Tidying Festival Book

Setelah berbenah pakaian, tahap selanjutnya di Tidying festival adalah berbenah Buku. Kegiatan berbenah pada tahap ini ada kesulitan tersendiri bagi saya karena buku pribadi merupakan salah satu barang spesial bagi saya. Buku-buku pribadi yang masih saya simpan adalah buku yang saya beli ketika saya kuliah kenotariatan. Ketika saya memutuskan untuk resign dan mendampingi anak-anak di rumah, buku-buku ini saya packing kembali ke dalam kardus. Sambil berdo’a kala itu semoga buku-buku ini masih membawa kebermanfaatan kelak jika saya mengambil peran itu kembali.

Bagi saya tidying festival book ini lebih sulit daripada pakaian, karena buku-buku yang saya simpan merupakan pedoman berpraktek dan tidak mudah menyingkirkan buku yang, kalau dalam istilah Konmari: tidak spark joy, termasuk buku-buku yang rencananya akan dibaca tetapi pada kenyataannya tidak akan pernah dibaca 😆 Ini masalah waktu dan prioritas, hiks. Saat ini saya memang memilih fokus untuk mendampingi anak-anak belajar di rumah terlebih dahulu dan belum mengambil peran di luar rumah.

Seperti saat berbenah pakaian, berbenah buku ini bisa dibilang bagai menemukan jati diri. Kita hanya memilih buku yang dirasa paling sesuai dengan kita, paling kita sukai dan membuat kita senang membaca serta menyimpannya. Setelah membuat jadwal beberes bersama anak-anak, akhirnya saya membongkar rak buku kami (saya dan anak-anak). Tentunya setelah difoto sebelumnya untuk tugas ini 😁 Bagian rak yang berisi diecast merupakan area suami jadi silahkan diabaikan sampai si empunya ada waktu untuk berbenah😂

Sebelum pindah ke Batam, saya sudah mensortir buku-buku yang penting dan menjadi pegangan saja (kala itu belum kenal konmari). Semenjak tinggal di Batam saya tidak pernah menumpuk buku lagi, bahkan pernah saya membeli buku karya teh Kiki Barkiah dan selesai dalam waktu satu minggu (ini rekor bagi saya yang punya batita dan bayi) setelah itu saya kirim ke rumah baca. Ya! Kita memang harus mengubah mindset. Kalau buku yang kurang spark joy lebih baik disumbangkan ke rumah baca saja. Lalu bagaimana persiapan kami untuk berbenah lemari buku? Sama dengan merapikan pakaian, langkah pertama merapikan buku adalah memilih buku berdasarkan spark joy.

1. Kumpulkan semua buku yang kita miliki di satu spot.

Pastikan semua buku terkumpul di spot itu. Cek lemari, dapur, kamar tidur, meja, kolong sofa, kolong tempat tidur, mobil dan lain-lain. Jika saat selesai proses dicluttering kita baru teringat ada buku yang tertinggal, maka buku tersebut ikut didiscard karena bisa dipastikan tidak spark joy lagi. Seandainya masih ada spark joy, tentu kita akan ingat sejak awal proses ini.

2. Pisahkan buku-buku berdasarkan kepemilikan

Buku-buku di rumah saya pisahkan terlebih dahulu mana yang punya saya, suami, dan anak-anak. Suami hampir tidak pernah mengoleksi buku lagi wkwk, sedangkan saya menyimpan beberapa buku penting untuk panduan mengajar anak-anak, sementara milik anak-anak kami putuskan bersama mana saja yang akan disimpan.

3. Buat kategori buku

Menurut metode konmari, cara menyimpan buku ada dua yaitu dengan menyimpan by location atau by category. Jika buku yang kita miliki terlalu banyak maka kita bisa membuat kategori dulu, contoh: buku agama, tutorial, komik, novel, majalah, buku sekolah, buku kantor, dll. Lalu pilih per kategori, buku mana saja yang akan kita simpan.

4. Pegang satu per satu dan rasakan apakah buku ini spark joy. Ingat ya cukup dipegang saja, tidak perlu dibaca agar kita tetap fokus pada proses berbenah. Jika ada buku terdapat spark joy maka simpanlah. Jika tidak ada spark joy maka buku tersebut dapat kita discard. Banyak yang merasa kesulitan melakukan ini karena khawatir kalau-kalau nanti bukunya akan dibaca lagi. Padahal bisa dijamin, bahwa buku yang tidak spark joy, tak kan mungkin kita baca kembali. Maka untuk apa disimpan, lebih baik dijual kembali atau didonasikan.

5. Letakkan buku dengan posisi berdiri

Buku-buku yang spark joy diletakkan di rak buku sesuai dengan pilihan keluarga. Posisi buku saat penyimpanan adalah berdiri, bukan ditumpuk-tumpuk. Aturan dasar menyimpan barang ala konmari adalah “letakkan barang-barang yang sejenis dalam satu lokasi”. Tetapi tidak demikian untuk buku. Buku bisa diletakkan di tempat dimana kita membutuhkannya. Misal: majalah resep bisa kita letakkan di dapur, sementara Alquran dan tafsir kita letakkan di tempat sholat.

Setelah tidying festival buku akhirnya terlihat lebih jelas, minat saya ada pada buku yang seperti apa, bidang dan genre apa saja. Justru ketika memilah buku anak-anak kami bingung mau menyimpan yang mana saja sebab anak-anak sangat antusias, kebanyakan buku-buku yang disimpan di rak membuat mereka sangat bersemangat karena mereka suka sekali isinya, dan biasanya dibaca berulang-ulang. Hal ini membuat kami sulit menyortir koleksi buku anak yang ada. Sempat juga ada buku yang ragu mau saya keluarkan dari koleksi. Ada yang baru dibaca sebagian ada juga yang masih dalam plastik alias belum pernah dibaca sama sekali. Tapi pada akhirnya berhasil saya letakkan di tumpukkan yang akan disingkirkan. Rasanya lega juga ya ternyata, alhamdulillah😊

Terima kasih untuk semua buku yang pernah mengisi hari dan hati ini. Baik yang sudah selesai atau belum dibaca, yang disimpan atau disingkirkan. Gimana kira-kira sudah spark joy belum ya rak buku kami?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *