Tidying Festival Clothes Part 1

Semakin hari, manusia menjadi semakin konsumtif. Timbunan barang pun memenuhi setiap sudut kamar. Tetapi, untuk menyingkirkannya, ada rasa malas dan enggan. Kegiatan declutter merupakan kegiatan yang memerlukan banyak tenaga dan waktu. Namun dengan melakukan declutter atau bersih-bersih rumah dari timbunan barang, saya percaya memberikan efek positif. Rumah yang bersih dengan sedikit barang akan memberikan energi yang baik dan menjauhkan diri dari stress.

Meski telah banyak membaca tentang prinsip minimalism dan mencoba menjalaninya setahun belakangan tetapi rasanya baru kemarin akhirnya menemukan alasan membuang yang benar-benar wow banget. Seperti yang pernah saya ceritakan di sini, selama satu tahun terakhir saya mencoba memulai menerapkan metode Konmari untuk mendukung keinginan saya menjadi lebih bijak dalam membeli dan menyimpan barang-barang. Saya ingin lebih menghargai barang-barang yang saya beli dan meminimalisir jumlah barang yang ada di dalam rumah.

Membuang (decluttering) adalah cara tepat melepaskan diri dari beban. Tidak hanya beban fisik (materiil), tetapi juga beban psikis. Memulai membuang benda yang tidak pas di diri kita atau di lingkungan tempat tinggal kita, adalah cara mudah untuk mulai bisa membuang beban psikis kita. Percaya tidak percaya, saya sudah mencobanya dan terasa lebih lega.

Ada yang pernah mengalami kejadian seperti yang ada di bawah ini kah? Menyimpan baju yang sudah sesak tidak muat untuk badan. “Nanti juga bakal kepakai lagi kalau badan sudah kembali ke ukuran semula”. Lalu kita khilaf beli baju baru lagi dan lagi hihihi… Dan baju lama itu tak jua mendapat kesempatan untuk kita kenakan lagi. Atau mempertahankan barang-barang penuh kenangan. Terutama hadiah pemberian dari teman atau saudara. Disimpan terus, yang terkadang hanya membuat kita gagal move on setiap kali menatapnya hihi *lebay nggak sih. Kebiasaan mengumpulkan majalah-majalah yang menarik isinya, misal majalah full resep masakan atau desain interior. “Suatu saat nanti aku pengen praktekin tips yang ada di majalah itu”. Tahun demi tahun pun berlalu dan resep itu menunggu kita untuk mempraktekkannya. Bahkan kebiasaan membeli pernak-pernik saat traveling, “Lucu deh kayaknya kalau dipajang di rumah”. Waktupun terus bergulir hingga kita pun menyimpan pernak-pernik yang menumpuk dan bingung mau ditaruh dimana.

Istilah termudah menurut saya untuk menjelaskan tentang decluttering adalah aktifitas untuk menata ulang dan mengurangi timbunan barang yang kita miliki. Decluttering lebih memfokuskan pada apa saja yang perlu disimpan, dan bagaimana menata ulang benda yang disimpan itu.

Saya mengamati isi ulang isi kamar dan isi rumah. Scanning saja…. Lalu pilih beberapa barang secara acak, dan mulai mengingat, untuk alasan apa saya menyimpan barang itu. Dan masihkah barang itu memberi manfaat untuk hidup saya saat ini? Untuk barang-barang kebutuhan primer dan bentuknya relatif besar, sangat mudah saya temukan alasannya. Tapi saat meluaskan pandangan pada benda-benda yang tidak menjadi kebutuhan primer saya. Ternyata alasan utama mengapa menyimpannya lebih banyak karena faktor emosional termasuk didalamnya adalah faktor kenangan. Kesempatan kali ini saya akan mulai decluttering pakaian. Jurus jitu yang saya lakukan untuk mengendalikan jumlah pakaian yang saya miliki sekarang dengan Buy 1 Give 1, jadi saya mikir bener sebelum membeli pakaian

Prinsip Membuang/Decluttering

  1. Pilih apa yang hendak kita simpan, bukan apa yang hendak kita singkirkan
    Gimana caranya siy memilih suatu barang disimpan atau dibuang? Touch it, sentuh barang itu dan rasakan. Emosi apa yang kalian rasakan saat menyentuhnya. Ketika emosi yang muncul adalah rasa senang dan bahagia, keep it. Jika tidak ada rasa apa-apa atau cenderung negatif,throw it out. Marie Kondo membuat pernyataan yang cukup keras tentang kemampuan membuang barang. Ia menganggap bahwa seseorang yang tidak mampu melepaskan barang yang sudah tidak memberikan kegembiraan apa-apa sebagai masalah serius.
    Memang dalam memutuskan membuang atau tidak, kebanyakan dari kita melibatkan dua hal, intuisi dan rasionalisme. Sayangnya, seringkali yang menghalangi adalah rasionalisme kita. Itulah kenpa konmari menyarankan supaya kita memulai decluttering dari baju, bukan dari benda-benda yang memiliki kenangan. Bukannya beberes malah akhirnya mengenang masa lalu, betul nggak? Selain itu, pengalaman Marie Kondo menunjukkan bahwa memulai dari memilah baju adalah level yang paling mudah. Berhasil melewati yang termudah biasanya akan membuat kita percaya diri untuk menyelesaikan misi decluttering. Urutan berbenah yang disarankan Konmari adalah : (1) pakaian, (2) buku, (3) kertas, (4) komono/pernak-pernik, dan (5) benda-benda bernilai sentimental.
  2. Membuang Sampai Tuntas Terlebih Dahulu Sesuai Urutan
    kondisi pakaian sebelum declutter,dikumpulkan menjadi satu dalam satu area

    Pilahlah hingga tuntas per kategori sesuai urutan. Ada beberapa praktisi berbenah yang menyarankan untuk membuat challenge berbenah, misal 1 benda per hari, atau 3 jam per minggu, dst. Namun, Konmari memilih untuk membuang sampai tuntas terlebih dahulu per kategori. Bener-bener dikumpulin dulu semua baju di seantero rumah (bukan hanya yang di lemari, karena kadang kita menyimpan juga kan di balik pintu atau di box pojokan rumah?), baru kemudian kita pilah.

  3. Jadi kalau teman-teman ingin mulai decluttering, tak usah bingung. Saya ingin berbagi tipsnya. Sebelum melakukan kegiatan decluttering, siapkan 3 jenis kantong atau kardus. Satu kardus untuk tempat barang-barang yang masih layak untuk didonasikan. Satu kardus untuk tempat barang-barang yang masih dapat digunakan lagi dan terakhir kardus untuk tempat barang-barang yang akan dibuang. Sudah siapkah untuk decluttering?
    melipat pakaian anak-anak dengan metode konmari membuat banyak space tersisa

    Meskipun kelihatannya membutuhkan banyak waktu dan tenaga, tetapi efek kejutnya luar biasa. Efek kejut ini karena hasil beberes yang tuntas bener-bener terasa. Lemari jadi lega dan rapi. Efek kejut yang membuat kita bakal pengen jadi rapi selamanya. Berbeda dengan beberes sedikit-sedikit yang terlihat menyenangkan karena tidak menyita banyak energi dan waktu namun efeknya tidak begitu terasa sehingga berisiko membuat motivasi beberes kita kendur di tengah jalan.

  4. Kalau tidak bisa membuang, bagaimana?
    Gara-gara baca buku The Life-Changing Magic Tidying Up karya Marie Kondo saya pun jadi tau bahwa tidak semua pakaian berperan sebagaimana fungsi pakaian seharusnya. Maksudnya, pakaian kan seharusnya ada kaitannya dengan kebutuhan saat membeli, misal karena kita butuh pakaian untuk kerja, atau untuk menghadiri suatu acara tertentu, atau secara umum untuk menjaga penampilan kita. Sayangnya, ada juga kan pakaian yang kita beli hanya karena sedang diskon? Pas sampai rumah ternyata gaya pakaian itu sama sekali bukan gaya kita sehingga pakaian itu sama sekali tidak pernah kita gunakan semenjak kita adopsi ke lemari kita. Pakaian seperti ini mau dibuang atau mau disimpan? Dibuang sayang, disimpan ga dipakai. So? Say thanks to this clothes, let it go,katakan padanya “Terima kasih karena kamu telah mengajarkan saya pakaian apa yang tidak saya sukai, sehingga kelak saya tidak akan membeli pakaian yang sama”. Setelah memahami cara pandang baru terhadap barang, saya menjadi lebih mudah melepaskannya. Karena barang yang terbeli namun tak terpakai saat ini sejatinya sudah pernah memberi manfaat meski hanya sebagai pengingat bahwa compulsive buying itu sama sekali tidak baik misalnya. Kelak saya menjadi lebih bijak saat membeli pakaian baru.

    kondisi lemari dalam storage sementara

    Bukti kita sayang dengan sebuah barang adalah dengan menempatkannya sebagai barang yang membuat kita bersyukur telah memilikinya. Barang kita rasakan manfaatnya saat kita senang memakainya bukan? Marie said, tidak hanya kita pemiliknya, barang-barang kita niscaya juga akan merasa segar dan jernih sebegitu kita seleai berbenah.They will said happily, “Horayyy I got a new room to breath, I am free!” and of course, you will too.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *