Tantangan Hari 1 : Game Level 1 Komunikasi Produktif

Membaca materi Komunikasi Produktif kelas bunsay, membuat saya lebih banyak memikirkan bagaimana gaya berkomunikasi yang paling pas dengan pasangan. Memang sih banyak perubahan berarti yang saya rasakan setelah mulai belajar enlightening parenting. Kalau flashback beberapa tahun ke belakang memang komunikasi antara saya dan suami kurang produktif dan perlu diubah. Bagaimana pun kita ini satu tim dalam rumah tangga.

Saat ini memang terkadang saya masih sering menyalahkan, menyindir, menyudutkan dan lebih mengedepankan emosi daripada logika. Sebenarnya capek juga yaa..membahas hal yang itu-itu saja, tapi nyatanya tidak ada yang berubah. Kalau sudah buntu saya memilih untuk diam terlebih dahulu sekedar untuk menenangkan diri dari emosi yang membuncah.

Saya sangat tidak suka kalau suami saya tidak meletakkan barang-barang kembali pada tempatnya. Karena ujung-ujungnya nanti pasti bertanya kepada saya lagi, dimana barang A dimana barang B dan itu amat sangat memusingkan bagi saya.

Sudah sering saya ungkapkan ketidaksukaan saya itu. Tapi mungkin memang caranya yang masih salah. Berkomunikasi dengan penghuni rumah yang semuanya laki-laki memaksa saya untuk belajar sabar dan lebih memahami seperti apa sih laki-laki dan bagaimana cara yang tepat untuk menyampaikan sesuatu kepada mereka.

Seperti biasa setelah menyampaikan apa yang mengganjal di hati, suami pasti berjanji untuk tidak mengulangi. Benar, tidak diulangi untuk beberapa waktu. Kemudian beberapa hari diulangi lagi. Saya ingatkan lagi,meminta maaf lagi. Ini perkara kebiasaan. Saya sedang belajar berbenah diri dari dalam rumah dan berharap semua anggota keluarga bisa diajak bekerja sama dalam projek ini.

Saya selalu senang ketika suami saya mau meluangkan waktu sepulang ia bekerja. Faris sangat senang sekali bercerita, dibacakan buku atau sekedar dikomentari hasil bebikinannya. Saya berharap suami bisa mengatur gadget timenya agar punya waktu lebih membersamai anak-anak. Mungkin saya pun terkadang terlalu menuntut dan banyak maunya tetapi waktu kita sangat sedikit, anak-anak besok sudah beda dengan hari ini.

Seperti itulah komunikasi kami. Saya sudah bosan mengingatkan,dan selalu saya menyindir yang lalu-lalu. Daripada kesal berujung marah-marah,saya memilih diam saja dan beraktifitas seperti biasa, mengerjakan pekerjaan domestik dan bermain bersama anak-anak.

Sampai hari ini kebiasaan meletakkan barang di sembarang tempat masih berlangsung. Pemandangan rumah membuat mata saya makin pedih. Sebenarnya mudah bagi saya untuk menyelesaikan permasalahan ini dengan membereskan semuanya. Tetapi hal ini tidak mendidik apalagi bagi anak-anak. Saya sedang berusaha menanamkan kebiasaan baik dan melatih kemandirian mereka.

Hari ini, pagi-pagi setelah shalat subuh dan ketika anak-anak belum bangun. Saya memberanikan diri membuka percakapan. Menahan, jangan sampai keluar kalimat tidak produktif.

Saya: “Pa, mama mau ngomong”

Suami: “Yuuk..sambil baring-baring”

Saya: “Mama mau ngomong apa yaa?..”

Suami: “Ngomong aja..nggak papa..”

Saya: “Pa, bisa nggak ya kita buat rumah kita lebih rapi?”

(Hiks..masih mencoba membuka percakapan)

Suami: “Mmm…papa minta maaf masih banyak barang-barang yang berantakan. Tar papa beresin deh.”

Saya: “Mama penasaran bisa serapi dan sebersih apa rumah kita kalau coba kita benahi mulai hari ini.” (mencoba memotivasi suami dengan menggambarkan hasil yang saya inginkan)

Papa: “Papa minta maaf ya soalnya lupa ngembaliin barang ke tempatnya lagi.”

Saya: “Bisa kan papa sedikit meringankan pekerjaan Mama dengan mengembalikan barang-barang ke tempatnya lagi?” (menurunkan intonasi meski belum sanggup melihat ke mata suami, padahal penting)

Papa: “Iya.. Iya nanti Papa beresin☺️.”

Kemudian kita ngobrol tentang anak-anak lebih banyak sampai waktunya suami harus mandi dan berangkat kerja.

Saya masih terus belajar. Hari ini entah..sudah termasuk komprod dengan pasangan atau belum ya? Tak apa, hitung-hitung sebagai latihan,latihan,latihan..

I’m responsible for my communication results

* * * * *

Hari 1 latihan komunikasi produktif dengan Faris

Episode 1

Hari ini saya berjanji mengajak anak-anak untuk pergi ke perpustakaan untuk memperpanjang masa pinjam buku yang telah dipinjam minggu lalu. Tadi pagi sebelum mandi anak-anak bermain dan membongkar banyak sekali mainan. Tidak cukup satu kontainer, mereka mengeluarkan mainan dari tiga kontainer😎. Irbadh bermain lego megablok dan Faris masih asyik dengan mainan gigonya. Mainan pun tersebar ke seluruh rumah, mulai dari kamar, ruang tamu bahkan dapur.

Mama: “Anak-anak siapa yang mau bantu Mama membereskan mainan?”

Faris: “Emang kenapa kok diberesin, Ma?”

Mama: “Siapa mau ikut Mama ke perpustakaan?”

Faris: “Faris.”

Irbadh: “Ibad.”

Mama: “Yang mau ikut Mama ke perpustakaan ayok kandangin dulu mainannya baru kita siap-siap.”

Faris:”Tapi Mama bantuin Faris.”

Mama: “Oke, Faris mau beresin sekarang apa lima menit lagi?”

Faris: “Sekarang aja, kan kita mau berangkat. Tapi Mama bantuin, Irbadh juga.”

Mama: “Oke. Mama senang kalau anak Mama rajin.” (memberikan apresiasi sambil memberi pelukan)

Kemudian Faris dan Irbadh bekerja sama mengemas kembali mainannya ke dalam kontainer.

Episode 2
Pulang dari perpustakaan, selepas mencuci tangan dan kaki anak-anak sudah saya siapkan makan siangnya. Faris sedang mengganti pakaiannya dan Irbadh sudah mengambil makanannya.

Faris: “Mana sendok Mas Faris, bad? Kok nggak diambilin sih, ambilin lah.”

Irbadh: “Oke, Mas.” (sambil berjalan ke dapur berusaha mengambilkan sendok dan kembali ke kamar mau mengembalikan ke masnya.)

Faris: “Kok yang ini sih, bukan yang ini. Mas Faris maunya yang besi sama kaya Irbadh.” (intonasi mulai meninggi dan suasana mulai tidak kondusif. Irbadh mulai bingung dan diam).

Saya pun segera menghampiri anak-anak dan bertanya kepada Faris terlebih dahulu.

Mama:”Faris berhenti berteriak dan merengek, Mas. Irbadh pasti lebih ngerti dan suka mendengar masnya kalau berbicara dengan nada yang menyenangkan. Yuk coba Faris ngomongnya yang bagus.”

Faris:”Iya, Ma. Maaf tadi Faris lagi make baju, jadi nyuruh Irbadh ngambil.”

Mama:”Iya, tapi lain kali kalau minta tolong bilangnya yang bagus ya. Kan Faris minta tolong, kalau udah dibantuin jangan lupa bilang apa?”

Faris:”Makasih ya, Bad. Maaf mas Faris nggak sengaja tadi.”

Yey..berhasil,tanpa marah-marah. Biasanya kalau saya tidak bisa mengontrol emosi bisa berakhir dengan omelan.

* * * * *

Hari ini saya coba menulis tantangan game level 1 bunsay#4 dengan 2 anggota keluarga. Tiap hari tentu harus latihan dengan seluruh anggota keluarga tapi besok-besok mungkin tidak saya tuliskan disini,karena kepanjangan dan akan banyak pembicaraan rahasia antara saya dan suami😁. Postingan seputar proses belajar komunikasi produktif ini saya tulis setelah anak-anak kecapekan dan berangkat tidur siang. Penasaran dengan kelanjutan cerita saya, tunggu kelanjutannya esok.

#Hari1

#Gamelevel1

#Tantangan10hari

#Komunikasiproduktif

#Kuliahbunsayip

#BunsayBatch4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *