Tantangan Hari Ke-5 : Belajar Menghindari Gaya Komunikasi Parentogenik

“Faris lagi main apa sih kok berisik banget suaranya? ” tanya saya pada Faris yang sedang melempar dan menuang mainan mobil-mobilannya.

“Itu loh ma, lagi mainan mobil.”Jawab Faris.
“Mainan mobil kok sampe kaya gitu suaranya, nak? Pelan aja loh..bisa rusak mainan Faris kalau cara mainnya begitu.”saya mulai mengingatkan.

Tiba-tiba mainan excavator yang sedang dimainkan Irbadh lepas bautnya dan…

“Mamaaa…. gimana nih?”tanya Faris dengan raut wajah sedih.

“Yah, itu sih bautnya lepas n ga bisa dipasang lagi. Udah nggak bisa dimain lagi lah Fa kalo rusak.”timpal saya.

” Mas.. Mas.. rusakin.” kata Irbadh.

“Maaf yah, Bad gimana dong ini betulinnya. Mas Faris nggak bisa.” Faris merasa bersalah dan panik.

“Udah jangan diapa-apain dulu, Mas. Coba cari bautnya yang lepas ada nggak?” tanya saya.

“Ada nih, Ma.”

“Oke,simpan dulu di rak nanti Faris minta tolong Papa untuk bantu betulin.”

“Iya..,” sambil mengemas mainannya yang rusak.

“Jadi Faris udah tau belum kenapa mainannya bisa rusak?” pancing saya.

“Ya, rusak orang Faris beresinnya cepet-cepet sampe kelempar,” jawabnya.

“Mama minta lain kali Faris pelan dan hati-hati kalau mainan atau beresin mainannya. Nggak harus buru-buru sampai dilempar-lempar kaya tadi. Kalau kesusahan boleh minta tolong yang bagus gitu loh, Nak.” nasehat saya.

“Iya.. Iya..,” jawab Faris agar masalah segera selesai.

Saya ulangi kembali bertanya padanya, “Jadi Faris udah tau belum kesalahannya tadi?”

“Udah, udah.. besok nggak gitu lagi. Maaf ya Ma,” jawab Faris sambil cengar cengir.

Sore hari ketika Papanya pulang. Seperti biasa anak-anak selalu menyambut dengan riang. Semuanya sibuk mencari perhatian dengan bercerita tadi siang main apa, baca buku apa dan memperlihatkan hasil bebikinan dari mainan konstruksi mereka masing-masing.

Ketika Papanya masuk kamar, Faris kemudian berkata, “Pa, excavator Irbadh yang hijau rusak. Bautnya lepas, tapi..tapi Mas Faris nggak bisa betulin.”

Hmmm..rupanya Faris masih ingat dan membuat pengakuan sendiri, berarti benar dia merasa bersalah.

“Rusak?” tanya Papanya.

“Tadi nggak sengaja.. nggak sengaja rusaknya. Tadi mas Faris beresin ke dalam kontainer tapi pas dimainin Irbadh tiba-tiba lepas bautnya.”kata Faris jujur.

“Kok bisa lepas sih Faris.. Faris..kalau punya mainan kan harus dirawat. Jangan dirusak-rusakin.”

“Hm, iya.. tapi..tapi tadi rusaknya nggak sengaja, Pa.” masih terus membela diri.

Kemudian dia berdiri dan menjauh hendak menunjukkan mainan excavatornya yang rusak.

“Papa marah nggak? Papa nggak suka ya kalau anaknya ngerusakin?”

“Nggak, Papa mau tau kenapa kok bisa rusak mainannya itu tadi gimana ceritanya?”

“Tadi Faris lagi mberesin mainan terus Faris cepet-cepet Pa. Terus Faris tuang aja semua ke dalam box biar cepet.”

“Terus kok bisa lepas bautnya itu kenapa?”

“Terus paa dimainin Irbad malah copot bautnya Pa. Terus nggak bisa dibetukin lagi.”, sambung Faris.

“Oh, tadi Faris beresinnya buru-buru ya pas masukin ke box. Pasti dilempar ya letakinnya?” tanya Papanya pelan.

“Iya, soalnya pengen cepet selesai tapi pas dimainin Irbadh malah lepas bautnya, “jawabnya lagi.

“Oh gitu, yasudah coba bawa sini excavatornya Papa lihat dulu.”

“Ini, Pa.” Sambil menyodorkan mainannya. “Masih bisa dibetulin nggak, Pa?”

“Masih kok, cuma kayanya ini ada satu baut lagi yang hilang. Lain kali lebih hati-hati lagi ya,” kata Papanya sembari mencoba merepair excavatornya.

“Maaf ya Pa, jadi rusak mainannya.”

“Iya, lain kali hati-hati ya dirawat mainannya. Dah dikasih rezeki sama Allah harus dijaga, jangan dirusakin.”

Dan saya berusaha menyelipkan refleksi pengalaman. Ya! semua orang pernah berbuat kesalahan, apalagi yang tidak disengaja..
Saya juga pernah tidak sengaja memecahkan meja, gelas dan piring ketika kecil.

Bisnillah, saya mencoba membuka percakapan bersama Faris. Kami berdua memang senang berbagi cerita, baik cerita sedih, lucu, bahagia bahkan cerita masa kecil saya.

Saya pun memiliki waktu yang pas dan tenang untuk menyelipkan pesan. Saya rasa itu perlu, agar anak tidak merasa kami menganggap dirinya selalu salah. Semoga pesan nasihatnya tersampaikan 😊

Jadi teringat sebuah tulisan bunda Elly Risman, M.Psi yang menyatakan bahwa ada 12 parentogenik penghambat komunikasi yaitu:
1.Memerintah
2.Menyalahkan
3.Membandingkan
4.Meremehkan
5.Mengancam
6.Mengeritik
7.Memberi cap
8.Membohongi
9.Menghibur
10.Menasehati
11.Menyindir
12.Menganalisa

Tanpa sadar sudah seringkali kita gunakan dalam percakapan sehari-hari, baik ketika ada masalah, maupun tidak.

Dalam hal ini kami sedang belajar menghindari di antaranya ketika anak sedang ada masalah. Kami mencoba tidak menyalah, memberi cap dan menasehati di saat yang tidak tepat.

Nasehat yang baik bisa menjadi tidak efektif jika dilakukan di waktu yang tidak tepat dan dengan cara yang tidak tepat, meskipun maksudnya baik. Ketika menasehati dengan menyalahkan perbuatannya, bisa timbul kesal dan menjadi penghambat komunikasi. Anak perlu diterima perasaannya dahulu, agar merasa dihargai, tidak selalu merasa disalahkan sehingga bisa tumbuh menjadi percaya diri.

Memberi nasehat sebaiknya tidak menggurui, akan lebih baik jika memasukkan refleksi pengalaman di dalamnya, seperti “Nggak papa kok..kan nggak sengaja. Mama pun pernah menjatuhkan barang dan pecah. Mama minta maaf ya, boleh kita bereskan sama-sama.”

Yang kami pelajari hari ini:

💌Mengatakan dengan ringkas dan jelas (kaidah Keep Information Short & Simple) agar anak mampu memahami setiap kalimat yang kita sampaikan.

💌Berbicara dengan pelan, tidak terlalu cepat dengan intonasi suara dan bahasa tubuh yang sesuai.

💌Berempati, menerima perasaan anak sehingga membuatnya lebih nyaman.

💌Menggunakan kalimat positif, tidak menyalahkan, memberi cap “memang kamu selalu rusuh, tidak hati-hati dan membuat berantakan😳” dsb.

💌Fokus pada solusi

Terima kasih untuk hari ini ya, Faris sudah mau jujur dan Papa mau belajar komunikasi produktif bersama 😘. Kita harus terus latihan..latihan..latihan.

#Hari5
#Gamelevel1
#Tantangan10hari
#KomunikasiProduktif
#Kuliahbunsayip

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *