Tantangan Hari Ke-8 : Belajar Bersama Menemukan Problem Solving

“Ma, gimana ini cara buka paketnya?” tanya Faris sambil mengamati sebuah kardus yang merupakan paket kiriman dari Uti.

Saya lalu menunjukkan caranya “Begini Faris, coba Faris ambil gunting dulu biar gampang hehe”

Setelah ia mendapatkan gunting ia menghampiri saya dan berkata, “Ini, Ma silakan.”Saya kaget dan kepengen ketawa.

Saya suka caranya meminta dibantu karena dia sejak kecil memang pandai mengambil hati orang. Alih-alih langsung meminta dibukakan paketnya, Faris memilih bertanya “bagaimana caranya?”

Saya jadi teringat materi matrikulasi IIP yaitu “Belajar Bagaimana Caranya Belajar”.

Baca juga : Study Better With Mind Mapping

Melatih anak terampil bertanya adalah salah satu hal yang harus kita pelajari untuk mengasah intelectual curiousity, kreatifitas dan pemahaman anak.

Kalo untuk balita, kemampuan berfikirnya bisa ditumbuhkan dengan cara aktif bertanya pada si anak.

Jadilah..saya memutuskan untuk berlatih menerapkan apa yang telah saya pelajari itu. Dalam berkomunikasi dengan anak bisa kita selipkan beberapa kalimat tanya (How, Where, What, When, Who,Why, Which one) agar komunikasi menjadi lebih produktif.

Misalnya ketika ada masalah. Jangan pernah membandingkan menolak/ meremehkan perasaan anak dengan kata “masa sih..cuma segitu aja kamu blablabla”, akan lebih baik kalo kita berempati, bertanya bagaimana perasaanya, apa yang membuatnya merasa seperti itu?

Daripada menasehati dengan kata-kata “mestinya kamu ….”,“makanya …” tentu akan lebih baik jika mengajak anak berpikir apa yang baik atau tidak baik dilakukan, baru setelah itu kita bisa menyampaikan pesan.

Jangan menganalisa dengan kata-kata “ini karena kamu blablabla..seharusnya blablabla” tentu lebih baik jika kita bertanya ada apa? Kenapa sampai terjadi seperti itu dan apa yang harus dilakukan agar tidak seperti itu lagi?

Apabila kita berlatih menggunakan kata tanya dalam berkomunikasi insyaAllah bisa meningkatkan kemampuan anak dalam memecahkan masalah, tidak selalu disuapi solusi.

Kalau anak sulit mengungkapkan perasaannya, bisa kita bantu dengan memberi nama perasaannya seperti “kamu sedih ya?” atau jika anak menunjukkan kesusahan karena kemampuan problem solvingnya masih terbatas bisa kita bantu mencarikan solusinya. Namun seperti yang dituliskan dalam materi cemilan “Prinsip Dasar Komunikasi Antara Orangtua dan Anak”

Orang tua sebaiknya pasang tombol alarm dalam diri agar ingat porsi yang cukup untuk menolong anak supaya mereka tetap dapat belajar menyelesaikan masalahnya sendiri dan kemampuannya terus berkembang.

Percakapan latihan kami hari ini:

“Eh, mainan Faris berserakan ini di lantai. Tadi Faris lupa beresin ya sebelum tidur?”

Faris cuma senyum-senyum.

“Mainan Faris berserakan dan bercampur di lantai. Kalo kecampur jadi satu kaya gini nyaman nggak sih mainnya?” tanya saya kembali.

“Nggak Ma, capek liatnya. Pusing juga misahinnya”, jawabnya sambil menyortir mainan sesuai kategorinya.

“Biar mainannya nggak berantakan, seharusnya gimana ya?”

“Ya mainnya satu-satu, Ma. Kalau udah selesai dikemas dulu baru ambil mainan yang lain. Tapi bantuinlah Ma, capek nih”, jawab Faris sambil terus membereskan mainannya.

Wkwkwk..saya jadi ketawa deh 😂

“Ayok, Bad bantuinlah..yang nggak mau beresin mainan besok nggak boleh main ya. Sapa mau nggak boleh?”sambung Faris.

“Capekk Mas.” sambil gegoleran di atas kasur.

“Tapi besok nggak boleh main lagi ya, Bad. Yang mau main harus beresin mainannya.” kata Faris ke adiknya.

Lalu ia terus semangat melanjutkan beberes mainannya 😊.

#Hari8
#GameLevel1
#Tantangan10hari
#KomunikasiProduktif
#Kuliahbunsayip

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *