Tantangan Hari Ke-10 : Belajar Mengendalikan Emosi, Mendidik Diri, Memberi Teladan Kemudian

Weekend kali ini saya bersama anak-anak bersantai di rumah saja. Dari kemarin kami belum punya rencana apa-apa untuk hari ini, pengennya bersantai, gegoleran aja di rumah. Secara papanya anak-anak ada kegiatan internal di kantor jadi kami pun bersantai di rumah saja. Menjelang siang hari, anak-anak memutuskan untuk bermain bola sedangkan saya memutuskan untuk membaca buku saja sambil menuggu jam makan siang di kamar tidur. Karena cuaca Batam yang menggalau, maka saya menyarankan agar anak-anak bermain bola di belakang rumah saja.

Ya, mereka bermain bola di dalam rumah.

Mereka biasanya menggiring bola dari belakang menuju ruang keluarga, dan menge-golkannya di kamar tidur tempat saya membaca. Terkadang, bila saya sedang kelebihan energi maka saya akan ikut meramaikan tim dengan meng-gocek bolanya.

Saat itu rutenya tidak seperti biasa. Entah kenapa, mereka inginnya bermain di dekat saya. Mereka bermain bola di dalam kamar, sementara saya tetap saja duduk di atas kasur sambil membaca buku. Awalnya bola masih terkontrol, tapi tiba-tiba dengan satu tendangan, bolanya sukses mendarat di wajah dan kena mata saya.

Duh. Rasanya tidak hanya wajah dan mata, tapi hati ini juga ikut nyes. Anak-anak seketika menghentikan aktifitasnya, dengan bahasa tubuh ketakutan sambil menunggu reaksi saya. Sambil menahan diri untuk tidak meledak, saya meminta mereka untuk segera keluar dari kamar.

Ketika sendiri di dalam kamar, saya berusaha mengendalikan diri sambil memejamkan mata membayangkan apabila saya tadi marah-marah, bijakkah bila saya marah?

Apakah marah saat ini akan lebih banyak mendatangkan dampak positif atau negatif setelahnya?

Apakah ini murni sengaja atau tidak?

Rasa sakit yang saya rasakan, lebih banyak di bagian yang kena bola atau egoku?

Apakah kejadian ini masuk dalam kategori berat sehingga saya harus marah besar?

Pertanyaan-pertanyaan itu terngiang di telinga saya. Beruntung saat itu saya dalam posisi di kamar dan mampu memisahkan diri dari pencetus emosi negatif.

Mengenang banyak kejadian di hari-hari setelah menyandang status “Mama”, rasanya banyak sekali kejadian spontan (yang dilakukan anak-anak), baik yang dilakukan secara sengaja atau tidak- yang memicu emosi negatif. Kadangkala saya mampu berpikir jernih, tapi kadang meledak juga. Saya ingat-ingat kembali, saya biasanya akan bereaksi negatif secara spontan apabila saat itu dalam keadaan tertekan dan tidak bisa memisahkan diri dari sumber pencetus emosi.

Semua buku-pengetahuan-ajaran-ilmu seolah menguap dikuasai emosi. Dan setelahnya,, timbul rasa penyesalan yang sangat hebat, dan itu tidak mengenakkan. 🙁

Emosi bukanlah tentang benar atau salah. Takut, marah, sedih atau kecewa adalah emosi yang wajar dan manusiawi. Yang penting kita tidak larut dalam perasaan negatif dan tidak mengambil keputusan penting saat emosi masih kacau.

Teringat sebuah kajian parenting dari gurunda Ust. Haikal Hasan yang begitu mencabik-cabik perasaan saya.

Setelah berdamai dengan diri sendiri, saya menghampiri anak-anak, dan menyampaikan dengan kalimat yang jelas, tanpa menyalahkan keduanya:
Mama merasa kesakitan (X) saat bola mengenai wajah dan mata Mama (Y) padahal Mama sudah duduk di bagian pojok kasur (Z).
Mereka berdua sambil menahan tangis meminta maaf, dan kamipun berpelukan.

#hari10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *