Langkah Kecil dalam rangka Mengurangi Jejak Karbon

Apa itu jejak karbon? Jejak Karbon alias carboon footprint adalah unsur terbesar dalam terjadinya pemanasan global dan pencemaran lingkungan. Pencemaran yang dihasilkan bukan hanya disebabkan oleh asap pembakaran mesin kendaraan bermotor dan proses industri, tetapi banyak hal lainnya baik yang disadari seperti sampah dan limbah rumah tangga maupun industri, penggunaan kulkas dan AC, serta hal yang kurang disadari oleh masyarakat, seperti gaya hidup yang ingin lebih praktis, menggunakan peralatan elektronik, bahkan memakan daging juga bisa menyebabkan meningkatnya kadar karbon di atmosfer. Hayo udah kalap makan daging berapa kilo sehabis idul adha?
Setiap kegiatan manusia dapat dipastikan akan memproduksi emisi GRK. Sebut saja, saat berkendara kita akan menggunakan kendaraan berbahan bakar fosil, entah itu motor, mobil, atau pesawat terbang. Begitu juga saat kita menggunakan listrik untuk mengecharge gadget. Bahkan, aktivitas membuang sampah pun memproduksi emisi GRK. Jumlah emisi GRK akan meningkat jika seseorang (atau perusahaan) makin sering melakukan aktivitas ekonomi. Nantinya, emisi GRK akan terkumpul di atmosfer. Karena seseorang (atau perusahaan) memiliki aktivitas yang berbeda, jumlah emisi GRK yang dihasilkankannya berbedabeda pula😢

Bagaimana kemudian cara menghitung ‘dosa’ kita pada bumi?

Menghitung jumlah emisi yang dihasilkan dari aktivitas yang dilakukan dikenal sebagai Perhitungan Jejak Karbon. GRK yang dihasilkan saat beraktivitas, termasuk menghasilkan sebuah produk. Besaran dari GRK dalam jejak karbon ini kemudian dikonversikan dan dihitung berdasarkan satuan ton karbon dioksida atau ton CO2.

Untuk memudahkan perhitungan jejak karbon, saat ini tersedia beragam piranti kalkulator karbon. Di Indonesia, beberapa lembaga sudah mengembangkan kalkulator karbon ini. Bahkan, ada yang tersedia di website. IESR adalah salah satu lembaga yang telah membuat kalkulator karbon ini bisa diakses oleh publik pada website mereka di http://www.iesr.or.id/kkv3/tentang-jejak-karbon/

Kalkulator karbon ini menggunakan faktor emisi dari data nasional Indonesia, seperti data kelistrikan, sampah, maupun bahan bakar, yang secara spesifik berbeda dengan negara lain besarannya. Dengan kalkulator karbon IESR ini, kita bisa menghitung “dosa” jejak karbon kita pada lingkungan dengan lebih mudah. Pertanyaan yang kemudian timbul adalah bagaimana menghapus dan menebus dosa tersebut?
Hal pertama yang harus segera kita mulai adalah mengurangi jejak karbon. Bila perlu kita hanya meninggalkan jejak karbon yang betul-betul tidak bisa dihindari saja. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain efisiensi energi dengan jejak karbon lebih rendah, misalnya memanfaatkan energi terbarukan atau mengganti
kompor minyak tanah ke LPG bahkan biogas. Secara personal kegiatan mengurangi jejak karbon akan terasa lebih mudah dilakukan daripada organisasi atau perusahaan.

Sebenarnya tidak diperlukan perubahan yang radikal untuk membantu bumi ini menjadi lebih bersahabat . Yang diperlukan adalah mengubah beberapa rutinitas yang dapat menurunkan “Jejak Karbon”. Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain :

1. Kurangi komsumsi daging. Berdasarkan penelitian, peternakan menyumbangkan 18% jejak karbon dunia yang mana lebih besar dari sektor transportasi (mobil,motor,pesawat dll). Belum ditambah lagi dengan bahaya gas-gas rumah kaca tambahan yang dihasilkan oleh aktifitas peternakan seperti metana yang notabene 23 kali lebih berbahaya dari CO2 dan gas NO yang 300 kali lebih berbahaya dari CO2.
2. Makan dan masak dari bahan yang masih segar. Menghindari makanan yang sudah diolah atau dikemas akan menurunkan energi yang dapat terbuang akibat proses dan transportasi yang berulang-ulang. Makanan segar juga lebih sehat bagi tubuh kita.
3. Beli produk lokal, hasil pertanian lokal sangat murah dan juga sangat hemat energi, terutama jika kita menghitung energi dan biaya transportasinya. Makanan organik lebih ramah lingkungan, tetapi periksa juga asalnya. Jika diimpor dari daerah lain, kemungkinan emisi karbon yang dihasilkan akan lebih besar daripada manfaatnya.
4. Diet penggunaan aluminium, plastik, dan kertas. Akan lebih baik lagi jika bisa menggunakannya berulang-ulang. Energi untuk membuat satu kaleng aluminium setara dengan energi untuk menyalakan TV selama 3 jam.
5. Beli dalam kemasan besar. Akan jauh lebih murah, juga menghemat sumber daya untuk kemasan.
6. Hindari fast food. Fast food merupakan penghasil sampah terbesar di dunia. Selain itu komsumsi fast food juga buruk untuk kesehatan.
7. Bawalah sendiri tas belanja dari rumah, dengan demikian dapat mengurangi jumlah tas plastik/kresek yang diperlukan.
8. Gunakan gelas yang bisa dicuci dan hindari air minum dalam kemasan.
9. Berbelanja di lingkungan sekitar. Akan menghemat biaya transportasi dan BBM.
10. Tanam pohon setiap ada kesempatan. baik di lingkungan ataupun dengan berpartisipasi dalam program penanaman pohon. Bisa dengan menyumbang bibit, dana, dll. Tergantung kesempatan dan kemampuan masing-masing.

Memperbaiki Kebiasaan di Rumah

1. Kurangi frekuensi pemakaian alat elektronik, Turunkan suhu AC. Hindari penggunaan suhu maksimal. Gunakan AC pada tingkatan sampai kita merasa cukup nyaman saja. Dan cegah kebocoran dari ruangan ber-AC. Jangan biarkan ada celah yang terbuka jika sedang menggunakan AC karena hal tersebut dapat membuat AC bekerja lebih keras untuk mendinginkan ruangan.
2. Matikan lampu yang tidak terpakai dan jangan tinggalkan air menetes untuk menghemat energi dan air bersih. Gunakan lampu hemat energi. Meskipun lebih mahal, rata-rata mereka lebih kuat 8 kali dan lebih hemat hingga 80% dari lampu pijar biasa.
3. Maksimalkan pencahayaan dari alam. Gunakan warna terang ditembok, gunakan genteng kaca diplafon, maksimalkan pencahayaan melalui jendela.
4. Hindari posisi stand by pada elektronik. Jika semua peralatan rumah tangga dimatikan maka kita mengurangi emisi CO2 yang luar biasa dari penghematan energi listrik.
5. Jika pengisian ulang baterai sudah selesai, segera cabut hp, pencukur listrik, kamera, dll. jika sudah penuh segera cabut.
6. Kurangi waktu dalam menggunakan lemari es. Untuk setiap menit membuka pintu lemari es akan diperlukan 3 menit full energi untuk mengembalikan suhu kulkas ke suhu yang diinginkan.
7. Potong makanan dalam ukuran yang lebih kecil. Ukuran potongan yang lebih kecil akan menggunakan energi lebih sedikit untuk memasaknya.
8. Gunakanlah air dingin untuk mencuci dan mencucilah dalam jumlah banyak. Jika memiliki keluarga kecil, tidak perlu mencuci setiap hari. Kumpulkanlah sampai kapasitas mesin cuci terpenuhi dan tampung air sisa mencuci untuk bersih-bersih lantai/menyiram tanaman. Hal ini akan menghemat air dan mengurangi pemakaian listrik
9. Beralih kepada sabun alami, ecoenzym atau lerak, sebagai pembersih ramah lingkungan.
10. Gunakan ulang perabotan rumah. Jika sudah bosan dengan perabotan yang sebelumnya, bisa melakukan obral, donasikan kepada orang lain, atau bawa ke pengrajin untuk dimodifikasi sesuai dengan keinginan.
11. Beralih menggunakan produk alami, jika terpaksa menggunakan produk-produk semprot, jangan menggunakan aerosol, pilihan spray dengan kemasan botol kaca akan lebih baik. Aerosol juga menyumbang besar dalam pencemaran udara kita.
Sudah siap membuat perubahan? Yuk kita mulai dari hal terkecil yang kita bisa lakukan sekarang.

Berani Mencoba Berhomestead?

mencoba menanam sendiri sayur dan buah di rumah

Sejak pertama kali blogwalking ke blognya mbak Desi Greenmommy saya sangat tertarik dengan gaya sustainable livingnya. Betapa tidak, keluarga beliau bisa hidup mandiri dari dalam rumah di jaman yang serba instan dan praktis ini. Sebenarnya apa sih hidup berhomestead itu? Mungkin bagi teman-teman yang pernah berkunjung atau tinggal di luar negeri sudah lebih familiar dengan istilah homestead. Sebab sudah banyak orang-orang di luar sana yang aware terhadap krisis lingkungan dan mulai menerapkan gaya hidup ini. Saat ini banyak orang yang ingin merubah gaya hidupnya, ke hidup yang lebih hijau, hidup mandiri, bahkan lebih sustainable dengan cara berhomestead atau hidup dari tanah kita sendiri (baca: memenuhi kebutuhan hidup dengan usaha sendiri dengan menggunakan sumber daya dari tanah kita). Kenapa sih orang-orang pada tertarik untuk hidup berhomestead? Kalau dipikir pikir kok kayak kembali ke jaman 20-30 tahun yang lalu ya. Betapa makmurnya negeri kita yang kaya ini sehingga pada masa kecil kita terbiasa bermain di sawah atau kandang hewan ternak milik orang tua kita. Atau seperti masa kecil papa saya yang akrab dengan laut dan kebun jambu mete karena tinggal di pesisir pantai. Jaman dulu kita nggak pernah pusing mau makan apa besok karena tinggal ke kebun sebelah rumah tengok sayuran apa yang bisa dipanen. Bahkan masih terbayang dalam memori saya tentang keanekaragaman tanaman herbal yang dimiliki oleh alm eyang kakung saya dan bebas dipetik kapanpun kala membutuhkannya.
Gaya hidup berhomestead menurut saya memiliki banyak hal yang jauh lebih menarik ketimbang hidup seperti orang modern saat ini (non homestead). Ditambah lagi menengok ruang hidup dan keseharian di Bumi Langit Jogja semakin membuat saya semakin ingin memulai hidup lebih sustainable. Mampu membuat ketahanan pangan dari dalam rumah merupakan impian sederhana saya sekeluarga. Itulah salah satu alasan rumahorganik_trenggalek mulai kami rintis. Kami ingin menjalani hidup sesuai fitrah, lebih relax, dan punya lebih banyak waktu, bisa punya lebih banyak waktu untuk mengerjakan hal yang kita suka dan bermanfaat tentunya. Bonusnya kita bisa lebih banyak meluangkan waktu untuk keluarga tercinta yang tidak akan kita dapatkan ketika kita sibuk dengan rutinitas dan kemacetan ala kehidupan di perkotaan padat penduduk.
Cita-cita saya dan suami nanti adalah bisa menghabiskan waktu di udara terbuka yang segar, bebas polusi di alam yang masih hijau dan banyak hal lainnya. Tapi apa saja sih yang perlu kita persiapkan jika memilih gaya hidup berhomestead?

Kalau kata Mbak Desy, untuk memulai berhomestead kita butuh lebih dari sekedar uang untuk kita sukses. Pilihan hidup ini butuh waktu, butuh keahlian, butuh kesabaran, butuh tenaga, butuh keringat, butuh air mata tetapi happy ending dan rewarding.
Mirip-mirip dengan konsep dalam family strategic planning, ketika akan memulai berhomestead kita harus membuat perencanaan, riset, banyak membaca dan belajar terlebih dahulu. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan sebelum memutuskan untuk berhomestead. Kita harus menggali potensi masing-masing anggota keluarga untuk mempersiapkan kemandirian dengan berbagai keahlian. Dan semua itu butuh waktu, butuh kerja keras, tidak sekedar membaca teori saja.

mencoba memelihara ikan sendiri di rumah

Kembali ke pembahasan homestead, para pelakunya yang dinamakan homesteader itu kalau dipikir-pikir semuanya ingin hidup lebih sederhana dan lebih mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, apapun latar belakang dan lokasi dimana mereka hidup. Ada yang hidup sustainable hanya sebatas berdikari dalam ketahanan pangan aja, ada yang punya sumber biogas, ada yang sampai bisa bikin solar power, bahkan membuat serat kain sendiri.

Intinya tidak ada patokan khusus dalam memilih sustainable living, tidak ada yang paling benar. Karena semua orang/keluarga punya visi misi masing-masing untuk membangun kehidupan mandiri mereka ala homestead. Hanya diri kita sendiri yang tahu tentang cita-cita dan kebutuhan kita.

Kita harus menyesuaikan visi dengan support system dalam rangka mencapai cita-cita hidup sustainable. Sebelum memulai berhomestead dan bisa hidup sustainable, kita harus membiasakan diri untuk melakukan berbagai macam kegiatan sehari-hari sendiri, menolong diri sendiri dan mengambil alih misal dari ketahanan pangan dari rumah/halaman sendiri. Kalau dibayangkan, hidup akan terasa lebih tenang. Ketika bangun pagi kita nggak harus buru-buru ke kantor atau ke sekolah, nggak harus bermacet-macet ria di jalan, nggak harus khawatir kalau besok kantor tempat kita kerja harus ditutup dan kita kehilangan pekerjaan.

Kalau kita bisa hidup sustainable maka kita bisa selangkah lebih mandiri, listrik dari tenaga surya atau angin atau apapun itu, nggak harus mikirin bayar tagihan PLN. Makanan tersedia dari lahan kita. Nggak harus beli mobil karena jarang kemana-mana dan jadinya nggak butuh kendaraan. Dan semua kemandirian yang kita lakukan secara tidak langsung akan sangat mengurangi jejak karbon di bumi ini. Jadi super ramah lingkungan kan jadinya.

Setelah mendapat tambahan ilmu dan suntikan semangat dari Pak Pri di kelas #belajarzerowaste saya pun semakin semangat mewujudkan sedikit demi sedikit impian kecil yang menjadi cita-cita keluarga kami. Sudah seharusnya kita memelihara dan menjaga bumi agar tetap layak dihuni manusia. Sederhana saja yaitu dengan mulai dengan mengubah kebiasaan buruk terhadap lingkungan. Dari tidak sering memakai kendaraan jika perginya dekat, memakai produk yang ramah lingkungan, meminimalisasi pemakaian baterai dan produk beracun lainnya, mengolah sampah, , dan hemat energi sebisa mungkin.

referensi :

http://geoenviron.blogspot.com/2011/12/menghitung-jejak-karbon-carbon.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *