Festival Tidying : Papers

Bagaimana progress berbenah di rumah? Setelah berbenah buku minggu lalu, minggu ini giliran kertas yang akan dibenahi. Berbeda dengan dua kategori sebelumnya, dimana kita memilah dengan tujuan menyimpan benda yang spark joy, untuk kertas ini prinsipnya sebagai berikut: “the basic rule for papers: Discard everything”. Kalau dipikir memang benar juga sih, kertas kan tipis, kita jadi cenderung menyimpan saja semua kertas yang ada di rumah. Padahal seringkali banyak tumpukan kertas di runah atau kantor yang justru sudah tidak ada manfaatnya lagi, seperti brosur, potongan tiket atau kumpulan struk belanja.

Jadi prinsip berbenah kertas ala konmari adalah buang semuanya kecuali dokumen penting. Berdasarkan materi yang saya dapat di kelas Shokyuu, dokumen dibagi menjadi tiga yaitu

1) Pending Document
adalah dokumen yang butuh tindakan dan respon seperti surat yang perlu dijawab atau tagihan yang perlu dibayar. Dokumen jenis ini perlu dibuatkan rumah tersendiri, bisa menggunakan kotak atau clear holder (album transparan) dan ditindaklanjuti dengan segera. Jadi diusahakan dalam setiap periode berkala ‘rumah’ tersebut dikosongkan. Bisa dengan membuat jadwal khusus misal hari tertentu untuk mengerjakan pending documents ini.
2) Important Document
adalah dokumen yang perlu kita simpan baik dalam waktu tertentu atau selamanya, walaupun tidak spark joy. Misalnya sertifikat rumah, kartu garansi, ijazah, kontrak.
Kita bisa menyimpan menggunakan file box atau clear holder. Kita perlu membuat pengingat khusus untuk dokumen yang ada masa berlakunya. Dan jangan lupa untuk segera membuang jika dokumen tersebut sudah kadaluarsa dan sudah tidak berguna.
3) Other Documents
adalah dokumen selain 2 kategori di atas seperti materi seminar, resep masakan dan kliping. Kita bisa menyimpan kategori ini menggunakan clear holder sehingga mudah untuk dilihat-lihat kembali bila perlu. Dokumen yang termasuk kategori ini antara lain sebagai berikut :
1. Buku petunjuk manual elektronik, bila tidak perlu sebaiknya dibuang.
2. Kartu nama atau kuitansi bisa disalin/difoto informasinya sehingga kertasnya tidak perlu disimpan.
3. Kertas yang disimpan karena nilai kenangannya bisa dimasukkan dalam kategori sentimental items.

Berikut ini kondisi tumpukan kertas yang ada di rumah sebelum proses discard

Hampir seluruh kertas bekas di seluruh rumah, saya sortir secara berkala bersama anak-anak setiap dua minggu atau satu bulan sekali. Sebagian besar saya kirim ke bank sampah, ada pula yang dialihfungsikan menjadi media gambar atau membuat craft dan lain sebagainya.

Saya pun pernah membuang tumpukan bon yang sudah saya kumpulkan entah berapa lama yang nyatanya tidak terpakai lagi. Setelah itu, saya nyaris tidak pernah lagi menyimpan kertas jenis ini.

Berbenah kategori kertas ini, menurut saya rasanya tidak terlalu berat untuk dilakukan. Untuk membuang pun mudah saja, bahkan rasanya senang sekali bisa menyingkirkan kertas-kertas yang menumpuk dan tidak diperlukan lagi.

Kumpulan kertas: After. Cukup rapi kan?

Kebanyakan kertas yang saya simpan di rumah adalah kertas kerja anak-anak, flapbook belajar per tema dan hasil diy mereka. Arena tempat penyimpanannya terpisah-pisah, sehingga ketika proses berbenah saya memulai dengan menyatukan semua kertas di dalam satu tempat, seperti bisa terlihat pada gambar. Baru kemudian, saya memilah mana yang hendak dibuang dan mana yang perlu disimpan.

Setelah proses berbenah kemarin, banyak sekali kertas yang saya singkirkan seperti kumpulan bon dan tanda terima, kuitansi yang sudah tidak diperlukan, kertas isi seminar dan semacamnya. Beberapa kertas bekas yang masih terdapat sisi kosongnya saya simpan untuk aktivitas anak-anak lagi sehingga tidak perlu menghabiskan kertas baru. Ada beberapa hal yang belum dan rasanya perlu saya lakukan ketika berbenah kertas adalah membuat pending box untuk kertas-kertas yang masih perlu diperiksa, seperti bon dan kuitansi misalnya, seiring dengan niat saya untuk lebih teratur mengatur keuangan keluarga, juga rumah khusus untuk karya anak, yang dipilah dan dibatasi apa saja yang perlu disimpan atau dibuang. Terinspirasi dari tips digitalize, di mana kita bisa menyimpan kertas bernilai sentimental atau data penting seperti kartu nama dengan men-scan atau memfotonya, sebagian besar karya anak-anak mungkin bisa saya foto saja, sehingga lebih menghemat tempat dan juga lebih awet.

Untuk sementara, mumpung karya anak-anak belum terlalu banyak maka saya pisahkan dalam sebuah map karya yang ingin disimpan. Kontainer transparan saya jadikan pending box, jadi sekarang semua bon atau kertas-kertas yang perlu “dikerjakan” masuk ke situ. Konsep digitalize juga saya simpan saat nanti diperlukan. Semoga setelah tidying festival kami bisa lebih rapi dalam menyimpan kertas.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *