Tantangan Hari Kedua : Komunikasi yang Mencerahkan Membimbing Menuju Solusi

Berkomunikasi dengan anak membutuhkan kepiawaian lingustik dan ketepatan memilih merode berkomunikasi (luwes). Sebagai contoh, kesulitan saya berkomunikasi dengan anak terutama adalah ketika saya menyuruh mereka melakukan sesuatu. Saya lebih sering menggunakan teknik using choices to reach goal. Kunci tercapainya komunikasi dengan anak menurut saya salah satunya dengan teknik reframing sehingga menempatkan makna positif pada setiap kejadian yang saya alami. Semoga saya bisa meluaskan makna atas kejadian-kejadian yang saya alami sehingga semakin baik pula saya mengendalikan emosi. Berikut ini cuplikan cerita belajar komunikasi produktif keluarga kami hari ini.

Episode 1

Pagi ini seperti biasa saya dan anak-anak mempunyai jadwal khusus untuk mengolah sampah dapur. Jadi ceritanya hari ini saya tidak memasukkan sisa konsumsi kemarin ke dalam komposter melainkan membuat lubang galian tanah. Bukannya apa-apa komposter embernya belum sempat dicek dan diaduk oleh suami sehingga saya belum tahu progresnya seperti apa. Lama nggak mencangkul ternyata lumayan menguras energi. Yah, beginilah tantangannya menggali tanah kalau tanpa alat yang memadai. Capekk bukkk😅 Sedangkan Faris malah sibuk mencari sandal, dan “nggupuhi” (istilahnya apa ya kalau dalam bahasa Indonesia? 😂) mau ikut membantu juga.

Saya lagi sibuk menggali-gali tanah, Faris makin rempong dan bingung takut ketinggalan.

Faris: “Haduh… mana sih sandal Faris yang satunya? Make sandal Irbadh aja ah. ”

Irbadh: “Nggak Mas!” (mulai merengek sambil bilang menolak pernyataan mas-nya)

Mama: “Jangan mas, jangan godain adeknya. Gimana kalau Faris cari dulu sandal satunya? Pasti lebih keren kalau pakai sandal Faris sendiri karena ukurannya pas👍”

Faris:”Ma, ini ma irbadh malah nangis minta sandalnya kaya orang rebutan aja.”

Mama:”Faris, irbadh minta sandalnya cuma belum jelas ngomongnya, nggak rebutan kok. Adenya takut ketinggalan aja. Faris tolong bantuin ya Irbadh pakai sandal.”

Faris:”Iya, Ma.”

Setelah berakhir drama sandal akhirnya anak-anak ikut nimbrung mengurus sampah. Dan berlanjut untuk siap-siap mandi tanpa banyak hambatan yang berarti.

Tidak mau membuang kesempatan untuk latihan komprod saya memulai percakapan.

“Faris, seneng nggak tadi bantuin Mama? Waah..Faris cinta bumi ya 😊. Kalau Mama ke depan duluan Faris nggak perlu panik dan cepat-cepat lari kaya tadi ya. Kan Mama nggak kemana-mana, Faris cari dulu sandal Faris, temani adeknya juga harus sama-sama.”

Faris:”Tapi..tapi Faris maunya yang cepet Ma.”

Mama:”Allah nggak suka orang yang buru-buru, Mas. Ada tuh hadis yang bilang,” Bertakwalah kepada Allah , sabarlah, dan jangan engkau terburu – buru“ (sambil saya terus mengingat benar nggak apa yang saya ucapkan)

Faris:”Iyaa Ma, iya..Berarti lain kali Faris nggak gitu lagi..maaf ya Ma, tapi Faris tadi lupa.”

Mama:”Iyaa..😚 Maafin mama juga ya Mas soalnya Mama tadi buru-buru kan kita mau datang ke acara pagi-pagi jadinya Mama juga mau cepet selesaikan buang sisa-sisa makanan biar nggak kesiangan.”

Faris:”Kenapa Mama juga buru-buru tadi? Harusnya nggaklah, Ma. Katanya Allah nggak suka sama orang yang buru-buru?”

Mama:”Iya, besok-besok kita jangan buru-buru lagi ya, Mas.” (Emak harus kembali lagi introspeksi diri)

Episode 2

Lagi-lagi dan sudah menjadi rutinitas di rumah ini adalah drama kehilangan barang. Tetapi sesungguhnya hilangnya barang di rumah ini bukan hilang yang sebenarnya tetapi perkara “belum” ketemu aja. Pagi ini suami hectic sekali karena ada agenda jalan sehat di kantornya. Jadilah pagi-pagi suami sibuk mencari barang-barang yang akan dipakainya. Melihat pemandangan ini saya sampai bosan tiap hari kok ya selalu bingung mencari barang-barang padahal barang-barang itu sudah ada rumahnya semua. Sejatinya ini hanya perkara mau atau tidak mau meluangkan waktu untuk mengembalikan pada tempatnya. Saya tidak ingin kebiasaan ini menular kepada anak-anak. Di dalam hati, saya sempat berpikir apa saya terlalu berlebihan sehingga terlalu fokus pada kekurangan dan menyampaikan dalam bentuk celaan atau keluhan? Tidak jarang keributan di rumah itu karena saya yang terlalu banyak mengomel. Hari ini saya menahan lisan agar tidak keluar keluhan, sabar..sabar..kata saya dalam hati.

~Menegur bukan karena benci, memuji tanpa menjadikan lupa diri. Menegur ada caranya, memuji ada adabnya~

Suami:”Ma, tolong dong lipatin celana kerja papa. Tapi ikat pinggang papa dimana ya? Kok nggak ada?”

Saya: “Oke, tapi Mama nggak tau ikat pinggang papa ada dimana. Ga kelihatan.”

Suami: kasak kusuk masih sibuk muterin rumah sambil mencari ikat pinggangnya.

Saya:”Pa, kalau Papa nggak nyiapin apa-apa yang mau dibawa besok sebelum tidur ya beginilah jadinya pagi-pagi masih rempong nyari-nyari. Selama ini Mama lihat Papa sebenarnya sebelum tidur ingat kan apa agenda besok. Artinya Papa besok bisa lebih baik lagi daripada hari ini.” (sambil melipat baju dan melempar senyuman)

Suami:” Ya besok ingetin lagi ya, Ma biar nggak lupa. Papa sebenernya ingat Ma, cuma eksekusinya yang…yaudahlah Papa berangkat dulu” (sambil tertawa renyah)

Sudah termasuk komprod belum sih, Mak? Mudah-mudahan pesannya nyampe yaa 😅

Yang kami pelajari hari ini:

💌Belajar menerima perasaan anak. Tidak
meremehkan perasaannya (panik, gelisah, takut,dsb)

💌Memberi solusi,bahwa kita tidak perlu terburu-buru dalam melakukan sesuatu karena justru tidak membawa manfaat.

💌Belajar menegur dengan cara yang lebih baik dengan mengatakan secara tepat apa kesalahan perilakunya. Berusaha menegur “perilaku-nya” bukan karakteristik orangnya.

💌Katakan bahwa dia mampu membuat perubahan atau pernah bersikap lebih baik dari itu.

Hm..tadi sempat ngobrol juga bersama suami juga dan membahas komunikasi produktif. Sambil ngobrol sambil praktek,hehe..

Ternyata menerima perasaan anak itu penting banget sebelum menasehati. Anak merasa nyaman dan dihargai.
Menasehati juga ada caranya. Bisa diganti dengan menceritakan pengalaman. Terkadang saya suka keceplosan ngomong “Makanya..” terus disambung kalimat menyalahkan 😥. Dan ujung-ujungnya Faris pun mengcopy dan menerapkan ketika berkomunikasi dengan adiknya. Huft! Ternyata belajar berkata baik itu lebih susah daripada diam. Perlu effort lebih dan harus terus latihan..latihan..latihan💪

Suami..terimakasih ya sudah mau ikut latihan sama-sama dan terus mengingatkan saya yang banyak khilaf ini 😘 Mudah-mudahan nada bicara dan cara ngomong saya bisa jadi lebih kalem ya? Hihihi

#hari2
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayip

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *