Belajar Menyusun Manajemen Waktu (Time Management) ala Ibu-Ibu Pembelajar

Apa sih manajemen waktu itu? Sepertinya sudah bukan hal baru dan tidak asing lagi bagi kita semua berkaitan dengan istilah ini. Sejak duduk di bangku sekolah pastilah kita sudah akrab dengan berbagai rutinitas harian baik di rumah maupun di sekolah. Bertambahnya usia dan aktifitas pun membuat kita semakin tertantang untuk mengatur ritme kegiatan harian kita sesuai dengan jumlah waktu yang Allah pinjamkan kepada kita.

Waktu adalah salah satu nikmat yang agung dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia. Sudah sepantasnya manusia memanfaatkannya secara baik, efektif dan semaksimal mungkin untuk beramal shalih.

Allâh Ta’ala telah bersumpah dengan menyebut masa dalam firman-Nya:

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. [al-‘Ashr/103:1-3].

Di dalam surat yang mulia ini Allâh Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan masa, dan ini menunjukkan pentingnya masa.

Manajemen waktu adalah cara yang dapat kita lakukan untuk menyeimbangkan waktu yang kita punya untuk kegiatan belajar atau bekerja, bersenang-senang atau bersantai, dan beristirahat secara efektif. Tanpa disadari, setiap hari kita sesungguhnya sudah membuat beberapa keputusan terkait manajemen waktu. Misalnya, saya memutuskan kapan akan pergi ke pasar, mengajar anak-anak, membaca buku dan belajar di rumah, berolah raga, beribadah, mengunjungi perpustakaan, bersantai, berdiskusi dengan teman, dstnya. Semua putusan ini berperan penting di dalam penyusunan strategi manajemen waktu yang kita miliki.

Jika kita dapat menyeimbangkan waktu, maka harapan hasilnya adalah konsentrasi akan meningkat, organisasi waktu pun akan lebih baik, produktifitas akan meningkat, dan yang terpenting tingkat stress akan terkurangi. Dengan menata waktu anda secara lebih baik maka kita akan menemukan keseimbangan antara kapan harus belajar, bekerja, bersantai, dan beristirahat yang akhirnya akan membuat hidup menjadi sedikit lebih muda dan bahagia.

Jika kita pernah ada dalam situasi kerap terlambat datang ke beberapa acara/kegiatan penting, lupa ada kelas yang harus kita hadiri, lupa sama sekali bahwa ada pertemuan tertentu yang harus kita ikuti, membuang-buang waktu tanpa hasil yang jelas, mengerjakan tugas secara terburu-buru karena terpepet oleh dead-line, atau sehari menjelang ujian merasa panik karena merasa belum selesai membaca bahan pelajaran untuk dijelaskan kepada anak-anak, atau tiba-tiba merasa waktu untuk bersantai hilang sehingga menjadi tertekan atau stress, maka itu gejala bahwa kita membutuhkan perubahan manajemen waktu yang lebih baik.

Ubah Mindset Baru! Jangan berpikir : “Selalu ada waktu.” Kebanyakan kita cenderung membuang peluang karena berpikiran bahwa “selalu ada waktu”. Hal ini justru membuat pekerjaan kita menumpuk dan membuat kita semakin stress. Jadi, mari kita ubah mindset menjadi : “waktu adalah prioritas”. Buatlah prioritas pekerjaan kita untuk besok hari sebelum tidur.

PENTINGNYA MANAJEMEN WAKTU

Mengatur waktu secara rapi dan efektif bukanlah pekerjaan yang mudah apalagi berupaya untuk mentaatinya secara konsisten dan persisten. Sebagai ibu (muda) dan pembelajar tangguh, kita pasti akan memiliki sekian banyak kegiatan dan tantangan baru, peran dan sekaligus tanggung jawab serta prioritas lain yang harus kita lakukan. Semua kegiatan dan tuntutan itu akan selalu bersaing merebut waktu dan perhatian kita. Masa adaptasi dari masa dewasa muda yang sebelumnya menjalani pendidikan di kampus atau dunia kerja ke masa dewasa sebagai orang tua muda yang mulai membuat dan menuntut terjadinya perubahan besar di dalam menata manajemen waktu kita. Perubahan-perubahan besar itu antara lain karena beberapa hal berikut ini:

1. Meningkatnya peran dan tanggung jawab untuk belajar mandiri;
2. Banyaknya aktivitas baru yang harus diikuti, misal kelompok belajar baru, kegiatan komunitas, kelompok ibu-ibu di dalam atau di luar komplek perumahan;
3. Teman-teman dan pengalaman baru;
4. Tuntutan untuk lebih banyak mengambil putusan mandiri tanpa campur tangan dari suami atau keluarga;
5. Tempat tinggal dan lingkungan baru;
6. Kebutuhan yang lebih besar untuk misalnya melakukan hal-hal rutin sehari-hari secara mandiri, misal berbelanja, memasak, mencuci, membersihkan rumah, membayar beberapa tagihan rutin;
Mungkin pula ketika kita yang memilih bekerja paruh waktu atau mengurus keluarga yang tinggal bersama kita.

CARA MEMPERBAIKI MANAJEMEN WAKTU

Kunci dari manajemen waktu adalah perencanaan alias planning! Tanpa ini, kita tidak akan pernah berhasil menata waktu apalagi meraih hasil optimal. Betapapun enggannya kita karena terkesan membosankan, namun menyusun daftar panjang kegiatan ini-itu yang harus dilakukan, menyisihkan waktu sejenak untuk berpikir mana dari daftar itu yang harus dipilih terlebih dahulu untuk dilaksanakan esok hari, lusa, minggu depan atau bulan depan, adalah momen paling kritis bagi kita untuk mengontrol waktu ‘hidup’ diri sendiri.

ini contoh timeline belajar saya di kelas shookyu Konmari Indonesia

Berikut ini langkah-langkah yang dapat kita lakukan untuk membantu proses menyusun atau memanajemen waktu:

1.Buatlah buku agenda atau kalender atau catatan khusus, baik secara manual ataupun elektronik. Saya biasanya menggunakan aplikasi android school planner atau my study life di handphone untuk memudahkan dalam pencatatan kegiatan sehari-hari.
2. Tulis semua tanggal, hari, waktu yang berkaitan dengan kegiatan belajar kita. Misal, tanggal ujian, tanggal deadline menyerahkan tugas kelas, tanggal terakhir batas pembayaran uang kuliah, dstnya.
3. Tulis semua tanggal, hari, dan waktu untuk kegiatan yang bersifat sosial dan personal. Misal, kapan punya janji untuk konsultasi ke dokter, kapan harus bayar tagihan listrik air, tagihan uang sewa rumah, jadwal kompetisi olah raga, jadwal untuk pulang ke rumah orang tua di daerah, atau untuk berkunjung ke sanak famili, dstnya;
4. Susun prioritas kegiatan yang terdapat di dalam daftar b dan c di atas, mulai dari yang paling utama hingga paling tidak utama, sehingga menghasilkan sebuah jadwal rutin mingguan. Contoh, kita dapat menyusun jadwal dengan membagi serangkaian kegiatan sehari-hari kita ke dalam 4 (empat) kelompok yaitu:
a. penting mendesak (sebagai prioritas paling utama) misalnya mendampingi anak, menjemput anak/orang tua.
b. penting tidak mendesak (prioritas tetapi waktunya masih flexible sesuai dengan komitmen yang kita buat) misalnya, kegiatan kuliah dan tugas di kelas online. Seperti saya saat ini terdaftar ke dalam tiga ruang belajar yaitu kelas bunda sayang, shookyu class konmari indonesia dan kelas belajarzerowaste.
c. Tidak penting mendesak misalnya, interupsi yang tidak perlu.
d. Tidak penting tidak mendesak misalnya hal remeh temeh, main game, nonton film atau kebanyakan googling yang tidak jelas.
6. Pastikan jadwal rutin mingguan kita itu terdiri dari perpaduan yang seimbang di antara komponen/kelompok di atas. Di titik inilah kita harus belajar bijak untuk secara hati-hati tapi bersungguh-sungguh memilih mana yang menjadi prioritas pertama, kedua, dan seterusnya. Ingat, bahwa bagaimanapun kita sedang menjalani proses mendidik sebuah generasi sehingga sudah layak dan sewajarnya jika kita meletakkan aktivitas nomor 1 di atas di tempat tertinggi. Di sinilah makna penting dari keseimbangan, maksudnya kita harus belajar menyusun jadwal yang isinya seimbang di antara keempat kelompok di atas. Perlu diketahui bahwa tujuan penyusunan jadwal rutin mingguan tersebut bukanlah agar semua aktivitas itu terlaksana, melainkan lebih pada memastikan bahwa hal-hal yang butuh untuk dikerjakan terlebih dahulu pada akhirnya memang benar kita lakukan.
7. Pastikan bahwa kita mematuhi jadwal rutin mingguan yang telah disusun. Misal, hadir di kelas pada semua perkuliahan, kerjakan tugas dan belajar mandiri yang telah terjadwal,serta hindari kebiasaan menunda pekerjaan (procrastination).

Baca juga : Belajar Menjadi Manajer Keluarga Yang Handal

Belajar Menjadi Manajer Keluarga yang Handal

PEDOMAN MENYUSUN MANAJEMEN WAKTU

Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai pedoman untuk menyusun manajemen waktu yang baik.

1. Cukupkan waktu tidur antara 6 – 8 jam/per hari.
2. Upayakan jadwal aktivitas anda. berlangsung antara pukul 06.00 – 22.00 WIB.
3. Tiap minggu jadwal harian berisi 4 kelompok aktivitas dalam uraian nomor 4 di atas.
4. Jadwalkan bahwa waktu belajar mandiri kita minimal 14 jam/per minggu (di luar waktu kuliah di kelas).
5. Rencanakan waktu belajar mandiri atau sekedar membaca buku maksimum 2 jam/perhari.
6. Selang-seling topik belajar mandiri secara teratur jika misalnya kita memutuskan bahwa dari jam 13.00 hingga 15.00 adalah waktu belajar mandiri (maksudnya kita tidak menghabiskan waktu dua jam hanya untuk belajar satu topik).
7. Ketahui diri kita apakah sebagai ‘morning person’, ‘night owl person’, atau ‘late afternoon person’ untuk memastikan bahwa jadwal tersebut sesuai dengan irama kerja dan ‘jam biologis’ kita.
8. Luangkan waktu untuk istirahat sejenak di tengah waktu belajar (misal, istirahat tidak lebih 10 menit dari setiap jam).
9. Latih dan biasakan diri untuk mengerjakan sesuatu cukup sekali, alias menghindari kebiasaan untuk mengulang-ulang. Misalnya membaca teks tentang suatu topic sedapat mungkin cukup 1 kali tetapi dengan memastikan kita paham dan ingat apa isinya, kalau perlu sekalian membuat catatan atau diagram.
10. Hindari mitos bahwa untuk dapat memahami isi sebuah bacaan, kita harus membacanya 2-3 kali.
11. Belajar untuk focus atau konsentrasi, tanpa jeda untuk waktu minimal 15-20 menit; kemudian ditingkatkan menjadi fokus selama 30-50 menit tanpa jeda. Hal ini diperlukan sekali terutama untuk membantu kita mendengarkan fasilitator menjelaskan di kelas, mencatat, membaca, dan menulis. Ingat, membaca dan menulis tugas belajar membutuhkan waktu lebih panjang dibandingkan jika kita menulis surat biasa, membaca majalah, komik, atau apalagi menulis email, twitter atau sejenisnya. Kadang kala perlu untuk menyusun jadwal mingguan di mana 1 hari di antaranya bersih dari tugas-tugas.
12. Biasakan untuk melakukan hal-hal kecil dan ‘remeh atau ringan’ di sela-sela waktu istirahat atau ketika kita sedang menunggu sesuatu. Misal, merespon pesan elektronik dapat dilakukan hanya ketika kita istirahat atau ketika kita menunggu untuk bertemu dokter, teman, mengantri di loket, dll.
13. Belajar dan membiasakan diri untuk berani menolak ajakan atau mengatakan ‘tidak’ pada teman, sahabat, sanak famili ketika mereka mengundang atau mengajak melakukan satu kegiatan tertentu yang dapat mengacaukan manajemen waktu kita. Demikian pula untuk menolak keluar rumah menjelang hari ujian; atau ajakan untuk melakukan beberapa komitmen secara bersamaan.
14. Mintalah teman, sahabat, dan sanak famili untuk menghormati manajemen waktu yang kita punya juga serta buatlah mereka paham bahwa mereka tidak bisa setiap saat mengganggu kita atau meminta berkomunikasi dengan kita setiap saat semau mereka ketika kita sedang ada kegiatan lain.
15. Isolasikan diri sendiri agar dapat berkonsentrasi atau fokus belajar (membaca atau menulis), dengan misalnya: menutup pintu kamar, mematikan perangkat audio visual, mematikan telepon seluler, berhenti merespon email atau pesan elektronik, twitter, facebook atau sejenisnya.
16. Bersikap realistis dan cukup fleksibel, jangan kaku. Menyusun jadwal yang amat ketat dan memaksa untuk mematuhinya secara kaku justru dapat membuat kita pada akhirnya menjadi jenuh, dan kehilangan gairah (passionate) belajar sehingga menjadi kontra produktif.

Pada tahap awal kita melakukan perubahan, mungkin kita merasa amat sulit menyusun manajemen waktu dan berat sekali tuntutan yang harus kita penuhi, tetapi pada kesempatan selanjutnya mungkin akan kita akan merasa sedikit lebih longgar, dinamis, dan lebih fleksibel. Hal ini terjadi karena kita sudah terbiasa, mengenal lingkungan lebih baik, mengenali kebiasaan diri sendiri, dan juga kita bertambah dewasa.

AGAR TERHINDAR DARI KEBIASAAN PROCRASTINATOR?

Procrastinator adalah orang yang amat suka menunda pekerjaan hingga jelang hari atau menit akhir dari batas waktu. Tindakan menunda pekerjaan hingga jelang dead-line disebut procrastination. Jika hal ini dibiarkan berlangsung terus menerus jelas akan menjadi kebiasaan belajar yang buruk. Bahkan, kebiasaan ini akan terus membudaya di saat jita sudah bekerja sebagai profesional atau pengemban profesi yang akibatnya adalah kinerja tidak akan optimal, stress berat, berdampak buruk pada kesehatan fisik hingga kegagalan. Oleh karena itu, mari membiasakan diri untuk tidak menjadi procrastinator. Bagaimana caranya? Beberapa petunjuk berikut ini mungkin dapat mulai kita lakukan:

1. Biasakan belajar atau bekerja berdasarkan agenda sebab dengan cara ini kita akan menyadari berapa banyak aktivitas dalam sehari yang mampu kita lakukan sesuai kemampuan dan akhirnya kita akan mengetahui bahwa menunda belajar/pekerjaan pada akhirnya tidak akan membantu sama sekali. Jika anda memulai mengerjakan suatu tugas besar seketika pada saat kita merasa siap atau berada di bawah tekanan harus selesai karena esok adalah tenggat waktu penyelesaian, maka memang mungkin kita akan berhasil, tetapi ingat tidak selalu akan berhasil.
2. Jadi, mulailah dari hal kecil sejak awal. Cobalah untuk mengurai atau menjabarkan satu tugas besar menjadi beberapa tahap atau bagian kecil yang memungkinkan kita untuk segera mengerjakannya sedini mungkin. Dengan mengerjakan tugas besar itu bagian demi bagian sejak awal akan menyadarkan kita seberapa besar sesungguhnya tugas itu dan membutuhkan berapa lama waktu untuk menyelesaikannya. Pada akhirnya, ketika jelang tenggat waktu kita menyelesaikannya, maka tidak akan merasa terlalu terbebani. Mulailah dengan mengerjakan hal-hal kecil terlebih dahulu pada hari 1-4 tugas itu diberikan dengan misalnya membuat (a) mind mapping tentang topik dari tugas itu (b) menentukan tema atau argumentasi utama itu (c) mengumpulkan bahan pustaka (d) menyeleksi dan mencatat judul-judul bahan pustaka yang nantinya akan menjadi daftar pustaka dalam tugas kita.
3. Bekerja tanpa mengundang kemungkinan ada gangguan, misal matikan pemutar musik, video, telepon seluler, koneksi internet dan sejenisnya yang jelas-jelas dapat mengganggu kosentrasi kita. Jika kita orang yang tergantung pada musik untuk membantu konsentrasi, maka sebaliknya putar perangkat audio. Untuk mengurangi kebosanan, kita dapat memodifikasi sedikit topik belajar kita pada hari itu, misal dengan diselingi baca buku, baca komik, menggambar, bertanam, memberi makan ikan di kolam/akuarium atau bermain dengan anak-anak, dsbnya. Hal penting adalah harus diingat bahwa jangan terlena mengerjakan hal remeh temeh sehingga lupa topik utama hari itu.

Sumber:
1⃣https://almanhaj.or.id/4099-renungan-tentang-waktu.html
2⃣Materi Waktu Kuliah Bunda Sayang
https://drive.google.com/file/d/1quEGtwO6PevZ54d-ivKvVF9sOG3sc-go/view?usp=drivesdk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *