset di fase keduanya, saat kita memasukkan fermentasi limbahnya ke dalam tanah.

Penjelasan lebih lanjut mengenai Felita (Fermentasi Limbah Rumah Tangga) #felita bisa dibaca disini dan disini.

3. Mulsa tanaman
Rumah dengan pohon-pohon besar biasanya akan kerepotan saat musim daun berguguran tiba
Daun-daun kering memiliki manfaat sebagai mulsa tanaman. Tempatkan daun kering di atas media tanam, maka akan mengurangi penguapan air. Ini sangat membantu di saat musim kemarau.

4. Lubang biopori
Untuk pekarangan rumah yang masih bisa digali hingga kedalaman minimal 50cm, maka pembuatan lubang biopori bisa menjadi pilihan.

Penjelasan mengenai biopori bisa dibaca disini dan disini.

Dan untuk tempat tinggal dengan lahan yang cukup dan amat luas -seperti perkebunan – sebenarnya lebih mudah dalam melakukan komposting. Ada beberapa cara yg sebenarnya sudah dilakukan banyak orang, yakni:

1. Mulsa tanaman

2. “Banana ring”

Kenapa pilihannya banana ring meski itu istilah? Karena tanaman pisang adalah tanaman yg paling bisa memanfaatkan sampah organik dalam bentuk apapun hingga yg keras seperti perabot kayu bekas, dibanding dengan tanaman lain. Makanya penggunaan tanaman yg paling bagus adalah pisang di sekitar juglangan banana ring. Tapi bisa ditanam tumpang sari dengan tanaman lainnya.

3. Composting toilet

Composting toilet itu khusus kotoran manusia. Untuk kompos hewan, bisa digunakan hasilnya pada tanaman pangan. Tapi untuk hasil kompos toilet, hanya digunakan pada tanaman non pangan atau tanaman buah jenis pohon, seperti mangga dan sejenisnya. Komposting toilet baru bisa dipanen minimal 6-9 bulan, tergantung kecepatan terdegradasi dan menjadi tanah lagi.

4. Vermicomposting, menggunakan tiger worm, yg bisa makan kain dari serat alami.

5. “worm tower”, juga menggunakan cacing tiger seperti vermicomposting. Mirip biopori. Kalau biopori, lubangnya ke dalam tanah. Sementara worm tower ke atas tanah alias diberi pipa yang keluar dari tanah, untuk menjadi tempat sampah organik untuk sumber makanan cacing tiger.

6. Biopod

Digunakan untuk komposting bahan organik yg lebih basah tapi bukan cair. Tanpa starter dan memerlukan udara, maka yg dihasilkan adalah black soldier larvae alias uget-uget gendut. Biasanya belatung yg dihasilkan untuk pakan ternak seperti ayam, ikan, burung.

Tiap komposter punya plus minus sendiri ya.. cocok atau tidaknya sesuaikan saja dengan kondisi rumah dan kebutuhan. Setelah praktek, ternyata memang masalahnya adalah mau atau tidak, bukan susah atau mudah..

Catatan penting untuk memulai dan menjalankan kegiatan komposting, adalah
***Perlu mencoba beberapa metode komposting untuk mendapatkan sistem komposting yang paling mudah, paling efektif, dan murah untuk gaya hidup setiap keluarga. Namun dengan menganalisanya terlebih dahulu, kita akan mengurangi biaya dan waktu percobaan. Juga akan lebih cepat menemukan cara pengomposan/pengolahan sisa bahan organik, yang paling pas untuk keluarga kitayang unik.***

Happy Composting !

referensi : disarikan dari berbagai materi kelas #zerowaste, Bu Dessy “Greenmommies” dan Mbak Kristien “Omah Hijau”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *